Pihak berwajib mulai melakukan penyelidikan sedangkan para siswa dan siswi dipulangkan ke asrama mereka. Orangtua Calvin juga sudah datang mengkonfirmasi berita yang melibatkan mereka.
Tidak ada yang mengatakan jika Sky dan Ali yang membuat para penjahat itu lumpuh. Guru serta murid bungkam demi tidak merembetnya kasus yang melibatkan sekolah.
Semuanya juga diperiksa dan untungnya Sky serta Ali telah membuang jejak mereka sebelum dites sidik jari.
Mata indah nan terang tengah memperhatikan Sky yang duduk di kursi depan pintu kamar asmara. Pria itu memakai kacamata dan tengah membaca buku di tangannya.
"Berhenti menatapku, Sera," ucap Sky.
"Aku hanya menatap buku yang kamu pegang, Sky," jawab Sera.
Sky bangkit dari duduknya, ia beranjak masuk ke dalam kamar dan malas untuk berlempar kata pada wanita cantik yang terus memperhatikannya itu.
Sera mendengus akan sikap acuh yang terus ia dapatkan dari Sky. Kapan pria dingin itu bisa melihatnya? Kurang apa Sera di mata pria itu? Sky sama sekali tidak ingin berdekatan dengannya, malah pria itu seolah jijik dan menganggap Sera sebagai lalat penganggu.
"Kenapa wajahmu muram?" tanya Ali saat Sky telah duduk di tepi kasur.
"Paling diganggu sama Sera," sahut Judy.
"Kenapa kamu enggak mau sama Sera? Dia wanita cantik, Sky," ucap Ali.
"Aku ingin pulang dulu menemui orangtua serta adikku," jawab Sky.
"Apa hubungannya ... antara pulang kampung dengan Sera?" tanya Judy.
Sky menghela napas. "Aku tidak mau mengenal wanita dulu. Intinya itu."
Judy dan Ali mengangguk paham apa yang Sky ucapkan. Para wanita anak dari para klan saja tidak pria itu hiraukan, padahal ada banyak sekali wanita yang tertarik.
Sky bisa saja memilih mereka untuk dijadikan sebagai teman tidur, tetapi pria itu enggan untuk melakukannya. Bahkan hari-hari Sky selama tinggal di markas hanya dihabiskan untuk latihan dan belajar.
"Kita istirahat siang saja. Peristiwa tadi membuatku lelah," ucap Ali yang mendapat anggukkan setuju dari Sky serta Judy yang berada di kasur tingkat atas.
...****************...
Jam makan malam bagi para siswa serta siswi telah tiba. Semuanya berkumpul di satu kantin untuk mengambil makanan mereka masing-masing.
Kantin pria serta wanita hanya dibatasi dengan kaca transparan. Siswa pria dapat melihat para siswi dan berinteraksi satu sama lain.
"Setidaknya kita bisa makan ... makanan yang digoreng di sini," celetuk Ali.
"Tapi ini tidak sehat. Berat tubuhmu akan meningkat dan kamu akan lelah jika harus bertarung," sahut Judy pelan. "Lihat Sky ... mau di mana pun, ia tetap makan sayur rebus dan telur saja."
"Sky berbeda dengan kita. Hidupnya sudah terlalu berat," bisik Judy.
"Habiskan makanan kalian," kata Sky dengan tatapan sengit.
"Iya," jawab keduanya.
Sky meletakkan sendok serta garpu di piring berbahan aluminium, ia bangkit dari duduknya dengan menepuk pundak Judy sebagai tanda pamit.
"Aku ke kamar mandi sebentar," ucapnya.
Baik Judy dan Ali hanya mengangguk dan kembali melanjutkan acara makam malam bersama.
Sky membuka keran air setelah berada di toilet, kemudian membasuh wajah serta membersihkan mulutnya. Terdengar suara seperti wanita mengerang di dalam toilet.
Sky hanya berdecak sebab hal itu sudah biasa terjadi. Apalagi untuk anak-anak yang sudah berumur tujuh belas tahun dan melakukan hal itu merupakan pilihan, asal mereka bisa mempertanggungjawabkan akibatnya.
Sky membuka pintu toilet, lalu tanpa sadar ia didorong ke belakang. Sera masuk ke kamar mandi, menutup pintu dan bersandar di sana.
"Mau apa?" tanya Sky.
"Siapa kamu?" tanya Sera.
Sky memutar mata malas. "Menurutmu aku siapa? Hantu?"
"Kamu tahu maksudku, Sky." Sera berjalan mendekat pada pria itu. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher serta menempelkan pipi pada pipi Sky, kemudian memberikan sebuah tiupan mengoda pada telinga pria tersebut. "Apa kamu tidak ingin melakukan hal seperti mereka yang ada di dalam bilik toilet?"
Sky merangkul pinggang ramping Sera dan mendorong hingga wanita itu tersandar di dinding. Kening keduanya menyatu, hidung mancung mereka bersentuhan. Jarak mereka sangat dekat hingga napas yang berhembus dapat dirasakan oleh keduanya.
Tangan Sky perlahan naik dari pinggang hingga ke bagian sensitif, lalu leher serta wajah. Ia membelai wajah Sera serta bibir yang siap untuk dikecup.
Mata Sera terpejam menikmati sentuhan yang Sky berikan. Ia menginginkan Sky, menginginkan pria itu membalutnya dengan hasrat cinta.
Sera terbelalak merasakan cengkeraman tangan Sky pada lehernya. Sontak ia memukul-mukul tangan kekar itu agar Sky melepaskan dirinya.
"Berani sekali kamu mengodaku." Sky tersenyum sinis. "Wanita sepertimu sudah banyak aku temui. Dasar murahan! Kamu kira aku sudi meniduri wanita sepertimu! Jangan mimpi, Sera!"
"Le-lepaskan aku." Sera kesulitan bernapas, matanya sudah mengeluarkan air mata.
Sky melepas cengkeramannya dan berhasil membuat Sera terbatuk-batuk. Wanita itu menarik napas dalam-dalam mengisi paru-parunya dengan oksigen.
"Ini peringatan untukmu! Sekali lagi kamu mencoba mendekatiku, tamat riwayatmu!" desis Sky.
Sepasang kekasih yang baru saja keluar dari bilik toilet, melihat kejadian itu. Mereka membantu Sera yang terduduk di lantai karena lemas tidak berdaya.
Sky hanya tersenyum, kemudian beranjak dari sana. Ia mengeleng akan sikap berani Sera. Bisa-bisanya wanita itu mengikuti dirinya sampai ke toilet, lalu datang dengan sejuta godaan yang tidak Sky pungkiri sebagai laki-laki normal, ia sempat terhanyut dalam buaian yang Sera berikan.
"Sky ... dari mana saja kamu?" tanya Ali yang melihat tuannya sudah masuk ke kamar.
"Dari memberi pelajaran pada lalat penganggu," jawab Sky.
"Siapa?" tanya Ali dan Judy serempak.
"Sudahlah ... jangan dibahas. Lebih baik kita tidur saja," jawab Sky dengan melepas lensa kontak dari matanya.
"Kamu membiarkan kami tidur dengan rasa penasaran," ucap Judy.
...****************...
"Kamu kenapa, Sera?" tanya Julia dengan wajah panik.
"Dia benar-benar sulit untuk ditaklukan. Dia menolakku bahkan nyaris ingin menghabisiku. Dia bukan pria culun yang kita lihat selama ini." Sera membuka pakaiannya dan melihat bekas cengkeraman tangan Sky pada lehernya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Julia melihat jejak tangan di leher Sera.
"Sky ... dia yang melakukan ini padaku," ungkap Sera.
Julia menutup bibir karena kaget dan terkesan tidak percaya akan apa yang Sera katakan. "Dia melakukan itu padamu? Jauhi dia Sera ... dia pria berbahaya. Kamu lupa kejadian tadi siang?"
Sera tertawa kecil. "Bagaimana bisa aku lupa dengan sikap pahlawannya itu?"
"Jauhi Sky," ulang Julia mengingatkan.
"Dia berani menolakku. Berani menolak seorang Sera. Aku tidak percaya dia tidak tertarik pada wanita sepertiku." Sera marah dan merasa dongkol karena penoklakan Sky.
Julia menghela napas. "Sky bukan seperti Calvin. Kamu harus ingat itu."
"Lihat saja nanti. Sky akan bertekuk lutut padaku," ucap Sera.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ersa
aku pikir sera itu tokoh wanitanya...hmmmm lanjut
2023-07-30
0
PeQueena
melemparkan tubuh pd laki²..murahan
2022-09-23
0
Meta Lia
sombong nya
2022-03-16
1