“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
•••
Sekarang Jio sangat menyesali keputusannya menolong Giselle kala itu.
Jika saja dirinya tak menyetujui ajakan Yoshi pergi ke club, jika saja dia tak menolong Giselle, jika saja dia menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain, mungkin saja kehidupan yang sudah rumit untuk Jio jalani tak akan bertambah rumit lagi jika ia tak bertemu dengan gadis urakan gila macam Giselle.
Lihat saja, hari sudah berganti.
Pagi ini, gadis pembuat onar itu sudah siap mengacaukan hari Jio yang seharusnya berjalan dengan tenang.
"Kemana saja? Aku tidak melihatmu dari tadi.”
“Aku belum sarapan ayo ke kantin." Ajak Giselle menggandeng lengan Jio.
Jio menoleh sesaat sebelum mendengus sebal kemudian menghempas tangan Giselle dari lengannya.
Berjalan lurus lalu berbelok masuk ke dalam kamar mandi, setidaknya di dalam sana dia bisa menghindar dari gangguan Giselle untuk sementara.
"Ayo cepatlah!”
“Aku lapar sekali. Kau mau makan apa? Kalau aku ingin sesuatu yang manis sekarang."
Jio tak bisa menahan keterkejutannya lebih dari ini, Giselle dengan santainya bersendekap dada mengatakan tentang makanan apa yang ingin ia makan di dalam kamar mandi pria.
"Astaga kau gila?!”
“Aku percaya kau sudah tak memiliki sedikitpun kewarasan dalam kepalamu itu."
Giselle mengangkat bahu, "Kau yang gila.”
“Kalau kau punya sedikit kewarasan dalam kepalamu itu, kau tidak akan membuatku menunggumu di sini dengan begitu lama."
Jio berbalik, menatap Giselle tajam. Posisi mereka yang sedang berada di dalam kamar mandi pria sungguh tak pntas.
Jio tak ingin terlibat masalah yang berhubungan dengan gadis gila bernama Giselle lagi. Beruntung kondisi kamar mandi pria sedang kosong saat ini.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menungguku. Menyingkir dari hadapanku!"
Bukannya menyingkir Giselle justru semakin mendekat, sebenarnya Giselle ingin sekali menyumpal mulut Jio dengan kaus kaki. Sepertinya pria ini tak pernah kehabisan cara untuk melawan perkataan Giselle.
Namun, sikap Jio yang seperti ini membuat Giselle semakin gencar ingin menggangunya. Tanpa sadar Jio sudah membuat Giselle tertarik akan dirinya.
"Kau terlalu banyak bicara, ayo ke kantin sebelum kelas dimulai." Paksa Giselle menarik tangan Jio.
"Kau tidak bisa seenaknya pada orang lain."
"Kau bukan orang lain Kak Jio, kau akan jadi kekasihku dan kau tak akan bisa menolaknya."
Ternyata benar sabar juga ada batasnya, Jio merasakannya sekarang.
Menyingkirkan tubuh Giselle dari hadapannya, melangkah pergi keluar kamar mandi berjalan menuju kelasnya.
Giselle mengintil seakan ada tarikan magnet dari tubuh Jio yang membuatnya tak bisa jauh dari pria tersebut.
"Berhenti mengikutiku!"
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mengikuti kemana kekasihku pergi?"
Jio meradang, "Aku! Bukan! Kekasihmu!"
Tak disangka ucapannya tadi membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka.
Menjadi pusat perhatian seperti ini bukan hal yang diinginkan Jio. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, Giselle berhasil membuat kehidupan Jio terasa seperti di neraka.
Giselle sadar akan reaksi Jio yang risih ditatap oleh banyak orang, mengalihkan atensinya melihat sekitar.
"Apa yang kalian lihat?”
“Kalian senang melihatku bertengkar dengan kekasihku?!"
Orang-orang yang tadi sempat memperhatikan seketika kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Menarik tangan Jio untuk menjauh, membawanya menuju cafetaria yang kali ini tak mendapat penolakan dari Jio.
Mungkin Jio lelah berdebat dengannya.
•••
Di cafetaria Giselle memesan dua potong strawberry cake serta dua gelas vanilla latte kesukaannya, masing-masing satu untuknya dan satu untuk Jio.
Tapi pria itu hanya mengabaikan bahkan tak menyentuh makanannya sama sekali, hal itu membuat Giselle benar-benar kesal.
"Aku mengajakmu ke sini untuk makan bersama, bukan menatapku dengan penuh kebencian seperti itu."
"Oh, aku memang membencimu."
Giselle membola, "Benci aku sesukamu, tapi kupastikan kau akan jatuh cinta padaku."
"Jangan harap."
"Aku salah memesan makanan untukmu.”
Jio mengernyitkan alis.
“Harusnya aku memesankanmu sambal yang sangat pedas. Kau tahu? Mulutmu itu bahkan lebih pedas dari cabai."
Jio tak lagi menggubris, saat ini dia hanya perlu mengabaikannya saja, tak perlu bersusah-payah menanggapi gadis gila ini.
Toh dia akan lelah sendiri nanti.
"Kau mengabaikanku?”
“Di luar sana para pria rela bersujud hanya untuk mendapat perhatian dariku, kau harusnya bersyukur aku sendiri yang mendatangimu dan mengajakmu makan bersamaku."
Jio masih enggan menjawab bahkan tak melihat ke arah Giselle sama sekali.
"Kau benar-benar mengabaikanku?”
“Daripada terus diam begini lebih baik kau pergi saja sana!"
Jio tersenyum miring, "Kau sendiri yang menyuruhku pergi, jadi jangan pernah mencoba menemuiku lagi."
Giselle tertegun sesaat melihat Jio dengan langkah ringan beranjak menjauh darinya.
"Jio Pratama!"
•••Vienbluu (annavienbluu)