"Kak. Kakak Darren," lirih pelan mereka saat melihat interaksi Darren dan Salsa.
Erland yang menyadari kelima putranya dari Agneta yang sedari memperhatikan Darren dan Salsa menjadi paham. Putranya itu sangat cemburu saat melihat kakak kesayangannya dekat dengan orang lain.
"Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin," panggil Erland.
"Ya, Pa." mereka terkejut.
"Ada apa, hum? Dari tadi Papa lihat kalian memperhatikan kakak kalian Darren dan Salsa. Kenapa?"
Baik Darren, Agneta, Carissa dan anggota keluarga lainnya menatap mereka berlima. Awalnya mereka tidak ingin menjawabnya. Tapi sibungsu dari Erland dan Agneta mengatakan yang sebenarnya.
"Aku cemburu melihat kak Darren dengan orang lain. Aku ingin kak Darren yang dulu. Aku ingin kak Darren selalu tertawa dengan kami," sahut Melvin dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.
Melvin menatap wajah Darren. "Kakak. Tidak bisa kita bersama kayak dulu lagi. Aku janji akan menjadi adik yang baik untukmu."
Darren juga menatap wajah Melvin dan juga adik-adiknya yang lainnya. Tapi setelah itu, Darren bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya.
GREP!!
Melvin langsung memeluk tubuh Darren dari belakang dengan sangat erat. "Hiks.. Kakak.. hiks.. jangan benci aku, kak. Aku mohon.. hiks.."
Tanpa Melvin dan yang lainnya mengetahui, Darren sedang menahan rasa sakit di bahu kirinya akibat pelukan Melvin terlalu kencang.
Mereka yang melihat dan mendengar isakan Melvin menjadi tidak tega. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau mereka terlalu memaksakan kehendak mereka, Darren akan tambah menjauh dari mereka semua. Mereka tidak mau hal itu terjadi.
"Lepaskan!" suara Darren sedikit lirih.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskan kakak. Kakak Darren hanya milikku. Hanya kami adik-adiknya kakka. Tidak ada orang lain."
"Aku bilang lepaskan aku, Melvin Smith!" bentak Darren dan akhirnya Melvin pun melepaskan pelukannya.
"Aaakkkkhhhh... sssshhhh..." Akhirnya Darren tidak bisa menahan rasa sakitnya. Luka di bahunya benar-benar sakit.
"Darren. Kau kenapa?!" teriak mereka saat melihat wajah kesakitan Darren dan mendengar rintihannya.
"Astaga, Darren. Itu.. itu bahumu kenapa sayang?" teriak Carissa saat melihat noda darah di bahu kiri Darren.
Davin dan Andra yang kebetulan berdekatan dengan Darren langsung berdiri dan terkejut saat melihat darah di bahu kiri Darren.
Saat Davin ingin menyentuhnya. Darren sudah terlebih dahulu bersuara.
"Jangan sentuh!" bentak Darren.
"Tapi Ren. Ini..." lirih Davin.
"Jangan sok peduli padaku. Mengerti!" bentak Darren lagi.
Darren menatap tajam kearah Melvin. "Puas kau, hah! Gara-gara sikap cerobohmu itu, kau membuat lukanya kembali terbuka. Dasar sialan!"
Melvin hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap Darren.
"Menjauhlah dari kehidupanku. Didunia ini aku tidak memiliki adik. Jadi jangan berharap lebih aku akan menganggap kalian adikku lagi. Mengerti!" bentak Darren.
Setelah mengatakan hal itu Darren pergi menuju kamarnya.
"Hiks.. Pa.. Ma.. maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau.. hiks.. Kak Darren sedang terluka."
GREP!!
Erland memeluk tubuh putra bungsunya itu. Lalu mengusap lembut punggungnya. "Tidak sayang. Kau tidak salah. Kita semua tidak ada yang tahu kalau kakakmu itu sedang terluka. Jadi jangan menyalahkan dirimu, oke!"
"Tapi, Paa...."
"Jangan dengarkan apa yang baru saja diucapkan oleh kakakmu itu. Papa yakin, kakakmu itu tidak benar-benar mengatakan hal itu. Kaukan tahu sendiri kakakmu masih marah pada kita dan belum memaafkan kita. Jadi wajar saja kakakmu berbicara seperti itu."
"Iya, Melvin Apa yang dikatakan Papa benar. Mungkin saja kakakmu itu marah karena luka di bahunya. Jadi kakak juga mohon padamu. Jangan dimasukkan ke hati kata-kata kakakmu itu ya," ucap Darka.
"Baik, kak Darka."
Setelah kepergian Darren ke kamarnya. Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya terdiam di ruang tengah. Pikiran mereka saat ini tertuju pada Darren. Mereka memikirkan luka yang ada di bahu kirinya.
"Pasti luka yang ada di bahu kiri kak Darren didapat saat sedang melawan orang-orang itu. Kak Darren terluka karena menolong keluargaku." Salsa memberanikan dirinya untuk membuka suaranya.
Tiba-tiba Salsa menangis. "Maafkan aku. Jika aku tidak datang menemui kak Darren mungkin hal ini tidak akan terjadi," lirih Salsa.
Mendengar penuturan dari Salsa membuat mereka semua menjadi tidak tega melihatnya.
"Ya. Itu memang salahmu. Kau yang telah membuat kakakku terluka!" bentak Nathan.
"Dan kau juga sudah merebut posisi kami sebagai adik-adiknya kak Darren!" bentak Ivan.
"Hiks.. Hiks.. maafkan aku," ucap Salsa terisak.
"Nathan, Ivan!" bentak Darka.
"Kenapa kak Darka membentakku dan Ivan?"
"Karena kalian berdua itu salah. Tidak seharusnya kalian berbicara seperti itu kepada Salsa, " jawab Darka. Darka sedikit kesal pada kedua adiknya itu.
"Tapi apa yang aku dan Ivan katakan itu benar, kak Darka. Dia dan keluarganya sudah membuat kak Darren terluka," kata Nathan.
"Dia juga sudah merebut kasih sayangnya kak Darren dari kami," sela Ivan.
Darka tiba-tiba berdiri. Dirinya menatap tajam kearah Ivan dan Nathan. Darka benar-benar kesal dan muak melihat kelakuan kedua adiknya.
"Cukup. Aku sudah benar-benar muak melihat kalian. Kalau kalian ingin menyalahkan seseorang, orang itu adalah kalian. Apa kalian sudah melupakan dengan kejadian enam bulan yang lalu, hah?! Kejadian dimana kalian semua memojokkan Darren, menuduh Darren, memfitnahnya karena telah melukaiku dan Melvin. Kalian menyakitinya dan melukai perasaannya sehingga Darren memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Dan sekarang kalian berdua seenaknya menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada Darren. Dasar menjijikkan. Semoga saja Darren tidak mendengar ucapan kalian itu. Kalau sampai Darren dengar. Habislah kalian berdua." Darka berbicara dengan mata yang menatap tajam kedua adiknya itu.
Setelah mengatakan hal itu, Darka langsung pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya.
Sedangkan Nathan dan Ivan terkejut mendengar penuturan dari Darka dan mereka juga takut jika ucapan mereka didengar oleh Darren.
BLAM!!
Darka menutup pintu kamarnya dengan cara membantingnya.
Carissa mendekati Salsa. Dan tangannya mengusap lembut punggung dan rambut Salsa. "Maafkan Nathan dan Ivan ya, Salsa. Mereka tidak bermaksud berbicara seperti pada Salsa," ucap Carissa lembut.
"Aku mengerti, Bi. Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung kok. Dan kalian tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membicarakan masalah ini pada kak Darren," kata Salsa.
Baik Carissa, Evan, Erland, Agneta, Dong maupun para putra-putra mereka tersenyum bangga akan ucapan Salsa, kecuali Nathan dan Ivan. Mereka terdiam ditempat.
"Salsa. Kau sudah siap?!" seru seseorang yang kini sedang menuruni anak tangga.
Mereka yang mendengar suara Darren pun sedikit terkejut. Mereka semua takut jika Darren mendengar ucapan Nathan dan Ivan. Serta teriak Darka saat memarahi keduanya.
Sedangkan Salsa segera menghapus air matanya dan bersikap seperti biasanya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kini Darren sudah berdiri di ruang tengah. Dan matanya menatap wajah Salsa, terutama kedua mata Salsa. Dapat diartikan oleh Darren kalau Salsa habis menangis.
"Apa kau habis menangis, Alie Salsa Immanuel?" tanya Darren yang masih menatap wajah Salsa.
"Tidak, kak. Itu tadi Bibi Carissa dan Bibi Agneta bercerita lucu sehingga membuat aku jadi mengeluarkan air mata," jawab Salsa bohong.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?"
"Aku yakin, kak." Salsa menjawabnya dengan suara normal.
"Ya, sudah. Ayo, kita pulang. Tadi satpammu yang paling cantik dikeluarga Immanuel menelpon kakak dan meminta kakak untuk mengantarmu pulang," ucap Darren.
"Aish, kak. Dia bukan satpamku. Dia Mamaku," protes Salsa. Dan setelah itu Salsa pergi ke kamarnya untuk mengambil mantel miliknya.
"Hei.. mau kemana? Katanya mau pulang. Tapi kenapa malah menuju ke kamar!" teriak Darren.
"Aku mau mengambil mantelku oppa," Salsa balik berteriak.
"Buruan. Atau oppa tidak akan mengantarmu pulang."
Setelah kepergian Salsa ke kamarnya. Darren menatap tajam kearah Nathan dan Ivan. "Apa yang sudah kalian lakukan pada Salsa?" tanya Darren.
DEG!!
Baik Nathan, Ivan dan semua anggota keluarganya yang saat ini masih berada di ruang tengah terkejut mendengar pertanyaan dari Darren.
"A-apa maksud kakak?" tanya Ivan.
Saat Darren ingin bicara. Terdengar suara Salsa. "Oppa. Ayo!"
"Urusan kita belum selesai," ucap Darren.
Setelah itu Darren dan Salsa pergi meninggalkan kediaman Smith.
Lima menit kepergian Darren dan Salsa, suasana menjadi tegang. Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang melihat ke arah Nathan dan Ivan. Terutama Gilang. Di hati Gilang menyimpan rasa kecewa dan marah akan sikap kedua adiknya itu. Tapi Gilang memendamnya. Beda dengan Darka yang langsung memarahi keduanya. Sedangkan yang menjadi korban tatapan makin ketakutan.
"Semoga saja kakakmu itu tidak mendengar ucapan kalian berdua. Berdoa saja," ucap Gilang.
Setelah mengatakan hal itu, Gilang langsung pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap ke Kampus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 662 Episodes
Comments
axelio
ternyata pak erland orangnya rajin ygy anaknya sampe udah ada 12 loh mana male semua anaknya😭
2024-05-14
0