NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembar Pertama Dibalik Seragam Putih Biru

Bagi Auren, enam tahun mengenakan seragam dengan keliman merah di bagian bawah terasa berlalu seperti kedipan mata. Kemarin rasanya ia masih seorang gadis kecil yang menguncir dua rambutnya, menangis karena kehilangan pensil warna, atau berlarian di lapangan semen sekolah dasar tanpa memikirkan hari esok. Namun hari ini, semua atribut masa kecil itu harus dilipat rapi dan disimpan di sudut lemari teredup. Lembar kehidupan masa SD-nya telah resmi ditutup bersama riuh tepuk tangan di hari kelulusan beberapa minggu lalu.Pagi ini, Auren berdiri tegak di depan cermin kamarnya. Gadis berusia dua belas tahun itu perlahan merapikan kerah kemeja putihnya yang masih kaku dan beraroma kain baru. Saat jemarinya turun untuk merapikan rok biru tua yang jatuh tepat di bawah lututnya, sebuah desir asing mendadak menyergap dadanya.Putih dan biru tua. Warna yang menandakan bahwa ia bukan lagi anak-anak yang bisa merajuk sesuka hati. Mulai hari ini, ia adalah seorang siswi sekolah menengah.Gerbang sekolah barunya yang menjulang tinggi menyambut Auren dengan riuh suara asing yang asing bagi indranya. Koridor-koridor panjang yang membentang di bangunan tingkat dua itu terasa begitu luas, seolah siap menelan tubuh mungilnya. Auren meremas tali tas ranselnya erat-erat, melangkah ragu di antara ratusan murid baru yang memiliki binar mata yang sama: cemas sekaligus penasaran.Di balik dinding-dinding kelas yang masih asing ini, di bawah dering bel sekolah menengah yang akan segera berbunyi, Auren belum menyadari satu hal. Bahwa di tempat baru inilah, langkah canggungnya akan menuntunnya pada coretan-coretan takdir yang tak terduga. Sebuah tempat di mana ia akan merajut tawa, mencicipi kecewa, menghadapi tatapan sinis yang belum pernah ia temui sebelumnya, dan menemukan sebuah kisah yang akan tinggal abadi di dalam ingatannya—selamanya.

Auren menaiki satu demi satu anak tangga beton dengan jantung yang berdegup lebih kencang. Begitu sampai di lantai dua dan berbelok ke kanan, papan kayu bertuliskan 'Kelas 7-B' menyambut pandangannya. Pintu kelas terbuka lebar, menampakkan ruangan yang sudah cukup ramai oleh riuh suara murid-murid baru yang saling berkenalan.Auren melangkah masuk dengan ragu. Matanya langsung menyapu seisi ruangan, mencari bangku yang masih kosong. Namun, pemandangan di sudut depan dekat meja guru langsung menyita perhatiannya.Di sana, Balisya sudah duduk dengan anggun. Jilbab putihnya terpasang sangat rapi, tanpa ada lipatan yang berantakan sedikit pun, membingkai wajahnya yang tampak bersih dan penuh percaya diri. Di sekeliling mejanya, beberapa siswi lain tampak berkerumun, mendengarkan Balisya berbicara dengan logat yang santun namun tegas. Sebagai seorang muslimah yang cerdas dan berpenampilan rapi, Balisya tampaknya tidak butuh waktu lama untuk menjadi pusat perhatian dan langsung disegani di hari pertama sekolah.Saat menyadari kehadiran Auren di ambang pintu, Balisya menghentikan ucapannya sejenak. Ia menatap Auren dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu melemparkan senyuman tipis yang sekilas terlihat ramah, namun menyiratkan kesan dingin yang tersembunyi. Setelah itu, ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada teman-teman barunya seolah Auren tidak pernah ada di sana. Auren menelan ludah, menyadari bahwa ia harus mencari tempat duduk yang agak jauh dari radar gadis itu.Pandangan Auren kemudian beralih ke barisan bangku di dekat jendela. Di sana, tersisa satu meja kosong di barisan belakang. Tepat di sebelah meja kosong itu, seorang anak laki-laki sedang duduk menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menatap keluar jendela,

memutar-mutar sebuah pensil di antara jemarinya dengan gestur yang santai.

Wali kelas 7-B melangkah masuk ke dalam kelas. Di belakang guru tersebut, mengekor seorang anak laki-laki yang berjalan santai dengan tangan kiri memegang tali ranselnya."Anak-anak, mulai hari ini kelas kita kedatangan murid baru pindahan dari kelas 7-C karena penyesuaian kuota kelas," ujar wali kelas memecah keheningan. "Silakan perkenalkan namamu."Anak laki-laki itu maju satu langkah, menatap seisi kelas dengan tenang sebelum matanya sempat beradu sedetik dengan mata Auren. "Halo semuanya, nama saya Evan."Di sudut depan, Auren bisa melihat Balisya langsung menegakkan posisi duduknya, menatap murid baru itu dengan binar ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan. Sementara di barisan belakang, jantung Auren mendadak memberikan letupan kecil yang asing. Ia tidak tahu, bahwa kepindahan Evan ke kelas 7-B setelah dua hari berada di kelas sebelah adalah awal dari sketsa cerita mereka yang akan abadi.

Mata Balisya sama sekali tidak beralih dari sosok Evan. Pandangannya mengikuti setiap langkah anak baru itu dengan binar ketertarikan yang sangat jelas, seolah sedang menilai penampilan Evan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebagai siswi yang selalu ingin tahu dan dominan, Balisya tampaknya langsung menandai kehadiran Evan sebagai sesuatu yang menarik perhatiannya di kelas ini.Namun, Evan tetap berjalan dengan langkah santai, mengabaikan perhatian dari bangku depan. Langkah kakinya terus membawa langkahnya menyusuri lorong di antara meja-meja, melewati barisan depan, hingga akhirnya ia berhenti tepat di barisan paling belakang kelas.Satu-satunya kursi kosong yang tersisa di sana berada tepat di sebelah meja Auren.Evan menarik kursi kayu itu dengan pelan, lalu mendudukinya tanpa ragu. Ia meletakkan tas ranselnya di lantai, lalu menoleh sekilas ke arah Auren yang sejak tadi menahan napas."Hai," sapa Evan pelan dengan senyuman tipis yang sangat ramah, membuat jantung Auren berdegup dua kali lebih cepat.Dari bangku depan, Balisya perlahan memutar tubuhnya ke belakang. Ia menatap ke arah bangku paling pojok itu dengan sepasang mata yang menyipit, memperlihatkan raut tidak suka yang tertahan saat melihat anak baru yang menarik perhatiannya itu justru berakhir duduk di samping Auren.

Begitu bel istirahat pertama berbunyi nyaring, suasana kelas langsung berubah riuh. Namun, sebelum Auren sempat merapikan buku catatannya, sebuah bayangan sudah berdiri di depan mejanya.Balisya sudah berada di sana. Jilbab putihnya yang rapi bergerak lembut saat ia melangkah mendekat. Menariknya, ia tidak langsung menyapa Evan, melainkan memasang senyum paling manis yang ia punya dan mengarahkan pandangannya langsung kepada Auren."Auren," sapa Balisya dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat bersahabat di telinga siapa pun yang mendengarnya. "Kamu mau ke kantin, kan? Bareng yuk! Kebetulan aku belum terlalu hafal jalan ke kantin bawah."Auren sempat tertegun. Ia tahu betul bagaimana dinginnya tatapan Balisya pada hari pertama sekolah kemarin. Ajakan yang tiba-tiba ini terasa begitu janggal dan tidak biasa.Namun, sebelum Auren sempat memberikan jawaban, pandangan Balisya dengan cepat sengaja digeser ke arah anak laki-laki yang duduk di sebelah Auren. Sambil mempertahankan senyum manisnya, Balisya kembali bersuara, "Eh, ada anak baru juga. Kamu Evan, kan? Daripada sendirian di kelas, mending ikut kita aja ke kantin. Biar sekalian kenal sama anak-anak yang lain."Auren seketika menyadari maksud tersembunyi di balik keramahan mendadak ini. Langkah Balisya menghampiri mejanya sama sekali bukan karena ingin berteman dengannya, melainkan hanya sebuah alasan agar ia bisa mendekati dan mengajak Evan mengobrol tanpa terlihat terlalu kentara.

Auren menahan napas, menunggu bagaimana reaksi cowok di sebelahnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Evan menghentikan gerakan jemarinya yang sejak tadi memainkan pulpen. Cowok itu mendongak, menatap Balisya yang masih setia memasang senyum manisnya, lalu beralih menatap Auren yang tampak kikuk."Makasih ajakannya," kata Evan, suaranya terdengar santai dan tenang. "Tapi kayaknya gue di kelas aja dulu deh, mau beres-beres buku bekas kelas sebelah."Jawaban singkat itu membuat senyum di wajah Balisya sempat membeku selama satu detik. Ia jelas tidak menyangka akan mendapat penolakan secepat itu. Namun, sebagai sosok yang perfeksionis dan pandai menjaga imej, Balisya dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sedikit dipaksakan."Oh, gitu ya? Ya udah deh enggak apa-apa," ujar Balisya, lalu pandangannya kembali jatuh pada Auren dengan sorot mata yang mendadak kembali mendingin—sorot yang sama seperti hari pertama sekolah. "Kalau kamu gimana, Ren? Jadi ikut aku, kan?"Auren merasa terjebak. Keheningan di barisan belakang itu mendadak terasa mencekik. Jika ia menolak, Balisya pasti akan semakin tidak menyukainya. Namun jika ia ikut, ia tahu dirinya hanya akan menjadi 'pajangan' agar Balisya bisa membicarakan Evan sepanjang jalan ke kantin.Sebelum Auren sempat mengeluarkan sepatah kata pun dari tenggorokannya, Evan tiba-tiba bergeser sedikit dan mengetuk meja Auren pelan."Eh, Ren," panggil Evan, memotong pembicaraan. "Gue boleh pinjam catatan pelajaran hari pertama sama kedua gak? Biar gue gak ketinggalan materi kelas ini."Pertanyaan Evan laksana pelampung penyelamat bagi Auren. Gadis itu langsung mengangguk cepat. "Ah... iya, boleh kok. Ada di dalam tas."Auren kemudian menoleh ke arah Balisya dengan tatapan meminta maaf yang dibuat sehalus mungkin. "Maaf ya, Balisya. Kayaknya aku harus bantu Evan nyari catatannya dulu. Kamu duluan aja sama yang lain."Raut wajah Balisya berubah sekejap. Alisnya bertaut tipis di balik jilbab putihnya yang rapi, memancarkan rasa tidak suka yang amat kentara karena rencananya gagal total. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Balisya berbalik badan dengan cepat, melangkah meninggalkan meja belakang bersama rombongannya yang mengekor di belakang.Setelah punggung Balisya menghilang di balik pintu kelas, Auren mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia membalikkan tubuh menghadap Evan yang kini sedang memperhatikannya sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman yang seolah mengatakan bahwa cowok itu tahu persis apa yang baru saja terjadi.Di hari ketiga sekolah menengah ini, di bawah riuh rendah suara anak-anak kelas 7-B yang sibuk dengan urusan masing-masing, Auren perlahan membuka ritsleting tasnya. Goresan pertama pada sketsa putih-birunya baru saja dimulai, dan untuk pertama kalinya di usia dua belas tahun, Auren merasa bersyukur karena ia tidak harus melewati masa-masa ini sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!