Saat ini anggota keluarga Smith dan dua sahabat Darren yaitu Willy dan Qenan telah berkumpul di depan pintu ruang UGD. Mereka semua tampak panik.
"Sayang. Sudahlah. Berhentilah menangis. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!" hibur Aqneta pada Darka.
"Hiks... Ini semua salahku, Ma! Kalau seandainya aku tidak menghadang motornya Darren. Darren pasti tidak akan jatuh. Darren seperti ini karena menghindariku... Hiks," isak Darka.
"Huuusssttt!" Sudah... Sudah. Mama tidak mau mendengarkan hal itu lagi. Semua akan baik-baik saja. Darren akan baik-baik saja."
CKLEK!
Pintu UGD di buka. Dan keluarlah seorang dokter bersama seorang perawat, lalu mereka menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" tanya Erland.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda. Saya ingin bertanya terlebih dahulu. Apa boleh?"
"Silahkan, Dok! Anda mau bertanya apa pada saya?"
"Begini. Ini tentang putra anda. Apakah putra anda memiliki masalah di jantungnya?"
DEG!
Baik Erland maupun yang lainnya terkejut saat mendengar pertanyaan dari Dokter tersebut.
"Ma-maaf Dokter. Kenapa anda bertanya seperti itu?" tanya Erland.
"Saat pasien di bawah kemari. Kondisi tidak bisa dikatakan dengan kata baik. Wajahnya yang pucat pasi. Padahal yang saya lihat pasien hanya mengalami luka ringan di bagian pelipisnya dan kakinya yang terkilir akibat terhimpit sepeda motornya. Saat saya melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Pasien sempat kehilangan detak jantungnya selama setengah jam. Selama waktu lima belas menit, saya berhasil mengembalikan detak jantungnya kembali," jawab sang Dokter tersebut.
Sontak hal itu membuat Agneta menggeleng-gelengkan kepalanya dan air matanya berlomba-lomba keluar. "Tidak... Tidak." Agneta berucap dan berlahan melangkah mundur.
"Kakak Belva... Hiks... Kakak... Hiks," isak Agneta.
"Mama." Davin dan yang lainnya panik saat melihat Agneta yang tiba-tiba saja histeris.
"Sayang. Kau kenapa, hah?" Erland benar-benar khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba histeris.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Kalian semua boleh melihat pasien saat pasien sudah dipindahkan ke ruangannya," kata Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter." Evan membalas ucapan Dokter itu.
"Bawa duduk dulu Kak Agneta nya, Kak!" seru Evan.
Lalu Erland dan Davin membantu Agneta untuk duduk.
"Sayang. Ada apa? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tiba-tiba menyebut Belva, ibu dari ketujuh putraku?" tanya Erland.
"Ayolah, Ma! Katakan pada kami. Kenapa mama menyebut nama Mama kandung kami?" tanya Davin.
"Maafkan aku... Maafkan aku! Aku benar-benar tidak menyadari hal ini. Aku benar-benar tidak menyadarinya," ucap Agneta.
"Apanya, sayang? Jangan buat aku bingung," ucap dan tanya Erland.
"Darren," lirih Agneta.
"Darren," ucap mereka yang mengulangi perkataan Agneta.
"Soal pertanyaan Dokter mengenai apakah Darren memiliki masalah di jantungnya?" lirih Agneta.
"Jangan bilang...." perkataan Erland terpotong karena Agneta sudah mengangguk terlebih dahulu
"Iya. Jantung Darren bermasalah," jawab Ye Jin lirih
DEG!
Bagaikan dihantam palu besar yang tepat mengenai hati mereka saat mendengar penuturan dari Agneta bahwa kesayangan mereka sedang sakit selama ini. Dan bahkan mereka sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.
Erland langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Keenam putra-putranya dari Belva menangis sejadi-jadinya. Mereka telah gagal menjadi Ayah dan juga Kakak untuk Darren.
Darka mendekati Agneta. Dan menatap lekat matanya. "Hiks... Katakan padaku kalau semua ini hanya kebohongan Mama semata. Hiks... Adikku baik-baik sajakan, Ma? Jantung adikku baik-baik sajakan, Ma?"
Agneta menatap sendu putranya sekaligus keponakannya. "Mama tidak berani bermain-main dengan nyawa sayang. Apalagi nyawa adikmu. Putra Mama. Keponakan Mama. Adikmu benar-benar sakit selama ini."
"Mama tahu dari mana kalau Darren memiliki masalah di jantungnya?" tanya Andra.
"Dari Mama kandung kalian. Kakak perempuan Mama," jawab Agneta.
FLASHBACK ON
"Kak. Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Agneta."
"Agneta."
"Ya, Kak. Ada apa?"
"Apa kau mau melakukan satu hal untukku?"
"Apapun untuk Kakak. Aku akan melakukannya. Aku menyayangimu Kak. Kau adalah ibu kedua setelah Mama. Kau selalu ada untukku. Kau selalu memberikan yang terbaik untukku."
Belva tersenyum bahagia mendengar penuturan dari adiknya itu. Lalu Agneta memeluk tubuh Belva dengan erat. "Katakan Kak. Apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Belva mencium kepala Agneta. "Menikahlah dengan suamiku. Dan jagalah ketujuh putra-putraku."
Agneta langsung melepaskan pelukannya dari sang Kakak. Lalu menatap wajah cantik Kakaknya itu. "Kakak. Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa aku menikah dengan suamimu? Kau masih hidup Kak. Kau masih bersamaku sekarang ini. Jangan buat aku menjadi adik yang jahat padamu Kak."
Belva lagi-lagi tersenyum mendengar penuturan dari adiknya itu.
"Kau tidak harus menikah sekarang. Menikahlah saat Kakak sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Kakak, cukup! Makin lama ucapan Kakak makin ngelantur."
Belva berjongkok dihadapan Agneta. Lalu tangannya menggenggam erat tangan Agneta.
"Belva. Dengarkan Kakak. Umur Kakak tidak akan lama lagi. Kau sudah tahu bagaimana kondisi Kakak sekarangkan? Kakak memiliki tujuh putra. Dan semuanya masih kecil-kecil. Apalagi Darren. Usianya masih satu tahun. Dan bahkan Darren belum mengenal wajah Kakak dan Darren juga harus banyak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Kakak. Kakak takut kalau Kakak tidak akan bisa memberikan semua itu padanya."
"Kakak. Aku yakin Kakak pasti sembuh. Bukannya sudah satu minggu ini Kakak dan Kak Erland sedang dalam proses pengobatan. Jangan kecewakan Kak Erland, Kak!"
"Justru itu yang Kakak takutkan, Agenta! Kakak takut semuanya akan sia-sia."
"Agneta. Kakak mohon. Kalau Kakak sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tolong jaga putra-putra Kakak. Sayangi mereka, jaga mereka seperti kau menyayangi dan menjaga putra-putra kandungmu. Terutama Darren. Berikan perhatian dan kasih sayang yang lebih padanya. Karena Darren beda dengan keenam putraku yang lainnya. Darren memiliki masalah di jantungnya. Selama Darren bahagia dan tidak tertekan. Selama itulah jantungnya akan baik-baik saja. Justru sebaliknya. Jika Darren selalu menangis, bersedih dan tertekan. Maka jantungnya akan kambuh. Jika jantungnya kambuh terus-terusan, maka nyawanya sebagai taruhannya. Jadi Kakak mohon padamu, Agneta! Tolong kabulkan permintaan Kakak. Jagalah mereka untuk Kakak."
Agneta menangis mendengar penuturan dari Kakaknya, lalu Agneta memeluk tubuh sang Kakak. "Baiklah Kak. Aku akan menjaga ketujuh keponakanku dengan baik. Terutama Darren. Aku akan menyayangi dan menjaga mereka dengan baik. Kalau aku sampai melanggar janjiku. Maka aku tidak akan hidup tenang. Selamanya."
"Satu hal lagi. Tolong rahasiakan masalah ini pada Erland."
"Kenapa Kak? Kak Erland berhak tahu."
"Kakak tidak mau membuat Erland makin sedih. Pertama Erland akan sedih akan kehilangan Kakak selamanya. Dan Kakak tidak mau membuat Erland makin sedih saat mendengar berita tentang kondisi putra bungsunya. Kalau sudah waktunya, kau boleh menceritakannya pada Erland."
"Baiklah. Aku janji akan merahasiakan masalah ini pada Kak Erland. Dan aku janji pada Kakak akan selalu menjaga jantung keponakanku agar tidak pernah kambuh."
"Kakak percaya padamu. Kau bisa melakukannya dengan baik."
FLASHBACK OFF
"Belva... Belva... Hiks." Erland menangis saat mendengar cerita dari Agneta. "Kenapa kau merahasiakan semua ini padaku Belva? Kau memberikan kebahagiaan untukku dan tidak ingin membuatku larut dalam kesedihan dengan cara menyembunyikan tentang kondisi putra bungsu kita. Kenapa kau lakukan ini Belva?"
"Papa." Gilang menghampiri sang Ayah dan kemudian memeluknya. "Pa. Mungkin Mama melakukan semua ini dikarenakan rasa cinta Mama yang besar kepada Papa. Mama tidak ingin melihat Papa bersedih. Sudah cukup Papa bersedih atas kehilangan Mama. Dan Mama tidak mau Papa bersedih saat mengetahui kondisi Darren yang sebenarnya. Makanya Mama hanya bercerita pada Mama Agneta. Dan buktinya. Mama Agenta berhasil menjaga Darren selama ini, hibur Gilang.
"Apa yang dikatakan Gilang benar, Kak? Sekarang lakukan tugas Kakak. Tugas Kakak sebagai seorang Ayah untuk Darren. Kakak telah gagal menjadi Ayah yang baik, Ayah yang perhatian dan ayah yang peduli terhadap Darren. Buktikan padanya kalau Kakak adalah Ayah yang bertanggung jawab padanya. Perbaikilah hubungan Kakak dengan Darren. Jangan sampai Kakak kehilangan untuk yang kedua kalinya," ucap Carrisa.
Carrisa menatap keenam keponakan-keponakannya yaitu keenam Kakak dari Darren. "Dan kalian juga perbaikilah hubungan kalian dengan adik bungsu kalian itu."
"Baik, Bi! Itu memang niat awal kami," kata Adnan.
"Kami tidak ingin berlama-lama dimusuhi oleh adik kami sendiri," kata Dzaky.
"Ya, sudah! Kalau begitu kita ke ruangan Darren sekarang!" seru Evan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments