Sky langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Black serta Selena sudah menunggu dirinya di tempat makan untuk makan bersama. Makanan kesukaan Sky sudah dimasak dan itu khusus hanya Selena yang boleh memasaknya.
"Aromanya harum," celetuk Sky.
"Ayo makan," ajak Selena.
Sky duduk di kursi kayu berhadapan dengan Black yang juga ikut makan siang bersama. Selena melayani keduanya layaknya seorang ibu bagi Sky, dan teman untuk Black.
"Hari ini jadi pulang?" tanya Black.
Sky mengangguk. "Hanya sebulan lagi menunggu ujian, setelah itu aku bebas."
Selena mengerutkan dahi. "Bebas apanya? Setelah ini kamu pulang ke Indonesia, lalu melanjutkan pendidikan ke Amerika. Daddy dan mommymu sudah kangen, sedangkan John sudah menelepon karena kamu harus mengurus bisnis."
"Aku lelah belajar terus," ucap Sky.
Sky bahkan terlambat untuk sekolah formal, sebab ia sendiri harus belajar dulu dari guru-guru yang Black datangkan secara langsung ke markas mereka.
Black memasukkan Sky ke sekolah formal hanya agar anak angkatnya itu mendapat ijazah serta dokumen-dokumen lain untuk mempermudah kehidupan Sky nantinya.
"Hanya sebulan lagi, Sky," sahut Black.
"Iya," jawab anak itu.
Black tentu merasakan betapa jenuhnya Sky selama ini. Ia dididik hanya untuk belajar dan belajar saja. Selain latihan fisik yang membuat tubuhnya lelah, pelajaran mengenai teknik mengubah wajah, juga Sky jalani.
Belum lagi dengan masalah obat-obatan, baik itu sejenis racun dan juga virus terbaru yang harus ia ketahui. Tidak jarang Sky menginginkan dunia luar yang bebas dari hal itu semua.
Setiap tiga bulan sekali Sky juga harus pergi ke luar negeri demi mengamati para kelompok-kelompok yang menjadi saingan bisnis dunia hitam mereka.
Sky belum pernah pulang ke Indonesia. Hanya lewat video call saja ia bertemu keluarga aslinya. Setiap tahun hadiah untuknya selalu datang dan tahun ini, Sky sudah boleh diizinkan untuk pulang ke kampung halamannya.
"Apa kamu malu untuk bersekolah?" tanya Selena.
"Sejujurnya iya," jawab Sky. "Usiaku dua puluh tahun, masa tamat sekolah menengah atas saja belum."
Black tertawa mendengarnya. "Itu hanya formalitas Sky."
"Tapi aku malu," jawab Sky.
"Malu sama siapa? Pacarmu?" sahut Selena.
"Mama ... aku tidak punya pacar," kata Sky.
"Ini semua karena papamu yang selalu melarang ini dan itu," kesal Selena sembari mengerling Black.
"Habiskan makanan kalian. Jangan bahas wanita di sini." Black sudah mengeluarkan suara bariton miliknya, dan itu artinya Sky dan Selena harus segera diam.
Selesai makan siang bersama, Sky dan ketiga temannya bersiap untuk kembali ke kota. Ketiganya akan menjalani ujian sekolah yang akan segera tiba.
Sama seperti halnya Sky, kedua rekannya yaitu Judy dan Ali juga terlambat untuk sekolah. Keduanya juga melaksanakan pendidikan hanya untuk mendapat ijazah.
"Kamu tahu Ali ... aku sangat tidak suka datang ke sekolah," ujar Judy. "Apalagi harus berhadapan dengan para geng yang para siswa buat."
"Aku juga sama, Judy," sahut Ali. "Tetapi kita harus tetap diam. Mereka semua orang berpengaruh di sini."
"Apa yang kalian bicarakan?" tegur Sky yang tiba-tiba muncul dari depan pintu kamar Ali.
"Tidak ada. Kami hanya berbincang biasa saja," jawab Ali.
Judy menganggukkan kepala seolah membenarkan perkataan rekannya. Sky mendekat pada kedua pria yang menjadi pendamping dirinya. Hal itu membuat Ali dan Judy menelan saliva, mereka takut jika Sky mendengar apa yang barusan mereka katakan.
Sky menepuk pundak Ali dan Judy. "Ayo kita berangkat."
Keduanya menganggukkan kepala. "Kami siap."
Judy dan Ali bergegas mengambil ransel mereka, lalu berjalan keluar terlebih dulu meninggalkan Sky yang tersenyum melihat kepergian mereka.
Mobil keberangkatan untuk mengantar Sky sudah siap. Selama sebulan Sky akan pergi ke asrama sekolah tempat mereka tinggal. Biasanya setiap dua minggu sekali, Sky akan pulang ke markas meski hanya sehari.
Namun kali ini, ia tidak akan pulang karena peraturan sekolah yang mengharuskan anak-anak yang jauh dari gedung sekolah, untuk tetap tinggal di asrama.
"Tetap jaga identitasmu, Sky," pesan Black.
Sky mengangguk. "Iya, Pa."
"Kamu hati-hati, Nak," ucap Selena. "Mama pasti akan merindukanmu."
Black memutar mata malas. "Sudahi drama menyedihkanmu itu, Sardi."
"Lihat, Sky. Papamu selalu membuat Mama kesal," kata Selena mengadu.
Sky memeluk Selena dan mendaratkan kecupan di dahi. "Papa hanya bercanda ... Mama jangan bersedih."
Selena mengangguk dan merasa bahagia Sky menyayangi dirinya, sedang Black memutar mata malas melihat kelakuan Selena.
Sky beserta pendampingnya melambaikan tangan saat ketiganya telah masuk ke dalam mobil. Mesin telah dinyalakan dan sopir mulai mengemudikan mobil berjenis off road.
Tira ikut mengantar tuannya dengan berlari di samping mobil. Sky juga melambaikan tangan pada hewan tersebut sebagai tanda perpisahan.
"Tunggu aku Tira," pekik Sky.
Pintu gerbang dibuka, kini mobil sudah keluar jalur markas dan melaju dengan kecepatan yang sesuai dengan medan hutan.
...****************...
Sesampainya di kota, Sky, Ali serta Judy, tidak langsung menuju asrama. Ketiganya singgah di rumah yang merupakan tempat bersinggahan sementara para anak buah Black.
Sky menganti pakaian dengan pakaian biasa. Mengubah penampilannya agar semua orang tidak tahu siapa ia sebenarnya. Kedua mata yang berwarna biru itu, ia beri lensa warna hitam, rambutnya diberi minyak dan sisir dengan belah tengah.
Judy mengubah penampilannya dengan memakai kacamata serta kawat gigi, sedangkan Ali membuat rambutnya menjadi keriting mengembang.
"Kita berpisah sampai di sini, dan sampai jumpa di asrama," ucap Sky.
Judy dan Ali mengangguk. "Sampai bertemu di asrama."
Sky keluar terlebih dulu, lalu menghentikan sebuah angkutan umum untuk mengantarkannya ke asrama sekolah. Sekitar tiga puluh menit, Sky sampai di halte dekat gedung asramanya.
Dari situ ia berjalan dengan membawa ransel di punggung belakang. Hanya butuh sekitar lima menit saja agar sampai di gedung tersebut.
Sky memperlihatkan dokumen yang menyatakan jika ia adalah siswa di sana kepada petugas. Pintu gerbang dibuka dan Sky dipersilakan untuk masuk ke dalam.
Baru beberapa langkah berjalan, sebuah kulit pisang jatuh mengenai kepala Sky. Pria itu menoleh ke atas dan melihat siapa yang tega membuat kulit pisang itu secara sembarangan.
"Apa yang kamu lihat, huh?" pekik seorang pria muda dari atas sana. "Cepat buang sampah itu. Kamu mau dihukum?"
Sky hanya menatap saja dan memungut kulit pisang tersebut, lalu membuangnya di tempat sampah. Perlakukan seperti itu sudah biasa Sky dapatkan dari para teman-temannya di sekolah.
Itu dikarenakan penampilan Sky yang menurut mereka sangat menjijikkan. Selagi perilaku tersebut tidak melukai fisiknya, Sky tidak akan membalas. Bagaimanapun, ia harus tetap menyembunyikan identitas aslinya.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ersa
aku pikir Black & Selena itu beneran Suami istri...ternyata😂 Duh sardi a.k.a Selena penasaran euyy😂😂
2023-07-30
0
PeQueena
ck...ck..ck....
easy boi.. easy...pd waktunya bakal kupatahkan lehermu
2022-09-23
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
aku penasaran sosok cantik selena alis sardi ..ngakak aja kl nama sardi dsebut
2022-08-10
0