NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Daun pintu mahoni itu terdorong terbuka dengan benturan tumpul yang memecah kesunyian kamar. Aurelia terkesiap, napasnya tersangkut di tenggorokan, dan kantong kain berisi koin perak yang dipegangnya nyaris terlepas dari genggamannya. Untuk sepersekian detik, ketakutan terburuk mencengkeram jiwanya—mengira bahwa sang Jenderal telah kembali karena menyadari rencana busuknya.

Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu bukanlah Damian Valerius.

Itu adalah Lily, pelayan muda bermata bulat yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bersandarnya di kastil dingin tersebut. Napas gadis itu memburu, dadanya naik turun dengan cepat, dan peluh dingin membasahi pelipisnya. Di tangannya, Lily menggenggam sehelai mantel wol lusuh dan sebuah lentera kecil yang belum dinyalakan.

"N-Nona..." suara Lily tercekat, nyaris berupa bisikan ketakutan. "Anda... Anda harus segera bersiap sekarang juga. Pengawal gerbang utama baru saja diganti sif, dan kekacauan akibat keberangkatan pasukan Jenderal membuat penjagaan di sisi timur lengah. Ini kesempatan satu-satunya... jika kita lewat tengah malam ini, kita tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup."

Aurelia menghembuskan napas berat yang sejak tadi ia tahan. Kakinya terasa lemas seketika, namun batinnya langsung dipenuhi oleh gelombang tekad yang menyala-nyala. Tidak ada waktu untuk ragu. Masa depan, kebebasan, dan kehidupan baru yang ia dambakan berada tepat di ambang pintu itu.

Dengan gerakan cepat, Aurelia menyambar jubah penyamarannya, mengenakannya di atas gaun sederhananya, dan menarik tudung kain wol itu hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Ia tidak meninggalkan apa pun di kamar itu—tidak ada jejak permata, tidak ada sisa kemewahan aristokrat yang selama ini menjadi simbol penyiksaannya.

Bersama Lily, ia menyelinap menyusuri koridor-koridor pelayan yang gelap dan berbau lembap di sayap belakang. Langkah kaki mereka diredam oleh lantai kayu tua yang berderit samar. Menghindari barak pengawal utama, mereka merayap di balik bayangan dinding batu benteng, memanfaatkan kepanikan serta kesibukan logistik militer yang masih tersisa pasca-keberangkatan sang Jenderal besar.

Ketika gerbang kecil pembuangan logistik di sektor timur terlihat—jalan rahasia yang biasa digunakan untuk membawa keluar gerobak sampah dan sisa jerami—jantung Aurelia berdegup kencang layaknya genderang perang. Dua orang pengawal jaga tampak sedang tertidur lelap di pos jaga karena kelelahan setelah berhari-hari mempersiapkan keberangkatan pasukan.

Dengan hati-hati, Lily mendorong pintu gerbang besi tua berkarat itu. Engselnya berderit pelan, menciptakan suara nyaring di tengah malam yang sunyi. Aurelia menahan napas, merunduk di balik bayangan kuda beban yang terikat di dekat sana, lalu melangkah keluar melewati batas teritorial Kediaman Valerius.

Udara malam musim panas di luar benteng terasa begitu berbeda. Hembusan angin bebas menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, kebebasan, dan kehidupan yang tidak lagi berbau darah atau mesiu. Aurelia menoleh sekilas ke belakang, menatap dinding batu raksasa kastil tempat ia pernah hampir kehilangan nyawanya, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan menyusuri jalan setapak gelap bersama Lily menuju lembah selatan.

Ratusan mil jauhnya dari tempat Aurelia melangkah menuju kebebasan, suasana di markas komando lapangan perbatasan utara jauh dari kata tenang.

Malam itu, di dalam tenda komando utama yang terbuat dari kulit binatang tebal dan disangga oleh balok-balok kayu kokoh, cahaya lampu minyak berkedip-kedip liar diterpa angin malam pegunungan yang membekukan. Peta strategi militer kekaisaran yang terbentang di atas meja kayu kasar dipenuhi oleh penanda posisi pasukan musuh dari faksi pemberontak.

Damian Valerius berdiri tegak di sisi meja, kedua tangannya bertumpu kuat di atas permukaan kayu, sementara tatapan mata abu-abu badainya meneliti setiap titik koordinat dengan ketajaman seekor elang yang mengintai mangsa. Di sekelilingnya, para kapten senior dan perwira tinggi berdiri dengan postur kaku, menunggu titah dari sang panglima perang.

"Pergerakan pasukan faksi pemberontak di lembah barat laut tidak masuk akal," suara berat Kapten Julian memecah keheningan tenda, nada bicaranya menyiratkan kerutan kekhawatiran yang mendalam. "Mereka menggunakan formasi gerilya yang sangat rapi, seolah-olah... mereka mengetahui persis jalur logistik dan peta pertahanan rahasia yang baru saja kita tetapkan minggu lalu. Padahal, informasi ini hanya diketahui oleh lingkaran inti komando tertinggi di ibu kota."

Damian tidak langsung merespons. Alis tebalnya bertaut tajam, bayangan garis-garis ketegangan terpahat jelas di rahangnya yang keras. Pikirannya tidak hanya berputar pada strategi pertempuran di hadapannya, melainkan pada sebuah bayangan samar yang terus mengusik ketenangannya sejak hari keberangkatan—sosok seorang wanita berambut kecokelatan yang berdiri di balik jendela kastil dengan tatapan mata hijau yang begitu tenang, begitu berbeda dari biasanya.

Ada rongga kosong yang aneh di dalam dadanya sejak ia meninggalkan Kediaman Valerius. Sebuah perasaan tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan secara rasional. Damian menepis pikiran itu jauh-jauh, memfokuskan kembali seluruh kapasitas intelektual dan militernya pada peta di hadapannya.

"Mereka mengira kita akan menyerang langsung dari jalur utama tebing utara," suara Damian menggelegar rendah, dingin, dan penuh otoritas mutlak, memecah keraguan di dalam tenda. "Itu adalah kesalahan fatal mereka. Kita tidak akan mengikuti pola konvensional."

Damian mengangkat tangan bersarung kulitnya, menunjuk sebuah titik tersembunyi di balik lereng bukit curam yang selama ini dianggap tidak dapat dilalui oleh kavaleri berat.

"Kapten Julian, bawa divisi infanteri ringan bergerak memutar lewat jurang batu hitam malam ini juga. Kita akan memotong jalur suplai mereka dari belakang sebelum fajar menyingsing. Sementara aku akan memimpin pasukan utama menembus garis pertahanan depan mereka untuk memecah formasi."

Para perwira di dalam tenda terkesiap mendengar strategi nekat tersebut. Melewati jurang batu hitam di tengah malam buta dengan risiko longsor dan serangan mendadak adalah sebuah pertaruhan hidup dan mati. Namun, tidak seorang pun berani membantah. Wibawa mutlak Damian Valerius membuat seluruh ruangan tunduk dalam kepatuhan total.

"Baik, Jenderal!" seru para perwira serempak, memberikan hormat militer dengan kepalan tangan di dada.

"Bubar. Siapkan pasukan kalian dalam waktu tiga puluh menit," perintah Damian final.

Satu per satu para perwira meninggalkan tenda komando, menyisakan keheningan yang pekat di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya api unggun luar. Damian merapikan gulungan peta perang di hadapannya. Napasnya terhembus berat dalam hening, uap hangat mengepul tipis dari bibirnya akibat suhu udara perbatasan yang terus merosot drastis.

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda yang berlari kencang memecah keheningan malam luar tenda, disusul oleh suara seruan panik seorang kurir militer yang menjatuhkan diri dari pelana.

"Laporan darurat! Laporan darurat untuk Jenderal Agung!" teriak suara kurir itu terengah-engah di depan tenda.

Damian mendongak cepat. Sebelum ia sempat memanggil penjaga, kain flap tenda tersingkap dengan kasar—seorang prajurit pembawa pesan menerobos masuk dengan wajah pucat pasi, membawa gulungan surat berstempel khusus dari ibu kota yang ternoda oleh noda lumpur dan perjalanan panjang—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!