"Eh, kenapa tiba-tiba mati lampu?" tanya para pengawal.
"Coba kamu periksa sana," tunjuk salah satu pengawal pada rekannya.
Pengawal yang ditunjuk menyalakan lampu senter dari ponselnya, lalu berjalan menuju belakang rumah, tempat panel listrik berada.
Di dapur juga heboh. Sky tengah menyiapkan makan malam buat para pengawal. Pelayan lekas mencari lilin, dan saat itu juga Sky tidak membuang kesempatan.
Sebuah obat pencahar ia berikan kepada semua makanan yang telah dibuat. Lampu mati itu memang Ali yang sengaja melakukannya agar kamera mati, dan Sky bisa melakukan tugasnya.
Lampu tiba-tiba saja menyala. Sky menata makanan di atas kereta dorong, dan pelayan lain membawanya untuk dibagikan kepada para pengawal yang berjaga.
"Ini makanan untuk kalian," ucap pelayan pria.
Mendengar makanan, bergegas para pengawal memanggil rekan-rekannya yang lain untuk makan. Mereka makan dalam keadaan berdiri dengan mata yang tetap waspada.
"Hei, kamu tidak makan?" kata pria kepada Ali.
"Nanti saja. Aku mau berjaga-jaga saja," ucap Ali.
Mana mungkin Ali mau makan makanan yang sudah dibubuhi obat pencahar. Yang ada dia malah ikut-ikutan sakit perut.
"Kenapa perutku jadi mulas? Aku ke toilet dulu," ucap salah satu pengawal.
Beberapa saat kemudian, para pengawal lain ikut merasakan perutnya mulas, dan masing-masing berlari ke toilet.
Sky serta Ali sudah menyelinap masuk ke ruang kerja Matius terlebih dulu. "Ali, matikan kameranya."
Ali mencari terminal kamera yang berada di sudut dinding, lalu mematikannya. Bergegas keduanya mencari peta yang disembunyikan oleh Matius.
"Cepatlah, Ali. Sebelum para pengawal menyadari jika chef mereka mencampur obat pencahar ke dalam makanan," kata Sky.
"Kamu pikir aku sedang apa? Aku, kan sedang mencari," ucap Ali.
Laci, buku-buku serta lemari diacak-acak hanya untuk mencari sebuah peta yang diyakini bahwa Matiuslah yang memegang salah satunya.
Nada dering ponsel berbunyi. Panggilan dari Judy, dan segera Sky menekan tombol hijau, lalu mendengarkan Judy berbicara.
"Katakan." ~ Sky.
"Kalian cepat keluar dari rumah Matius. Pria itu tidak datang ke gedung opera."
"Apa maksudmu." ~ Sky.
"Matius tidak berada di gedung opera. Aku akan menunggu kalian di blok jalan perumahannya. Cepat keluar dari sana! Misi gagal, dan mereka tahu ada penyusup!" ~ Judy.
Sky mengumpat, " Mereka tahu ada penyusup. Kamu keluarlah, Ali!"
"Apa maksudmu! Aku akan berada di sini," bantah Ali.
"Aku akan ke kamar Matius. Pasti petanya ada di sana," kata Sky yang bergegas keluar dari ruang kerja.
Ali juga turut mengikuti langkah Sky yang masuk ke dalam kamar Matius dengan membawa senjata hasil menghabisi nyawa dari pengawal.
Sky mengobrak-abrik isi kamar Matius, tetapi belum juga menemukan peta itu. Ia mengumpat kesal, "Di mana peta itu?"
Mata Sky melirik lukisan yang terpajang di atas dinding tempat tidur. Sky naik ke atas tempat tidur, lalu menurunkan lukisan itu. Ia mengetuk-ngetuk dinding, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah. Ali mengintip lewat kusen jendela. Matius, Sera serta pengawal mereka telah datang. Bahkan, pengawal yang tadi bersama Matius bertambah jumlahnya.
Ali menutup pintu kamar Matius, lalu menguncinya. "Cepatlah, Sky."
"Petanya tidak ada di sini!" kata Sky putus asa.
"Ya ampun! Dalam lima menit mereka akan sampai kemari, Sky. Aku tidak mau kehilangan nyawa di dalam kolam itu," kata Ali.
Sky mengamati lukisan tersebut. Lukisan dewi yang memberkati anak manusia. Ia usap lukisan itu, dan terasa kasar. Sky mengambil bolpoin di laci meja lampu tidur, lalu mengikis lukisan itu secara hati-hati dari bagian tepi.
"Matius benar-benar pintar. Dia menyimpan petanya di dalam lukisan ini," kata Sky.
Dengan hati-hati Sky mengikis lukisan itu agar terbuka. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Ali sudah gemetaran, dan siap untuk menembak mereka yang datang menghadang.
"Dobrak pintunya! Habisi mereka yang ada di dalam!" perintah Matius.
Ali menelan saliva. Sky masih belum selesai mengeluarkan peta itu dari dalam lukisan. Pintu di dobrak, dan juga ditembaki. Salah Matius yang membuat pintu kamarnya dengan kayu jati berlapis. Setidaknya itu akan memperlambat cara kerja mereka.
Braak ... !
Dor ... dor ... !
"Mereka tidak ada di tempat," pekik yang lain.
"Cepat ke bawahhh!" pekik Matius.
Bergegas semuanya ke lantai bawah menghadang Ali serta Sky yang sudah turun ke bawah lewat balkon kamar. Matius mengepal geram melihat harta penyimpanannya diambil.
"Siapa dia sebenarnya?" teriak Matius. Pria itu mengambil samurai yang berada di dinding kamar. "Kepalamu pantas aku tebas!"
"Mereka terlalu banyak, Sky," kata Ali.
"Mau banyak atau apa, kita harus menghadapi mereka," ucap Sky.
"Itu mereka!" kata musuh.
Sky mengambil vas bunga, lalu melempar kepala salah satu pengawal dengan tepat. Keduanya bersembunyi di balik pilar.
"Aku perlu senjata," kata Sky.
"Kita harus merebut senjata dari mereka," sahut Ali.
Sky hanya bisa menghindar dari timah panas yang menghujani dirinya, dan juga Ali. Mereka belum bisa mengambil alih senjata; karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Bruck ... !
"Apa itu?" kata pengawal. Mata mereka membulat mendapati sebuah benda mengeluarkan asap. "Bom asap!"
"Bom asap?" ulang Sky dan Ali.
"Saatnya bertindak," kata Sky.
Semakin lama asap semakin kabut. Beberapa titik dilempari dengan bom yang tidak mengeluarkan api peledak, tetapi asap.
Sky dan Ali menerebos dengan memakai kacamata hitam yang bisa digunakan dalam keadaan gelap. Ali memang membawa perlengkapan penting miliknya.
Suara jeritan pengawal terdengar. Kabut asap semakin menepis, memudahkan musuh untuk melihat lawan. Beberapa pengawal sudah tergelatak tanpa senjata.
Sky serta Ali sudah kembali bersembunyi pada pilar rumah dengan membawa senjata di tangan mereka.
"Kamu siap?" kata Sky.
"Siap."
"Kita serang!"
Dor ... dor ... dor ... !
Seruan timah panas saling beradu antara kubu Sky, dan musuh. Tembakan yang diluncurkan mengenai tepat pada sasaran musuhnya. Sky tidak ingin membuang amunisi dengan sia-sia.
"Awas, Skyyy!" teriak Ali.
Dor ... !
"Judyy!" ucap Sky, dan Ali yang melihat Judy berhasil menembak musuh dari belakang. Musuh yang ingin menembak Sky tadi.
"Kalian dalam masalah, tentu aku datang.''
"Ayo, habisi mereka," kata Ali.
"Mereka tidak ada habisnya. Kita kalah jumlah," ucap Sky.
Judy kembali melempar bom asap, lalu Sky, Ali menembaki mereka semua. Musuh yang sempat Sky beri obat pencahar sudah tiada ditembaki.
Sky tidak menyadari ada mata pengintai dari atas yang siap menembak dirinya. Wanita itu membidik sasarannya.
Syut ... !
"Apa ini?" Ali memegang lehernya. Terdapat jarum yang menempel. "Ini obat bius!"
Sky mengumpat, dan melihat ke atas. Seorang wanita yang ia kenal, yaitu Sera.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Meta Lia
sera seperti kekasih black yg pintar
2022-03-16
1
Weny Yuniestin
weehh jago juga sera
2022-03-08
1
Mazt Agus
tegang ..
2022-02-23
1