Satu per satu Sky menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Asrama untuk siswa dan siswi terpisah dengan hanya dibatasi tembok setinggi dagu pria dewasa.
Dari lantai dua, kadang para siswa dapat melihat para siswi yang juga berada di lantai atas. Dari situ mereka bisa bercanda serta mengobrol satu sama lain.
"Hai Sky," tegur Sera. Wanita berkulit putih, rambut terang serta wajah campuran Italia-Jerman. Mata Sera cokelat terang dengan tubuh indah yang mempesona.
"Hai," balas Sky dengan acuh, lalu masuk ke dalam bilik kamarnya.
"Oh Sera ... kamu masih saja ingin bersama Sky. Dia pria menjijikkan," celetuk Julia, teman dekat Sera.
"Dia sangat misterius dan aku sangat menyukai pria seperti itu," sahut Sera.
"Kamu tidak takut dengan Calvin? Dia itu kekasihmu. Jangan sampai kita berbuat masalah dengannya. Bisa hancur semua," tutur Julia.
"Diamlah, Jul. Aku bukan milik Calvin," bantah Sera yang beranjak dari pagar besi menuju bilik kamarnya sendiri.
Sky langsung merebahkan diri di kasur tingkat bagian bawah. Ia memejamkan mata sejenak membuang rasa penat dari perjalanan yang memakan hampir satu putaran bumi.
Baru saja terhanyut dalam lautan mimpi, suara ribut di bawah sana menganggu indera pendengaran Sky. Suara riuh para siswa serta siswi saling bersahut-sahutan meneriaki hal yang membuat mereka tertarik.
Rasa penasaran mencoba menghantui Sky untuk melihat keluar. Kedua kakinya seolah ingin berlari ke sana serta bisikan dari dalam dirinya bertalu-talu mengatakan bahwa ia harus keluar melihat apa yang terjadi di bawah.
Sky merapikan belahan rambut serta memasang lensa mata yang tadi sempat ia lepas ketika hendak tidur. Salah satu mengapa ia kesal ke sekolah, hanya karena terus memakai lensa mata.
Mata biru terang yang menjadi anugerah bagi siapa saja yang ingin terlihat tampan, tetapi bagi Sky, hal itu malah membuatnya sengsara. Black pernah mengatakan, mata biru yang ia miliki akan membawa petaka jika di hadapan orang biasa. Namun bagi musuh, mata itu akan membuat lawan takut padanya.
Sky mendelik melihat apa yang tengah terjadi di bawah, di mana Judy serta Ali tengah dilempari kaleng bekas minuman dan para siswa serta siswi malah menertawakannya.
Satu pelaku di mana para penjaga asrama tidak berkutik pada seorang anak muda yang punya kuasa di sekolah. Anggota geng Calvin yang berjumlah empat orang pelakunya serta para wanita pemuja yang berada di dekat para anak penguasa tersebut.
Sky sungguh malas untuk berurusan dengan mereka, sebab bila sampai para anggota geng sekolah itu tersinggung, maka orangtua mereka akan ikut campur.
Judy serta Ali hanya diam sebab mereka harus tetap menyembunyikan identitas. Namun lemparan kaleng minum membuat dahi Judy terluka hingga kacamata yang pria itu kenakan terlepas.
Ali mengumpat. "Kurang ajar! Baru datang sudah disambut dengan beginian."
"Mereka melempariku dengan kaleng minuman yang masih berisi," sahut Judy.
"Aku ingin sekali menembak kepala Calvin dan para temannya," geram Ali. Mata Ali melebar takkala Calvin hendak melemparkan kaleng minuman kepada mereka. "Lindungi kepalamu, Judy!"
Keduanya melindungi kepala mereka seraya menunduk. Beberapa detik berlalu, tidak ada hal apa pun yang terjadi, bahkan suara dari para siswa serta siswi asrama terdiam.
Ali mengerling ke samping dan ia kaget karena Sky telah berada tepat di depannya sembari memegang kaleng minuman di tangan.
"Sky," seru Ali.
Tepukkan tangan terdengar dari depan sana. Calvin beranjak dari bangku besi dengan bantalan busa. Pria itu seperti menganggap remeh apa yang baru saja dilakukan oleh Sky.
"Wow ... tiga pria culun telah bergabung menjadi satu rupanya," ucap Calvin.
"Kamu itu siswa atau kepala geng?" tanya Sky.
Calvin tertawa mendengarnya. "Pria culun ini sok menasehatiku rupanya."
Sky mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ia yang sudah berumur dua puluh tahun, harus terjebak pada anak-anak remaja yang sok berkuasa hanya karena orangtua mereka orang yang berpengaruh. Hanya demi sebuah dokumen, Sky serta kedua rekannya harus tetap menjadi seorang siswa Sekolah Menengah Atas.
"Kami tidak pernah mengusikmu, Calvin. Lalu kenapa kamu menyakiti kami?" kata Sky.
Kelakuan Calvin sungguh sudah di luar batas. Judy sampai terluka gara-gara kaleng minuman soda yang mereka lemparkan. Dan jika Sky tidak datang tepat waktu tadi, sudah pasti kepala rekannya akan semakin terluka.
Sky menoleh pada temannya yang berada di belakang. "Ayo ... kembali ke kamar."
Ali serta Judy mengangguk, lalu melangkah pergi terlebih dulu. Sky mengikuti keduanya dari belakang. Mata Calvin berkilat marah seolah Sky telah mempermainkan dirinya saat ini.
Satu kaleng minuman ia ambil dari tangan temannya dan dengan amarah melemparkan kaleng minuman itu ke arah Sky.
Klontang ... !
Calvin serta lainnya kaget sebab Sky juga melemparkan kaleng minuman yang ia pegang sebagai penghalang agar kaleng itu tidak mengenai dirinya. Namun, semua heran melihat Sky yang bisa membaca pergerakan dari Calvin.
Dua kaleng minuman itu pecah akibat benturan yang sama-sama kuat. Air soda keluar mengaliri lantai bersemen.
"Jangan mencari masalah denganku!" Sky mengeluarkan suara berat disertai tatapan tajam matanya.
Calvin tersentak melihat itu. Pertama kalinya Sky memperlihatkan tatapan tajam yang menusuk hingga seketika rasa takut itu muncul di dalam benaknya.
Seketika para siswa lain yang melihat terdiam. Suasana yang bising tiba-tiba menjadi sunyi hanya karena Sky mengeluarkan gumaman berat dari bibirnya.
Sky memutar tubuh dengan melangkah ke depan. Ia berjalan dengan diapit Judy serta Ali di sisi kiri dan kanan. Tubuh tegap dengan kaki kokoh berjalan menuju lantai atas.
Siswa lain memperhatikan ketiganya. Sky, Ali serta Judy menjadi sosok yang berbeda. Tadinya ketiga pria itu datang dengan kepala tertunduk, tetapi sekarang ketiganya mengangkat kepala.
"Dia sangat misterius," ucap Sera yang semakin tertarik pada Sky.
Julia geleng-geleng kepala. "Aku rasa sebentar lagi akan ada masalah."
...****************...
Calvin masih syok atas tindakan intimidasi yang dilakukan Sky tadi. Hanya tatapan serta suara saja ia telah menciut ketakutan.
"Apa kalian merasakan hal yang sama denganku?" tanya Calvin pada ketiga temannya.
"Apa? Maksudmu suara teguran Sky itu?" tanya teman Calvin yang memiliki warna kulit eksotis.
Calvin mengangguk. "Tentu saja. Hanya karena suaranya itu, semua siswa terdiam."
"Mungkin itu pertama kalinya dia bersuara marah," celetuk rekan satunya berambut cepak. "Itu sebab teman-teman yang lain pada heran."
Ketiga teman Calvin membenarkan hal itu, tetapi bagi Calvin sendiri, suara teguran Sky bukan amarah melainkan suatu ancaman, di mana, jika kamu mengusikku, maka aku akan menghabisimu.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
PeQueena
be careful,,calv..
2022-09-23
0
Weny Yuniestin
makanya jangan cari masalah. calvin
2022-03-07
0
Made Elviani
cari mati Lo Calvin
2022-02-23
0