Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kira dan dikira
Keheningan di dalam kabin mobil mewah itu terasa memekakkan telinga. Gia membuang muka ke luar jendela, berpura-pura sibuk menatap deretan pohon palem yang melaju cepat, berusaha keras menyembunyikan getaran aneh di dadanya. Perasaan aneh yang selalu muncul tiap kali Elkan duduk terlalu dekat dengannya.
"Kamu baik-baik saja, Gia?" suara Elkan memecah kesunyian.
Gia menoleh sedikit, menyunggingkan senyum tipis. "Aku baik-baik saja, Elkan. Hanya sedikit lelah."
Namun, belum sempat suasana canggung itu benar-benar mencair, sopir di depan mendadak membanting setir kecil dan menginjak pedal rem dalam-dalam!
Ckiittt!
Ban mobil mencicit keras menghantam aspal hitam. Tubuh Gia terdorong ke depan, namun tangan Elkan bergerak cepat menahan bahunya sebelum dahi Gia sempat menatap sandaran jok depan.
"Ada apa, Pak?!" tanya Elkan tegas, matanya langsung tertuju ke depan.
"Maaf, Pak Elkan! Di depan sana... ada kegaduhan di gerbang rumah lama Pak Aldo," jawab sang sopir panik.
Gia langsung memajukan tubuhnya. Di depan sana, pintu gerbang besi rumah lama Aldo sudah terbuka lebar. Siska tampak berlari keluar bagaikan orang kesetanan sambil memeluk erat sebuah amplop cokelat tebal di dadanya. Di belakangnya, dua pria berjas hitam dengan perawakan tegap bawahan kepercayaan Nico sedang mengejarnya dengan langkah lebar.
"Tahan wanita itu! Jangan sampai dokumen itu lepas!" teriak salah satu pria berjas hitam.
"Jangan mendekat! Ini punya aku! Pak Nico janji bakal bayar mahal buat dokumen ini!" jerit Siska histeris, napasnya tersengal-sengal di pinggir jalan.
Namun, langkah Siska dan kedua pria itu terhenti seketika. Sebuah mobil sedan hitam berpelat istimewa berhenti tepat di belakang mobil Elkan. Pintu penumpang terbuka, dan seorang wanita paruh baya berbusana haute couture melangkah turun. Wanita itu berdiri anggun dengan kacamata hitamnya, menatap keributan di depannya dengan tatapan penuh kejijikan dan penghinaan.
Mata Gia membelalak lebar dari dalam mobil. "Mama...?" gumamnya tak percaya.
"Mamamu?" Elkan mengernyit, menatap wanita anggun yang baru saja turun dari mobil tersebut. "Nyonya Laras Kirana... Beliau benar-benar turun tangan sendiri?"
Aura di depan gerbang mendadak mencekam. Nyonya Laras melangkah anggun bagaikan seorang penguasa mutlak yang sedang mendatangi wilayah jajahannya. Di belakangnya, empat orang pengawal pribadi berbadan tegap dan berwajah dingin berbaris rapi, memancarkan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Siska yang berdiri mematung berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ia membusungkan dada, berusaha menutupi rasa takut yang mulai menggerogoti nyawanya.
"Heh! Siapa wanita tua ini?!" bentak Siska kasar seraya mengacungkan telunjuknya. "Jangan ikut campur urusan orang lain ya! Kamu nggak tahu siapa yang ada di belakang aku! Lebih baik pergi sebelum kamu kena masalah!"
Nyonya Laras bahkan tidak membuang energi untuk menatap Siska. Ia memiringkan kepalanya sedikit, melirik dingin ke arah dua pria bawahan Nico yang kini sudah berdiri kaku di tempat.
"Kalian berdua," suara Nyonya Laras terdengar begitu tenang, namun memiliki tekanan tak kasatmata yang sanggup menghancurkan karier seseorang dalam semalam. "Sampaikan pesan ini langsung ke telinga Nico."
Kedua pria berjas hitam itu menelan ludah secara bersamaan. "P-pesan apa, Nyonya?"
"Jika dalam waktu satu jam dari sekarang Nico tidak menarik seluruh anak buahnya dari kota ini dan menghentikan seluruh aksinya," Nyonya Laras jeda sejenak, mengumbar senyum dingin yang sangat mengerikan, "maka besok pagi seluruh aset Nico Corp di luar negeri akan disita atas nama konsorsium Kirana. Tanpa sisa."
Wajah kedua pria berjas hitam itu mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Mereka tahu betul siapa Kirana Group dan seberapa besar kekuatan hukum yang dimiliki wanita di depan mereka.
"B-baik, Nyonya! Kami mengerti! Kami akan sampaikan sekarang juga!" ucap salah satu pria itu dengan suara gemetar.
"T-tunggu! Kenapa kalian takut sama nenek-nenek ini?!" teriak Siska panik saat melihat kedua pria itu berbalik arah. "Kembali! Ambil amplop ini dan bayar aku!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, kedua bawahan Nico itu berlari kencang masuk ke dalam mobil mereka dan memacu kendaraan itu pergi, meninggalkan Siska sendirian di tepi jalan.
"E-eh! Kenapa malah kabur?!" teriak Siska histeris, kakinya menghentak tanah dengan penuh keputusasaan. "Dasar penakut! Pengecut!"
Pintu mobil Elkan terbuka. Gia melangkah keluar dari dalam mobil, disusul oleh Elkan yang berjalan sejajar di sampingnya dengan kedua tangan terbenam di saku celana.
Melihat kehadiran Gia, napas Siska makin memburu. Rasa paniknya berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.
"Gia! Mau apa kamu ke sini?!" sergah Siska histeris seraya mengacungkan amplop cokelat di tangannya. "Oh, aku tahu! Kamu sengaja mau pamer bawa orang tua sewaan buat menakut-nakutiku, kan?!"
Gia menyilangkan dadanya, menatap Siska dengan pandangan datar. "Orang tua sewaan?"
"Nggak usah akting!" jerit Siska lagi, matanya memerah penuh kebencian. "Aku nggak takut! Di dalam amplop ini ada bukti asal-usul kamu yang miskin, kampungan, dan semua kelakuan licik kamu! Pak Nico bakal bayar mahal buat bukti ini dan hancurin kamu sampai tak tersisa!"
Gia berjalan mendekat beberapa langkah, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa iba. "Siska, Siska... Kamu itu kasihan banget, ya. Sudah dibodohi Aldo sampai seperti ini, sekarang kamu mau dibodohi sama ibu mertua halumu itu?"
"Maksud kamu apa, hah?!" bentak Siska, napasnya memburu. "Jangan coba-coba memutarbalikkan fakta! Kamu itu cuma perempuan miskin yang untung bisa menikah sama Aldo!"
"Perempuan di depanmu ini," potong Elkan dengan nada dingin menusuk seraya menunjuk ke arah Nyonya Laras, "adalah Nyonya Laras Kirana. Pemilik tunggal Kirana Group, konglomerat sektor energi terbesar di negara ini, sekaligus ibu kandung dari Gia."
"A-apa...?" Siska tertawa sumbang, berusaha menepis kenyataan. "Bohong! Kalian pasti bohong!"
"Dan foto serta lembar sertifikat yang kamu pegang erat-erat di dalam amplop itu," lanjut Elkan tenang namun mematikan, "adalah dokumen bukti bahwa putri tunggal Kirana Group memang sengaja menyamar dan hidup sederhana untuk menguji pria yang salah."
Brak!
Amplop cokelat tebal di tangan Siska terlepas begitu saja. Jatuh menghantam tanah yang basah oleh air hujan.
Seluruh warna darah seolah menyusut dari wajah Siska. Matanya membelalak lebar, menatap Nyonya Laras, Elkan, dan Gia secara bergantian dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"I-ibu kandung...? Kirana Group?!" bisik Siska gemetar. Tubuhnya mulai menggigil hebat. "Enggak... enggak mungkin! Ini mimpi! Aku pasti lagi mimpi!"
"Kenapa tidak mungkin, Siska?" tanya Gia dengan nada sangat tenang.
"Enggak! Kamu itu cuma perempuan biasa!" jerit Siska histeris sambil menggelengkan kepalanya secara liar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kamu cuma tahu urusan dapur! Kamu cuma tahu caranya nyuci baju dan bersih-bersih rumah! Nggak mungkin kamu anak konglomerat paling kaya di negara ini! Nggak mungkin! Kata Tante titik kamu tuh anak pembunuh.. tidak mungkin..kata Bu titik kamu juga lc pemilik grup VK"
Nyonya Laras melangkah perlahan mendekati Siska. Keanggunannya begitu mengintimidasi hingga Siska secara refleks melangkah mundur. Wanita paruh baya itu menatap Siska dari balik kacamata hitamnya dengan pandangan paling merendahkan.
"Putriku memang sengaja belajar hidup sederhana agar bisa merasakan ketulusan," ucap Nyonya Laras dengan nada dingin yang mengiris hati. "Tapi kamu, Aldo, dan seluruh keluarga mantan suaminya justru menganggap kebaikan putriku sebagai kelemahan yang bisa kalian injak-injak. Sekarang, rasakan sendiri akibat dari ketakutan dan ketakberdayaan kalian."
Nyonya Laras memberi isyarat pelan dengan jarinya kepada para pengawal. "Ambil amplop itu. Dan pastikan wanita ini serta seluruh keluarganya di-blacklists total dari seluruh perusahaan di kota ini. Jangan biarkan dia mendapat pekerjaan bahkan sebagai pembersih jalanan sekalipun."
"Baik, Nyonya!" jawab kedua pengawal tegas.
"Jangan! Jangan touch aku! Jangan ambil!" teriak Siska histeris saat dua pengawal maju dengan cepat.
Pengawal dengan mudah memungut amplop cokelat dari tanah dan menahan kedua lengan Siska. Tubuh wanita muda itu mendadak lemas bak tanpa tulang. Siska bersimpuh di atas tanah yang kotor, air mata ketakutan, kekecewaan, dan penyesalan mendalam akhirnya pecah mengalir deras membasahi pipinya.
"Gia! Tolong aku, Gia!" raung Siska bersujud di tanah, memohon iba. "Aku cuma disuruh Aldo! Aldo yang janjiin aku uang kalau aku berhasil ambil dokumen ini! Tolong maafin aku, Gia! Tolong cabut perintah ibumu!"