Spain
Ketiganya keluar dari bandara menuju sebuah taksi yang sudah diberhentikan. Baik Sky, Ali serta Judy sudah menyamar dengan penampilan mereka yang baru.
"Antar kami ke hotel terdekat," ucap Sky.
"Baik, Tuan," balas si sopir.
Sky tidak dapat menghubungi Julius lantaran pria itu menelepon dengan mengunakan nomor pribadi. Saat ini Sky hanya bisa menunggu kabar dari pria itu.
Sky yakin sekali, saat ini pergerakannya sedang diikuti dan tidak akan lama lagi Julius akan menghubunginya.
Taksi sampai di hotel Sanco. Ketiganya keluar dari dalam mobil. Sky memandang sopir taksi yang tersenyum padanya. Sebuah senyum yang tersirat sopir itu berikan.
"Berapa?" tanya Judy.
Sky menahan tangan Judy yang akan mengulurkan uang kepada si sopir. Sky bergeser agar sepenuhnya bisa memandang pria itu.
"Katakan pada Julius ... aku sudah datang," ucap Sky dengan kilatan amarah.
Sopir itu tergelak. "Kami akan menyambutmu."
Ali dan Judy tersentak; sebab mereka tidak mengira jika si sopir adalah anak buah dari Julius, dan artinya mereka telah diketahui akan datang.
"Pasang mata serta telinga kalian. Pasti akan ada mata-mata yang lain," ucap Sky memperingatkan.
Judy serta Ali mengangguk paham apa yang diperingatkan oleh atasannya itu. Ketiganya masuk ke dalam hotel. Mereka bertiga berdecak dalam hati; sebab di lobby saja, sudah ada mata-mata dari Julius.
"Pesan dua kamar," pinta Judy kepada recepsionist.
"Apa Tuan adalah sang pewaris? Kamarnya sudah siap.
Judy tidak kaget lagi karena hal itu. Sudah pasti Julius yang mengaturnya. Ia meraih satu kunci kamar yang diberikan oleh wanita recepsionist.
"Ayo ... kamar kita sudah dipersiapkan," ucap Judy.
"Aku rasa negara ini adalah markas mereka," celetuk Ali.
Sky mengedikan bahu. "Entahlah ... yang jelas, aku ingin segera bertemu papaku."
Pintu kamar dibuka. Ketiganya masuk ke dalam kamar yang di dalamnya terdapat dua buah tempat tidur kecil serta besar. Sky menuju ke sisi tempat tidur kecil, sedangkan Ali dan Judy ... akan tidur dalam satu tempat.
Sebuah pesan pribadi masuk ke dalam ponsel Sky. Pria itu membuka pesan yang menyuruhnya untuk menyalakan televisi serta memutar DVD player.
"Ali ... nyalakan TV serta DVD-nya," perintah Sky.
Ali segera menyalakan TV serta DVD. Mata ketiganya membulat lantaran mereka melihat Black yang duduk terikat di kursi.
"Papa!" seru Sky.
"Halo ... Sky." Seorang pria muncul dibalik tubuh Black. Pria dengan tubuh tinggi dengan memakai masker tutup mulut bergambar bibir tersenyum. "Kamu lihat ini siapa? Ini adalah pria lemah." Pria itu tertawa. "Datanglah pada tengah malam ke daerah jalan Vinus. Aku menunggumu."
Layar TV berubah gelap karena video telah habis diputar. Sky menendang TV tersebut hingga pecah. Amarah dalam dirinya melesat keluar.
"Apa mau dari Julius ini?!" murka Sky.
"Kita bersiap untuk tengah malam nanti," sela Ali.
"Tenanglah, Sky," ucap Judy.
"Kita lihat ... apa maunya Julius," gumam Sky.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Sky serta rekannya telah berada di luar hotel sembari menunggu sebuah mobil jemputan yang telah sebuah pesan katakan.
Mobil taksi berwarna kuning tiba tepat di hadapan ketiganya. Langsung saja semuanya masuk ke dalam dan membiarkan mobil suruhan mengantar mereka ke jalan Vinus.
"Jalanlah ke gang sempit itu. Di sana mereka menunggu," ucap sopir setelah sampai mengantar Sky serta lainnya ke tempat tujuan.
Ketiganya keluar dan mobil meninggalkan mereka di jalanan tersebut. Jalan gang nan gelap serta basah menemani perjalanan ketiganya.
Di pertengahan gang itu, dua orang pemuda menghadang ketiganya. Sky membiarkan mereka berdua memeriksa tubuhnya.
"Kami tidak membawa apa-apa," celetuk Ali.
"Kami hanya menjalankan perintah," sahut mereka.
"Bilang saja kalian takut pada kami," ledek Judy.
Dua pria itu tidak memperdulikan ledekan dari Judy maupun Ali. Mereka tetap menjalankan perintah untuk memeriksa apakah Sky bersama rekannya membawa senjata.
"Ikut dengan kami."
Ketiganya mengikuti dua orang pria menuju sebuah rumah kecil yang terbuat dari material seng. Sky, Ali serta Judy berhenti tatkala dua orang itu juga ikut berhenti.
"Masuklah," ucap salah satu pria.
Ketiganya masuk ke dalam ruangan dan langsung ditodong dengan senjata api. Seorang pria tinggi memakai jaket bertudung kepala memutar tubuh menghadap Sky.
"Selamat datang, Sky."
"Kamu Julius?" tanya Sky.
Julius tertawa dan membuka penutup jaket dari kepalanya. Pria bermata perak, kini beradu pandang dengan pria pemilik warna mata biru. "Kamu sudah melihat jika Black berada di tanganku. Jika kamu ingin orangtua itu bebas, maka kamu perlu melakukan sesuatu untukku."
"Apa yang kamu inginkan? Jika masalah kekuasaan dunia bawah, klan Black Devil yang kamu inginkan, maka ambil saja," ucap Sky.
Julius tertawa. "Jika itu saja ... akan sangat mudah untukku."
"Jadi apa maumu!" hardik Sky yang sudah kepalang ingin menghabisi Julius.
"Bawakan aku peta harta penyimpanan para mafia. Black punya satu peta itu dan pasti ada padamu," ucap Julius.
Sky kaget akan perkataan Julius. "Harta penyimpanan?"
"Jangan pura-pura polos. Aku tahu kamu tahu soal itu. Berikan keempat peta itu padaku dan Black akan aku bebaskan," kata Julius.
Sky tertawa mendengarnya. "Kamu kira aku sebodoh itu? Dapat atau tidak ... kamu tetap menghabisi papaku."
Julius bertepuk tangan. "Kamu benar. Tetapi ada pengecualian untukmu. Aku akan membiarkan Black mati sendiri di hadapanmu."
Julius mengambil ponsel dari saku jaket, lalu memutar video untuk ia perlihatkan pada Sky. Video di mana Black tengah duduk terikat bersama seorang pria yang memegang jarum suntikan.
"Kamu tahu cairan itu?" desis Julius. "Dalam dua minggu, virus itu akan mengerogoti tubuh orang yang kamu sayangi." Julius meletakkan sebuah botol di hadapan Sky. "Itu penawarnya. Silakan kamu pilih. Kesempatan ada di depan matamu."
Dalam video itu, Sky melihat pria yang berdiri di samping Black menusukkan jarum kecil di lengan. Seketika dapat Sky dengar raungan dari orang yang ia sayangi.
"Lebih cepat lebih bagus," ucap Julius.
Sky mengepal geram dan meraih botol penawar itu. "Aku terima."
"Pilihan yang bagus. Batas waktu hanya sampai dua minggu. Cari peta itu dan berikan padaku. Kamu hanya mencari dua saja. Karena aku dan kamu ... memiliki masing-masing satu peta," terang Julius.
"Selama aku pergi, jangan sampai kulit serta rambutnya terlepas," ucap Sky memperingati.
"Tenang saja. Aku akan memperlakukan Black dengan baik. Segera berikan aku peta dan kamu akan segera mengobati pria tua itu," terang Julius dengan senyum keji.
Sky menahan ledakan amarah yang membuncah dalam dirinya. Ia melangkah keluar dengan diikuti dua rekannya. Tugas berat dalam dua minggu harus segera terlaksana. Sky mengenggam botol penawar virus di tangannya.
"Aku akan menyelamatkanmu, papa!"
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Meta Lia
sky dilema
2022-03-16
1
Weny Yuniestin
go sky go sky go atur strategi
2022-03-08
1
R_3DHE 💪('ω'💪)
waaawww sky.... kamu pasti bisa....🙂🙂
2021-12-27
2