[KEDIAMAN KELUARGA AXEL]
Di dalam rumah Axel ada beberapa orang yang kini tengah melawan Axel. Kedua orang tuanya terikat di kursi.
Bugh Bugh Duagh
Bugh Duagh Duagh
Bugh Bugh Duagh
"Aakkkhhhh!" teriak tiga orang dan mereka tersungkur di lantai. Axel berhasil mengalahkan tiga orang tersebut
"Siapa kalian?!" bentak Axel.
Mereka yang ditanya tak menjawab. Mereka terus saja menyerang Axel secara membabi buta. Kedua orang tuanya yang terikat menjadi khawatir, terutama sang Ibu. Celsea Immanuel sudah menangis melihat putra ketiganya bertarung sendirian.
Bugh Bugh Duagh
Bugh Bugh Sreett
Bugh Bugh Duagh
Sreett Sreett
Axel berhasil melumpuhkan dua orang lagi.
"Siapa kalian sebenarnya?"
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Sekarang serahkan rancangan mobil itu pada kami!" teriak pimpinan dari kelompok tersebut.
"Jadi kalian mengincar rancangan mobil mewah yang kami rakit itu. Hahahaha.. Dasar pecundang. Kenapa kalian tidak membuatnya sendiri?" ejek Axel.
Di luar rumah Axel 25 orang-orang dari Noe Afredo telah datang. Mereka langsung memasuki rumah besar milik keluarga Axel.
25 orang-orang tersebut langsung melakukan penyerangan terhadap orang-orang yang saat ini tengah melawan Axel yang hanya seorang diri.
Bugh Bugh Duagh
Bugh Bugh Duagh
"Maaf kami datang terlambat!" seru salah satunya.
Mereka sudah berada di dalam rumah Axel.
"Tak masalah. Memangnya siapa yang mengirim kalian?"
"Bos Noe. Dan Bos Noe diberitahu oleh Darren. "
"Ooh, begitu. Awas di belakangmu!" seru Axel.
Laki-laki tersebut langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut orang itu
Duaghh
Bugh Duagh
Bugh Bugh Sreett
Bugh Sreett
Disaat orang-orang tengah bertarung. Axel mencuri kesempatan dengan melepaskan ikatan kedua orang tuanya.
"Papa dan Mama tidak apa-apa?"
"Kami tidak apa-apa sayang," jwab keduanya.
"Salsa mana?" tanya Celsea saat tidak melihat putri bungsunya.
"Salsa bersama Darren. Aku menyuruh Salaa untuk menemui Darren."
"Apa Salsa pergi sendiri?" tanya Dario.
"Ya, Tidaklah. Bagaimana mungkin aku menyuruh Salsa pergi sendiri? Aku menyuruh sopirku untuk menemani Salsa."
"Sekarang Papa dan Mama bersembunyilah."
"Biarkan Papa membantumu."
"Tidak usah, Pa. Papa menemani Mama saja. Lagian aku sudah mendapatkan bantuan 25 orang. Dan sebentar lagi mungkin Darren juga akan datang."
"Baiklah. Kau hati-hati."
"Hm!"
***
Di tempat yang lain dimana Darren sedang mengendarai mobilnya untuk menuju rumah Axel. Untungnya Darren pergi sendiri dan tidak membawa Salsa adiknya Axel bersamanya.
Saat sedang fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba ada beberapa motor yang menghalangi mobilnya. Hal itu sukses membuat Darren menginjak rem secara mendadak.
"Sial," umpat Darren.
Darren menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan menginjak pedal gas dengan bertubi-tubi sehingga menimbulkan suara yang berisik. kemudian Darren memundurkan mobilnya secara berlahan-lahan. Tangan kiri Darren sudah berada pada persneling dan kaki kirinya pada pedal kopling. Sedangkan kaki kanan tetap menekan pedal gas.
Darren menginjak kopling, lalu memasukkan gigi ke 2. Darren melepaskan kopling. Lalu memindahkan gigi tersebut dengan cepat. Dan detik kemudian, mobil tersebut melaju dengan sangat cepat ke arah beberapa motor yang menghadangnya sehingga membuat para pemilik motor berlari menyelamatkan diri. Dan berakhirlah motor-motor itu hancur terlindas oleh mobil Darren.
Darren terus melajukan mobilnya sembari sesekali melirik dari kaca spion di depannya. Terukir senyuman sinis di sudut bibirnya. "Dasar sampah," umpat Darren.
***
[KEDIAMAN IMMANUEL]
Darren sudah sampai di depan rumah Axel dan langsung masuk begitu saja keperkarangan rumah mewah milik keluarga Axel.
Darren keluar dari dalam mobilnya, lalu langsung berlari menuju ke dalam rumah Axel.
Saat Darren tiba di dalam rumah, tepatnya ruang tengah dapat dilihat olehnya orang-orang dari Noe dan Axel sedang melawan lebih dari dua puluh orang yang tidak dikenal. Dan beberapa dari mereka sudah dilumpuhkan.
"Ach, sial. Siapa mereka sebenarnya?" batin Darren.
Darren pun langsung masuk ke dalam pertarungan tersebut.
Bugh.. Bugh.. Duagh..
Duagh.. Duagh.. Duagh..
Bugh.. Bugh.. Bugh.. Sreett.. Sreett..
Darren berhasil melumpuhkan empat orang sekaligus. Dengan pukulan dan tendangannya. Serta Darren juga mematahkan leher lawannya itu.
"Ren. Kau sudah datang!" seru Axel saat melihat Darren yang sudah ikut dalam pertarungan.
"Jangn lengah, Axel. Di belakangmu," sahut Darren sedikit berteriak.
Axel pun langsung dengan gesitnya berhasil menghindar, lalu...
Duagh..
Tendangan Axel tepat mengenai perut orang tersebut dan mengakibatkan tubuhnya terhempas menghantam dinding rumah dengan sangat tidak elitnya.
Brukk..
Orang itu langsung terkapar tidak sadarkan diri dengan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Pertarungan makin menegangkan. Darren, Axel dan orang-orangnya Noe menghajar habis-habisan orang-orang yang sudah menyerang rumah Axel.
Bugh.. Bugh.. Bugh.. Duagh..
Bugh.. Bugh.. Sreett..
Bugh.. Bugh.. Sreett..
Bugh.. Duagh.. Bugh.. Duagh..
Lima belas tumbang karena Darren, Axel dan orang-orang Noe menyerang para musuh membabi buta.
"Sisa sepuluh lagi, Darren!" seru Axel.
Darren dan Axel saling lirik. Begitu juga dengan orang-orangnya Noe.
Bugh.. Bugh.. Sreett
Bugh.. Bugh.. Duagh..
Bugh.. Duagh..
Bugh.. Bugh.. Duagh..
Bugh.. Duagh..
Akhirnya mereka berhasil melumpuhkan semua musuh-musuh mereka. Mereka menatap nyalang kepada semua musuh-musuh mereka yang tergeletak dilantai. Ada yang pingsan, mungkin saja ada yang sudah mati. Dan ada juga yang masih bergerak, walau dalam keadaan luka parah.
"Bagaimana keadaan Paman dan Bibi?" tanya Darren kepada Axel.
"Papa dan Mama baik-baik saja. Aku menyuruh mereka masuk ke dalam kamar," jawab Axel.
"Sebenarnya mereka siapa?"
"Aku juga tidak tahu, Ren. Tapi salah satu dari mereka sempat mengatakan padaku untuk menyerahkan rancangan mobil yang kita buat."
"Hah!" Darren terkejut. "Apa aku tidak salah dengar. Para idiot ini meminta kita untuk menyerahkan rancangan mobil yang kita buat. Yang benar saja. Aku mati-matian membuat rancangan itu. Dan seenaknya saja mereka menyuruh kita untuk menyerahkannya pada mereka. Heeii, dmana otak mereka." Darreb berucap kesal.
Saat Darren, Axel dan orang-orangnya Noe sibuk dengan pembicaraan mereka. Tanpa mereka sadari, salah satu musuh mereka kini tengah menatap tajam dan menyeringai.
"Apa yang akan kita lakukan pada mereka sekarang?" tanya salah satu orangnya Noe.
"Bunuh atau serahkan pada polisi," jawab Axel.
"Serahkan saja pada polisi. Tapi sebelumnya, kita harus paksa salah satu dari mereka untuk memberitahu kita siapa yang sudah menyuruh mereka menyerang rumahmu. Mungkin malam ini adalah rumahmu. Besok siapa tahu rumahku atau rumah yang lainnya," ucap Darren dengan memberikan usulan.
"Kau benar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besoknya," ujar Axel "Eh, aku lupa. Salsa mana? Aku tidak melihat Salsa?" tanya Axel.
Saat Darren ingin menjawabnya. Tiba-tiba...
JLEB..
"Aaakkkkhhhhh!" teriak Darren saat merasakan pisau menancap sangat dalam di bahu kirinya atas ulah salah satu musuhnya.
"Darren!" teriak Axel dan orang-orang Noe.
Bugh..
"Aaakkkhhh."
Salah satu orang-orang Noe memukul dengan kuat kepala orang tersebut dengan menggunakan senapan yang ada di tangannya sehingga membuat kepala orang itu mengeluarkan banyak darah.
"Pegang dia dan paksa dia mengaku," ucap salah satu orang-orang Noe.
Axel mendekati Darren "Kau tahan sebentar, oke."
Setelah itu, Axel langsung mencabut pisau yang menancap di bahu kiri Darren bagian belakang.
"Ssshhhh." Darren meringis saat pisau itu tercabut.
Setelah pisau itu tercabut, Axel langsung menempelkan kain di atasnya dan menekannya.
Sedangkan orang-orangnya Noe sedang meringkus dan mengikat para musuh-musuh mereka. Lalu menghubungi polisi.
"Kita kerumah sakit, ya." Axel menatap khawatir Darren.
"Aku baru tiga hari keluar dari rumah sakit. Dan sekarang aku harus kesana lagi. Tidak. Aku tidak mau."
"Tapi kau sedang terluka, Darren drama Smith."
Darren menggeram kesal. Lalu menatap horor pada Axel. Axel yang menyadari tatapan itu langsung memukul mulutnya sendiri.
"Hehe... Sorry. Salahkan saja mulutku ini yang tidak bisa direm."
"Hah." Darren menghela nafas kasarnya.
Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Celsea, ibunya Axel.
"Astaga, Darren. Kau kenapa sayang?!" teriak Celsea saat melihat luka di bahu kiri Darren.
"Aish, Mama! Mama mengagetkan kami saja," protes Axel.
"Ach, Bi! Aku tidak apa-apa."
"Apanya yang tidak apa-apa, hum! Ini lukanya sangat dalam. Sini biar Bibi yang obati lukanya. Kalau dibiarkan terlalu lama akan infeksi." Celsea langsung menarik lembut tangan Darren untuk duduk di sofa.
Axel tiba-tiba menepuk jidatnya. Dirinya baru sadar bahwa ibunya adalah seorang dokter.
"Aish! Kenapa aku bisa lupa? Mamakan seorang Dokter. Kenapa tidak dari tadi aku memanggil Mama di kamar?"
"Karena kau memang bodoh," ejek Darren.
"Yak, Ren! Kau mengataiku bodoh," protes Axel.
"Iya. Kenapa? Tidak terima?"
Saat Axel ingin membalas perkataan Darren. Darren sudah terlebih dahulu memotongnya. "Kau punya satu kesalahan padaku. Bukan kau saja. Dylan dan Jerry juga. Tunggu saja. Hukuman apa yang akan aku berikan pada kalian."
Seketika tubuh Axel menegang. Dirinya mengetahui arah pembicaraan Darren dan juga mengetahui apa kesalahannya itu. Kesalahannya itu adalah baik dirinya, Dylan dan Jerry berani begadang sampai pukul 12 Malam di Shoowroom. Padahal sahabat kelincinya itu sudah memberitahu padanya, Dylan dan Jerry paling lambat pukul tujuh malam Shoowroom harus sudah tutup dan tidak ada yang bekerja lagi. Kecuali para penjaga. Tapi mereka justru melanggar.
Darren yang melihat Axel yang terdiam tersenyum kemenangan. Dirinya berhasil menjahili sahabatnya itu. Begitu juga dengan kedua orang tua Axel. Mereka tahu bahwa Darren hanya sekedar menjahili putra mereka. Tapi mereka juga setuju atas apa yang dilakukan Darren. Paling tidak dengan sikap Darren seperti ini bisa membuat Axel dan sahabat-sahabat putranya yang lainnya bisa memikirkan kesehatan dan istirahat mereka dan tidak memforsir tenaga mereka berlebihan.
"Mau sampai kapan kau berdiri disana Yonantan Axel Immanuel. Apa kakimu tidak lelah berdiri terus?" ejek Darren.
Hal itu sukses membuat Axel terkejut. Dan langsung melangkah menuju sofa dan menduduki pantatnya tepat di samping ayahnya.
"Ren, sorry."
"Aku lagi sakit. Nanti saja kita bahas masalah itu."
"Hah!"
Lagi-lagi Darren tersenyum kemenangan melihat wajah pasrah Darren.
Lalu terdengar suara ponsel milik Darren berbunyi. Darren mengambilnya. Dan dapat dilihat olehnya nama 'kak Davin' di layar ponsel miliknya.
"Mau apa dia meneleponku?" gumam Darren.
Gumamannya itu didengar oleh Dario, Celsea dan Axel. Mereka sudah tahu sejak lama bahwa hubungan Darren dengan keluarganya sedang buruk.
"Angkatlah. Tidak baik mengabaikan telepon dari seseorang sekalipun kita membencinya," ucap Dario lembut.
Dario dan Celsea sudah menganggap Darren seperti putra kandung mereka sendiri. Bahkan kedua kakaknya Axel juga memperlakukan Darren layak adik kandung sendiri. Begitu juga Salsa. Salea juga sangat menyayangi Darren.
...**Berikanlah Komentar, Like dan Votenya....
Terima Kasih**....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
wohoaaa manteep thor 😁👍
grazy uup ya thorr🤧🤧
2024-02-01
0
kutu kupret🐭🖤🐭
dengan tidak estetik🤣🤣
2024-02-01
0