Sejak kejadian yang tidak mengenakkan, Sera seakan tidak jera mendekati Sky. Wanita itu bersikukuh untuk menaklukan pria yang membuatnya jatuh hati.
Di mana ada Sky, pasti Sera juga akan berada di dekat pria itu. Sky merasa risih dan tidak tahu harus melakukan apa pada wanita keras kepala seperti Sera. Tidak mungkin Sky menghabisi nyawa Sera dengan menembak ataupun mencekik leher dari gadis itu.
"Berhentilah untuk mengikutiku!" bentak Sky.
"Apa? Aku hanya berada di sini. Bukankah ruang perpustakaan ini milik sekolah? Aku berhak untuk datang," jawab Sera.
Sky mengumpat kasar saking kesalnya. Ia menghampiri wanita itu dan mencengkeram lengan Sera. "Sepertinya kamu masih tidak tahu siapa aku?"
"Justru aku ingin tahu siapa kamu, Sky," bisik Sera.
Kembali Sky mencekik leher Sera. "Kamu memang harus diberi pelajaran."
Sky melepas cengkeramannya. Ia mundur ke belakang dengan mengeluarkan kotak kecil dari saku celana. Sky membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya pada Sera.
"Bagaimana jika hewan ini mengecup seluruh tubuhmu. Rasanya sangat nikmat, Sera. Dalam hitungan detik saja kamu akan melayang di udara meninggalkan namamu di dunia," desis Sky.
"Jangan gila kamu!" jerit Sera.
"Kemari, Sera. Kamu ingin mendekat padaku, kan?" Sky maju ke depan sedang Sera mundur ke belakang.
"Jangan dekati aku! Hewan itu berbisa," jerit Sera saat mulai menakut-nakuti wanita itu dengan hewan hitam bercapit yang memiliki bisa pada ekornya.
Tubuh Sera bergeser ke dinding hingga mencapai pintu. Wanita itu bergegas menarik gagang lalu keluar dari ruang perpustakaan. Sky tertawa melihat Sera yang keluar saking takutnya pada hewan yang berada dalam tangannya.
"Wanita itu mudah sekali ditipu. Kalajengking mainan saja takut," gumam Sky sembari menyimpan kembali mainan tersebut.
...****************...
Kejadian di ruang perpustakaan membuat Sera jera untuk mendekati Sky. Pria itu selalu membawa kotak dan selalu meletakkan benda tersebut di dekatnya.
Saat tengah membaca buku di depan pintu kamar, Sky akan meletakkan barang tersebut di dekatnya. Di kelas, kantin, selalu saja kotak berisi mainan kalajengking berada di dekatnya.
Sera tidak ingin mendekati Sky, ia takut kepada hewan berbisa yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya. Wanita itu sudah melihat betapa seriusnya Sky saat menghabisi para pria pada kejadian tempo lalu.
Nurani Sera masih penasaran akan sosok Sky, tetapi demi keselamatannya sendiri, ia mengubur niat untuk menyelidiki siapa sosok berpenampilan culun tersebut.
Sky beserta Ali, Judy serta lainnya sudah menyelesaikan ujian yang dilaksanakan oleh pihak sekolah. Masing-masing dari orangtua siswa datang menyaksikan acara perpisahan antar murid serta guru pembimbing.
Tentu Black serta Selena tidak menyia-yiakan kesempatan untuk melihat hasil akhir ujian dari para anak-anak mereka, meski hasil dari ujian tersebut sudah mereka ketahui.
Seperti biasa Black memakai topeng samaran serta Selena berlagak menjadi seorang wanita sungguhan.
"Sudah lama aku merindukan gaun cantik serta riasan di wajahku." Selena tiada henti becermin. "Black ... aku cantik, tidak?"
Black memutar mata malas. "Sepulang dari sini, hapus semua riasan serta ganti pakaianmu itu. Aku pusing melihat badut berjalan di markasku."
Selena mendengus. "Apa kamu bilang?! Enak saja ... aku cantik begini dibilang badut berjalan."
"Sudahlah. Simpan cerminmu itu. Lihat ... nama Sky sudah dipanggil ke depan," bisik Black.
"Aku terharu sekali. Anak kita selalu berlangganan juara umum," sahut Selena.
Semua yang hadir dalam aula bertepuk tangan memandang serta mendengar sepatah dua patah kata yang Sky ucapkan. Singkat dan tepat pada sasarannya. Pria itu memberi motivasi kepada teman-teman seangkatannya.
"Dia seperti Maxim," celetuk Selena.
"Anak itu sangat pandai membawa diri. Di depan sana ia seperti pemimpin dan saat sudah berada di dunia bawah, dia seperti predator," sahut Black.
"Kamu yang menjadikannya seperti itu, Black," cetus Selena.
"Kadang aku merasa Sky merasa jenuh dengan pendidikan yang kuberikan. Setelah ini aku akan mengirimnya pulang untuk beberapa waktu."
"Jelas saja dia jenuh. Hidupnya penuh dengan latihan fisik serta belajar," ujar Selena.
Black dan Selena bangkit dari duduk menyambut Sky yang datang menghampiri. Satu pelukan keduanya berikan. Begitu juga dengan Judy serta Ali.
"Selamat, Sayang. Kamu juara lagi," ucap Selena.
"Mama ... ini biasa saja. Yang penting dokumennya harus aku dapatkan," sahut Sky.
"Setelah ini kamu boleh pulang ke Indonesia. Beri hadiah paling indah untuk ulang tahun pernikahan mommy-daddymu," ucap Black.
"Terima kasih, Pa. Sky sangat mengharapkan hadiah itu."
"Kamu punya orangtua kandung dan sudah sewajarnya kamu pulang kepada mereka," ucap Black.
...****************...
Black menahan kesedihan yang mendera dalam benaknya. Bagaimanapun Sky sedari kecil bersamanya dan sekarang ia harus merelakan anak itu kembali pulang pada orangtua kandungnya.
Bukannya Black tidak bisa menemui anak angkatnya itu. Semua kekuasaan miliknya sudah diserahkan kepada Sky dan otomatis membuat pria itu sibuk menjalani kehidupan sebagai ketua Black devil.
Black akan tetap berada di markasnya Brazil. Ia sudah senang berdiam diri di sana. Menjauh dari hiruk-pikuk kota sembari memutar Amygdala dari masa ke masa.
"Mama tidak mau ikut?" tanya Sky.
"Papamu sendirian di hutan. Kami sahabat sejati dan akan tinggal bersama di sana," jawab Selena sembari mengusap buliran bening di pipinya.
"Sky ... kamu akan kembali?" tanya Ali.
"Aku belum tahu. Kamu jaga Tira untukku," pinta Sky.
"Pasti. Aku akan menjaganya untukmu," sahut Ali.
"Di markas hanya tinggal para orangtua serta anak kecil saja. Kamu jagalah mereka, Ali. Suatu saat aku akan memanggilmu untuk berada di sisiku."
Sky menahan Ali untuk tidak ikut bersamanya. Itu dikarenakan Sky mempercayai pendampingnya untuk menjaga Black juga Selena.
Bukan berarti Selena serta Black tidak bisa menjaga diri. Namun, tetap saja kedua pria dewasa tersebut membutuhkan tenaga pria muda untuk menjaganya.
"Aku akan menunggu hari itu," kata Ali.
Para anak-anak seusia Sky sudah dikirim ke berbagai wilayah yang menjadi lahan kekuasaan klan Black Devil. Hanya ada anak kecil serta para orangtua seumuran Black saja yang masih betah tinggal di markas.
"Judy ... kamu jaga anakku," pesan Black.
"Pasti, Tuan. Nyawaku sebagai taruhannya," sahut Judy.
Pelukan perpisahan Sky berikan kepada Black, Selena serta Ali yang ikut mengantar. Lambaian tangan pria itu berikan sebelum naik ke helikopter.
"Aku akan menghubungi kalian setelah sampai," teriak Sky.
Ketiganya melambaikan tangan pada Sky dan Judy yang telah masuk ke dalam helikopter. Doa keselamatan ketiganya panjatkan agar Sky serta rekannya selamat sampai di tujuan.
Sky kembali melambaikan tangan sesaat helikopter mulai naik ke angkasa. Ia juga sedih karena harus berpisah dari kedua orangtua yang telah membesarkannya selama ini.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ersa
membayangkan sardi cantik aku koq ngekek sendiri
2023-07-30
0
PeQueena
you always fascinate sardi
2022-09-23
0
Weny Yuniestin
jut lanjuuuuttt thooorrr
2022-03-07
0