Saat ini mereka telah berada diruang rawat Darren. Mereka semua menangis saat melihat kondisi Darren yang mana di tubuh dipasang alat monitor kinerja jantung. Wajah yang dipasang masker oksigen serta infus yang tertancap ditangan kirinya.
"Hiks... Hiks... Darren... Hiks," isak Darka.
Darka berlahan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur adiknya kesayangannya itu. Disusul oleh yang lainnya. Mereka semua benar-benar terpukul melihat kondisi Darren.
"Darren... Hiks," isak Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.
Darka memberikan bertubi-tubi ciuman di seluruh wajah Darren. Air matanya tak hentinya mengalir. "Darren... Hiks... maafkan Kakak... maafkan Kakak... Hiks."
"Darren sayang. Ini Papa, Nak! Papa mohon bukalah matamu. Lebih baik kau memarahi Papa dan berteriak di depan Papa dari pada Papa melihatmu dalam keadaan seperti ini." Erland berbicara lirih.
Erland memberikan ciuman-ciuman sayangnya di seluruh wajah putra bungsunya. Serta mencium telapak tangannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Serta Paman, Bibi dan ketiga kakak sepupunya memberikan ciuman-ciuman sayang kepada Darren secara bergantian.
"Ren. Kami mohon bangunlah. Jangan pernah tinggalkan kami," batin Willy dan Qenan. Mereka juga menangis melihat kondisi Darren saat ini.
Lalu detik kemudian, Erland merasakan tangannya digenggam oleh Darren. Terukir senyuman di bibirnya.
"Darren," lirih Erland.
Mereka semua menatap kearah Darren. Mereka berharap mata bulat itu terbuka.
Berlahan mata bulat itu terbuka. Dan hal itu sukses membuat mereka semua tersenyum bahagia. Evan langsung menekan tombol merah yang ada di dinding ruang rawat Darren.
Sepuluh menit kemudian, terdengar pintu di buka.
CKLEK!
Dan masuklah seorang Dokter bersama seorang perawat, lalu Dokter itu memeriksa Darren.
"Apa yang anda rasakan saat ini?" tanya Dokter tersebut.
"Se-sak," jawab Darren terbatas.
"Oke. Saya akan melepaskan masker oksigen anda, lalu cobalah bernafas secara pelan dan teratur. Anda mengerti?"
Darren menganggukkan kepalanya. Kemudian Dokter itu pun menyuruh perawat untuk melepaskan masker oksigen yang dipakai oleh Darren. Sedangkan anggota keluarganya dan dua sahabatnya menjadi was-was seketika.
"Sekarang cobalah bernafas secara pelan!" perintah Dokter tersebut.
Darren berusaha untuk bernafas secara pelan dan teratur. Walau sesekali Darren merasakan sesak. Darren menggenggam tangannya yang berada dalam genggaman tangan Erland, sang Ayah. Dirinya belum menyadari kehadiran anggota keluarganya.
"Bagaimana?" tanya Dokter itu saat melihat Darren sudah bernafas secara baik.
"Aku baik-baik saja," jawab Darren pelan, tapi masih bisa didengar.
Saat Dokter itu kembali memasangkan masker oksigen, Darren langsung menepisnya. "Jangan pasang alat itu lagi."
"Tapi..." ucap Dokter itu.
"Aku mohon. Aku sudah tidak apa-apa," lirih Darren.
"Baiklah. Jika kau kesulitan bernafas. Maka pakai masker oksigen ini segera," kata sang Dokter.
"Baik," jawab Darren.
"Suster. Tolong lepaskan alat yang menempel di tubuhnya ini."
"Baik, Dok." perawat itu pun melepaskan alat yang menempel di tubuh Darren.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren dan disusul oleh perawat tersebut setelah selesai melepaskan alat di tubuh Darren.
"Ren," panggil Willy dan Qenan. Mereka kini telah berdiri di samping ranjang Darren.
"Wil. Qen. Yang lainnya mana? Kenapa hanya kalian berdua saja?" tanya Darren dengan suara lemahnya.
"Dylan, Jerry dan Axel harus kembali ke SHOOWROOM. Mereka harus menyelesaikan tugas-tugas mereka untuk merakit mobil pesanan dari perusahaan DR' CORP dan perusahaan JM' COMPANY. Darel dan Rehan sudah kembali ke Galeri Lukisan. Ada beberapa pengusaha yang memesan lukisan," sahut Qenan.
"Dan sisanya kami berdua. Hehehe," sela Willy menambahkan.
"Lalu kalian berdua ngapain disini? Kalian tidak berniat untuk membolos kerjakan?" tanya Darren menyelidik.
"Bolos demi menjaga seekor kelinci yang sedang sakit tidak masalahkan?" goda Qenan.
Mendengar penuturan dari Qenan, membuat anggota keluarganya tersenyum. Mereka semua bahagia melihat kekompakan mereka.
"Aku sedang sakit begini kau masih sempat-sempatnya mengejekku. Dasar Mingtem sialan," umpat Darren.
"Hehehehe." Qenan hanya terkekeh mendengar protes dari Darren. Qenan sengaja melakukan hal itu agar sahabatnya itu tidak terlalu memikirkan sakitnya.
"Darren sayang," panggil Erland.
DEG!
Darren terkejut sembari membelalakkan matanya saat mendengar seseorang memanggilnya. Darren kenal suara itu. Suara yang sangat dirindukan dan juga dibenci.
Darren berlahan menolehkan wajahnya melihat keasal suara tersebut. Detik kemudian wajahnya berubah menjadi marah. Dan kilasan-kilasan kejadian enam bulan yang lalu berputar-putar dikepalanya
BUGH!
"Aaakkkhhh!"
Adnan memukul wajah Darren dan mengakibatkan sudut bibirnya terluka.
"Kau adalah laki-laki brengsek, Darren! Kau tega menikam saudaramu sendiri!" bentak Adnan.
Darren menatap tajam wajah Adnan, lalu kemudian Darren mendorong kuat tubuh Adnan sehingga membuat Adnan terhuyung ke belakang. "Kalau memang aku yang sudah menusuk dua adik kesayanganmu itu. Untuk apa aku repot-repot membawa mereka kerumah sakit, hah?! Seharusnya aku buang saja mayat mereka ke hutan atau aku kubur mereka hidup-hidup!" teriak Darren.
Adnan pun langsung terdiam. Dalam hatinya, Adnan membenarkan perkataan Darren adiknya itu.
"Bisa saja kau memanipulasi semuanya," ucap Andra sinis menatap tajam kearah Darren.
"Apa maksudmu, hah?!" bentak Darren yang juga tak kalah tajam menatap Andra.
"Setelah kau menusuk Darka dan Melvin, kemudian kau berpura-pura menangis dan khawatir pada mereka. Lalu kau membawa mereka ke rumah sakit," jawab Darren.
"Brengsek! Kau berani mengatakan hal itu padaku, hah!" teriak Darren dan tangannya menarik kasar kerah baju Andra.
"Darren. Lepaskan Andra. Dia kakakmu!" teriak Agneta.
Sedangkan Darren tidak menggubrisnya. Tangannya makin kencang menarik kerah Andra.
"Darren. Kau dengar Mama. Lepaskan Andra!" teriak Agneta lagi.
Tetap sama, Darren masih di posisinya. Dirinya benar-benar marah akan ucapan Andra. Lalu tiba-tiba...
BUGH!
"Aakkhhhh!"
Davin tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu memberikan pukulannya pada Darren. "Kau memang adik yang tidak tahu diri, Darren! Kau sudah melukai Darka dan Melvin. Dan sekarang kau ingin membunuh Andra juga, hah!" teriak Davin.
"Brengsek!" Darren ingin membalas pukulan Davin, tapi tangannya ditahan oleh Agneta.
"Sudah cukup!" bentak Agneta. "Kau sudah keterlaluan Darren. Sikapmu dan kelakuanmu sudah melewati batas. Kau berubah menjadi monster yang kejam. Kau berani melukai saudaramu dan bersikap kasar pada kakak-kakakmu sendiri!" bentak Agneta.
"Sekarang ikut Mama. Kau harus dihukum atas perbuatanmu itu." Agneta menarik kasar tangan Darren. Tapi bukan Darren namanya kalau dirinya pasrah begitu saja ditarik oleh Agneta.
"Lepaskan aku perempuan sialan!" teriak Darren. Darren menarik kuat tangannya. Dan tangannya berhasil lepas.
Darren menatap tajam wajah Agneta. "Kau bukan siapa-siapaku. Kau hanya perempuan tak tahu diri yang tinggal di rumah ini dan berkedok sebagai ibuku. Jadi kau tidak berhak memberikan hukuman padaku.."
PLAKK!
Agneta menampar Darren dengan keras. "Kau..." tunjuk Darren tepat di wajah Agneta. "Berani sekali kau menamparku sialan!" bentak Darren, lalu mendorong tubuh Agneta dengan kuat.
BRUKK!
"Mama!" teriak Ardrian, Mathew, Nathan dan Ivan. Mereka berlari menghampiri ibu mereka.
"Kak Darren!" teriak Ardrian.
Agneta terjatuh di lantai sembari menangis kala mendengar perkataan dari Darren. Sedangkan Darren menatap dengan penuh emosi. "Aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu karena telah menamparku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, sekalipun kau menangis memohon maaf kepadaku. Dan aku juga tidak akan pernah melupakan tamparanmu dan kata-katamu itu, Nyonya Agneta Smith!" teriak Darren.
DEG!
Hati Agneta kembali tersentak mendengar penuturan Darren. Dirinya dipanggil dengan sebutan Nyonya oleh Darren. Setetes liquid bening kembali mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Darren. Apa kau sadar dengan ucapanmu itu, hah?!" bentak Gilang.
"Dia Mama kita. Orang tua kita. Kau tidak berhak berbicara seperti itu. Kau benar-benar keterlaluan Darren!" bentak Dzaky.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Bagaimana dengan perempuan sialan itu, hah?! Apa hanya kalian saja yang diperbolehkan bersikap buruk padaku. Sementara aku hanya diam menerima semua perlakuan kalian?!" teriak Darren.
Mendengar perkataan dan teriakan Darren. Mereka hanya bisa diam. Tidak ada yang bersuara.
"Apakah ucapan kalian itu bisa dipercaya mengenai perempuan sialan itu? Apa kalian sedang tidak membohongiku tentang perempuan yang kalian sebut Mama?" tanya Darren dengan menatap tajam kelima kakaknya itu.
DEG!
Mereka terkejut mendengar penuturan Darren. Dalam hati mereka merasakan ketakutan jika Darren mengetahui tentang Agneta.
"Papa benar-benar kecewa padamu Darren. Beginikah caramu bersikap pada kami keluargamu. Apa salah kami Darren?" ucap Erland.
"Kalianlah yang sudah membuatku seperti ini!" teriak Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Lalu kembali menatap wajah ayahnya "Dan Anda! Sekarang anda malah menyalahkanku atas sikapku yang seperti ini. Ini semuanya salah anda. Jangan anda pikir aku tidak mengetahui apapun yang anda sembunyikan dariku. Jangan anda pikir aku tidak menyadari akan sikap anda padaku selama ini!" teriak Darren.
"Darren. Jaga nada bicaramu. Aku ini adalah Papamu!"
"Kenapa aku harus menjaga nada bicaraku pada anda? Sedangkan anda tidak pernah menunjukkan rasa sayang dan rasa perhatian anda padaku," jawab Darren.
"Darren!"
PLAKK!
"Oohh... Jadi begini cara anda mendidik putra-putra anda, tuan! Pantas saja mereka," tunjuk Darren pada kelima kakaknya. "Bersikap kasar padaku. Ternyata belajar darimu."
"Darren," batin Erland lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
Dewi Pratiwi
author nya kelepasan menyebut nama aslinya 😁😁😁🤭
2024-08-06
0