{KEDIAMAN KELUARGA SMITH}
{Ruang Tengah}
Kini Davin sudah di ruang tengah bersama adik-adiknya, kecuali Darka dan Melvin.
"Kak, apa yang terjadi padamu? Kenapa pulang-pulangnya babak belur begini?" tanya Adnan sembari mengobati Davin
"Kakak dihadang oleh beberapa preman dijalan. Mereka mengedor kaca mobil Kakak. Ya, sudah. Kakak keluar dan berusaha ngomong baik-baik sama mereka. Eeh.. mereka langsung menyerang Kakak," jawab Davin
"Kak Davin! Kakak yakin tidak apa-apa? Kita ke rumah sakit saja, ya!" seru Ivan
"Kakak benaran tidak apa-apa, Ivan. Kau tidak perlu khawatir, oke. Kakak bisa selamat sampai di rumah ini, itu karena Darren. Kakak kesayanganmu itu," kata Davin
"Jadi Kak Davin bertemu dengan Darren?" tanya Andra
"Iya. Saat Kakak melawan kelima preman-preman itu dan Kakak beberapa kali kena pukulan serta tendangan, Kakak melihat Darren yang berdiri bersandar di mobil mewah miliknya. Darren hanya berdiri sambil terus menyaksikan Kakak yang sedang bertarung dengan kelima preman-preman itu tanpa ada niat sedikit pun untuk membantu Kakak." Davin bercerita tentang adiknya yang awalnya tidak mau membantunya disertai air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya. "Saat itu Kakak berpikir. Segitu besarkah kebencian Darren pada Kakak, sehingga Darren tidak sudi dan tidak peduli pada Kakak. Dan membiarkan Kakak babak belur ditangan kelima preman-preman itu. Darren tetap di posisinya dan terus menjadi penonton," lirih Davin
"Lalu apa yang terjadi sehingga Kakak bisa pulang dengan selamat bersama polisi?" tanya Dzaky
"Saat Kakak benar-benar lelah. Disaat Kakak benar-benar kalah dan tidak memiliki tenaga lagi. Seluruh tubuh Kakak benar-benar sakit. Salah satu preman itu mengeluarkan pisau hendak membunuh Kakak, tiba-tiba preman itu berteriak dan pisau yang di tangannya terlepas dan jatuh dibtanah."
"Jangan bilang kalau itu...?" ucapan Adnan terhenti
"Ya, Adnan. Itu Darren yang melakukannya. Darren melempari tangan preman itu menggunakan batu. Dan lemparannya tepat sasaran," saut Davin sembari tersenyum saat membayangkan bagaimana cara adiknya itu menghadapi preman-preman itu
"Ceritakan pada kami Kak Davin. Bagaimana Kak Darren melawan preman-preman itu?" tanya Adrian sumringah
Davin tersenyum mendengar pertanyaan dari adiknya itu. "Yang jelas Kakakmu itu hebat sekali dalam melawan preman-preman itu, Adrian." Davin memuji adik kelincinya itu
"Jangan bilang kalau Darren melakukan hal aneh atau hal-hal yang membuat para musuhnya bertambah kesal dan emosi," ujar Andra yang tahu tabiat adiknya
"Seperti yang kau ketahui, bagaimana tabiat adikmu itu, Andra. Kau sudah tahu bagaimana cara Darren menghadapi para musuh-musuhnya. Saat-saat sedang gentingnya, adikmu itu masih sempat-sempatnya memikirkan nasib mobil mewahnya itu. Darren tidak mau kalau mobilnya lecet," ujar Davin
Andra, Dzaky, Adnan dan kelima adik-adiknya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar cerita dari Davin.
"Dan Darren juga yang sudah menghubungi polisi. Saat polisi datang, Darren langsung pergi," ucap Davin
"Itu tandanya kalau Kak Darren tidak benar-benar membenci kita, Kak Davin!" seru Nathan
"Kalau Kak Darren benar-benar membenci kita, mungkin saat itu Kak Darren tidak akan mau menolong Kak Davin dan lebih memilih pergi meninggalkan Kak Davin," sela Mathew
"Eemm! Kalian benar. Kak Darren kalian itu memang tidak benar-benar membenci kita. Saat ini hanya egonya saja yang lebih besar dari pada rasa sayangnya pada kita," saut Adnan
"Tugas kita sekarang ini adalah mengalahkan egonya dengan kasih sayang kita, perhatian kita dan kepedulian kita. Kita harus bisa merebut hatinya kembali," kata Dzaky
"Benar, Kak Dzaky. Kami setuju," jawab Adrian dan kelima adiknya
Davin, Andra, Dzaky dan Adnan tersenyum bahagia mendengar ucapan dari kelima adiknya.
______
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan mereka semua pun sudah melakukan ritual malam mereka yaitu makan malam bersama. Saat sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing. Mereka menyempatkan diri untuk berkumpul di ruang tengah. Termasuk Darka dan Melvin.
Niat awalnya mereka tidak ingin, tapi karena anggota keluarga mereka memohon pada mereka berdua akhirnya mereka pun terpaksa ikut bergabung.
"Sekarang ceritakan pada Papa, Davin. Apa yang terjadi padamu?"
"Aku dijegat oleh lima orang preman yang tubuh mereka lumayan besar-besar. Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan mereka. Tapi lama-lama preman-preman itu terus saja memukul kaca mobilku. Mau tidak mau aku pun keluar dari dalam mobil. Aku ajak mereka bicara baik-baik, ternyata mereka langsung menyerangku."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya sayang?" tanya Agneta
"Aku berhasil mengalahkan dua dari lima preman itu hingga tak sadarkan diri. Sisa tiga orang dan ternyata yang tiga ini begitu kuat dan ditambah lagi tubuhku udah kesakitan. Aku berulang kali mendapatkan pukulan dan tendangan," jawab Davin
"Payah. Giliran sama adek sendiri berani dan berhasil menang. Tapi giliran sama orang lain kalah. Dasar banci," sindir Darka sinis
Davin yang mendengar sindiran dari Darka tidak bisa berkata apapun. Di dalam hatinya, Davin membenarkan ucapan Darka. Dirinya memang menang menyakiti adiknya sendiri.
Erland yang melihat putra sulungnya diam dan sedih menjadi tidak tega. Disini dirinya sebagai seorang ayah juga ikut andil dalam menyakiti putra bungsunya.
"Darka.. Papa mo...." ucapan Erland terpotong
"Kenapa? Papa tidak suka dengan ucapanku? Apa Papa mau memarahiku? Atau Papa mau menamparku, seperti Papa menampar adik kesayanganku?"
"Papa ti...." Lagi-lagi ucapan Erland terpotong
"Kalau Papa berani memarahiku dan memukulku. Aku pastikan Papa akan kehilangan satu putra lagi. Dengan kata lain, aku akan pergi dari rumah ini dan melepaskan Marga Smith dibelakang namaku." Darka berucap dengan penuh penekanan
"Darka!" bentak Andra
"Berlaku untuk kalian semua," ucap Darka lagi tanpa mempedulikan bentakkan dari Andra
"Sudah.. Sudah! Kenapa jadi ribut begini," sela Evan, suami dari adik perempuan Erland. "Davin. Lanjutkan ceritamu."
"Yang jelas aku benar-benar kalah dan kewalahan menghadapi tiga preman yang berbadan besar itu. Lalu mataku melihat sesosok orang yang sangat aku rindukan enam bulan ini. Orang itu adalah adikku, Darren."
"Kau bertemu dengan Darren? Apa yang dilakukan adikmu itu? Apa adikmu membantumu?" tanya Erland
"Awalnya tidak," jawab Davin
"Maksud kamu apa, Davin?" tanya Evan
"Saat aku melawan tiga preman itu, Darren hanya menonton saja tanpa ada niat untuk menolongku," jawab Davin
"Hahahahaha.." Carissa, sang Bibi tertawa lepas, lalu matanya menatap tajam wajah kearah Davin. "Apa saat itu kau berharap kalau anak tidak tahu diri itu mau menolongmu, Davin?
"Apa maksud, Bibi?" tanya Davin heran
"Apa kau pura-pura tidak tahu? Apa justru kau tidak ingin tahu?" tanya Carissa. "Jangan kau pikir Bibi tidak tahu ucapanmu saat itu. Apa perlu Bibi ingatkan lagi? Baiklah kalau begitu," ucap Carissa. "Saat itu kau mengatakan 'Sudahlah, Pa. Jangan dipikirkan apa yang dikatakan, Bibi. Bibi seperti itu karena terlalu memanjakan anak tak tahu diri itu'."
DEG!!
Davin terkejut saat mendengar ucapan dari Bibinya itu. Dirinya tak menyangka kalau ucapannya saat itu didengar oleh Bibi nya.
"Bagaimana, Davin? Sudah ingatkan?" sindir Carissa, sedangkan Davin tidak bisa menjawab pertanyaan dari Carissa. "Jadi benarkan. Saat kau terpojok dengan tiga preman itu, kau berharap sianak tak tahu diri itu mau menolongmu?"
Hening..
Davin hanya diam.
"Jawab Davin Smith!" bentak Carissa
Mendengar bentakan Carissa, hal itu sukses membuat mereka semua terkejut.
"I-ya, Bi. Itu memang benar. Saat itu aku.. aku memang mengharapkan Darren mau membantuku," lirih Davin dengan air matanya yang sudah mengalir.
"Menjijikkan," ucap Carissa. "Bibi benar-benar kecewa atas ucapanmu saat itu, Davin. Ucapanmu saat itu seakan-akan menuduh Bibi yang terlalu memihak dan terlalu memanjakan Darren. Padahal semua itu tidak benar. Bibi tidak pernah memihak pada siapapun. Bibi tidak pernah pilih kasih untuk memberikan kasih sayang dan perhatian Bibi pada semua keponakan-keponakan Bibi. Itu hanya kebetulan saja, kenapa Bibi terlalu dekat dengan Darren. Karena Darren hanya ingin berbagi masalahnya dengan Bibi. Bibi sering melihat Darren yang suka melamun. Bahkan Bibi pernah tiga kali memergokinya sedang menangis terisak. Dan yang ketiganya, Bibi memberanikan diri untuk bertanya. Saat Bibi mengetahui semua masalahnya, Bibi benar-benar tidak tega melihatnya. Hati Bibi benar-benar hancur saat mendengar semua keluhan yang keluar dari mulutnya. Maka dari itulah, kenapa Bibi selalu ada untuknya. Dan memintanya untuk selalu bercerita pada Bibi dan tidak memendamnya sendiri. Masalah ini juga sudah diketahui oleh suami bibi, Evan dan juga ketiga putra-putra Bibi. Dan mereka kadang-kadang juga membagi waktu mereka untuk Darren. Kenapa aku tidak bercerita kepada kalian? Dan kenapa suamiku dan ketiga putra-putraku mengetahuinya? Karena apa yang menjadi masalah Darren selama ini, sehingga membuat Darren selalu menangis dibelakang kalian. Itu semua gara-gara kalian. Terutama kalian sebagai orang tuanya!"
Saat Erland ingin berbicara, Carissa terlebih dahulu memotongnya. Carissa menatap Davin. "Sekarang katakan apa yang terjadi saat kau terdesak oleh ketiga preman itu dan ditambah lagi adikmu itu sama sekali tak berniat membantumu?"
"Saat aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Sa-salah satu preman itu menghampiriku dan dia mengeluarkan sebuah pisau. Dan pisau itu hampir saja menikam perutku. Tapiiii....." Ucapan Davin terhenti. Davin menangis saat membayangkan kejadian itu, dimana dirinya selamat atas pertolongan adiknya.
"Anak tak tahu diri itu menyelamatkan nyawamu. Benar begitu?" ucap Carissa sinis dengan menatap tajam Jin
"I-iya, Bi!" jawab Davin ketakutan
"Cih!! Kalau aku jadi Darren. Aku ogah menolongmu, Kak Davin. Aku akan membiarkanmu mati ditangan preman itu. Lagiankan nama Darren sudah buruk dimata kalian. Bahkan kalian sudah menganggap Darren itu seorang penjahat dan juga monster yang kejam." Darka menjawab dengan nada ketusnya.
Darka sudah terlanjur sakit hati dengan para kakaknya dan juga anggota keluarganya, kecuali Carissa, Evan dan ketiga sepupunya.
"Ach, sudahlah. Ngapain juga aku berlama-lama disini. Lebih baik aku ke kamar dan tidur," ucap Darka.
Tanpa mempedulikan anggota keluarganya, Darka pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.
"Bibi sependapat dengan Darka. Bibi juga tidak habis pikir, kenapa anak yang disebut anak yang tak tahu diri oleh orang sepertimu, masih mau menolongmu dan menyelamatkan nyawamu. Padahal hatinya itu sudah disakiti olehmu dan keluargamu."
Setelah mengatakan hal itu, Carissa juga pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya. Dan disusul oleh suami dan tiga putra-putranya.
Kini tersisa Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan kelima adiknya. Mereka semua menangis atas ucapan Darka dan Carissa. Mereka juga menangis saat mengingat perlakuan mereka pada Darren.
"Darren," batin Erland dan Agneta
"Kak Darren," batin Adrian dan keempat adiknya
"Darren," batin Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang
Mohon Dukungannya
Vote dan Komentar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
Adiwaluyo
ayo daren maafkan mereka,, selagi mereka sudah bertaubat maafkan lah,, dendam itu tidak baik dan tak ada ujung habis nya
2023-01-22
1
Febri Atifebri
Gak kayak gitu nanyanya. Seharunya gini. Kak Davin kenapa gak mati sekalian? Kenapa selamat?
2021-06-23
0
Kayla Maysa
Gaku usah maafin mereka Darka. Buat mereka semua menyesal akan perlakuan buruk mereka ke Darren.
2021-06-23
0