"Hei, cepat masuk. Siapkan sarapan untuk tuan Matius," ucap salah satu pengawal saat melihat Sky masuk dengan membawa bahan makanan.
"Aku akan menyiapkannya sebentar lagi," sahut Sky.
Pengawal itu mengernyit saat mendengar suara koki yang berbeda. "Suaramu berubah?"
Sky berdehem, "Aku sakit tenggorakan."
Pengawal itu memperhatikan Sky yang berjalan ke arah kiri. "Dapur bukannya sebelah kanan? Di sana, kan, taman."
Kembali Sky berdehem, "Aku tahu. Aku hanya ingin ke taman saja." Sky menatap pengawal yang sedari terus memperhatikan dirinya. "Kamu tidak punya pekerjaan? Sedari tadi malah mengurusiku."
Pengawal itu berlalu. Sky mengembuskan napas lega. Untung saja pengawal itu langsung pergi, dan tidak bertanya hal yang aneh. Sky memang tidak tahu letak dapur, tetapi untung saja pengawal itu sempat memberitahu.
Bergegas Sky menuju dapur. Di sana sudah ada beberapa pelayan yang memotong sayur serta daging. Sky meletakkan bahan makanan di meja.
"Kalian sedang membuat apa?" tanya Sky.
Para pelayan menghentikan kegiatan mereka. Pandangan mata tertuju pada Sky. "Sarapan dan makan siang. Sarapan ada espresso, dan biscotti. Untuk menu makan siang, kita akan membuat pasta carbonara, ravioli serta ayam parmigiana."
"Bukannya itu sudah jadwal menu hari ini? Chef sendiri yang menuliskannya," ucap salah satu pelayan.
"Ah, benar juga. Entah kenapa aku lupa. Mungkin ini efek dari obat yang kuminum. Aku sedang tidak enak badan. Tenggorokkanku juga sakit," tutur Sky sebelum pertanyaan lain muncul, ia sudah terlebih dulu menjelaskan.
Pelayan mempersilakan Sky menempati posisinya untuk memasak. Untuk masalah membuat makanan, Sky juga ahli. Apalagi makanan italia.
Black pernah berkata kepada Sky. Seorang mafia harus bisa menjalani semua profesi. Sky juga belajar memasak dari guru khusus waktu di markas.
"Waktu sarapan hampir tiba. Ayo, kita antarkan menu sarapan ini," seru pelayan pria.
Beberapa pelayan membawa kereta dorong makanan ke ruang makan. Sekarang hanya ada beberapa orang saja yang berada di dapur.
"Katanya tuan Matius ingin sarapan di ruang kerja," ucap pelayan pria tadi.
"Itu artinya Chef yang harus mengantarkan makanan itu," sahut yang lain.
"Sebentar, aku cuci tangan dulu," kata Sky.
Sebuah kesempatan emas datang. Sky bisa melihat ruangan Matius berada. Peta penyimpanan itu akan segera ia dapatkan.
Sky diikuti oleh dua orang pelayan pria menuju ruang kerja Matius. Kamar luas dengan pintu kayu berukiran serta dilapisi cat berwarna emas.
Pintu dibuka oleh dua pelayan. Sky masuk dengan mendorong kereta makanan. Seorang pria memakai piyama tengah duduk di depan meja kerja. Rambutnya putih diikat, dan rahangnya ditumbuhi janggut. Diperkirakan Matius berumur enam puluh tahun, tetapi tubuhnya tetap bugar.
"Selamat pagi, Tuan," ucap Sky dalam bahasa Italia.
Matius mengangguk tanpa membalas sapaan Sky. Sebuah deringan ponsel berbunyi. Matius beranjak dari duduknya untuk mengangkat telepon.
Mata tajam Sky mengarah ke segala arah. Di beberapa titik ada kamera yang mengintai. Tepat di posisinya berdiri. Dua kamera tengah merekamnya.
Sky tetap tenang. Ia menata makanan serta minuman di meja. Matius selesai menelepon, dan duduk kembali di kursinya. Ia langsung menyeruput kopi espresso dan biscotti yang dihidangkan.
"Nanti siang kekasihku akan datang. Buatkan makanan kesukaannya," ucap Matius.
Sky menurunkan sedikit tubuhnya. "Baik, Tuan."
Matius melambaikan tangannya. Sky mengerti maksud dari isyarat mengusir itu. Segera ia keluar dari ruang kerja sembari mendorong kereta makanan.
...****************...
"Tuan bilang kekasihnya akan datang. Mereka ingin makan siang bersama," ucap Sky.
"Kita harus bergegas menyiapkan makan siang, dan suruh tukang kebun untuk menyiapkan bunga mawar segera," tutur pelayan dapur.
"Aku akan segera memberitahunya." Bergegas satu orang pelayan menuju taman.
"Kira-kira apa makanan kesukaan kekasih tuan?" gumam Sky.
"Bukannya Chef sudah tahu?" Pelayan yang berjalan bersama Sky terlihat heran akan ucapan pria yang ia anggap chef.
"Maksudku, mungkin dia bosan dengan makanan yang itu saja. Mungkin dia ingin variasi menu," kata Sky.
Pelayan pria melirik ke kiri dan ke kanan. Ia takut pembicaraan mereka akan di dengar. "Kekasih tuan hanya makan salad buah atau sayur. Dia, kan, ingin tubuhnya langsing dan menarik."
Sky tersenyum karena berhasil memancing rekannya. Sekarang ia tahu makanan kesukaan kekasih Matius, dan segera membuatkannya.
Matius keluar kamar dengan di dampingi dua pengawalnya. Ia melirik jam di pergelangan tangan, dan kembali merapikan jas yang melekat di tubuhnya.
Suara deruan mobil terdengar masuk ke halaman rumah Matius. Pria itu tersenyum karena wanita yang ia tunggu telah datang.
"Berikan bunganya," pinta Matius.
Salah satu pengawal mengambil sebuket bunga mawar merah yang sudah tersedia di meja dekat pintu masuk.
Pintu dibuka menyambut wanita cantik berambut coklat terang. Kulit putih dengan bentuk tubuh bak model. Matius merentangkan kedua tangannya saat wanita muda sekitar dua puluh tahun berlari menghampirinya.
"Sayang, aku merindukanmu."
Matius tertawa mendengarnya, "Bunga untukmu."
"Terima kasih," jawab wanita itu.
Keduanya saling mendekatkan wajah. Dua pengawal yang berada di dekat mereka, menundukkan kepala. Matius mengecup bibir kekasihnya dengan lembut.
Tidak cukup sampai di situ saja. Matius menjelajahi bagian yang terlihat jenjang dengan bibirnya, dan berhasil membuat wanita itu kegelian.
"Hentikan, Sayang!" ucap wanita itu.
"Aku merindukanmu," kata Matius.
"Nanti malam kita bermainnya. Sekarang masih siang."
"Aku sudah tidak tahan."
Sang kekasih menutup bibir Matius yang ingin kembali membelit bibirnya. "Aku ke sini untuk makan siang bersama."
Matius menghela, "Baiklah. Kita makan siang bersama dulu."
Keduanya melangkah menuju ruang makan. Menu makan siang telah tersedia dengan para pelayan yang sudah berjejer menunggu perintah.
"Silakan, Sayang," ucap Matius dengan mempersilakan kekasihnya duduk.
"Wow ... rasanya makan siang kali ini berbeda. Ada makanan manis."
Di meja makan tersedia kue tiramisu, dan juga kue cheese cake dengan buah cery di atasnya. Pandangan kue itu membuat siapa saja tergoda.
"Kamu tidak suka?" tanya Matius, "Padahal aku sudah mengatakan untuk menyiapkan makanan kesukaanmu saja."
"Tidak, Sayang. Aku akan mencicipi kue itu nanti. Lebih baik kita makan saja."
Matius melahap pasta miliknya, sedangkan sang kekasih menghabiskan salad sayur dengan irisan ayam di dalamnya.
"Aku akan coba kue tiramisu ini." Wanita itu memotong kue, lalu memberikan sepotong kepada Matius, dan sepotong lagi untuknya. Keduanya mencicipi kue tersebut.
"Enak. Sangat enak. Apa dia bisa bikin kue tanpa membuat berat tubuhku bertambah?" tanya wanita itu dengan manja.
Matius tertawa, "Kita panggil kepala Chef, dan kamu tanya saja padanya." Matius melirik pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka duduk. "Panggil Chef."
"Baik, Tuan," sahut pelayan.
Sky muncul di ruang makan setelah seorang pelayan memanggilnya. "Iya, Tuan."
"Sayang, kamu tanya pada Chef sendiri," ucap Matius.
Wanita itu menoleh pada Sky. Senyum mengembang terukir di bibirnya, tetapi senyum itu membuat Sky kaget bukan kepalang.
Sera?
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ersa
ternyata sera ada hub dg Dunia bawah hita
2023-07-30
0
Zamie Assyakur
sera suka ny sma yg tua"
2023-05-29
0
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
klo sky jodohnya sera,,aq stop baca d sini aja ya kak.
masa sky dpt bekasan musuhnya,,g redho aqnya🤭
2022-06-29
0