Darren saat ini berada di perpustakaan. Dirinya sedang menyelesaikan semua tugas-tugas kuliahnya. Sudah banyak materi kuliah yang tertinggal olehnya karena dirinya harus istirahat selama sepuluh hari pasca dirinya pingsan akibat kelelahan.
Saat Darren sedang fokus mengetik dilaptop miliknya, tiba-tiba ada yang datang mengejutkannya.
"Wooii!" Qenan menepuk bahu Darren.
"Jangan menggangguku upik abu sialan," Kesal Darren.
TAK!
"Yak! Kenapa kau menjitakku?" protes Darren.
"Siapa suruh mengejekku?"
"Siapa juga suruh mengagetkanku?"
Qenan hanya terkekeh. "Hehehehe."
"Dasar."
"Belum selesai juga?" tanya Qenan.
"Belum," jawab Darren.
"Ya, sudah. Selesaikan di rumah saja. Ini sudah waktunya makan siang, Ren." Qenan berucap.
"Nanggung," jawab Darren.
"Ayolah, Ren! Apa kau mau tumbang lagi karena kelelahan?" Qenan berusaha untuk membujuk Darren.
"Sebentar lagi, Mingyu. Ini benar-benar nanggung," jawab Darren.
Qenan tanpa pikir panjang lagi mencabut modem yang terpasang di laptop Darren. Hal itu sukses membuat Darren berteriak.
"Qenan!" teriak Darren. Sedangkan Qenan langsung berlari keluar.
"Yak, Mingyu! Kembalikan modem itu padaku!" teriak Darren dan berlari mengejar Qenan.
Ternyata Qenan bersembunyi di belakang pintu. Setelah itu, Qenan keluar dan menghampiri laptop Darren yang masih berada di atas meja. Qenan memasang modem itu. Setelah sinyal di laptop tersebut menyala, Qenan pun menyimpan semua tugas-tugas kuliahnya Darren yang sudah diketik oleh Darren.
"Selesai! seru Darren yang sudah menyimpan semua tugas kuliah Darren.
PUK!
Darren kembali ke perpustakaan dan mendapati Qenan sedang mengotak-atik laptopnya. Dan berakhir sebuah pukulan di kepala belakang Qenan.
"Aawww." Qenan meringis.
"Kena kau, Mingtem kurap." Darren tersenyum puas.
Qenan menatap horor Darren. Darren pun tak kalah memberikan tatapannya pada Qenan.
"Apa? Mau lagi?"
***
[Kelas Darka dan Gilang]
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan seluruh mahasiswa dan mahasiswi pun keluar dari dalam kelas mereka masing-masing. Menandakan kalau kuliah mereka sudah selesai.
Tersisa dua Smith bersaudara yaitu Lian Darka Smith dan Gilang Aditya Smith yang masih di dalam kelas. Darka yang masih duduk di kursi tengah melamun, sedangkan buku-bukunya masih di atas meja. Darka sedang memikirkan adiknya yaitu Darren. Gilang yang menyadarinya, langsung menghampiri Darka.
"Darka," panggil Gilang sembari memasukkan buku-buku Darka ke dalam tasnya. Darka melirik sekilas, lalu kembali tatapannya ke depan.
"Ada ap..."
"Aku merindukan Darren, Gil! Aku ingin Darren kembali ke rumah dan berkumpul bersama kita lagi."
Gilang duduk di samping Darka dan merangkulnya. "Adik kita akan kembali lagi pada kita, Darma! Aku janji padamu akan membuat Darka kembali seperti dulu lagi. Aku akan memperbaiki semuanya."
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang." Gilang dan Darka pun akhirnya pergi meninggalkan kelas mereka.
***
[Parkiran]
Saat Darka dan Gilang sudah sampai di parkiran. Tak jauh dari pandangan mata mereka. Mereka melihat Darren yang sedang bersenda gurau dengan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Setetes air mata mengalir membasahi wajah tampan Darka. "Darren," lirih Darka.
Gilang memberanikan dirinya mendekati Darren, sedangkan Darka hanya berdiri mematung sembari menangis.
"Apa kau akan langsung pulang, Ren?" tanya Jerry.
"Tidak. Aku akan ke Perusahaan ACCENTURE dulu. Ada sesuatu yang ingin aku kerjakan di sana," jawab Darren.
"Dan untuk kalian. Kalau masih punya waktu atau masih punya tenaga, kalian lanjutkan tugas-tugas kalian. Tapi kalau kalian lelah, kalian boleh pulang dan istirahat. Aku tidak mau kalian jatuh sakit."
"Yak! Kau seenaknya saja mengatur kehidupan kami. Sedangkan kau sendiri tidak mempedulikan kesehatanmu," protes Jerry.
"Seratus poin untukmu, Jerry!" seru Darel.
"Benar sekali ucapanmu itu," kata Rehan.
"Mantul.. Mantul.." kata Axel.
Sedangkan Willy, Dylan dan Qenan manggut-manggut.
"Jelaslah aku memperhatikan kalian. Kalian semuakan para kacungku dan para upik abuku. Kalau kalian pada sakit aku bisa kerepotan sendiri mengurus tiga kerjaanku," sahut Darren seenak udelnya.
Ketujuh sahabatnya menatap tajam kearah Darren. Lalu detik kemudian...
PLETAK!
PUK!
BUGH!
BUGH!
GEDEBAG!
GEDEBUG!
Mereka semua menyerang Darren. "Yak, Hentikan! Kalian ingin membunuhku, ya!" teriak Darren.
Mereka semua pun menghentikan aksi mereka. Mereka semua tersenyum bahagia dan juga gemas melihat wajah kesal dan rambut acak-acakan Darren.
"Sialan kalian semua," umpat Darren.
"Hahahahaha." mereka semua tertawa.
Sedangkan Darren sedang merapikan pakaiannya dan rambutnya yang berantakan karena ulah ketujuh sahabatnya itu.
"Ya, ya! Teruslah tertawa," kesal Darren dengan bibir yang digerak-gerakin.
"Hahahahaha." mereka makin tertawa kencang.
Saat Darren ingin membalas ketujuh sahabatnya itu, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Darren," panggil Gilang
DEG!
Darren terdiam. Darren terkejut saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
GREP!
Darren terkejut saat dirinya di peluk dari belakang. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Saat Darren ingin melepaskan pelukan tersebut, Gilang sudah terlebih dahulu bersuara.
"Biarkan seperti ini untuk beberapa menit, Darren!" Gilang berucap tepat di telinga Darren.
"Kakak merindukanmu, Darren. Maafkan Kakak. Maafkan Kakak. Jangan hukum Kakak seperti ini."
Setelah beberapa menit. Darren pun bersuara. "Tolong lepaskan pelukan anda, tuan Gilang! Saya benar-benar tidak nyaman."
DEG!
Hati Gilang benar-benar sakit mendengar penuturan dari Darren. "Darren," lirih Gilang.
Darren menarik kasar tangan Gilang, lalu detik kemudian, Darren mendorong kuat tubuh Gilang.
"Jangan pernah menggangguku. Jangan pernah mengusik kehidupanku. Hidupku sudah bahagia sekarang. Jadi, nyahlah kau dari hadapanku, Gilang Smith!" bentak Darren.
"Darren. Kakak tahu kalau Kakak salah. Dan mungkin kesalahan Kakak ini tidak bisa dimaafkan."
"Nah, itu kau tahu. Tapi kenapa masih saja mengemis maaf dariku. Apa urat malumu udah putus, hah?!" bentak Darren yang menatap tajam Gilang.
"Karena kau adik Kakak. Karena kau adalah Darrendra Smith. Kau adalah putra bungsu dari Erland Faith Smith. Dan kau adalah bagian dari keluarga kami."
BUGH!
"Darren!" teriak sahabat-sahabatnya saat Darren memukul Gilang. Ingatan kejadian enam bulan yang lalu berputar di otaknya.
"Papa benar-benar kecewa padamu Darren. Beginikah caramu bersikap pada kami keluargamu. Apa salah kami Darren," ucap Erland.
"Kalianlah yang sudah membuatku seperti ini!" teriak Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, lalu kembali menatap wajah ayahnya "Dan Papa! Sekarang Papa malah menyalahkanku atas sikapku yang seperti ini. Ini semuanya salah Papa. Jangan Papa pikir aku tidak mengetahui apapun yang Papa sembunyikan dariku. Jangan Papa pikir aku tidak menyadari akan sikap Papa padaku selama ini!" teriak Darren.
"Darren. Jaga nada bicaramu. Aku ini adalah Papamu!"
"Kenapa aku harus menjaga nada bicaraku pada anda? Sementara anda tidak pernah menunjukkan rasa sayang dan rasa perhatian anda padaku!" teriak Darren.
"Darren!"
PLAKK!
"Jangan seenaknya saja kau menyelipkan nama marga sialan itu di depan namaku. Selama enam bulan ini aku sudah tidak menggunakan marga sialan itu. Selama enam bulan juga aku bukan adikmu dan bukan bagian dari kalian lagi. Dan aku bukan putra dari laki-laki brengsek itu!" teriak Darren di depan wajah Gilang.
Setelah mengatakan hal itu, Darren pergi meninggalkan Gilang dan juga para sahabatnya. Seketika langkahnya terhenti, dikarenakan Darren berhasil mencekal tangannya.
"LEPASKAN! Bentak Darren. Tapi Gilang makin mengencangkan pegangan tangannya di tangan Darren.
Gilang menarik tangan Darren dan membuat Darren menghadap padanya. Gilang menarik kerah baju Darren. "Jangan pernah menghina Papa. Bagaimana pun dia adalah Papa kandungmu, Darren?! Kau tidak pantas untuk menghinanya!" bentak Gilang.
Darren menarik kuat tangan Gilang yang berada di kerah bajunya, lalu menghempaskannya kasar. Lalu Darren mendorong kuat tubuh Gilang. "CUIH! Darel meludah." Setelah kejadian enam bulan yang lalu. Laki-laki itu bukan lagi Papaku. Laki-laki itu adalah musuhku, termasuk kau dan para saudara-saudaramu. Kau masih ingatkan kata-kataku sebelum aku pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith? "
Gilang terkejut atas apa yang dikatakan oleh Darren. Dan seketika ingatan Gilang kembali keenam bulan yang lalu, dimana adik bungsunya pergi meninggalkan rumah.
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan pernah kalian lupakan sedikit pun. Mulai detik dan seterusnya namaku Darren bukan Darrendra Smith. Aku akan melepaskan marga Smith di depan namaku karena aku sudah tidak sudi lagi memakainya. Saat aku pergi keluar dari rumah ini kita sudah tidak ada hubungan apapun. Kalian bukan anggota keluargaku dan aku bukan anggota keluarga kalian. Aku memutuskan hubunganku dengan kalian semua. Jadi saat kita bertemu di luar atau di jalanan anggap kita tidak saling mengenal. Aku tidak akan mengusik kehidupan kalian dan aku juga minta pada kalian untuk tidak mengusik kehidupanku." Darren berucap dengan penuh penekanan.
"Aku akan mengingat semua perlakuan kalian hari ini. Dan aku tidak akan pernah melupakannya sampai aku mati. Aku akan buat kalian semua menyesal atas sikap dan perlakuan kalian padaku. Saat kalian mengetahui kebenarannya dan mengetahui siapa pelaku penusukan terhadap tuan Darka dan tuan Melvin, lalu kalian semua menyesal telah menyakitiku dan ingin meminta maaf padaku. Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat. Saat hari itu tiba, aku Darren tidak akan pernah memberikan kata maaf pada kalian semua. Mulai hari ini dan seterusnya hatiku telah terkunci rapat. Dan yang ada saat ini adalah kebencian dan dendamku pada kalian!" teriak Darren dingin dan ketus.
Tubuh Darren tersentak ke belakang. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajah tampannya.
"Apa sekarang kau sudah ingat, tuan Gilang? Sekarang aku ingatkan padamu jangan mengganggu kehidupanku lagi. Urusi saja keluargamu dan jangan mengurusi orang lain," ucap Darren. Dan setelah itu Darren pun pergi.
Darren menaiki motornya dan memakai helmnya. Kemudian Darren menghidupkan mesin motornya itu.
BRUUMMM!
BRUUMMM!
Darren mengendarai motornya sedikit ngebut. Dan motor yang di kendarai Darren mengarah ke arah dimana Darka berdiri karena arah pulang memang mengarah ke sana. Detik kemudian Darka langsung berdiri di depannya dan menghadang motor Darren.
"Darka!" teriak Gilang.
"Darren!" teriak para sahabatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
Dewi Pratiwi
author nya ternyata army juga,🤭
2024-08-05
0
whiteblack✴️
ini juga diganti nama Qenan ok
2024-03-11
0
whiteblack✴️
tulisan mingyu diganti qenan kak
2024-03-11
0