"Kita langsung ke pelabuhan," kata Judy sembari menyetir.
"Lekaslah. Lukaku perlu diobati," sahut Sky.
"Sky, biar aku lihat lukamu," kata Sera.
"Tidak perlu. Jelaskan saja siapa dirimu." Sky mengeser duduknya agar sedikit menjauh dari Sera.
Perjalanan kali ini menuju Albania. Sky serta rekannya akan bersembunyi terlebih dulu baru menuju ke negara selanjutnya mencari peta.
"Akan aku jelaskan setelah kita sampai di kapal feri," kata Sera.
"Di mana jasad chef serta tukang kebun itu?" tanya Sky pada Judy.
"Aku meninggalkan mereka di jalanan kecil. Tenang saja, aku sudah meretas CCTV agar wajahku tidak kelihatan," terang Judy.
Sky menekan luka akibat pedang samurai Matius agar noda merah dari tubuhnya tidak terus keluar. Luka itu harus segera ditangani karena sayatannya cukup dalam.
Beberapa saat mereka sampai di pelabuhan. Dua orang pria menyambut kedatangan mereka. Judy berbicara bahasa italia meminta bantuan membawa Ali yang tidak sadarkan diri. Segepok uang Euro, ia berikan kepada salah satu pria itu.
Sky, Sera berjalan terlebih dulu menaiki kapal kemudian disusul Judy serta Ali yang dibopong dua orang pria. Sky duduk di kursi panjang ditemani Sera, sedangkan Ali di tempatkan di kamar lain.
Kapal feri mulai berjalan mengarungi lautan mediterania. Judy datang dengan membawa kotak pertolongan pertama, lalu duduk di bangku kecil berhadapan dengan Sky.
"Aku akan menjahitnya." Judy memandang Sera, "tutup matamu."
"Pergilah, Sera!" usir Sky.
"Aku mau di sini," kekeh wanita itu.
"Terserah kamu saja," ucap Sky kesal.
Judy membuka pakaian yang membalut luka Sky, dan Sera meringis melihatnya. Judy menuangkan alkohol sebagai antiseptik, dan membuat Sky mengigit bibir.
Baik Judy, Ali maupun Sky sudah ahli dalam menjahit luka. Mereka diajarkan oleh Ronald yang merupakan seorang dokter, dan juga saudara Black serta sahabat dari Max.
"Apa perlu dibius?" tanya Judy.
"Tentu saja. Kamu tega melihat Sky kesakitan!" seru Sera.
"Ya, baiklah." Judy menyuntikan obat bius pada lengan Sky agar saat ia menjahit luka, tidak akan terasa sakit.
Sera memalingkan wajah ketika Judy mulai melakukan tugasnya. Luka itu dalam hingga Sky harus menerima belasan jahitan di bagian dada sebelah kanannya.
"Selesai. Kamu minum pil ini." Judy memberikan pil kepada Sky, dan juga sebotol air mineral. Pil yang diberikan Judy, adalah pereda nyeri agar Sky tidak demam.
"Biarkan aku menemanimu, Sky," kata Sera.
"Terserah." Sky beranjak menuju kasur lipat yang berada di kapal itu. Ia merebahkan diri sembari memejamkan matanya.
"Jangan ambil hati akan sikap Sky. Kamu tidurlah di sampingnya. Aku akan pergi menemani Ali," kata Judy.
Sera mengangguk, "Terima kasih, Judy."
Judy keluar dari bilik kapal, lalu menuju ke bilik atas tempat Ali berada. Sera merebahkan dirinya di atas kasur lipat yang berada di samping Sky. Ia tatap wajah asli dari pria yang sebelumnya menyamar menjadi seorang chef.
...****************...
Angin laut mengusik tidur nyenyak Sera. Semburat oranye bersinar terang di atas kapal yang saat ini telah berhenti di tengah lautan nan biru.
Perlahan Sera membuka mata, dan ia tidak dapat bergerak sebab senjata api telah berada di keningnya. Todongan itu tentu saja dari seorang pria yang Sera sukai.
"Ap-apa ini, Sky?!" Sera gugup setengah mati.
"Tentu aku tengah menodongkan senjata pada musuhku," jawab Sky.
"Kamu berlebihan, Sky," ucap Judy.
Judy serta Ali juga berada di hadapan Sera yang saat menjadi seorang tawanan. Ali menutup wajahnya, ia juga menyenggol lengan Judy agar menutup wajah.
"Tutup wajahmu, Jud. Ada penampakan," bisik Ali.
"Apa?" tanya Judy.
"Kamu sengaja menikmati penampakan itu, kan? Dalaman Sera kelihatan," bisik Ali.
Judy tersentak, dan baru tersadar gaun Sera memang terangkat hingga dalaman yang wanita itu kenakan kelihatan. Sontak Judy menutup wajahnya, lalu berpaling ke arah lain.
"Kalian kenapa?" tanya Sky.
"Lihat saja, Sera," jawab Ali dalam keadaan masih menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sky memandang Sera lekat. Todongan senjata api tetap ia letakkan di kening wanita itu. Sky mengumpat dalam hati. Wajahnya merona melihat kaki jenjang nan mulus itu.
"Pakaianmu tidak ada yang panjang apa?" kata Sky kesal. "Tutupi kakimu!"
"Pakai apa?" tanya Sera.
"Ayo, bangun."
Sera bangkit dari tidurnya, lalu menurunkan kaki dari kasur lipat hingga terlihat ia duduk di atas kasur itu. Sera juga merapikan gaun yang ia kenakan.
"Buka mata kalian," kata Sky.
Ali, dan Judy mengintip dari balik jari-jemari mereka. Saat tahu Sera sudah di posisi duduk, barulah mereka memperlihatkan wajah.
"Cepat katakan. Siapa kamu?" tanya Sky.
"Aku Sera Olivia Kendrick. Aku dari klan kecil Black Rose. Ayahku pemimpin di sana, dan telah tiada."
"Black Rose? Kami tidak pernah dengar," kata Judy.
"Kami berasal dari Rusia sebagai mafia penjual informasi," kata Sera.
Sky tersenyum smirk, "Jadi, informasi keberadaan Calvin di sekolah, kamu juga yang memberitahunya?"
Sera mengangguk, "Iya."
"Lalu, di rumah Matius, kamu juga memberitahu rencana kami padanya?" ucap Ali.
Sera mengeleng, "Aku juga tidak tahu soal itu. Aku bekerja untuk Martino, dan menyampaikan informasi mengenai peta itu. Saat kami berangkat menuju gedung opera, Matius menerima telepon jika musuhnya akan menyerang, dan itu sebab kami pulang."
"Siapa mata-mata itu?" tanya Sky.
"Aku tidak tahu," kata Sera.
Sebenarnya yang terjadi bukanlah seperti anggapan Sera. Matius sudah curiga mengenai perubahan sikap chef yang melayani dirinya. Dari suara, tingkah laku, dan juga cita rasa masakan yang ia rasakan.
Sesuai jadwal, Matius memang akan pergi ke gedung pertunjukkan opera, tetapi itu hanya sebagai kedok untuk menangkap tikus. Sebab itulah saat di jalan, ia memutuskan untuk pulang menangkap penyusup itu.
Namun, Matius salah perhitungan. Yang ia hadapi seorang pria muda, dan pintar. Peta yang ia simpan di dalam lukisan dapat ditemukan. Pengawalnya kalah, dan ia tewas dalam peristiwa itu.
"Apa mungkin salah sasaran?" kata Judy.
"Aku mengatakan kepada Martino untuk menyerang saat kami berada di gedung opera, dan aku tidak menyangka jika kalian yang malah berada di sana," tutur Sera.
"Tunggu! Aku rasa ada yang salah di sini," kata Sky.
"Maksudmu?" tanya Ali.
"Aku rasa Matius sudah tahu jika Martino akan menyerang. Dia mendapat telepon, kan? Aku rasa dia sudah mengetahui Sera berkhianat. Pada saat ia pulang, sebenarnya memang ingin menangkap penjahat yang sesungguhnya, yaitu kita, lalu mengeksekusi Sera," ucap Sky.
"Bisa jadi begitu. Matius menghabisi klan Martino, dan ia malah kita habisi," sahut Judy.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang terpenting petanya sudah ada pada kita," sambung Ali.
"Karena Sera sebagai informan di sini, kita habisi dia. Judy, Ali, lempar dia ke laut."
"Tidakkkk!"
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like, dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lailatul Mufida
benar kejam Dunia Mafia, yp aq mohon jangan jodohin sky sama sera Thor please 🙏🙏🙏
2021-11-04
0
Ariexs Ariex
lanjut thorr ♥️♥️♥️♥️♥️
2021-07-09
0
Siti Khodijah
aq gak setuju klo sky bucin ke sera..scr sera itu bkn wanita baik2..jatuh kepelukan bandit tua matius lg...
2021-07-07
1