"Ampuni aku, Sky!" ucap Sera dengan berlutut.
Judy menarik sebelah bibirnya, "Kamu jangan keterlaluan, Sky. Bagaimanapun, Sera teman sekolah kita."
Sky menatap tajam Judy, "Sejak kapan di dunia kita mengasihani musuh? Dia seorang informan, dan kita sepatutnya menghabisi Sera."
Ali berbisik di telinga Sky, dan pria itu menatap tajam Sera yang masih berlutut di hadapannya. Judy memutar mata malas, lalu pergi meninggalkan ketiganya.
"Jangan menakuti Sera. Aku tahu kamu membencinya karena tingkahnya itu. Kita bisa bersama-sama mencari peta itu," usul Ali.
"Sera, apa yang kamu ketahui tentang peta itu?" tanya Sky.
"Kalian tidak akan membuangku ke laut, kan?"
"Tidak, aku hanya menakutimu," kata Sky.
"Aku akan membantu kalian," kata Sera.
Sky dan Ali tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Judy masuk kembali ke bilik kapal ketika mendengar suara tawa itu. Ia juga penasaran dengan ketiganya.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Judy.
"Apa kamu tahu, Jud. Sera ingin membantu kita mendapatkan peta itu," kata Ali.
"Berapa banyak yang kamu inginkan, Sera? Kamu tidak mungkin membantu kami secara cuma-cuma, kan?" ucap Sky.
"Aku hanya ingin menjadi pendampingmu, Sky." Sera merona malu mengatakannya. "Aku menjual informasi karena memang sejak lahir aku didik seperti itu. Klan kami telah bubar, dan anak buah Black Rose tidak ada lagi semenjak ayahku tiada. Aku butuh uang untuk biaya hidupku."
Sky kembali tertawa mendengarnya, sedangkan Judy dan Ali saling berpelukan karena sedih mendengar cerita Sera.
"Sampai segitunya kamu memelas, Sera," kata Sky.
"Aku terharu," kata Ali.
"Kenapa kalian tidak percaya padaku?" kata Sera kesal.
"Berapa yang kamu minta?" tanya Sky.
"Aku hanya ingin hidup layak. Itu saja yang aku butuhkan," jawab Sera.
Sky berdecih mendengarnya. Mana ada orang yang akan membantu secara cuma-cuma. Sera pasti memerlukan imbalan. Itu sebab wanita itu menjadi informan di usai muda. Sera juga tidak ingin munafik. Ia perlu harta untuk menunjang kehidupan. Sera perlu uang untuk segera berhenti dari dunia bawah.
"Beritahu kami apa saja yang kamu ketahui tentang peta itu," kata Sky.
"Selain ada bersama Matius, peta itu ada pada klan Rocktat. Tepatnya di india sana, tetapi hanya ada separuh saja," kata Sera.
"Bukannya peta itu ada pada klanTambo," sahut Judy.
"Martino pernah bilang mereka mengecoh mafia yang ingin merebut peta itu. Klan Tambo merupakan perkumpulan orang-orang gila yang mereka tawan. Kita tidak perlu mengunjungi klan itu karena mereka sudah hilang pikiran. Yang seharusnya kita kunjungi, adalah klan Rocktat," tutur Sera menerangkan.
"Klan Rocktat," gumam Sky. "Saatnya kita mengunjungi negeri di mana Ali berasal."
"Aku pulang kampung juga akhirnya," kata Ali.
"Saatnya menari," sahut Judy.
...****************...
"Biar aku basuh tubuhmu, Sky," tawar Sera.
Sky melempar handuk basah kepada Sera. Ia membelakangi diri dari wanita itu, dan membiarkan Sera mengelap punggung belakangnya.
"Berapa lama kamu menjadi kekasih Matius?" tanya Sky.
"Setelah kita lulus, aku langsung ke Italia. Aku juga sama sepertimu. Menjalani pendidikan itu hanya karena menjadi mata-mata bagi musuh orangtua Calvin."
"Mereka tidak menghabisimu?" kata Sky.
"Aku mengorbankan temanku. Dia sebagai tamengku."
Sky berdecak, "Kamu sangat licik rupanya."
"Bukankah hal itu wajar. Saling tipu merupakan keahlian kita yang berkecimpung di dunia bawah." Sera memeluk Sky dari belakang. "Tetapi aku tidak akan pernah menipumu, Sky." Sera mengecup punggung Sky beberapa kali dengan bibirnya yang lembut.
Sky membalik tubuhnya menatap Sera. Ia tatap mata bening yang berkilauan diterpa sinar rembulan. Keduanya memang tengah berada di luar bilik kamar.
"Sikapmu memang tidak pernah berubah," ledek Sky.
Sera tidak mengubris perkataan pria yang ia sukai itu. Ia tetap mengelap tubuh Sky dengan handuk basah, lalu mengecup tubuh yang bidang itu.
Sky meraih wajah Sera, "Aku ingin lihat seberapa liarnya kamu. Bagaimana kalau kita melakukan di sini? Kita perlihatkan permainan kita kepada empat orang pria di sini. Siapa tahu mereka ingin berkabung."
"Kamu masih saja menganggap aku wanita seperti itu!"
"Pergi! Tinggalkan aku sendiri," ucap Sky dengan tatapan dinginnya.
Sera melempar handuk basah, lalu pergi dari hadapan Sky. Ali serta Judy melihat kejadian itu, langsung menghampiri temannya.
"Kamu sangat kasar padanya," ucap Ali.
"Lembutlah sedikit, Sky. Oh, ya, kecupannya tadi lembut, kan?" goda Judy.
Sky berdecak, "Lupakan itu. Kita harus bersiap-siap. Sebentar lagi kita sampai di pelabuhan."
"Oke," sahut keduanya.
Sky masuk ke dalam bilik kamar kapal, dan terlihat Sera tengah duduk di kasur lipat. Wanita itu masih memakai gaun mini bertali kecil yang jelas menampakkan lengan serta kaki jenjangnya nan putih mulus.
"Pakai ini," ucap Sky dengan melempar kemeja putih miliknya.
"Kamu memakai apa?" tanya Sera.
"Aku punya baju lainnya. Kamu bersiaplah, kita akan segera sampai di pelabuhan Albania."
Sky serta rekannya memang menunggu tengah malam untuk sampai di pelabuhan; sebab mereka tidak ingin menarik perhatian warga sekitar. Siang hari kapal yang mereka tumpangi terpaksa berada di tengah lautan padahal hanya memakai beberapa jam saja untuk sampai ke Albania dari pelabuhan Italia.
"Kita sudah sampai," kata Judy yang menyusul keduanya di bilik.
"Kami datang," kata Sky. "Ayo, Sera!"
Sera, Sky mengikuti langkah Judy. Ali sudah turun duluan dari kapal, lalu disusul oleh Sky serta Sera, sedangkan Judy masih berbicara kepada dua orang pria italia yang mengantar mereka.
"Tunggu aku," teriak Judy.
"Kita ke mana sekarang?" tanya Ali.
"Tentu saja mencari penginapan," sahut Sky.
"Aku sudah tanya pada pria yang mengantar kita. Tidak jauh dari sini ada motel. Kita bisa berjalan kaki," kata Judy.
"Sebaiknya begitu. Motel lebih baik untuk saat ini dibanding hotel. Terlalu berbahaya karena kita tidak tahu akan bahaya yang menghadang." Sky melirik Sera dengan tajamnya.
Keempatnya berjalan keluar dari pelabuhan. Memang sepi, dan hanya ada beberapa warga yang memperhatikan mereka. Motel yang disebutkan dua pria italia itu memang benar adanya.
"Pesan tiga kamar," kata Judy kepada seorang pria gendut berkacamata.
"Pesan saja dua," kata Sky. "Malam ini aku ingn bersama Sera."
Sera tersentak, tetapi ia diam saja. Judy memesan dua kamar. Ia bersama Ali, sedangkan Sky bersama Sera.
"Ini kunci kamar kalian." Judy memberikan kunci kamar kepada Sky.
"Terima kasih. Kami duluan," kata Sky, lalu meraih pinggang Sera agar mengikuti langkah kakinya.
"Tadi bilangnya tidak mau. Setelah sampai di kamar malah mau," celetuk Ali dengan pandangan tidak lepas dari keduanya.
"Kamu kira Sky akan berbuat begitu?" tanya Judy.
"Kenapa tidak? Pria seperti dia memang harus bermalam dengan wanita."
Sky mengunci pintu setelah ia dan Sera masuk ke dalam kamar. "Lepaskan pakaianmu!"
"Apa?!"
"Lepaskan pakaianmu!" ulang Sky.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Suyudana Arta
waooww langsung gas?
2024-10-20
0
Meta Lia
mau di lacak kali ya si Sera siapa tau mata" musuh
2022-03-16
0
Ana Mariana
gue gak suka sera
2021-12-28
1