[SHOOWROOM]
Kini Dylan, Axel dan Jerry sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Mereka tengah menjelaskan tentang Shoowroom mereka pada dua orang asisten utusan dari dua perusahaan besar. Dylan memperlihatkan beberapa mobil yang sedang dalam pengerjaan. Jerry menunjukkan beberapa mobil yang sudah selesai dalam pengerjaan dan Axel menunjukkan mobil siap diuji coba. Kedua asisten tersebut tersenyum puas melihat hasil kerja dari Axel, Jerry dan Dylan.
"Wah. Benar-benar keren! Saya sangat suka hasilnya," ucap asisten perusahaan JM Company.
"Benar-benar mobil berkelas," ucap asisten perusahaan DR' Corp.
"Terima kasih, tuan!" jawab Dylan, Jerry dan Axel.
"Maaf aku terlambat!" seru Darren yang baru datang ke Shoowroom miliknya.
Kedua asisten Perusahaan tersebut beserta Axel, Jerry dan Dylan melihat kearah Darren. "Nah, kebetulan pemilik Shoowroom telah datang," ucap Dylan.
"Jadi anda pemilik Shoowroom ini?" tanya asisten perusahaan DR'Corp.
"Ya. Saya pemilik Shoowroom ini. Nama saya Darren." Darren menjawab sembari berjabat tangan dengan kedua asisten perusahaan tersebut.
"Tunggu dulu. Sepertinya nama anda tidak asing bagi saya," sela asisten perusahaan JM Company.
Pria itu berpikir sejenak, lalu dirinya pun mengingatnya. "Kau putra ketujuh dari tuan Erland Faith Smith kan? Wah, saya tidak menyangka ternyata anda benar-benar hebat. Anda memiliki Shoowroom sebesar dan semewah ini. Tuan Erland pasti bangga pada anda!"
"Maaf tuan. Sepertinya anda salah orang. Saya tidak mengenal dengan orang yang bernama Erland Faith Smith. Nama saya Darrendra dan tidak memiliki marga apapun dibelakang nama saya. Saya di dunia ini hanya hidup sebatang kara." Darren berbicara dengan wajah datarnya.
"Oh. Maafkan saya," jawab pria tersebut.
"Oke. Tidak apa-apa. Bisa kita lanjutkan?" ucap Darren.
"Begini, tuan Darren. Setelah ketiga rekan-rekan anda ini menjelaskan semuanya dan sudah memperlihatkan pada kami. Kami benar-benar tertarik untuk memesan beberapa mobil baru pada anda."
"Apa kami boleh melihat contoh rancangan mobilnya?"
"Tentu." Darren langsung menunjukkan beberapa rancangannya pada dua asisten perusahaan tersebut
Kedua asisten perusahaan itu menatap takjub hasil rancangan yang dibuat oleh Darren.
"Semua rancangan mobil yang anda buat benar-benar bagus," puji asisten perusahaan JM Company.
"Anda benar sekali, tuan. Baru melihat gambarnya saja kita sudah kagum seperti ini. Apalagi kalau mobilnya sudah jadi. Mungkin kita akan dua kali lipat mengaguminya," sela asisten perusahaan DR'Corp
"Anda bisa saja." Darren sedikit malu menerima pujian dari dua asisten tersebut.
Axel, Jerry dan Dylan tersenyum gemas melihat wajah malu Darren saat dipuji.
"Oke. Saya barusan mendapatkan balasan WA dari Direktur JM. Beliau mau keempat mobil ini dengan warna sama yaitu biru."
"Baiklah," jawab Darren.
"Dan saya juga dapat balasan WA dari Direktur DR, beliau juga mau keempat rancangan mobil itu dengan warna kuning."
"Baiklah."
"Kalau begitu kami permisi dulu. Senang bekerja sama dengan anda."
"Terima kasih."
Kedua asisten tersebut pergi meninggalkan Shoowroom milik Darren. Dan kini tinggallah Darren dan ketiga sahabat-sahabatnya.
"Kalian sudah makan?" tanya Darren.
"Eem, Belum. Saat kami ingin pergi makan. Dua asisten perusahaan itu datang. Dan akhirnya kami menunda acara makan kami," jawab Dylan.
"Kalian delivery sekarang. Biar aku yang bayar," ucap Darren.
"Benaran, Ren?" tanya Jerry, Axel dan Dylan.
"Eem," jawab Darren.
"Yeeaayy. Makan gratis kita!" teriak mereka.
"Dasar norak," ejek Darren.
"Ini." Darren memberikan lima belas lembar uang seratusan pada Jerry. "Kalau gitu aku balik ya. Oh iya! Jam 5 sore Shoowroom harus tutup. Selesai gak nya pekerjaan kalian, besok dilanjutkan. Gak ada istilah lembur," ujar Darren.
"Siap, Bos!" seru Jerry, Dylan dan Axel.
"Aish."
Mereka hanya cengengesan.
"Bye." Darren pun pergi meninggalkan Shoowroom nya.
***
[DI JALANAN]
Darren saat ini sedang di jalan menuju pulang ke rumah miliknya dengan menggunakan motor lykan Hypersport miliknya.
Saat di perjalanan Darren tak sengaja melihat sosok orang yang sangat dirindukan dan juga dibencinya. Bahkan rasa bencinya lebih besar dibandingkan rasa rindunya.
Darren melihat sosok itu sedang bertarung dengan lima preman yang tubuh preman-preman itu lumayan besar. Sosok itu adalah Davin Smith, kakak sulungnya.
Darren keluar dari dalam mobilnya, lalu dirinya bersandar di mobil miliknya itu tanpa ada niat untuk menolong kakaknya tersebut. Sepertinya Darren sangat menikmati pertarungan tidak seimbang itu.
BUGH BUGH
DUAGH
DUAGH
BUGH BUGH
BUGH DUAGH
Davin berhasil membuat dua dari lima preman itu tersungkur. Dan tak sadarkan diri.
"Siapa kalian? Aku tidak punya urusan dengan kalian. Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak Davin.
"Serang!" ketiga preman itu balik menyerang Davin.
"Aish," kesal Davin.
BUGH BUGH
DUAGH
"Aakkkhhh."
Dua preman itu berhasil memberikan dua pukulan dan juga tendangan pada Davin sehingga membuat tubuh Davin terhuyung ke belakang.
Disaat Davin kesakitan sembari memegang perutnya, ketiga preman itu langsung memberikan tendangan kuat padanya.
DUAGH DUAGH
DUAGH
"Aaaakkkkhhhhhh." tubuh Davin tersungkur di tanah.
Davin berusaha untuk bangkit, namun sekujur tubuh terasa sakit dan ngilu. Bahkan untuk berdiri saja sudah tidak sanggup. Tapi Davin harus kuat karena dirinya tidak ingin mati sia-sia di tangan preman-preman itu. Ditambah lagi dirinya belum berdamai dengan adik kelincinya itu.
Disaat Davin ingin berdiri, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Sosok yang dilihatnya itu sedang berdiri bersandar di mobil yang juga sedang melihat kearahnya.
"Da-dareennn," lirih Davin.
Davin kembali fokus pada tiga preman tersebut. "Kalian beraninya main keroyokan. Dasar banci!" teriak Davin.
"Brengsek! Bunuh dia!"
Mereka kembali menyerang Davin. Sedangkan Darren masih menikmati menyaksikan pertarungan tersebut.
BUGH BUGH
BUGH!! BUGH
DUAGH BUGH
BUGH DUAGH
Davin beberapa kali terkena pukulan dan tendangan. Begitu juga dengan tiga preman itu. Mereka sama-sama kesakitan.
"Darren. Apakah kau hanya berdiri disitu saja tanpa ada niat ingin menolong kakak? Segitu besarkah kebencianmu pada kakak?" batin Davin dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
DUAGH
DUAGH
"Aaakkkkhhhhhh!" teriak Davin dan tubuh terlempar kuat ke tanah.
Dua tendangan mengenai perut Davin saat Davin tengah melihat kearah Darren, adiknya.
"Sekarang pergilah kau keneraka," ucap salah satu preman tersebut dengan mengeluarkan pisau.
"Da-dareenn. Jika dengan kematian kakak bisa membuatmu memaafkan kesalahan kakak enam bulan yang lalu. Kakak ikhlas, Ren!" lirih Davin yang kini menatap sendu Darren yang masih berdiri di tempatnya.
Preman itu berjalan mendekati Davin dengan pisau di tangannya. Saat preman itu ingin menancapkan pisau tersebut, seseorang melempari batu kecil dan mengenai tangannya.
"Aakkkhhh! Brengsek. Siapa yang berani mengganggu pekerjaanku?!" teriak preman itu.
"Wooi. Aku disini!" teriak Darren.
Ketiga preman itu mengalihkan pandangan mereka melihat kearah Darren.
"Brengsek. Siapa kau?"
"Eem. Aku?" tanya Darren sembari menunjuk kearah dirinya sendiri.
"Ya, kau brengsek. Siapa lagi."
"Ooh, aku.. aku... siapa ya. Aku lupa namaku." Darren sengaja mempermainkan ketiga preman itu.
Davin tersenyum melihat tingkah adiknya yang saat ini menghadapi para preman itu. Davin sangat tahu watak adik bungsunya itu setiap kali berurusan dengan musuh. Adiknya itu selalu punya cara untuk membuat musuh-musuhnya kesal setengah mati padanya. Kini Davin berusaha untuk duduk, walau seluruh badannya terasa sakit.
"Brengsek. Bocah sialan. Lebih baik kau pergi dari sini dan jangan ganggu kami!"
"Waw.. Waw! Enak saja main ngusir-ngusir. Emangnya tempat ini, tempat emak bapak lo lo pada, hah!" jawab Darren
"Bajingan. Serang!"
"Tunggu dulu." Darren menghentikan tiga preman tersebut yang mulai menyerangnya. "Kalian tidak lihat mobilku. Ini mobil Lykan Hypersport yang paling mahal yang aku punya. Kalau kalian merusaknya, apa kalian punya uang untuk mengganti kerusakannya, hah!"
"Banyak bacot lo bocah sialan." salah satu preman itu langsung melayangkan pukulan pada Darren dan Darren dengan lihainya berhasil menghindarinya, lalu dengan gerakan cepat Darren memberikan tendangan tepat dikemaluan preman itu.
DUAGH!!
"Aaakkkkhhhhh!" Preman itu berteriak dan melompat-lompat sambil memegang kemaluannya.
Dua preman lainnya saat melihat temannya kesakitan, mereka pun membalasnya.
"Bajingan sialan! Rasakan ini."
Mereka menyerang Darren secara bersamaan. Ketika mereka berdua hendak menyerang Darren, lagi-lagi Darren berhasil menggagalkannya.
"Waah! Wanita itu benar-benar cantik dan seksi. Tubuhnya.. eeemm.. waaw.. benar-benar montok dan bahenol!" seru Darren dengan ekspresi wajah yang begitu menikmati pemandangan tersebut.
Dan tanpa pikir panjang lagi, dua preman tersebut langsung mengalihkan pandangan mereka melihat arah pandangan mata Darren.
BUGH
"Aaakkkkhhhhhhh!" teriak kencang mereka berdua.
Darren memegang kepala kedua preman itu, lalu membenturkannya dengan keras, sehingga membuat dua preman itu berteriak kesakitan, lalu Darren memberikan masing-masing tendangan pada keduanya.
DUAGH DUAGH
BRUUKK
BRUUKK
Keduanya terkapar tak sadarkan diri, lalu Darren melihat satu preman yang masih kesakitan memegang kemaluannya.
"Wooi! Lihat teman-teman lo. Mereka sudah terkapar. Tinggal lo sendirian. Dan sebentar lagi polisi datang. Apa mau dilanjutkan, hah!" teriak Darren.
Lalu terdengar suara sirine polisi. "Yah, terlambat dech. Polisi sudah datang tuh," ejek Darren.
Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung pergi begitu saja.
Dan saat pria itu ingin berlari, polisi sudah terlebih dahulu menangkapnya. "Mau kabur kemana, hah? Ayo, ikut!" Polisi itu menarik paksa pria tersebut dan polisi yang lainnya membawa keempat preman yang lainnya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya seorang polisi pada Davin.
"Saya tidak apa-apa," jawab Davin.
"Mari saya antar anda pulang. Sepertinya anda tidak akan bisa membawa mobil sendiri dalam keadaan anda seperti ini," Kata Polisi itu.
"Lalu mobil saya bagaimana?"
"Anak buah saya yang akan membawanya."
"Baiklah. Terima kasih."
Polisi itu pun membantu Davin berdiri. "Apa yang anda cari?" tanya polisi itu saat melihat Davin sedang mencari keberadaan Darren, adiknya.
"Apakah kalian melihat adik saya?" tanya Davin.
"Adik? Maksud anda pemuda yang berpakaian kemeja putih dan mobilnya berwarna hitam itu!"
"Iya."
"Dia sudah pergi ketika kami datang." Pimpinan polisi itu menjawab. Davin mengangguk.
......TBC......
...Berikan...
...Komentar...
...Vote...
...Like...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
dewi_00
masih nanya😌 benci lah mana mau darren nolonginmu😒
2023-04-17
1
Adiwaluyo
seru juga kisahnya
2023-01-21
0
Febri Atifebri
Benar-benar jenius si Darren.
2021-06-23
0