Ratting 18+.
Harap bijak dalam membaca.
Menceritakan tentang Aisyah, gadis cantik yatim piatu berusia 22 tahun yang dijual oleh pamannya pada seorang mucikari disebuah club malam.
Menjadi simpanan pria hidung belang terpaksa harus ia jalani, demi terlepas dari jeratan sang mucikari.
Dari situlah kehidupan Aisyah bermula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melisa d'angel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode. 10
Pagi harinya saat terbangun Aisyah melihat kesekeliling, tidak ada Alex disana.
Ia berfikir kemana perginya pria arogan itu.
Setelah memastikan bahwa Alex tidak ada , barulah Aisyah bangkit dari tempat tidur.
Segera ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
selesai mandi, ia langsung melaksanakan shalat subuh.
Seperti biasa Aisyah memang tidak pernah lupa mengerjakan shalat lima waktunya meski dimanapun ia berada.
Kemudian setelah itu barulah ia turun kelantai bawah untuk mencari Alex.
Ternyata pria itu juga tidak ada disana.
"Kemana dia.?
Apa mungkin dia meninggalkanku sendirian dari semalam.? " gumam Aisyah bertanya-tanya.
Ia kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Baru saja sampai didapur, bel terdengar berbunyi.
Aisyah yakin itu Alex.
Ia segera bergegas membukakan pintu.
Begitu pintu dibuka, ternyata Pak Yusuf yang datang.
"Pagi Non " sapa Pak Yusuf.
"Pagi Pak" sahut Aisyah.
Aisyah agak risih bertemu Pak Yusuf pagi itu, Selain karena ia sedang tidak mengenakan jilbabnya, ia juga merasa malu bertemu orang lain dengan kondisi rambut terbungkus handuk khas wanita habis keramas .
Mungkin karena itu hal baru baginya.
Pak Yusuf sebenarnya bisa memaklumi, menurutnya hal wajar jika pengantin baru rambutnya basah dipagi hari.
"Tuan Alex menyuruh saya mengantar ini Non. " Jelas Yusuf memberi tahu maksud kedatangannya sambil menyerahkan sebuah paper bag berukuran kecil pada Aisyah.
"Apa ini Pak. ?" tanya Aisyah lalu menerima paper bag itu.
"Saya juga tidak tahu isinya Apa Non. Nanti Non buka sendiri saja. " jawab Pak Yusuf.
"owh gitu....
makasi banyak ya Pak. "
"Iya sama-sama Non.
Kalau gitu saya permisi dulu." Pamit Pak Yusuf.
Aisyah mengantarnya hingga keteras.
Setelah Pak Yusuf pergi, Aisyah kembali kedalam.
Dibukanya isi paper bag yang tadi diberikan Pak Yusuf.
"Apa ini.? "ujarnya sambil mengeluarkan isi paper bag itu.
Tampak sebuah kotak dengan gambar handphone Android dibagian luarnya. Sudah jelas sekali isinya apa.
Perlahan Aisyah membuka kotak itu, ternyata benar isinya sesuai dengan yang tergambar pada kotak tersebut.
Baru saja Aisyah hendak mengeluarkan dari kotaknya, tiba-tiba handphone itu langsung berdering tanda sebuah panggilan masuk.
Tertera nama Tuan Alex yang memanggil dari layarnya.
Ternyata tadi sebelum menyuruh Pak Yusuf mengantar handpone itu pada Aisyah, Alex telah lebih dahulu mengaktifkannya. lalu menyimpan nomor ponselnya sendiri di Hp tersebut.
Sayangnya Aisyah belum cukup paham bagaimana cara memainkan Android.
Karena selama ini ia memang belum pernah memiliki sebuah handphone, hanya sesekali saja ia melihat orang-orang menggunaka alat komunikasi semacam itu.
Maklumlah selama tinggal bersama Bibinya, ia hidup serba kekurangan.
Agus pamannya juga punya kebiasaan suka berjudi, setiap uang yang ia dapatkan dari bekerja selalu dihabiskannya untuk berjudi.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya di dapat Aisyah dari jualan gorengan dengan berjaja keliling kampung.
Jadi uang dari mana yang didapat Aisyah untuk membeli sebuah handphone, sementara untuk makan sehari-hari dan biaya pengobatan bibinya saja sudah susah.
Aisyah sedikit kaget setelah membaca nama Alex yang memanggil.
Ia tahu Alex pasti akan marah lagi kalau telfonnya tidak segera diangkat.
Aisyah yang tidak mengerti bagaimana cara mengangkat telfon di ponsel baru tersebut, dengan tergesa-gesa menekan apa saja yang tertera pada tampilan layarnya.
Hingga tanpa sadar ia menggeser tombol berwarna merah.
Dari seberang Alex menggerutu kesal karena panggilannya di tolak oleh Aisyah.
Ia mencoba menghubungi sekali lagi, hingga akhirnya Aisyah berhasil menjawab telfonnya.
"Berani sekali kau menolak panggilan telfonku. " bentaknya dari seberang.
"Ma.. maaf Tuan, tadi saya tidak tahu bagaimana cara menjawabnya." jawab Aisyah gelagapan karena takut.
"Dasar kampungan, masak ngangkat panggilan telfon saja tidak bisa. "
"Maafkan saya Tuan. " ujar Aisyah kembali meminta maaf.
"Handphone itu sudah ku berikan untukmu, kau belajarlah menggunakannya.
Disitu hanya ada nomor ku, pak Yusuf dan istrinya. Kalau ada perlu apa-apa kau bisa juga menghubungi mereka selain aku.
Ingat jangan pernah coba-coba menggunakan ponsel itu untuk menghubungi orang lain yang bisa membantu mu kabur dariku. "
"Tidak Tuan, saya juga tidak mengetahui nomor telfon orang lain yang bisa saya hubungi selain yang ada di Hp ini. Lagi pula tidak akan ada juga yang mau membantu saya." jawab Aisyah jujur.
Alex tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Aisyah.
"Baguslah kalau begitu.
Lalu sedang apa kau sekarang.? " tanya Alex, dengan nada suara mulai bersahabat.
"Saya mau menyiapkan sarapan Tuan. " jawab Aisyah seadanya.
"Ya sudah silahkan lanjutkan pekerjaanmu, aku juga sedang bekerja.
Oh ya nanti malam aku tidak pulang, kau hati-hatilah dirumah. Jangan membukakan pintu untuk orang yang tidak kau kenal.
Satu lagi jangan lupa bersihkan dirimu, Aku tidak mau saat aku pulang besok kau masih terlihat seperti gembel .
Nanti siang akan ku kirim kan baju-baju yang cocok untuk kau pakai saat dirumah.
Semua pakaian lusuh dan kampunganmu itu buang saja. kau mengerti.? "
"Baik Tuan. " jawab Aisyah terpaksa.
Sebenarnya Aisyah sangat berat untuk mengikuti perintah Alex kali ini.
Karena ia sudah bisa menebak pakaian seperti apa yang akan dibelikan Alex untuknya nanti.
Lagi pula hatinya juga sangat berat kalau harus membuang semua pakaian lamanya.
memakai stelan tunik,kemeja dan rok panjang adalah merupakan ciri khasnya dari dulu.
Meskipun kampungan, tapi ia suka karena tertutup dan sopan.
*
Sesuai janji Alex, siang harinya pak Yusuf kembali datang mengantar pakaian-pakaia untuk Aisyah.
Setelah menyerahkan beberapa paper bag pada Aisyah, Pak Yusuf kembali pamit.
Kemudian sepeninggal Pak Yusuf, Aisyah langsung membuka semua isi paper bag itu.
Sesuai dugaannya, Alex mengirimkan bebera mini dres ,piyama pendek, hot pants dan beberapa atasan seksi lainnya untuk dipakainya dirumah sehari-hari.
Jangankan untuk memakai, melihatnya saja Aisyah tidak suka.
Saat sedang sibuk memeriksa semua pakaian yang dikirim Alex, tiba-tiba terdengar bel berbunyi kembali.
Tanpa pikir panjang Aisyah segera membukakan pintu.
Ia yakin pasti Pak Yusuf yang datang lagi.
Begitu pintu dibuka tampak dua orang gadis sudah berdiri di depan pintu dengan memegang sebuah koper berbentuk box pada masing-masing tangan mereka.
"Permisi mba, kami dari salon kecantikan yang melayani jasa home service.
Tuan Alex meminta kami datang kesini untuk melakukan treatment pada mba Aisyah. " jelas salah seorang karyawan salon tersebut.
Aisyah sebenarnya juga kurang paham, perawatan kecantikan seperti apa yang mereka maksud.
"owh gitu, ya sudah mari masuk. " ajak Aisyah.
Kedua gadis itupun menyusul masuk kedalam.
Aisyah kemudian mempersilahkan mereka duduk.
"Maaf mba, sebenarnya saya tadi kurang paham maksudnya ini perawatan kecantikan bagaimana ya.?
Maksud saya, apa saya akan di rias biar cantik.? " tanya Aisyah dengan polosnya.
Kedua gadis itu tersenyum geli mendengar pertanyaan Aisyah, menurut mereka aneh sekali di jaman sekarang masih ada wanita yang belum paham masalah perawatan kecantikan.
"Bukan di rias mba, kami hanya melakukan perawatan kulit, wajah ,rambut, dan juga kuku.
Seperti spa, facial ,creambath, dan mani-padi.
Kemudian pesan Tuan Alex kami juga diminta untuk sedikit merapikan rambut mba Aisyah yang terlalu panjang dan agak kurang beraturan." jelasnya.
Aisyah sebenarnya masih kurang paham dengan apa yang dijelaskan gadis itu, ia hanya bisa mengangguk dan pasrah .
lagi pula semua itu perintah dari Alex, mana mungkin ia bisa membantah meskipun merasa tidak setuju.
"Bisa kita lakukan sekarang mba.?" tanya salah seorang karyawan salon itu lagi.
"oh ya.. mari. " balas Aisyah.
Ternyata di Villa itu sudah tersedia ruangan spa pribadi.
Alex sudah memberi tahu tentang ruangan itu pada pegawai salon.
Pegawai salon itulah yang mengajak Aisyah keruangan tersebut.
Selama Aisyah berada disana, ia memang belum sempat menjelajahi seluruh ruangan di Villa yang sangat luas itu. Perjalanannya hanya sampai kamar, ruang tamu dan dapur.
Saat itu lah pertama kali ia tahu bahwa dibagian belakang memiliki ruangan spa pribadi, dan kolam renang yang cukup luas.
Kedua pegawai salon itu langsung melakukan Tugasnya masing-masing.
Dimulai dari pemijatan dan spa.
Aisyah pasrah saja dengan apa yang dilakukannya.
Ia merasa nyaman saat gadis itu memijat seluruh tubuhnya.
Setelah spa selesai, dilanjutkan dengan facial dan mani-padi.
Kemudian dilanjutkan lagi oleh pegawai yang satunya dengan melakukan creambath.
Setelah itu merapikan rambut Aisyah yang terlihat kurang beraturan.
Aisyah sedikit sedih saat rambutnya yang panjang sampai dibawah punggung, harus dipotong hingga sebahu.
Tapi apalah daya, ia lagi-lagi tak bisa membantah.
Setelah pemotongan rambutnya selesai, Aisyah menatap dirinya dari pantulan cermin.
Ia merasa dirinya sangat cantik saat itu.
Namun jauh dari lubuk hatinya, bukan kecantikan seperti itu yang ia inginkan.
Ia lebih suka terlihat cantik dalam balutan hijab dan pakaian gamis yang biasa menutupi seluruh auratnya.
Ya begitulah Aisyah, gadis malang yang selalu bercita-cita menjadi wanita sholehah.
******