Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Surat Izin Kawin
Tiga minggu setelah Laras masuk ke rumah Adiprawira, mesin antrean Dukcapil mencetak nomor yang akhirnya terasa seperti pintu.
Petugas perempuan yang pernah melayaninya menyerahkan KTP elektronik baru setelah Laras memeriksa nama, NIK, tempat lahir, dan alamat yang sudah diperbarui secara sah.
"Simpan baik-baik," pesan petugas itu. "Kalau ada pihak lama meminta data atau menahan dokumen lagi, jangan diberikan. KTP ini milik Ibu."
Laras memegang kartu tersebut dengan kedua tangan.
Foto di permukaannya sederhana. Tidak ada yang istimewa bagi orang lain. Namun selama bertahun-tahun, identitasnya selalu disimpan, diubah, atau dipakai orang lain untuk mengendalikan geraknya. Sekarang namanya berada di telapak tangannya sendiri.
"Terima kasih," katanya, suaranya hampir pecah.
Bram menunggu di luar garis pelayanan. Ia tidak mengambil kartu itu ketika Laras keluar. Ia hanya melihat wajahnya dan bertanya, "Semua data benar?"
"Benar."
"Bagus."
"Kamu tidak mau melihat?"
"Kalau kamu mau menunjukkan."
Laras menyerahkannya. Bram memeriksa seperlunya, lalu segera mengembalikan.
"Selamat, Larasati Purnama," katanya. "Sekarang negara juga tahu kamu sulit diperintah."
Laras tertawa kecil. "Negara tidak perlu tahu bagian itu."
***
Dengan KTP baru, tahap akhir litsus bergerak lebih cepat.
Catatan dari daerah asal mengonfirmasi Laras pernah berada dalam kartu keluarga Pak Rusdi tanpa penetapan adopsi resmi. Laporan tempat kerja, ijazah salinan, keterangan teman lama, dan hasil wawancara mendukung riwayat bahwa ia pergi untuk menyelamatkan diri dan bekerja mandiri. Tidak ditemukan keterlibatan pidana, utang tersembunyi, atau organisasi terlarang.
Kesimpulan pemeriksaan mencatat satu kalimat penting: `Yang bersangkutan teridentifikasi sebagai korban eksploitasi keluarga, bukan pelaku.`
Bram membacanya di ruang Letkol Wibowo.
Atasannya, lelaki berusia sekitar lima puluh dengan pembawaan tenang, menutup map setelah memastikan semua tanda tangan lengkap.
"Kamu paham menikah dengan korban kekerasan memerlukan kesabaran lebih dari sekadar niat melindungi?" tanya Letkol Wibowo.
"Paham, Komandan."
"Jangan jadikan perlindungan alasan mengambil semua keputusan untuknya."
"Siap."
"Dan jangan membuat satuan menjadi pagar untuk masalah pribadi. Kalau ayah angkatnya muncul, tempuh jalur polisi."
"Siap."
Letkol Wibowo menandatangani surat izin kawin, lalu mendorongnya ke depan Bram.
"Kalau begitu, saya setujui. Jaga nama satuan dengan rumah tangga yang sehat, bukan dengan pencitraan."
Bram berdiri dan memberi hormat. "Terima kasih, Komandan."
Di koridor, ia memotret bagian nomor surat dan mengirimkannya kepada Laras. Tidak sampai sepuluh detik, balasan masuk.
`Jadi sekarang aku resmi diizinkan menikahi tentara keras kepala?`
Bram mengetik.
`Terbalik. Saya yang baru diizinkan menikahi perempuan keras kepala.`
Tiga titik muncul lama, lalu Laras mengirim satu emotikon mendelik.
***
Proses berikutnya berlangsung di KUA sesuai domisili.
Bram dan Laras menyerahkan berkas identitas, surat pengantar, izin dari satuan, hasil pemeriksaan, serta dokumen lain yang diminta. Penghulu menjelaskan jadwal akad, wali hakim karena wali nasab Laras tidak diketahui, saksi, mahar, dan pencatatan buku nikah.
Laras mendengarkan dengan punggung tegak. Saat istilah `wali hakim` disebut, jemarinya mencengkeram map. Tidak punya ayah kandung yang diketahui mendadak terasa lebih nyata di meja pelayanan.
Bram tidak membuat adegan. Ia hanya menggeser tangannya di bawah meja dan menyentuh sisi kelingking Laras. Kontak kecil yang bisa ditolak kapan saja.
Laras membiarkan jari mereka bertaut.
"Ada yang ingin ditanyakan?" ujar penghulu.
"Tidak," jawab Laras. "Saya mengerti."
Sebelum berkas dinyatakan lengkap, petugas meminta berbicara dengan Laras tanpa Bram selama beberapa menit. Bram keluar tanpa keberatan.
"Keputusan menikah ini atas kemauan Ibu sendiri?" tanya petugas.
"Ya."
"Ada tekanan karena tempat tinggal, uang, atau status calon suami sebagai prajurit?"
Laras mempertimbangkan jawaban dengan jujur. "Keadaan saya membuat keputusan ini datang cepat. Tapi dia memberi pilihan untuk tidak menikah, tempat aman sementara, dan bantuan hukum. Saya tetap memilih menikah."
"Ibu tahu hak untuk menolak atau menunda tetap ada sampai akad?"
"Saya tahu."
Petugas mencatat jawabannya. Bagi Laras, pertanyaan itu tidak menghina. Justru untuk pertama kalinya sebuah lembaga memastikan keputusannya berasal dari mulutnya sendiri, bukan dari lelaki yang berdiri di samping.
Setelah Bram dipanggil masuk kembali, pembicaraan beralih pada mahar.
"Saya tidak ingin sesuatu yang memberatkan," kata Laras.
Bram memandangnya. "Apa yang kamu inginkan?"
Laras sempat berpikir tentang emas atau uang. Kemudian pandangannya jatuh pada tangan sendiri, tangan yang ingin terus menggambar.
"Perlengkapan kerja yang sudah kamu belikan dan satu cincin sederhana," jawabnya. "Yang utama dicatat sesuai kesepakatan dan aturan."
Penghulu tersenyum. "Mahar harus jelas dan disetujui. Sederhana tidak mengurangi nilainya."
Bram mengangguk. "Saya setuju."
Di luar KUA, Laras bertanya mengapa ia tidak menawar mahar lebih besar.
"Karena kamu meminta sesuatu yang kamu pilih," jawab Bram. "Kalau saya ingin memberi lebih, itu urusan setelah menikah, bukan harga untuk mendapatkan persetujuanmu."
Jawaban itu kembali membuat Laras kehabisan bahan untuk berdebat.
Tanggal yang tersedia paling masuk akal jatuh pada minggu berikutnya. Pak Hardjono dan Bu Rahayu menyetujuinya setelah memeriksa kesiapan keluarga, masjid, dan pencatatan. Mereka memilih akad sederhana disusul resepsi keluarga dan warga kompleks.
Tidak ada pesta berlebihan. Laras justru lega. Semua langkah dicatat tanpa jalan pintas.
Pada hari yang sama, Bram menerima hasil pemeriksaan internal soal informasi KTP yang disebut Tania. Tidak ditemukan akses ilegal dari petugas Dukcapil atau tim litsus. Informasi itu kemungkinan disusun dari percakapan warga, kenalan tempat kerja lama, dan pengamatan Tania sendiri.
Kesimpulan tersebut tidak membuat tindakannya benar, tetapi menutup kekhawatiran bahwa data resmi Laras bocor. Bram menyimpan catatan kejadian dan meminta keluarga tidak lagi membicarakan tahap dokumen di luar rumah.
***
Sore itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah.
Pak Hardjono memegang salinan hasil litsus. Ia membacanya sekali lagi, lalu meletakkan map di meja.
"Saya berjanji memberi restu kalau pemeriksaannya bersih," katanya. "Hasilnya jelas. Laras tidak membawa masalah. Dia membawa luka yang dibuat orang lain. Itu berbeda."
Laras menahan napas.
Pak Hardjono menatapnya. "Saya restui pernikahan ini."
Beban yang selama berminggu-minggu berada di bahu Laras runtuh sekaligus. Kinan memeluknya dari samping. Gilang bersorak sebelum diingatkan agar tidak berlebihan. Mas Bas mengangguk kepada Bram, sementara Bulik Endah sudah membuka daftar persiapan.
Bu Rahayu duduk di dekat Laras dan menggenggam tangannya.
"Mulai sekarang jangan merasa kamu menumpang," katanya. "Kamu calon anak kami."
Kata `anak` membuat mata Laras panas. Ia menunduk agar air mata tidak jatuh.
"Terima kasih, Ibu."
Bu Rahayu mengusap punggung tangannya. "Bukan Bu Dokter, bukan nyonya rumah. Ibu saja."
"Iya, Ibu."
Bu Rahayu tersenyum, hangat tanpa sisa keraguan.
"Minggu depan, kita nikahkan kalian, Nak."