"Hanya para pria tua serta anak-anak saja yang ada di markas. Selebihnya sudah dikirim ke berbagai negara. Pewaris itu juga sudah kembali ke negara asalnya. Kita bisa merebut kekuasaan dengan menghancurkan markas mereka," tutur pria di seberang telepon.
"Terima kasih atas kabar darimu. Setelah aku menguasai semua klan Black Devil, separuh dari kekuasaan mereka akan aku serahkan padamu."
"Tentu saja aku harus mendapat bagianku, sebab aku-lah yang membocorkan kepergian anak itu."
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Pria penerima informasi tertawa terbahak-bahak. Sebelah bibir kanannya tertarik. Sorot mata berwarna keperakkan menyiratkan sebuah dendam serta ketamakkan.
"Tuan Julius ... kapan kita melakukan penyerangan?" tanya pria berkulit hitam.
Julius tersenyum smirk. "Secepatnya, Hendrik! Lakukan persiapan."
Hendrik membungkuk hormat. "Siap, Tuan."
Julius, pria bermata perak, rambut coklat gelap dengan tubuh tinggi berotot. Pria berusia dua puluh lima tahun itu, merupakan anak dari Ricardo dari wanita simpanan.
Anak yang disembunyikan oleh Ricardo sebagai penerusnya. Julius mengetahui, jika Black telah menghabisi orangtuanya dan sekarang ... pria itu datang menuntut balas.
Hendrik, pria berkulit hitam merupakan kaki tangan Julius. Pria itu merupakan anak dari para wanita yang Ricardo sekap. Entah siapa ayah dari Hendrik, yang jelas ... Hendrik ikut serta disembunyikan oleh Ricardo.
...****************...
"Rasanya sepi tidak ada anak-anak," celetuk Selena.
Black menghela. "Bukannya anak-anak kecil ada? Kamu bisa mendengar suara tangis serta tawa mereka."
"Maksudku anak-anak kita. Aku merindukan mereka yang saling menggoda satu sama lain. Apalagi para gadis sangat menyukai Sky," ucap Selena sembari tersenyum.
Suara Tira mengeong terdengar. Selena langsung sembunyi dibalik punggung Black karena takut hewan itu akan mengigit dirinya.
"Black ... suruh Tira pergi," ucap Selena.
Tira terus mengeong dengan mondar-mandir di hadapan Black. Tingkahnya juga aneh seolah-olah ada sesuatu yang hewan itu ingin katakan.
"Ali," pekik Black.
Para penghuni markas keluar mendengar pekikkan Black serta suara Tira. Ali bergegas keluar dengan senjata di tangan.
"Ada apa, Tuan?" Pria itu melirik ke kiri dan ke kanan.
"Tira sudah kamu beri makan?" tanya Black.
"Sudah, Tuan. Dua ekor kelinci sudah aku berikan," jawab Ali.
"Kenapa dia masih mengeong?" tanya Black.
"Sakit perut kali, Black," sahut Selena. "Bisa saja ketulangan tulang kelinci."
Black menghampiri Tira, mengusap kepala kucing besar tersebut dengan lembut. Meski Tira terdiam, sejurus kemudian kucing besar itu kembali mengeong.
"Berikan aku gelang pelacak," pinta Black.
Selena bergegas masuk ke dalam rumah mengambil gelang yang Black minta. "Ini gelangnya." Selena melemparkan gelang itu lalu dengan gesit Black menyambutnya.
Black memakaikan gelang itu kepada Tira dan mengaktifkan pelacaknya. "Pergilah, Tira. Cari makan sendiri. Jangan terlalu dekat pada wilayah perkampungan. Kamu bisa ditangkap. Ayo ... pergilah."
Tira mengeong lalu pergi dari sana. Black merasa resah malam ini. Entah apa yang akan terjadi, tetapi ia harus tetap tenang agar para anak buahnya tidak ikut-ikutan cemas.
"Ayo ... kita kembali beristirahat," kata Black.
Semuanya hendak kembali ke kamar masing-masing. Sejurus kemudian terdengar sebuah benda dilempar. Black serta lainnya melihat benda berasap yang terjatuh itu.
Black mengumpat. "Lindungi diri kalian!"
Duaaar ... !
Sebuah ledakkan membombardir markas Black. Jeritan wanita serta suara tangis anak-anak terdengar. Para pria merangkak mengambil senjata mereka.
"Tuan ... pergilah. Biar aku yang berada di sini," ucap Ali.
Black mengeleng. "Pantang bagiku untuk mundur."
Selena terbatuk-batuk karena asap. Ledakkan itu membakar sebagian rumah kayu. Belum ada sama sekali musuh yang datang.
Dua orang pria tidak bernyawa dilempar ke dalam kubangan api. Black dapat melihat jika itu adalah anak buahnya yang berjaga di gerbang perbatasan.
Terdengar seruan mobil yang akan masuk. Para pria maju dengan menembakkan amunisinya. Mobil terus berjalan, tetapi anehnya tidak ada satu pun orang yang keluar dari sana.
"Menjauh!" teriak Black.
Duaaar ... !
Para pria tergeletak karena ledakkan tersebut. Para wanita serta anak-anak berlarian menyelamatkan diri. Sebuah mobil masuk dengan menghujani timah panas ke arah rumah.
"Black ... apa ini akhir hidup kita?" lirih Selena.
"Kalian pergilah, kumohon," ucap Ali dengan berlindung ke sisi tembok kayu.
Dor ... dor ... !
Ali menembakkan timah panas pada para pria yang keluar dari dalam mobil. Dalam markas Black hanya ada sekitar belasan orang pria dewasa. Sisa lainnya sudah dikirim ke berbagai wilayah.
"Kalian pergilah," teriak Black pada anak buahnya.
"Kamu akan berjuang sampai nyawa penghabisan," jawab para pria itu.
Sebuah mobil jeep datang kembali. Dua orang keluar dengan memegang senjata laras panjang nan berat. Di tangan mereka melingkar peluru yang siap untuk dilesatkan.
"Habisi mereka! Bawa Black kemari!" perintah Julius.
Suara tembakan terus membombardir markas. Anak buah Black sudah lumpuh. Rumah yang menjadi pelindung bagi para wanita serta anak-anak dibom hingga mereka terbakar.
"Siapa kalian, hah?!" Black sudah terang-terangan muncul di hadapan Julius.
"Kamu pernah menghabisi nyawa ayahku. Sudah saatnya aku membalaskan dendam," ucap Julius dengan mengacungkan senjatanya.
Dor ... !
Julius mengumpat karena tangannya terserempet timah panas yang dilesatkan oleh Ali. "Kurang ajar! Habisi mereka semua!"
Bugh ... !
Black menendang perut Julius hingga pria muda tersebut mundur ke belakang. Pria paruh baya itu memasang kuda-kuda untuk melawan satu per satu musuh yang ada di depannya.
"Ali ... pergilah dari sini," ucap Selena.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian," tolak Ali.
"Lalu siapa yang akan memberitahu Sky nantinya? Pergilah ... aku akan mengalihkan perhatian mereka," kata Selena.
Ali mengangguk. "Baiklah."
Selena maju membantu Black yang kewalahan menghadapi sepuluh orang musuh. Ali berlari menuju jalan pintas, tetapi musuh melihat kepergian dirinya.
Dor ... !
"Ali," jerit Selena saat anak muda itu tertembak di bahu.
Ali berusaha untuk bangkit dan berlari masuk ke dalam hutan. Retina Selena memandang beberapa pria kembali mengacungkan senjata mereka.
Selena mengeleng. "Tidak!"
Dor ... dor ... dor ... !
"Sardiiii!" jerit Black.
Pria itu lumpuh seketika saat tiga peluru bersarang di tubuhnya. Selena tergeletak setelah mengorbankan diri demi melindungi Ali.
Bugh ... !
Black memegang kepalanya yang dipukul dengan gagang senjata. Pandangannya buram. Sebelum menutup mata, dapat Black lihat Selena yang turut memejamkan mata.
"Kalian kejar pria yang melarikan diri itu!" perintah Julius.
"Siap, Tuan," ucap serempak anak buah Julius.
"Hendrik ... kamu urus tua bangka ini," kata Julius.
"Siap, Tuan," sahut Hendrik.
Ali berlari dengan bahu terluka. Terdengar suara riuh rendah yang menyusul langkah kakinya. Tanpa menoleh ke belakang, pria itu berlari menuju air terjun.
"Lihat ... itu dia," ucap salah satu musuh dengan menyorotkan senter ke arah Ali.
Bergegas Ali berlari hingga sampai pada air terjun. Ali kaget karena ia menuju puncak air terjun. "Selamatkan aku Tuhan."
Byur ... !
"Dia berlari ke air terjun. Hujani dengan tembakan," ucap salah satu musuh.
"Lihat ... ada noda merah. Dia pasti sudah tiada. Lagian dia jatuh pada ketinggian."
"Kamu benar ... ayo kita kembali," ujar yang lain.
Bersambung.
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
pipi gemoy
sapa yg jadi penghianat 😤
2024-05-14
0
PeQueena
firasat black memang tak salah.. untu g black tanggap mewariskannya pd Sky
2022-09-23
0
Anita Kumala
Selena alias Sardi alias mama Sky trus papa nya black ,. yg jadi pertanyaan apakah papa black suka sama pisang ,., gak suka tempe
2022-09-20
0