Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Regantara berdiri perlahan dari kursi. Ia melangkah ke dekat lukisan yang tergantung di dinding ruang kerja, lalu menggesernya tanpa suara. Di balik lukisan itu, ada sebuah brankas baja yang tahan ledakan dan memiliki sistem keamanan pemindai retina.
Bip!
Pintu brankas itu terbuka pelan, di dalamnya ada tempat penyimpanan khusus yang dilapisi kain bludru hitam. Saat kain itu dibuka ada sebuah senjata api kesayangannya, sebuah custom Kimber 1911 berlapis matte black dengan ukiran keluarga Benedict di pegangannya.
Regantara meraih senjata itu.
Berat logam yang familiar dan terasa dingin di telapak tangannya membawa kepuasan sendiri baginya, dengan gerakan halus, ia menarik slide senjata tersebut.
KLAK!
Regantara memeriksa mekanismenya sebelum akhirnya memasukkan magasin berpeluru penuh ke dalamnya.
Alaric yang menyaksikan pemandangan itu berdiri makin tegap, dengan napas yang tertahan.
"Tuan, apakah Anda akan membawa senjata itu kembali ke rumah?"
Regantara memasukkan senjata kesayangannya ke dalam sarung pistol tersembunyi di balik jas mewahnya. Ia memutar tubuh, lalu menatap Alaric dengan sorot mata dingin.
"Hendra Adhitama berpikir bahwa dia telah selamat karena kepintarannya sendiri, malam ini. Lalu dua wanita di rumah itu berpikir mereka bisa memperlakukan istriku seperti sampah hanya karena aku tidak ada di tempat." ucap Regantara dengan suara datar.
Pria itu merapikan kerah jasnya, lalu mengancingkannya kembali setelah ia memasukkan senjatanya.
"Penerbangan pribadi Anda sudah siap di bandara, Tuan." lapor Alaric.
Regantara tidak menjawab lagi. Ia melangkah keluar dengan tenang diikuti Alaric dan dia pengawal yang tadi berdiri di dekat pintu.
.
Pesawat jet pribadi Gulfstream G650ER milik Benedict Group tampak melayang mulus di atas hamparan awan tebal.
Di dalam kabin mewah, siluet Regantara yang duduk tegap di samping jendela tampak begitu dominan. Regantara menatap keluar kaca lalu menyeringai.
"Selamat datang di nerakaku, istriku." bisiknya pelan.
Tangannya perlahan meraba bagian dalam jas mewahnya, menyentuh sensasi dingin dari logam Kimber 1911nyang tersimpan rapih di balik pakaiannya.
Bagi dunia luar, Regantara Benedict adalah seorang pria yang tak tersentuh. Bagi Hendra, Roselin, dan Selene, pria itu adalah tiket emas menuju kekayaan tanpa batas. Namun bagi siapa pun yang melangkah masuk ke dalam lingkar kekuasaannya, termasuk Zara. Regantara adalah penguasa yang tak punya belas kasihan.
Ia tahu Zara bukanlah wanita lemah.
Ia melihat bagaimana wanita itu membalas hinaan Fransiska dan menatap keluarga Adhitama dengan binar mata penuh dendam, ternyata gadis kecil itu memiliki cakar tajam yang tersembunyi.
Pukul 03.15 pagi.
Suara deru halus dari mesin mobil BMW hitam masuk melewati gerbang megah kediaman Benedict, disusul oleh derap langkah kaki yang tenang saat memasuki membelah koridor utama.
Regantara melepas jas mewahnya, dan menyampirkannya di satu lengan.
Pria itu akhirnya sampai di depan pintu ganda kamar utama, dengan gerakan perlahan ia memutar gagang pintu.
Ruangan luas itu terlihat remang-remang dengan hanya diterangi oleh pendar samar dari sinar bulan yang menembus sela-sela tirai. Suara napas yang teratur terdengar dari arah ranjang king-size di tengah ruangan.
Zara tentunya sudah tidur.
Gadis itu pasti tidur pulas setelah menghadapi sandiwara besar keluarga Adhitama tadi malam.
Riasan wajahnya sudah dibersihkan, dan gaun hijau zamrudnya telah berganti dengan piyama tidur berwarna hitam dengan bordir emas.
Regantara melangkah mendekat ke sisi tempat tidur, langkah kakinya tak bersuara sama sekali.
Ia berdiri tegap di samping ranjang, lalu sedikit menunduk untuk menatap wajah Zara yang tertidur pulas. Tanpa riasan, Zara terlihat begitu rentan dan polos, namun di saat yang sama, ia menyimpan ketenangan.
Regantara perlahan berlutut dengan satu kaki di samping tempat tidur. Jemari tangannya yang besar dan berurat perlahan terulur, mengusap helai rambut yang menutupi dahi Zara tanpa niatan membangunkan gadis itu.
"Kau bertarung dengan sangat baik malam ini, Nyonya Benedict." bisik Regantara.
Senyum tipis perlahan terukir di sudut bibirnya, tatapan matanya beralih pada leher jenjang Zara yang kini polos, tanpa kalung Zamrud.
"Tapi bersiaplah, karena di rumah ini, aku lah pemiliknya." ucapnya sambil menarik kembali tangannya.
Regantara berdiri kembali secara perlahan, ia menatap wajah lelap istrinya untuk terakhir kali sebelum berbalik menuju ruang ganti.
Tepat pukul enam lewat lima menit, Zara perlahan membuka matanya. Rasa lelah akibat drama di ballroom semalam sebenarnya masih menyisakan sedikit pening di kepalanya, namun kebiasaan bangun paginya membuat matanya terbuka sempurna dalam hitungan detik.
Ia merenggangkan tubuhnya, lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang.
Saat itulah hidungnya menangkap aroma yang berbeda dari biasanya.
Bukan aroma wewangian terapi lavender yang biasa disiapkan Bibi Tara, melainkan aroma dari kopi hitam yang baru diseduh, bercampur dengan wangi samar parfum beraroma maskulin yang pernah ia cium sekali di atas altar waktu itu.
Zara membeku.
Ia memutar kepalanya dengan lambat ke sudut ruangan di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang.
Di sana, duduk seorang pria dengan postur tegap. Ia mengenakan kemeja putih dan di bagian lengan bajunya dilipat hingga siku yang memperlihatkan lengan beruratnya, dengan celana kain hitam berpotongan sempurna.
Kaki kirinya menumpang santai di atas kaki kanan. Satu tangannya memegang cangkir porselen putih berisi kopi, sementara tangannya yang lain memegang koran bisnis.
Regantara Benedict.
Pria itu sudah berada di sana.
Seolah sadar dengan pergerakan di atas ranjang, Regantara menurunkan korannya perlahan. Sepasang matanya yang tajam itu langsung bertabrakan lurus dengan mata Zara.
"Selamat pagi, Nyonya Benedict." sapa Regantara dengan sangat tenang.
Pria itu menyesap kopinya perlahan, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Zara.
"Bagaimana tidurmu?" lanjut Regantara, sambil menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Apakah mimpimu seindah kemenanganmu di pesta Adhitama semalam my wife?"