18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Satu kata yang paling memuakkan bagi Somalia adalah gagal, entah mengapa semenjak pernikahannya berantakan, kegagalan-kegagalan lain terus menghampiri dirinya. Termasuk saat ini, yakni gagal memanfaatkan Adit. Lolosnya Adit dari genggamannya akibat ulah kakak lelaki Fani. Bagaimana bisa lelaki itu hadir dan menghancurkan rencananya. Lelaki sialan itu mampu menyulut emosi Somi dengan mudahnya.
"Apa kau memiliki dendam padaku?" Gerutu Somi pada Gandhi saat ini juga. Ia mengutuk lelaki yang mengikutinya dari belakang tersebut.
Lalu apa yang membuat lelaki itu tak merespon ucapan kasar Somi? Apakah lelaki tampan itu kini mengurungkan niatnya untuk menolak Somalia. Ataukah telah tumbuh benih-benih asmara? Yang jelas hanya Gandhi sendiri lah yang paling tahu atas isi hatinya.
Untuk saat ini ia memang puas, puas menghancurkan rencana Somi untuk menjadikan Adit sebagai senjatanya.
"Bukankah kamu sedang mencari seseorang untuk membantumu?" Selidik Gandhi untuk mengkonfirmasi berita yang ia dapat dari adik perempuannya. Fani tak mungkin berbohong padanya, ia sudah mengancam tak akan memberikan dana santunan untuk hidup pada Fani bila ia sampai membohongi dirinya. Apalagi hingga mengkhianatinya dirinya.
Somi tak ingin memperdebatkan argumen yang ia miliki pada lelaki tak mau kalah dan masih terus mengikutinya. Ia sungguh emosi dibuatnya, hingga mendekati mobilnya, Somi enggan untuk mengucap sepatah kata untuk Gandhi. Ia benar-benar marah pada Gandhi karena sudah mengacaukan rencananya.
"Tunggu sayang, apa kau akan terus-menerus menghindari aku?" Gandhi menahan tubuh Somi agar tak memasuki mobil miliknya. Ia sungguh ingin membicarakan sebuah kesepakatan bisnis bersamanya.
"Diam! Jangan sembarangan bicara!" Bentak wanita berparas cantik tersebut, emosinya sudah di ubun-ubun saat ini. Apalagi Gandhi dengan sengaja menyindirnya sejak tadi.
"Kita bisa bekerja sama, kau butuh pacar imitasi dan aku juga!"
Somi menatap Gandhi dengan tatapan sinis, ia masih tak menyangka bila lelaki itu akan mengemis sebuah kesepakatan dengan dirinya. Sungguh hal yang tak terduga, apalagi melihat sikap arogansinya saat itu. Gandhi bukan tipe orang yang mudah membalikan pikirannya. Namun mengapa dengan tiba-tiba ia menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama?
"Aku hampir mendapatkannya bila kau tak mengacaukan rencanaku!" Somi kekeh menyalahkan Gandhi atas ulahnya. Ia berusaha untuk menghindari Gandhi, Somi tak ingin menjalin sebuah hubungan entah itu hubungan kerjasama ataukah hubungan asmara dengan Gandhi.
"Kau bisa menjadikan aku pacarmu Nona," ujar Gandhi dengan nada paksa. Ia tak ingin Somi mengacaukan rencana yang sudah ia susun dengan matang. Sang mama sangat menyukai wanita muda tersebut, karena hal tersebut lah Gandhi ingin meminta bantuan dari Somi.
"Aku tak mau!"
"Apa kurangnya aku?" dengan nada mengiba, Gandhi membuang harga diri dan rasa percaya dirinya agar Somi mau menerimanya.
"Kurang ajar!"
Mendengar Somi begitu tak mau diajak kerjasama olehnya, darah Gandhi semakin mendidih. Lelaki itu sudah mengobarkan harga dirinya namun Somi masih bersikeras menolak permintaannya.
Bila Somalia tak mau diajak bicara baik-baik, ia akan tanggal diam. Bila kesepakatan tak bisa diputuskan dengan pikiran dingin, ia akan melakukan apapun dan dengan cara apapun. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Lalu dengan sigap, Gandhi masuk ke dalam mobil Somi, ia benar-benar membuang ego dan rasa malunya untuk wanita cantik yang kini duduk bersanding dalam sebuah mobil dengannya. Gandhi mulai mengajur napasnya, rasa kesal dan harga dirinya sudah ia gadaikan entah kemana. Pokonya kebebasan dari sang mama lah yang ingin ia capai untuk saat ini.
"Lalu apa kriteria mu Nona?" selidik Gandhi penasaran mengapa sampai detik ini Somi tak kunjung mau menerima dirinya.
"Yang jelas bukan seperti kamu,"
"Why? Aku tampan, berkharisma, kaya lalu apalagi?" Gandhi masih tak terima Somi menolaknya. Pasalnya ia tak pernah menjumpai wanita yang begitu keras kepala seperti Somi ini.
Sudah cukup, Somi tak ingin memperpanjang masalah ini. Ia dengan kesadaran tinggi meminta Gandhi untuk mengurungkan niatnya. Karena ia tak ingin memperdalam api permusuhan antara dirinya dengan Gandhi.
"Yang aku butuhkan adalah lelaki yang bisa melindungi aku, tak perlu tampan dan berkharisma dan juga tak perlu kaya karena aku tak butuh uangnya. Yang aku butuhkan lelaki yang selalu ada di sampingku baik dalam suka maupun duka dan satu hal lagi, aku perlu lelaki licik yang bisa membantuku membalas dendam ku," jelas Somi panjang lebar. Sebenarnya ia tak muluk-muluk sosok seperti Adit yang tak seberapa pintar lah yang paling tepat menurut dirinya. Karena orang seperti Adit tak mungkin akan berani mengecewakan dirinya. Ia sengaja memberi kriteria yang tak mungkin Gandhi bisa menjangkaunya.
"Kita bisa saling melengkapinya bila kita bisa bekerja sama," sebagai seorang yang pandai dalam hal mematahkan argumen lawan, Gandhi dengan mudah mampu membalikan setiap perkataan Somi. Menjadi seorang pengacara membuat dirinya harus mampu menguasai keadaan meski itu sulit.
"Ckckckck ...." Somalia tertawa mendengar penuturan Gandhi. Tawanya itu terkesan menyindir bagaimana bisa lelaki itu mampu berubah 180 derajat. Dia yang waktu itu sangat menolak permintaan Somi, kenapa saat ini menjilat dan ingin sekali Somi menerimanya.
"Aku juga membutuhkan bantuan darimu, aku lihat mamaku sangat menyukai dirimu. Kau pasti sudah paham maksudku bukan?" Saat ini nada bicara Gandhi terkesan merasa tertekan. Lelaki itu sengaja ingin menggoyangkan hati Somi dengan sikap mengiba darinya.
Melihat keseriusan di dalam mata lelaki di sampingnya, Somi tak kuasa untuk terus melawan rasa kesalnya. Mungkin memang dialah sosok pria yang tepat untuk membantunya dalam balas dendam ini.
Gandhi tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini Ia melihat Somi hampir masuk dalam perangkap yang telah ia tebar, dengan sigap lelaki itu kini meyakinkan pada Somi bahwa dirinya layak untuk mendapatkan kesempatan dari wanita cantik tersebut.
"Aku tak bisa membantumu, aku tak kenal mamamu dan aku tak ingin terikat padanya." lagi-lagi Somi mencoba menepis semua keyakinan yang Gandhi berikan.
"Bagiamana bila aku membantu kasus hukum mu hingga tuntas?" Tawaran menarik ini tak mungkin akan ditolak Somi. Pasalnya seorang pengacara yang sering memenangkan kasus seperti Gandhi tak mungkin ada orang yang mau menolak bantuan hukum darinya.
"Mambantu ku? Kasus hukumku?" Selidik Somi dengan menautkan kedua alisnya. Ia masih belum mampu mencerna setiap penjelasan dari Gandhi.
"Jadi kau memang belum tahu siapa aku?"
"Saudara Fani," sahut Somi dengan singkat. Ia memang tak tahu menahu siapa Gandhi, yang dia tahu hanya sebatas lelaki tersebut merupakan kakak lelaki dari asistennya.
"Aku pengacara mu, kau sudah memilih aku dan kau harus membantuku sebagai imbalannya!" dengan bangganya Gandhi mengakui pada Somi bahwa ia adalah pengacaranya.
*
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi