NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Kiara meninggal karena kamu

Elio melepas beskap yang melekat di tubuhnya dengan satu tarikan kasar. Kain itu melayang begitu saja ke atas sofa.

Blangkon di kepalanya ikut ia lepaskan, lalu diletakkan sembarangan di atas meja tanpa benar-benar peduli.

Kamar presidential suite yang sejak pagi dihias khusus untuk pasangan pengantin baru tampak begitu mewah.

Kelopak mawar merah berserakan di atas ranjang king size. Dua handuk putih dibentuk menyerupai angsa yang saling berhadapan.

Sebuket bunga lili memenuhi sudut ruangan, sementara sebuah kartu bertuliskan Happy Wedding berdiri manis di atas meja.

Semuanya tampak indah. Namun bagi Elio, seluruh dekorasi itu justru terasa seperti ironi yang menyesakkan dada.

Ia berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Dari lantai paling atas hotel, kemacetan Jakarta terlihat seperti aliran kendaraan yang tak pernah berhenti.

Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Rahangnya mengeras. Tanpa sadar ibu jarinya mengusap cincin pernikahan yang baru beberapa jam lalu melingkar di jari manisnya.

Seharusnya... Cincin itu disematkan oleh Kiara. Ingatan Elio kembali melayang. Siang beberapa hari lalu, mereka masih duduk bersama di restoran hotel membahas dekorasi resepsi bersama wedding organizer.

Kiara sempat tertawa kecil."Aku pulang dulu ya. Udah capek banget. Kasihan Kaia sendirian di rumah."

Kalimat sederhana itu kini terus berputar di kepalanya. Elio memejamkan mata. Dadanya semakin sesak. "Jadi... itu ucapan selamat tinggalmu, Kia?"

Suara engsel pintu yang terbuka perlahan membuyarkan lamunannya. Ia menoleh sekilas. Kaia masuk dengan langkah kecil.

Masih mengenakan kebaya putih lengkap dengan ronce melati yang menjuntai di bahunya. Begitu mata mereka bertemu, Elio langsung mengalihkan pandangan.

Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia kembali menatap ke luar jendela, seolah perempuan yang baru saja menjadi istrinya itu tidak berada di dalam kamar yang sama.

Kaia berdiri beberapa detik di dekat pintu. Tangannya saling menggenggam erat. Ia bingung harus berdiri di mana.

Harus memulai percakapan seperti apa. Perlahan ia berjalan menuju meja rias. Duduk, lalu mulai melepas satu per satu sigar di kepalanya.

Jepit rambut berbunyi pelan setiap kali ia lepaskan. Sesekali matanya mencuri pandang melalui pantulan cermin.

Elio masih berdiri membelakanginya. Tak bergerak sedikit pun. Keheningan memenuhi ruangan. Hanya terdengar dengungan AC dan bunyi kecil jepit rambut yang diletakkan di atas meja.

Kaia menggigit bibir bawahnya. Riasan di kepalanya akhirnya terlepas seluruhnya. Ia membuka lemari, mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan.

"Kak..." Suaranya nyaris seperti bisikan ragu. "Kak Elio mau ke kamar mandi dulu?"

"Tidak." Jawaban itu terdengar datar. "Kamu saja." Tak ada penolakan tapi juga tak ada keramahan.

"Iya..." Kaia mengangguk kecil. Ia segera masuk ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, bahunya langsung turun.

Napasnya seolah baru sekarang terasa bisa keluar. Ia menyandarkan punggung ke daun pintu. Mengembuskan napas panjang.

"Huu..." Tanpa sadar matanya mulai memanas.

Dulu... Setiap kali Elio datang ke rumah menemui Kiara, pria itu memang tidak banyak berbicara kepadanya.

Namun selalu ada senyum sopan, sapaan singkat atau sekadar menanyakan kabarnya. Tapi sekarang tatapan itu bahkan sudah tidak ada. Seolah keberadaannya benar-benar mengganggu.

Kaia menunduk pelan.Cepat-cepat ia mengganti kebaya dan jarik dengan kaus oversized hitam serta celana panjang katun rayon yang lebih nyaman.

Rambut bob yang tadi ter sanggul rapi kini terurai hingga menyentuh bahu. Ia membasuh wajah sebentar sebelum akhirnya membuka pintu.

Kakinya baru satu langkah keluar, tiba-tiba...

Bruk!

"Aduh..." Kening Kaia membentur dada seseorang.

Aroma parfum woody yang begitu dikenalnya langsung memenuhi penciumannya.

Ia refleks mendongak. Elio rupanya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Mungkin hendak masuk. Mungkin juga memang sudah berdiri di sana beberapa detik.

"Eh... maaf." Kaia buru-buru mundur satu langkah. "Aku nggak tahu Kak Elio lagi di depan pintu."

Elio hanya menatapnya sekilas. Tatapan yang sulit diartikan. Dingin dan kosong. Tanpa mengatakan apa pun, ia menggeser tubuh Kaia dengan pelan agar bisa lewat. Kemudian masuk ke kamar mandi.

Klik.

Pintu kembali tertutup. Kaia masih berdiri mematung di tempatnya. Tangannya perlahan menyentuh kening yang masih terasa sedikit nyeri.

Bukan benturannya yang membuat dadanya sesak. Melainkan sikap Elio. Bahkan... satu kalimat pun pria itu tidak mampu mengucapkannya.

Kaia menundukkan kepala.Lalu berjalan pelan menuju koper di sudut kamar. Setiap langkahnya terasa semakin berat.

Ia baru beberapa jam menyandang status sebagai seorang istri. Namun entah mengapa... Rasanya seperti sedang tinggal bersama seseorang yang benar-benar asing.

Saat Kaia sedang menata pakaian di dalam koper dan mengeluarkan laptopnya, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Saat ia menoleh Elio keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Kaos polo hitam membalut tubuh tegapnya, dipadukan celana panjang berwarna gelap.

Rambutnya masih sedikit basah, tetesan air jatuh dari ujung rambut ke pelipisnya. Pria itu sama sekali tidak melirik Kaia.

Tangannya sibuk memasang jam tangan di pergelangan kiri, lalu meraih dompet dan ponsel di atas meja.

Melihat gerak-geriknya, Kaia mengernyit. "Kak... mau ke mana?"

Baru kali itu Elio benar-benar menoleh, tatapannya datar. "Bukan urusanmu."

Jawaban singkat itu membuat Kaia terdiam. Jari-jarinya saling menggenggam semakin gugup. Ia tahu pria itu tidak menginginkan pernikahan ini. Sama seperti dirinya.

Dengan memberanikan diri, ia kembali membuka suara. "Kalau begitu... aku buka kamar sebelah saja, ya? Aku tahu kita sama-sama nggak nyaman." Kaia menundukkan kepala. "Biar nggak saling mengganggu."

Elio menghentikan gerakannya, beberapa detik ia hanya menatapnya tanpa ekspresi. Lalu melangkah mendekat.

"Tidak." Suara itu terdengar datar. "Di sebelah kamar Sienna." Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

"Aku tidak mau membuat keluargaku curiga. Di depan mereka, kita tetap pasangan suami istri."

Tatapan matanya berubah semakin dingin. "Di dalam kamar ini... kamu cukup diam, ngerti?"

Ucapan itu membuat dada Kaia sesak. Belum sempat ia menjawab, Elio kembali berkata, "Dan ingat satu hal." Ia menatap lurus ke mata Kaia. "Pernikahan ini terjadi bukan karena aku menginginkannya."

Nada suaranya tetap tenang. Namun terasa lebih menyakitkan. "Kalau Kiara masih hidup..." Ia berhenti sejenak. "...kamu tidak akan pernah menjadi istriku."

Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Kaia.Napasnya tercekat. "Tapi... aku juga kehilangan Kak Kiara, dia... ."

"Karena kamu." Suara Elio tiba-tiba meninggi memotong kalimat Kaia. Tatapannya berubah tajam. "Kiara meninggal karena kamu."

Elio mengeraskan rahangnya. "Aku sudah dengar laporan awal kecelakaan itu.Kiara memakai mobilmu. Mobil yang katanya sempat bermasalah. Andai saja hari itu dia tidak memakai mobilmu..." Ia menarik napas kasar. "... mungkin dia masih hidup."

Tubuh Kaia membeku, air mata langsung memenuhi pelupuk matanya. "Kak..." Suaranya bergetar hebat. "Kalau aku tahu mobil itu membahayakan, aku nggak mungkin membiarkan Kak Kiara memakainya. Aku bahkan nggak pernah berharap semua ini terjadi."

Namun Elio hanya tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. Ia melangkah semakin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa puluh sentimeter.

"Atau jangan-jangan..."Suara beratnya berubah pelan. "...sebenarnya memang itu yang kamu inginkan, hm?"

Mata Kaia membulat. "Apa?"

"Kiara pergi. Supaya kamu bisa mendapatkan semuanya."

Air mata Kaia jatuh tanpa mampu ia tahan. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Namun bibirnya mengatup rapat.

"Aku tahu siapa kamu."

Tatapan Elio menusuk lurus ke dalam matanya. "Bahwa sebenarnya kamu adalah putri dari mendiang Ivanka, artis terkenal itu. Istri kedua dari Papa Fadlan. Perempuan yang merebut suami orang.Perempuan yang menghancurkan keluarga Kiara."

Setiap kalimat terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dada Kaia.

Kepalanya menggeleng pelan."Nggak...."

Ibunya bukan perempuan seperti itu. Setidaknya... Begitulah cerita yang selama ini ia dengar dari Nenek Farida, Kakek Hardja, bahkan dari Kiara sendiri.

Ivanka seorang wanita dengan kepribadian baik, wanita yang begitu dicintai Fadlan. Meski dia istri kedua namun begitu menyayangi Kiara seperti anaknya, saat ibu kandung Kiara justru pergi tak memperdulikan buah hatinya.

Namun semua penjelasan itu seperti hilang dari tenggorokannya. Tak ada satu kata pun yang mampu keluar.

Elio kembali berbicara. "Bisa saja, kan? Kamu ingin semua perhatian yang selama ini dimiliki Kiara. Harta keluarga Hadinata. Kasih sayang keluarga. Bahkan..." Ia menatap cincin yang melingkar di jari manis Kaia. "...calon suaminya."

"Tidak!" Suara Kaia akhirnya pecah. "Itu tidak benar!" Isaknya mulai terdengar. "Aku nggak pernah menginginkan semua ini! Aku juga kehilangan kakakku!"

Elio mendengus pelan. Tatapannya tetap dingin, sama sekali tidak berubah. Tidak memperdulikan perasaan perempuan yang kini menjadi istrinya.

"Dengar baik-baik. Jangan pernah berharap mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan ini. Sebab setiap kali aku melihatmu..." Ia menunjuk cincin di jari Kaia. "...aku hanya akan teringat bahwa karena kamu, aku kehilangan perempuan yang paling aku cintai."

Hening. Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Elio berbalik. Membuka pintu kamar. Lalu pergi tanpa sekali pun menoleh.

Brak!

Pintu tertutup. Suara itu bergema memenuhi kamar yang kembali sunyi.

Kaia masih berdiri di tempatnya. Diam tak bergerak. Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa detik berlalu. Baru setelah itu lututnya kehilangan tenaga. Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di sofa tunggal di dekat jendela.

Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak. Sejak kecil... Papa selalu menyalahkannya atas kematian Mama Ivanka.

Kini... Pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya justru menyalahkannya atas kematian Kiara.

Kaia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah memenuhi kamar.

Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Apakah kehadirannya di dunia ini benar-benar hanya membawa kehilangan bagi orang-orang yang ia cintai?

...****************...

* Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Fadillah Ahmad
Sinopsis Novelnya bagus sekali Kak... Aku suka. 😂😂😂 Aku jadi penasaran di buatnya... 😂😂😂 Covernya juga bagus... 🙏🙏🙏😁

Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁
Putri Anggraini: boleh banget dong🤭
total 1 replies
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Kaia, segera kamu bercerai dengan laki-laki yang masih ga bisa move on dari masa lalunya, apalagi kamu lagi hamil dan Elio kan ga mau punya anak dari kamu, jadi lebih baik kamu pergi ke LN, kamu cari kerja di LN untuk menghidupi kamu dan juga bayi dalam kandungan kamu
Ariany Sudjana
pasti si tukang foto ini suruhan si Mak Lampir (mama kandung Kiara)
Ariany Sudjana
sebaiknya kamu tinggalkan saja Elio itu kaila, percuma mau kamu jungkir balik berusaha jadi istri yang baik, di mata Elio kamu tetap bukan siapa-siapa
falea sezi
lanjut bahaya jg elio😒
Putri Anggraini: MLM ini kita lanjut lagi ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!