Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Praktek basket
Yuna dan Melody akhirnya tiba di depan kelas 10 IPS 1.
Baru saja pintu digeser, suasana riuh langsung menyambut mereka.
"Hahaha! Lu mah pasti gagal lay-up!"
"Eleh. Palingan lu sendiri, Kocak!"
"Gue gak pernah megang bola basket, jir."
Berbagai suara saling bertumpuk memenuhi ruangan. Seluruh siswa kini telah berganti mengenakan seragam olahraga.
Kaus putih dengan garis-garis biru muda di bagian lengan. Dipadu dengan celana training berwarna biru muda pula. Juga sepatu olahraga dengan variasi warna yang beragam.
Namun yang paling menarik perhatian Yuna bukanlah pakaian mereka. Melainkan ekspresi di wajah masing-masing.
Ada yang duduk sambil menggoyangkan kaki karena tak sabar.
Ada yang berkali-kali membaca jadwal pelajaran, berharap olahraga mendadak dibatalkan.
Beberapa siswi saling mengeluh takut kulit mereka menghitam.
Sementara sekelompok siswa laki-laki di pojok kelas sudah saling menantang.
Melihat semuanya, tanpa sadar membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
"Ekspresi teman-teman... rupanya begitu variatif meski hanya dipicu dengan tes ini," gumamnya pelan.
Ia melangkah menuju ke bangkunya sendiri yang terletak paling pojok di belakang. Menyelip diantara Angel dan Amanda yang sempat menghalau jalannya karena masih asyik berbagi tabir surya.
Tasnya diletakkan perlahan. Lalu duduk sembari menunggu kedatangan sang guru olahraga.
Di sampingnya, Andito sudah lebih dulu datang.
Hari ini, bahunya tampak lebih rileks. Kakinya terus bergerak pelan di bawah kolong. Sesekali ia memantulkan bola basket imajiner menggunakan jemarinya di atas meja. Seolah tubuhnya sudah tidak sabar menunggu bel berbunyi.
Yuna melirik tanpa menggerakkan kepalanya. Tatapannya bertahan sedikit lebih lama.
Dari tinggi bahu.
Ke panjang lengan.
Lalu kembali ke wajah Andito.
Sementara itu, Andito yang sejak tadi sedang mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, perlahan mulai merasa tak nyaman.
Loh? Kok... diliatin terus?
Ia mencoba berpura-pura sibuk merapikan buku.
Masih saja.
Yuna belum mengalihkan pandangannya.
Ada yang nempel di muka gue ya?
Dengan gerakan kikuk, Andito mengusap pipinya.
Tak ada apa-apa.
Ia membenarkan kerah kaus olahraganya.
Masih tetap diperhatikan.
Pipinya mulai menghangat.
Akhirnya...
Dengan suara yang sedikit gugup, ia memberanikan diri bertanya.
"K-kenapa? Kok... lihatinnya gitu?"
Yuna berkedip sekali.
"Tak ada. Aku cuma melihatmu."
Andito membeku.
"L-lihatin... gue?"
Pipinya semakin memerah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Sementara Yuna sama sekali tidak menyadari bagaimana kalimatnya terdengar di telinga orang lain. Yang ia lakukan sedari tadi memang hanya menganalisis postur tubuh Andito. Tak lebih dari itu.
Belum sempat Andito menyusun balasan, suara berat dari arah pintu kelas memotong seluruh percakapan.
"Setelah ini... bapak tunggu kalian semua di lapangan."
Seluruh siswa serentak menoleh. Melihat Pak Firman yang sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di belakang punggung.
"Yang tidak membawa seragam olahraga..."
"...silakan pinjam ke kelas sebelah."
"Kalau tidak bisa pinjam..."
"...tidak usah ikut sekalian."
Tak ada penjelasan lain.
Tak ada basa-basi.
Pak Firman langsung berbalik. Langkah sepatunya bergema pelan di koridor. Meninggalkan kelas yang mendadak hening.
Beberapa detik kemudian, Angga langsung berdiri.
"Oke, teman-teman! Ayo siap-siap! Ketimbang dimarahin Pak Firman karena terlalu lama buat nungguin kita!"
"Halah..."
"Sok caper lu, Angga," goda Rendy sambil masih memasukkan tangan ke lengan kaus olahraga.
"Caper apaan, jir? Baju lu kebalik tuh," balas Angga santai.
Rendy langsung menunduk.
"Lah..."
"Iya juga."
"Goblok! Masih pagi udah pikun aja."
Michel yang masih duduk di atas meja sembari mengenakan kaos kaki, sontak tertawa terpingkal-pingkal.
"Gak usah ketawa lu jir!" gerutu Rendy sambil buru-buru melepas lalu mengenakan ulang bajunya dengan benar.
Suasana kelas kembali dipenuhi tawa.
Di sisi lain, Yuna pun ikut berdiri.
Namun ketika ia baru saja hendak berjalan—
"Y-Yun..."
Yuna langsung menoleh.
Andito berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tangannya menggaruk pelan tengkuknya sendiri.
"Eee..."
"Mau..."
"...barengan nggak?"
Yuna memiringkan kepala.
Andito buru-buru melanjutkan.
"Kali aja..."
"...gue bisa kasih saran dikit."
"Soalnya..."
"...gue biasanya ikut basket."
Yuna terdiam sesaat. Lalu mengangguk pelan.
"Baiklah. Mungkin nanti aku akan bertanya beberapa hal."
"O-oh..."
"Oke."
Andito mengangguk cepat.
Setelahnya... ia justru menelan ludah. Jantungnya ikut berdetak lebih kencang.
Entah...
Karena membayangkan pertanyaan-pertanyaan analitis Yuna yang biasanya membuat kepalanya berasap.
Atau...
Karena untuk pertama kalinya...
Teman sebangkunya itu akan berjalan menuju lapangan bersamanya.
....
Koridor sekolah mulai dipenuhi langkah kaki para siswa kelas 10 IPS 1.
Suara tawa.
Obrolan.
Sesekali terdengar suara sepatu yang berlari kecil karena takut terlambat.
Di tengah keramaian itu, Yuna dan Andito berjalan berdampingan menuju lapangan olahraga.
Tak banyak percakapan memang. Namun bagi Andito, ia tak lagi merasa canggung seperti beberapa minggu lalu.
Di kejauhan, Pak Firman nampak sedang berdiri menunggu, sembari menulis sesuatu pada buku absensinya. Yang dibungkus sampul plastik berwarna biru yang ia sangga pada lengan kirinya.
Beberapa siswa melangkah lebih cepat untuk mempersingkat waktu.
"Seperti yang bapak agendakan Minggu kemarin, hari ini kita mulai penilaian materi basket ya..."
"Satu per satu dipanggil sesuai nomor absen. Yang belum dipanggil, silakan duduk di tribun."
Seluruh siswa segera berpencar. Sebagian duduk di tribun beton yang berada di sisi lapangan. Sebagian lagi masih berdiri bergerombol—mengobrol ringan sambil menunggu giliran.
Andito memilih duduk di baris ketiga pada tribun.
"Duduk di sini yuk! Biar lebih leluasa liatin temen-temen."
Yuna mengangguk sekali. Kemudian ikut duduk di sampingnya.
Dari posisi itu, seluruh lapangan terlihat jelas. Bahkan tingkah panik Melody pun begitu jelas dari atas sini.
Pak Firman membuka daftar hadir.
"Absen satu!"
Ia membuka halaman absen. Sedikit kerepotan akibat hembusan angin nakal yang terus mengganggunya.
"Amanda Yuki Kashiwagi."
Seorang siswi buru-buru turun ke lapangan. Lalu mengambil bola basket yang tergeletak ditengah lapangan dengan tanpa ragu.
Entah karena memang begitu antusias. Atau karena ingin menyembunyikan kegugupannya hingga bertindak begitu spontan.
"Lima kali percobaan ya, Nak."
Amanda menarik napas panjang. Kemudian menggiring bola dua kali.
Lalu melempar.
Dung!
Bola menghantam papan terlalu keras.
Memantul kembali.
Dan percobaan pertama diperoleh dengan hasil bola yang gagal masuk.
Seluruh lapangan pecah oleh tawa. Bahkan Pak Firman ikut tersenyum kecil sambil mencatat nilainya.
Namun Yuna, hanya memperhatikan tanpa berkedip.
Di sampingnya, Andito yang awalnya ikut memperhatikan jalannya penilaian, perlahan fokusnya mulai terbagi.
Sesekali ia melihat ke lapangan.
Sesekali lagi...
Matanya melirik gadis berkacamata di sebelahnya.
Yuna bahkan tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan.
Tubuhnya sedikit condong ke depan. Kedua siku bertumpu di atas lutut. Alisnya sesekali mengernyit. Lalu mengendur lagi.
Andito terkekeh pelan.
Segugup itu ya?
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran tribun. Lalu menyenggol pelan lengan Yuna.
"Santai aja, Yun."
Yuna nampak tersentak kecil sembari membenarkan posisi kacamatanya.
"Hah?"
Baru saat itulah ia menyadari posisi duduknya sendiri.
"Oh..."
Tanpa sadar ia memang terlalu larut dalam menganalisis setiap gerakan teman-temannya.
Ia pun refleks meluruskan punggungnya.
"M-maaf."
Andito menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Gak usah tegang-tegang kali. Santai aja."
Yuna mengangguk pelan.
Andito kembali mengarahkan pandangannya ke lapangan.
"Sebenernya main basket nggak serumit kelihatannya kok."
Yuna ikut menoleh.
"Maksudmu?"
Andito menunjuk kearah Amanda yang kini sedang memantul-mantulkan bola. Seolah dia sedang mempersiapkan ancang-ancang untuk gerakan selanjutnya.
"Lihat tuh tangannya."
Yuna mengikuti arah telunjuknya.
"Kalau dribble... jangan dipukul bolanya. Dorong aja. Kayak lagi ngajak bola mantul."
"Kalau terlalu keras... tuh bola bakalan mantul kemana-mana."
Yuna memperhatikan semakin saksama.
Andito pun melanjutkan.
"Sama jangan kelamaan lihat bolanya."
"Loh? Bukankah itu justru—"
"Nahh Itu bedanya."
Andito menyeringai kecil.
"Kalau mata terus lihat bola... lu nggak bakal tahu ada lawan di depan."
"Makanya..."
"...sebisa mungkin lihat depan."
"Lihat ring. Lihat teman. Lihat orang yang mau nutup jalan."
"Ibaratkan kek tangan aja yang ngerasa bolanya."
Yuna terdiam.
"Biar tangan yang merasakan?"
Kalimat itu terdengar jauh lebih sederhana daripada teori yang ia bayangkan. Namun justru terasa masuk akal.
"Kalau udah kebiasa... tuh bola rasanya kayak nempel sendiri."
Andito mengangkat bahu santai.
"Gue juga bingung jelasinnya. Soalnya emang udah kebiasaan pas latian."
Yuna mengangguk pelan. Ia kembali memandang lapangan.
"Muscle memory ya..."
Andito menoleh cepat.
"Nah itu. Pokoknya badan udah jalan sendiri."
Ketika ia hendak melanjutkan—
"Andito Sofansyah Putra!"
Suara Pak Firman menggema. Andito spontan berdiri.
"Nah! Giliran gue tuh."
Beberapa siswa langsung bersorak.
"WOOO!"
"Akhirnya!"
"Kasih paham, Dit!"
Rendy bahkan meniup peluit entah dari mana.
"Kalo masuk cuma sebiji, traktir gue es teh!!"
Michel langsung menyambung.
"Kalo masuk semua, bakalan gua dukung lu jadi kapten basket!"
Andito hanya tertawa kecil. Lalu bangkit dari tempat duduknya.
Namun sebelum ia melangkah ke lapangan, ia menoleh sekali lagi ke arah Yuna. Dengan senyum yang semakin melebar.
"Kukasih contoh sekarang."
"Nanti..."
"...lu analisa gue, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Andito menuruni tribun untuk mengambil bola yang telah dipersiapkan oleh Pak Firman.
Sementara di tribun, Yuna merapikan posisi kacamatanya. Tatapannya berubah tajam.
Bukan sebagai teman sebangku.
Melainkan...
Seorang pengamat yang bersiap menganalisis setiap gerakan pemain terbaik di kelasnya.
sebelumnya lebar lapangan