Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH PENAWARAN
BRAK.
“lo gila ya, Cuma bikin asap aja gak bisa? Buat akting pembakaran Shintanya pakai asap aja, bukan api beneran! Lo mau ngebunuh Mer hah?! Oh, atau karena cinta lo bertepuk sebelah tangan makanya lo jadi ngelakuin ini? Lo liat tuh!”
Telunjuk Via tertuju pada kakiku yang sedikit terkena luka bakar.
“LO BISA LIHAT NGGAK? BUKA MATA LO LEBAR-LEBAR!”
BRAK. Via meja yang ditempati Rasyid. Berkali-kali hingga tatapan seluruh kelas beralih kearahnya. Rasyid memang tampan, pintar, aktifis, tapi jika berhububgan dengan cewek, ia pengecut.
“Maaf, gue bukannya sengaja, pas gue nyalain obor buat bikin asapnya, nggak sengaja obornya jatuh, mana ada minyak tanah lagi dibelakang panggung,”
Minyak tanah. Itu adalah minyak yang sengaja kutaruh di belakang panggung setelah mendekor menggunakan cat minyak. Ah, semua ini memang bukan murni kesalahannya.
“Udah Vi, makasih lo udah bela gue, tapi kan Rasyidnya nggak sengaja. Diabudah minta maaf. Lagian semua kan juga udah berlalu,”
“Oh gitu, gue capek-capek belain lo, lo malah belain si Rasyid?!”
“Denger ya Vi, gue nggak bela siapa-siapa. Gue tau lo sahabat gue yang khawatir kalo gue kenapa-napa. Makasih untuk itu. Tapi marah-marah juga nggak ada gunanya. Semua udah berlalu dan gue udah selamat. Dengan lo marah-marah, lo Cuma ngabisin tenaga. Itu pun nggak akan ngulang kejadian yang telah berlalu. Lo jadi pusat perhatian, dan bisa-bisa lo ntar dipanggul guru BK. Lagian ada untungnya dibalik kebakaran ini,”
Via memandangku bingung, “Apa untungnya?”
“Gue jadi tau ternyata gue punya sahabat yang tulus berteman sama gue. Yah, walau lo kadang nyebelin dan cuekkan,”
Via memanyunkan bibirnya. Amarahnya telah mereda. Kasihan sekali meja sekokah yang ditempati Rasyid, benda itu menjadi pelampiasan tendangan Via.
“Gitu banget ending perkataan lo,”
---
Seperti rutinitasku setiap hari, aku mengeluarkan buku serbagunaku. Duduk manis di atas kursi menggerakkan pensil di atas lembaran kertas. Itulah momen yang kusukai. Serasa aku memiliki dunia lain yang amat lebih menyenangkan dibanding dunia yang kutempati.
Sabtu, 20 oktober 2018
Bukanlah sebuah jalan lurus untuk kutetap nyaman menempuh, bukan lagi air sungai yang mengalir teratur agar hatiku berdamai. Disana, ribuan burung kecil beterbangan searah. Sungguh menarik, dipandang terasa sejuk. Semua berjalan dengan teratur tanpa hambatan. Tapi, bukanlah ketenangan yang kucari saat ini. Jalan lurus dengan aspal halus, aku tak tertarik padanya. Mataku lebih berbinar meratapi jalanan retak, kasar, berkelok-kelok, naik turun, itu akan lebih membangkitkan semangatku untuk mencapai sebuah tujuan.
Ataupun sungai yang mengalir teratur, itu lebih enak dipandang, melemaskan mata sampai-sampai banyak orang termenung memperhatikannya. Tidak denganku, aku lebih menyukai ombak di laut sana. Mereka seolah membangkitkan tekadku. Berani melompat ke atas, menonjol, hingga semua orang menyadari, ombak tak akan pernah berhenti untuk melompat. Menjadi nomor satu yang dipandang masyarakat.
Saat aku masih kecil, aku menyukai burung-burung kecil beterbangan seirama. Itu menyenangkan untuk dilihat. Rasanya aku juga ingin terbang bersama mereka. Namun jika itu justru melunturkan Asaku, aku lebih memilih untuk tak melihat mereka lagi. Melihat ke atas yang justru membuatku berkecil hati. Bagaimana pun aku ingin ikut bersama mereka, itu tidak akan mungkin, karena aku berbeda.
Aku lebih ingin melihat ke bawah. Cacing-cacing yang meliuk-liuk. Menurut pandangan orang, mereka tak lebih dari sekedar cacing dalam tanah yang hidup tanpa sebuah tujuan. Tapi bagiku, tujuan cacing itulah yang sangat berjasa. Menyuburkan tumbuhan-tumbuhan yang dimanfaatkan oleh warga setempat. Tujuan yang begitu berjasa di balik pandangan orang-orang.
Cacing memang tak terpandang seperti burung. Ia tenggelam dalam tanah, tak terlihat. Sekali menampakkan diri, bumi gempar oleh teriakan orang-orang yang menatap jijik. Berbeda sekali dengan burung-burung itu. Orang bahkan takjub melihat mereka beterbangan seirama. Kepakan sayapnya itu serasa menghipnotis mata. Membuat mereka bahagia. Ah, bagiku, itu justru melelehkan air mataku. Burung itu seperti dirinya yang seolah bertetiak “akulah yang paling unggul, kau hanyalah cacing tanah, kau tak akan pernah pantas bersamaku,”
Padahal dibalik itu semua, cacinglah yang paling jasa menyuburkan tumbuhan, tidak seperti burung yang justru membuat tumbuhan tak berarti lagi, padi misalnya.
Aku sedikit merasakan sesak saat aku mengakhiri tulisanku. Akan tetapi itu tak akan membuatku berhenti untuk pantang menyerah. Aku akan dengan semangat memilih jalan yang berbeda untuk mencapai tujuanku. Merasakan sakitnya dahulu hingga aku dapat menggenggam erat tangannya dan akan sulit untuk kulepaskan karena kesungguhanku mengejar. Aku akan menjadi ombak yang menonjol di matanya setelah aku berhasil melompat. Aku akan menjadi cacing yang tanpa sepengetahuannya akan membuatnya tersenyum, tanpa ia menyadari bahwa diriku akan menjadi orang yang paling penting dalam kehidupannya.
---
Aku berjalan gugup kearah meja kantin aku pergi sendirian, tak bersama Via, entah kenapa ia jadi bad mood akhir-akhir ini. Mood ku juga masih tak baik mengingat penolakan kemarin sore.
Kantin sudah mulai ramai oleh para pengunjung. Di setiap meja pasti ada penghuninya. Aku jadi teringat kejadian satu bulan yang lalu, pertama kali aku tertangkap basah tengah mengomelinya. Besoknya, aku menjahili Vallen dengan memesan banyak sekali makanan. Walakhir, makanan itu kuserahkan pada Via, biar ia yang menanggung resiko nya.
Terdengar candaan dari mana-mana. Senyuman, kebahagiaan dari masing-masing pihak. Itulah yang ku maksud dengan jalan lurus nan halus, mereka tampak bahagia tanpa beban. Ada yang terpasang pasang, ada yang bersama teman. Aku tahu itu hanyalah cover, sejatinya mereka pasti memiliki masalah di bidang lain.
Saat aku masih menjadi posisi rendahan, aku selalu membayangkan bagaimana senangnya dikelilingi banyak orang, bagaimana senangnya menjadi si nomor satu di angkatan atau mungkin di sekolah. Akan tetapi, ternyata menjadi si nomor satu pun tak mudah. Mereka juga memiliki masalahnya tersendiri.
Aku mencari kursi kosong, jelas kalau mencari meja kosong tak ada gunanya. Semua telah penuh ditempati.
“Rasyid, gue duduk disini ya,”
Di situlah kursi kosongnya, disamping Rasyid. Rasyid mengangguk sekilas lantas bergeser tanpa memandangku lagi. Ia terlihat lebih aneh setelah insiden kemarahan Silvia. Seperti berusaha menghindariku.
“Rasyid, maaf,”
“Pertama karena udah nolak lo dan kedua karena ke cerobohan gue juga lo yang kena batunya,”
Rasyid membesarkan sebelah matanya.
“Apa udah nggak ada harapan lagi buat gue?”
Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. Aku tahu posisi itu, bagaimana sakitnya ditolak oleh orang yang dicintai. Akan tetapi, harus bagaimana lagi jika hatiku benar-benar telah dikuasai oleh cinta pertamaku dari dulu, sekarang, dan selamanya? Aku harap ia tidak nekat melakukan apa yang selalu ku lakukan terhadap Vallen, pantang menyerah.
“Oke kalau gitu, gue bantu lo,”
“Pelayan!”
Sebelum aku sempat menyadari, Rasyid lebih dahulu memanggil Vallen, pelayan yang dimaksud. Ia menarik lenganku, meremas lembut jemariku saat Vallen datang untuk melayani.
“Sayang, kamu mau makan apa?”
Aku bergidik ngeri menyaksikannya yang berubah tanpang menjadi sok manis. Hampir aku menarik jemariku yang diremasnya secara refleks tapi ia menahannya.
“Pesan apa saja yang kamu suka. Maaf, kita posisinya berada di sekolah jadi untuk saat ini aku tak bisa membawamu ke restoran bintang lima,”
“Ah sayang, kamu selalu malu bila berhadapan denganku. Baiklah, aku yang pesankan,”
“Bang, baksonya dua, yang istimewa ya, spesial buat pacar baru,”
What, sayang, pacar baru, apa-apaan ini?! Aku melirik ke arah Vallen, ada sebersit harapan agar Vallen merasa, ya, sedikit kehilangan. Akan tetapi aku sangat yakin itu hanyalah sekedar harapan yang hanya sampai pada benakku saja. Vallen sama sekali tak peduli. Ia mengangguk sekilas lantas pergi dengan otak cemerlangnya, tak dicatat.
“Maksud lo apa tadi?” tanyaku.
“Please deh Mer, tanpa lo ngomong juga semua orang tahu kalo lo suka sama cowok pelayan itu, kelihatan kali,”
Agak sedikit terkejut sih, tapi bukan itu maksud pertanyaanku.
“Maksud gue tadi, gue mau bantu lo. Gue mau jadi pacar pura-pura lo. Kita buat dia menyesal karena pernah nyia-nyiain lo,”
Aku menggeleng cepat, itu bukan ide yang bagus. Vallen jelas tak menyukaiku. Ia menolakku mentah-mentah. Ia pula tak melirikku saat Rasyid dengan tiba-tiba mengakuiku sebagai pacarnya. Dengan aku menerima Rasyid, aku takut jika suatu saat justru ia mengajakku berpacaran beneran. Aku tak ingin memberinya harapan lagi, tapi aku juga tak ingin ada tembok penghalang diantara kita sebagai teman.
“Itu bukan solusi, gue nggak mau lo sakit hati deng-"
“Gue tahu lo pasti takut gue jadi semakin jatuh cinta sama lo iya kan? Nggak Mer, gue udah ditolak dan lo juga nggak ngasih jawaban apa gue masih punya harapan. Gue bukan tipe cowok yang terlalu gila cewek yang gue suka. Kalau yang gue suka nggak bales perasaan gue, hati gue cepat beralih. Untuk sekarang, gue udah nggak tertarik sama lo. Gue cuma mau perbaiki hubungan pertemanan kita dengan membantu lo jadian sama pelayan itu. Dengan begitu hati gue cepet taralihkan,”
Aku masih dia membisu. Suara yang hendak kukeluarkan, tersumbat di kerongkongan. Harusnya aku senang, tapi entah mengapa sedikit kecewa bahwa Rasyid dengan mudahnya menghapusku, mencoret namaku dalam daftar nomor satu di hatinya. Apa aku sekejam itu hingga ia dengan mudahnya melupakanku?
“Gue sih cuma mau bantu tapi itu sih terserah lo aja,”
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici