Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Atas permintaan David, perawat segera memindahkan brankar medisnya ke kamar perawatan VIP yang sama dengan Mili, memastikan kedua ranjang berdekatan.
Mili yang masih belum sepenuhnya pulih dari efek sisa obat bius dan kelelahan hebat akhirnya tertidur pulas di ranjangnya.
Napasnya terdengar teratur dan raut wajahnya tampak begitu damai di bawah pendar lampu ruangan yang temaram.
David menatap wajah istrinya beberapa saat dengan penuh kehangatan, sebelum tatapan matanya berubah dingin dan tajam.
Ia memutar kepalanya, menatap Jonas yang berdiri siaga di dekat pintu.
"Jonas," panggil David dengan suara rendah yang tegas agar tidak membangunkan Mili.
Jonas melangkah mendekat dengan langkah tanpa suara.
"Ya, Tuan?"
"Bagaimana keadaan Andrew?" tanya David, intonasinya menusuk tanpa sedikit pun rasa kasihan pada saudara kandungnya sendiri.
Jonas menegakkan posisinya, menyusun laporan dengan cepat.
"Kondisi Tuan Andrew sudah stabil setelah menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan peluru dari pahanya, Tuan. Namun, akibat tembakan Anda yang mengenai jaringan saraf di pahanya, dokter menyatakan beliau akan mengalami kelumpuhan permanen pada kaki kanannya. Saat ini Tuan Hermawan dan Nyonya Gea sedang mendampinginya di ruang perawatan intensif RS Husada"
David menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kejamnya pembalasan.
Rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan nyawa Mili yang hampir melayang ke Dubai.
"Bagus," bisik David dingin.
"Laporkan dia atas penculikan dan penjualan wanita."
Jonas mendengarkan dengan saksama tanpa menyela.
"Pastikan semua bukti dari CCTV bandara, keterangan saksi, hingga dokumen transaksi ilegal yang ia siapkan diserahkan ke kepolisian," lanjut David dengan tatapan mata yang membakar.
"Dia harus membayarnya dengan mahal. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi dengan kaki pincang itu."
Jonas menganggukkan kepalanya dengan patuh dan penuh hormat.
"Baik, Tuan. Saya akan urus semuanya malam ini juga agar proses hukumnya segera berjalan tanpa ada celah untuk keluarga Hermawan melakukan intervensi."
Jonas melangkah tegap menyusuri koridor rumah sakit, didampingi oleh lima anggota kepolisian berpakaian dinas lengkap.
Langkah kaki mereka yang mantap menimbulkan gema tegas, menarik perhatian para perawat dan pengunjung yang melintas.
Tujuan mereka hanya satu: kamar VIP tempat Andrew dirawat.
Brak!
Pintu kamar terbuka lebar. Papa Hermawan yang sedang duduk di samping ranjang Andrew seketika berdiri dengan wajah tegang.
Matanya membelalak panik melihat rombongan polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam ruangan.
"Apa-apaan ini?!" bentak Papa Hermawan dengan suara bergetar menahan amarah dan terkejut.
Jonas maju satu langkah, berdiri paling depan dengan tatapan dingin tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Maaf, Tuan Hermawan. Ini perintah Tuan David," ucap Jonas dengan intonasi yang tegas dan lugas.
"Kami di sini mendampingi pihak kepolisian untuk membawa Tuan Andrew atas tuduhan kasus penculikan dan penjualan wanita secara ilegal."
Mendengar hal itu, Andrew yang masih terbaring lemas dengan kaki kanan terbungkus perban tebal seketika pucat pasi. Ketakutan luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Pa! Tolong aku, Pa! Aku nggak mau masuk penjara!" jerit Andrew histeris, mencoba menggerakkan tubuhnya meski rasa nyeri di pahanya menjalar hebat.
"Usir mereka, Pa! Tolong aku!"
"Kamu tidak bisa melakukan ini pada anakku, Jonas! David sudah keterlaluan!" teriak Papa Hermawan, mencoba menghadang petugas yang mulai mendekati ranjang Andrew.
Seorang perwira polisi maju menahan dada Papa Hermawan dengan tangan kokohnya.
"Harap tenang, Tuan. Kami memiliki surat perintah penangkapan resmi serta bukti-bukti yang sangat kuat. Jika Anda mencoba menghalangi, Anda juga bisa dikenakan pasal perintangan penyidikan."
Papa Hermawan bungkam seketika, tubuhnya gemetar hebat melihat borgol logam berkilat di tangan petugas.
Ia tak lagi punya kekuatan untuk melawan hukum dan pengaruh kekuasaan David yang terlampau besar.
Petugas dengan sigap memindahkan Andrew ke atas kursi roda. A
Andrew terus meronta dan menangis ketakutan, memohon-mohon pada ayahnya, namun usahanya sia-sia.
"Pa! Tolong aku, Paaa!" jeritan Andrew menggema di sepanjang koridor saat polisi mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan, meninggalkan Papa Hermawan yang berdiri terpaku, hancur melihat masa depan anak kesayangannya sirna dalam sekejap.
Jonas melangkah masuk ke dalam kamar VIP dengan gerakan tanpa suara.
Ia mendekati ranjang David dan membungkukkan badan sedikit, menyampaikan laporan dengan suara berbisik yang sangat pelan.
"Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, Tuan. Tuan Andrew sudah resmi ditahan oleh pihak kepolisian dari rumah sakit. Tuan Hermawan tidak mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya," lapor Jonas singkat dan tegas.
David hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata yang dingin.
"Bagus. Pastikan tidak ada celah bagi mereka untuk mengajukan penangguhan penahanan."
"Baik, Tuan," balas Jonas menunduk hormat, lalu perlahan mundur dan keluar dari ruangan untuk menjaga pintu luar.
Suasana kamar kembali hening. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Dari ranjang sebelah, terdengar erangan halus yang semakin lama semakin penuh kecemasan.
Mili mulai bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi kening dan pelipisnya.
Wajahnya meringis menahan ketakutan yang luar biasa saat bayangan tangan misterius yang membekap mulutnya kembali hadir di dalam mimpi buruknya.
"N-nggak... lepaskan... David... tolong..." igau Mili dengan napas yang mulai tidak teratur.
Melihat kondisi istrinya, David tidak tinggal diam. Mempertaruhkan rasa nyeri berdenyut yang menusuk di kepalanya, David bangkit dari tempat tidur.
Ia mengabaikan selang infus yang tertarik keras dan melangkah cepat mendekati ranjang Mili.
"Sayang... bangun, Sayang. Ini aku," bisik David lembut seraya menggoyang pelan bahu istrinya.
"Bangun, kamu cuma mimpi buruk."
"DAVID!!"
Mili menjerit kencang saat matanya mendadak terbuka lebar.
Dengan napas tersengal-sengal dan dada yang naik turun hebat, Mili langsung menghambur bangkit dan memeluk leher David dengan sangat erat.
Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, menangis terisak-isak meluapkan rasa takut yang masih tersisa.
David merengkuh tubuh Mili yang gemetar, mengusap punggung istrinya dengan lembut sembari memberikan kecupan-kecupan menenangkan di puncaknya.
"Aku di sini, Sayang... Aku di sini. Kamu sudah aman."
Mili memeluk leher David semakin erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, pria itu akan menghilang.
Isak tangisnya yang sesenggukan perlahan memecah keheningan kamar RS VIP yang remang-remang.
"Aku... aku takut sekali, David," bisik Mili dengan suara parau yang bergetar hebat.
"Di mimpi itu... tangan itu kembali membekapku. Aku dipaksa masuk ke dalam kegelapan dan aku terus memanggilmu, tapi kamu nggak ada..."
David memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gejolak emosi dan rasa bersalah yang mencubit dadanya.
Dengan sangat hati-hati, ia melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Mili, menarik tubuh mungil istrinya agar semakin rapat dalam dekapan hangatnya.
Ia tidak peduli pada selang infus di tangannya yang tertekuk atau rasa pening luar biasa yang kembali menghentak kepalanya.
"Ssshh... sudah, Sayang. Itu cuma mimpi buruk," bisik David lembut tepat di samping telinga Mili.
Ia mengecup pelipis istrinya berulang kali, meresapi aroma tubuh Mili yang selalu mampu menenangkan jiwanya.
"Aku di sini. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu atau membawamu pergi lagi dariku. Aku bersumpah."
Mili melonggarkan pelukannya perlahan. Jemari tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh lembut perban putih yang melingkar di kepala David.
Air matanya kembali menetes saat mengingat betapa nekatnya David menabrakkan mobil ke jet pribadi demi menyelamatkannya.
"Kepalamu... masih sakit?" tanya Mili lirik, menatap mata hitam pekat suaminya yang sarat akan rasa cinta dan dominasi.
David menyunggingkan senyum tipis yang begitu tampan, membawa telapak tangan Mili ke pipinya.
"Sakitnya langsung hilang begitu aku melihatmu sadar dan memelukku seperti ini."
Mili memukul dada David secara refleks—sangat pelan hingga tak menyakiti pria itu.
"Masih sempat-sempatnya gombal dalam kondisi begini," gerutu Mili sambil menghapus sisa air mata di pipinya, walau sudut bibirnya akhirnya terangkat membentuk ukiran senyum tipis.
"Aku serius, Sayang," balas David dengan intonasi yang mendadak berubah dalam dan posesif. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Mili yang agak pucat.
"Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku walau cuma satu langkah. Paham?"
Mili menatap kedalaman mata suaminya, menemukan rasa perlindungan yang teramat besar di sana.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Mili menyandarkan kepalanya di dada bidang David, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak teratur dan menenangkan.
"Iya, David. Aku menurut," bisik Mili pasrah namun penuh rasa hangat yang membuncah di dadanya.