NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Anak Panah Tepat Sasaran

"Menurut saya," jawab Ning pelan, "Pak Kevin orang yang tidak pandai bicara, tapi dia tidak pernah benar-benar tidak peduli."

Kian yang duduk di belakangnya di atas motor ojol tidak langsung menjawab.

Angin sore menyapu suara kendaraan di sekitar mereka. Ning tidak bisa melihat wajah Kian, tetapi ia bisa merasakan tubuh anak itu menjadi lebih diam.

"Lo kenal dia berapa hari?" tanya Kian akhirnya.

"Tidak lama."

"Terus sok tahu."

"Mungkin." Ning tersenyum kecil. "Tapi ada orang yang perhatiannya memang tidak berbentuk kata-kata."

Kian mendengus. "Kalau begitu bentuknya apa? Transfer?"

"Kadang makanan. Kadang sopir. Kadang perintah singkat yang terdengar menyebalkan."

Tidak ada jawaban lagi sampai motor berhenti di depan gang kontrakan.

Kian turun lebih dulu, lalu melempar satu kalimat sebelum pergi. "Besok jangan kesiangan. Gue ada jadwal di Archer Club."

Itulah alasan, beberapa jam kemudian, Ning berdiri di depan Archer Club Jakarta dengan kemeja hitam pinjaman dan sepatu yang masih terlalu murah untuk tempat semewah itu.

Ia sebenarnya datang bukan sebagai tamu.

Mbak Rina pernah memberinya kontak pekerjaan harian di klub itu. Katanya, mereka butuh staf sementara untuk membantu administrasi dan mendampingi pemula di area latihan. Ning membutuhkan uang. Setelah biaya rumah sakit dan obat, ia tidak bisa terus menggantungkan diri pada honor tutor yang belum cair.

Namun begitu ia masuk, Pak Agus, manajer klub, langsung menatap tubuh kurusnya dari kepala sampai kaki.

"Kamu yang daftar shift sore?" tanyanya.

"Iya, Pak."

"Pernah pegang busur?"

Ning berhenti sebentar. "Pernah."

Pak Agus tampak tidak percaya. "Di sini tamunya banyak anak elite. Kalau kamu cuma mau kerja ringan, salah tempat. Busur recurve itu tidak main-main. Kamu kelihatan bisa jatuh kalau kena angin."

Ning menahan napas. "Saya bisa membantu administrasi dulu."

"Administrasi sudah penuh." Pak Agus melirik jam. "Saya kasih ongkos pulang saja."

Sebelum Ning sempat menjawab, suara Felix meledak dari pintu masuk.

"Ci Ning?! No way! Kian, lihat! Tutor lo ternyata hidden NPC di sini!"

Pak Agus langsung berubah.

Kian masuk bersama Felix, Sean, dan Yuga. Beberapa langkah di belakang mereka, Kevin berjalan dengan Jovi. Kehadiran Kevin membuat staf klub yang tadi santai tiba-tiba berdiri lebih tegak.

"Tuan Kian," sapa Pak Agus cepat. "Pak Kevin. Selamat sore."

Kian menatap Ning. "Lo kerja di sini?"

"Shift sementara," jawab Ning.

Felix langsung bersiul. "Gila, multitasking. Tutor, penyelamat polisi, sekarang anak panah."

Pak Agus tersenyum kaku. "Ternyata Mbak Ning kenal Tuan Muda. Kalau begitu, tentu bisa mulai hari ini. Honor akan saya sesuaikan."

Ning menatap perubahan sikap itu tanpa komentar.

Kian mendengus. "Barusan mau diusir?"

Pak Agus berkeringat tipis. "Bukan begitu, Tuan Muda. Saya hanya memastikan kemampuan."

"Pastikan yang benar," kata Kian.

Kalimat itu pendek, tetapi cukup membuat Pak Agus mengangguk berkali-kali.

Ning ingin menegur Kian agar tidak terlalu menekan orang, tetapi di saat yang sama hatinya menghangat. Anak itu membelanya dengan cara yang sangat tidak halus.

Malam turun pelan di area outdoor klub. Setelah latihan ringan, pihak klub menyiapkan area barbeque kecil untuk anggota VIP. Ada sate ayam, jagung bakar, sosis, dan kue beras panggang. Felix dan Yuga sibuk berdebat soal saus. Sean memanggang dengan serius seperti sedang ujian praktik. Kian berdiri di dekat panggangan, wajahnya tetap dingin, tetapi tangannya bekerja paling rapi.

Ia mengambil satu tusuk kue beras yang sudah matang, lalu hendak meletakkannya di piring sendiri.

Ning mendekat pelan. "Kian."

"Apa?"

"Pak Kevin belum makan."

Kian langsung mengerutkan kening. "Terus?"

"Kamu yang memanggang. Beri satu."

"Dia punya tangan."

"Tapi kamu anaknya."

Kalimat itu keluar terlalu natural.

Kian menatapnya. Ning baru sadar ia hampir melewati batas, tetapi Kian tidak marah. Ia hanya memalingkan wajah, lalu dengan gerakan kasar menaruh tusuk kue beras itu ke piring kecil dan berjalan ke arah Kevin.

"Ini."

Kevin menatap piring itu.

Jeda terlalu panjang.

Kian terlihat menyesal sudah datang. "Kalau gak mau, ya sudah."

Kevin mengambilnya. "Terima kasih."

Kian berdiri kaku. Kevin tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu mulai dari mana. Ia memegang tusuk kue beras itu dengan cara yang canggung, hampir seperti orang yang tidak pernah makan langsung dari tusuk.

Felix yang melihat dari jauh berbisik, "Pak Kevin terlihat seperti sedang rapat dengan makanan."

Kian mendengar. Wajahnya langsung panas. "Pak Kevin bahkan gak tahu cara makan begini."

Kevin diam.

Kian juga diam setelah menyadari ucapannya terlalu tajam.

Ning melihat Kevin menurunkan tangan perlahan. Hatinya ikut sakit. Dua orang itu saling menyayangi, tetapi setiap kata selalu berubah menjadi duri sebelum sampai.

Untuk memecah suasana, Sean mengusulkan lomba panahan kecil.

"Kian lawan Pak Kevin, biar seru."

"Gue gak lawan dia," kata Kian cepat.

Kevin meletakkan piring. "Tidak perlu."

Felix langsung menunjuk Ning. "Ci Ning aja! Katanya pernah pegang busur, kan?"

Pak Agus tampak ragu. "Untuk keamanan..."

Kian meliriknya. "Bukannya tadi mau memastikan kemampuan?"

Pak Agus tersenyum tegang. "Tentu. Silakan."

Ning sebenarnya ingin menolak.

Terlalu banyak mata. Terlalu banyak risiko. Kevin baru saja meminta Jovi menyelidiki panahannya, dan jika ia menunjukkan terlalu banyak, semua akan makin sulit dijelaskan.

Namun saat tangannya menyentuh busur, tubuhnya mengingat.

Ning dulu belajar memanah bukan untuk bertanding. Ia belajar karena ayahnya suka olahraga yang melatih napas. Saat hidupnya hancur, memanah menjadi satu-satunya cara ia mengingat bahwa tangan yang gemetar pun bisa kembali stabil.

Ia berdiri di garis tembak.

Kevin yang semula hendak pergi berhenti.

Ning mengangkat busur.

Jari menarik tali.

Napas masuk.

Tahan.

Lepas.

Anak panah pertama melesat dan menancap tepat di lingkaran sepuluh.

Felix berteriak. "Anjir!"

Yuga hampir menjatuhkan minuman. Sean berdiri lebih tegak. Kian menatap papan sasaran, lalu menatap Ning seperti baru melihatnya untuk pertama kali.

Pak Agus membuka mulut. "Itu... kebetulan bagus."

Ning menembakkan anak panah kedua.

Sepuluh.

Lebih dekat ke tengah.

Suasana berubah sunyi.

Kevin tidak melihat papan. Ia melihat tangan Ning. Siku yang sedikit turun sebelum melepas. Cara jari kirinya merapikan pegangan. Gerakan kecil pada bahu setelah anak panah lepas.

Sama.

Terlalu sama.

Anak panah ketiga melesat.

Tepat di pusat lingkaran.

Felix melompat. "Ci Ning gila! Literally gila!"

Kian mendekat ke sasaran, menatap tiga anak panah itu. "Lo bilang pernah pegang busur. Ini namanya pernah hidup di arena panahan."

Ning menurunkan busur. "Saya hanya beruntung."

"Tiga kali beruntung berarti kemampuan," balas Kian.

Ning terdiam.

Itu kalimatnya sendiri dari ruang belajar.

Kian menyadari itu, lalu cepat memalingkan wajah. "Jangan geer."

Kevin akhirnya mendekat. "Di mana kamu belajar?"

Ning menggenggam busur lebih erat. "Dulu. Klub kecil. Sudah lama."

"Namanya?"

"Saya lupa." Itu kebohongan yang buruk, tetapi ia tidak punya pilihan.

Mata Kevin semakin dalam.

Malam itu, setelah klub mulai sepi, Kian duduk di bangku luar bersama Ning. Anak-anak lain sedang mengambil minum. Kevin berbicara dengan Pak Agus tidak jauh dari mereka.

Kian tiba-tiba berkata, "Pak Kevin sayang banget sama mama gue."

Ning berhenti.

"Dia gak pernah nikah lagi," lanjut Kian, menatap lapangan gelap. "Setiap malam dia nonton video lama sebelum tidur. HP dia cuma ada empat foto perempuan itu. Empat. Bayangin, orang sekaya dia, hidupnya kalah sama album galeri anak SMP."

Suara Kian terdengar mengejek, tetapi matanya tidak.

"Kamu tahu dari mana?"

"Gue lihat." Kian menunduk. "Waktu kecil. Kadang dia ketiduran di ruang kerja. Videonya masih nyala."

Dada Ning terasa penuh sampai sakit.

Kevin masih mengingatnya.

Enam belas tahun.

Ia kira dirinya hanya menjadi luka. Ternyata ia juga menjadi alasan pria itu terus menunggu.

"Dia orang yang sangat setia," bisik Ning.

Kian menoleh cepat. "Lo jangan jatuh cinta sama dia."

Ning hampir tertawa dan menangis bersamaan. "Kenapa?"

"Nanti ribet."

"Kalau begitu..." Ning menatap Kian, keberanian aneh tiba-tiba muncul dari tempat yang hangat di dadanya. "Bagaimana kalau saya ditakdirkan jadi ibu tirimu?"

Kian membeku. "Apa?"

Ning tidak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena terlalu bahagia mengetahui Kevin masih mencintainya. Mungkin karena Kian duduk terlalu dekat dan untuk sekali ini tidak mendorongnya pergi.

Ia memeluk Kian dari samping, ringan tetapi sungguh-sungguh.

"Saya sepertinya ditakdirkan jadi ibu tirimu."

"Lepas!" Kian langsung panik. "Lo gila, ya?"

Felix yang baru datang hampir menjatuhkan gelas. "WOI! Plot twist!"

Ning tertawa pelan. Kian mengomel panjang, tetapi tubuhnya tidak benar-benar menjauh.

Dari kejauhan, Kevin melihat adegan itu.

Ia tidak tersenyum.

Tapi matanya tidak pernah lepas dari Ning.

Malamnya, di ruang kerja Menteng Enclave, Kevin berdiri di depan jendela dengan ponsel di tangan.

Panggilan tersambung setelah dering ketiga.

"Kevin?" Suara Yenni terdengar heran. "Ada apa malam-malam?"

Kevin menatap tiga foto hasil rekaman CCTV klub yang baru dikirim Jovi. Di layar, Ning sedang menarik busur.

Posturnya membuat dadanya terasa begitu sesak.

"Yenni," ucapnya rendah. "Kamu masih ingat... Ning dulu pernah belajar memanah?"

Di seberang sana, tidak ada jawaban.

Sunyi itu berlangsung begitu lama sampai Kevin mendengar napas Yenni mulai bergetar.

"Kenapa," bisik Yenni akhirnya, "kamu tiba-tiba menanyakan itu?"

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!