NovelToon NovelToon
Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Pesonaku Menarik Duda Samping Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.

​Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.

​Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.

​Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amanat! pergi bareng Cakra

​"Astagfirullah Tar! Kamu itu cewek loh, kok pake bajunya gitu sih?" Ucap Buk Hayati kesal setengah mati begitu melihat cara berpakaian Tara.

​Tara hanya memakai kaos gombrang dan celana kolor abu-abu. Dengan rambut diikat seikhlasnya, tanpa ada polesan riasan sedikit pun.

​"Ada apa sih buk? Ini gayaku loh." Ucap Tara bodo amat dengan penampilannya.

​"Tar, mbok ya pake gamis... kalo ndak ya rok, biar anggun Tar." Ucap Buk Hayati tak habis pikir memandangi gaya santai anaknya.

​Tara menghembuskan nafas pelan, memutar bola matanya.

​"Pantes ndak ada yang mau sama kamu, wong cara berpakaianmu saja begitu." Tutur Buk Hayati lagi semakin menjadi-jadi mengomeli sang anak.

​"Ada apa sih buk? Kok ya ribut." Tanya Pak Anton yang baru tiba di ruang tengah dengan pakaian rapinya.

​"Nih pak! Lihat anak gadismu... nggak ada anggun-anggunnya sekali." Tunjuk Buk Hayati pada sang putri.

​Pak Anton beralih melihat pada anak perempuannya dari atas sampai bawah.

​"Tar! Kita mau keluar, ke pasar malam... dingin! Maunya jangan pake baju begitu toh." Ucap Pak Anton pelan, lembut menasihati.

​Tara memanyunkan bibirnya, merasa diserang dari dua sisi. "Yaudah Tara ndak jadi ikut lah, males juga." Jawabnya merajuk.

​Pak Anton dan Buk Hayati saling pandang.

​"Ayok ikut Tar! Tapi ganti dulu bajumu. Jangan begitu, kamu ini anak perempuan... mbok yang kemayu dikit di liat." Ucap Pak Anton lagi, kali ini dengan nada yang tak mau dibantah.

​"Iya! Kalau kamu ndak punya gamis... ibuk ada gamis, banyak di lemari... modelnya juga baru-baru semua." Ucap Buk Hayati memberi solusi antusias.

​Tara makin kesal mendengarnya.

​'Idih pake gamis, itu bukan gayaku ya' batinnya kesal membayangkan dirinya memakai gaun lebar itu.

​"Yaudah, tara ganti... tapi males, pake gamis. Emangnya mau pengajian." Protesnya, menyindir Buk Hayati yang malam itu tampil anggun memakai gamis dan jilbab senada.

​Buk Hayati hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang membangkang. "Tuh anakmu ya gitu, kalau dikasi tau, ngelawan... Ayah sih, terlalu manjain." Ucap Buk Hayati, mencubit pinggang suaminya gemas.

​"Eh' sakit buk... kan Tara anakmu juga, ibuk ikut manjain juga." Keluh Pak Anton mengusap pinggangnya yang menjadi korban.

​Sementara itu, Tara yang kini sudah kembali ke kamar, membuka lemarinya lebar-lebar. Dia mencari-cari baju mana yang nyaman dia pakai tapi tetap masuk akal untuk jalan keluar. Dan pilihannya jatuh kepada celana cargo panjang dan kaos putih lengan panjang yang di bagian telapak tangan melebar seperti terompet.

​Tara dengan cepat memakai baju itu, kemudian disusul memakai sedikit bedak juga liptint, pemerah bibir yang tipis. Setelah itu Tara mencatok singkat rambut pirangnya agar lebih ber-volume, agar lebih kemayu, agar lebih nona-nona.

​Setelah yakin penampilannya sempurna, Tara membuka pintu kamar dengan percaya diri. Namun, Tara terkejut saat mendapati Cakra tengah terduduk di ruang tamu. Pria itu sangat fokus menatap layar HP-nya. Sampai saat dia mendengar pintu kamar Tara terbuka, Cakra mendongak.

​Pria itu tertegun, melihat penampilan Tara yang begitu memesona sampai membuatnya jadi ser-serran di tempat duduknya.

​"Mas Cakra? Ada apa?.." Tanya Tara heran, kepalanya lalu menoleh ke arah dapur, mencari keberadaan Ayah dan Ibuknya yang mendadak sepi.

​"Em! Bapak sama Ibuk, karo Candra sudah berangkat deluan. Bapak nitip pesan, sampean pergi sama saya Mbak." Ucap pria itu hati-hati, menyampaikan amanat dari orang tua Tara.

​Tara tak percaya dengan pendengarannya. Gadis itu berjalan ke arah depan, melihat garasi mobil ayahnya yang ternyata sudah kosong melompong.

​'Wah jahat! Aku ditinggalin, disuruh berangkat bareng duda lagi, ndak takut anaknya diculik duda apa' batin Tara menjerit kesal atas persetujuan terselubung keluarganya.

​"Ayo mbak! Berangkat." Ucap Cakra berdiri, mencoba sesantai mungkin menguasai rasa canggungnya.

​Tara berbalik, berdiri di ambang pintu. "Aku bawa motor sendiri lah mas..." ucapnya menolak halus ajakan boncengan itu.

​Cakra tersadar, dia paham bagaimana rasanya jadi Tara. Pasti tidak nyaman jika harus berboncengan rapat dengannya. "Ya sudah kalau gitu, biar saya ikutin dari belakang." Tawar Cakra memberi ruang.

​Tara mengangguk setuju. Keduanya lantas berjalan keluar bersama. Tara tak lupa mengunci pintu rumah, lalu menyimpannya di dalam pot bunga seperti biasa.

​Setelah itu gadis itu berjalan ke garasi, mengeluarkan motornya. Sedangkan Cakra, pria tampan itu menuju jalan, di mana motor CBR hitam lurik merah miliknya terparkir gagah.

​Namun, Cakra menunggu cukup lama. Kenapa Tara tak menaik-naiki motornya juga di dalam garasi?

​Dengan penasaran Cakra turun dari motor lalu mendekat ke area garasi rumah Pak Anton.

​"Ngopo mbak?" Tanyanya melihat Tara yang berjongkok.

​Tara menoleh dengan raut wajah melas. "Bannya bocor!" Jawab wanita itu lemah.

​Cakra ikut terduduk tepat di samping Tara untuk mengecek kondisi ban motor tersebut. Saat jarak mereka terkikis rapat, aroma parfum Cakra yang segar dan menenangkan langsung menembus hidung Tara.

​'Ya Allah, Mas Cakra wangi banget!' Batin Tara menjerit ampun, mendadak terpesona oleh wangi maskulin di sebelahnya.

​"Oh iya! Ini bocor. Kayanya ndak bisa dipake dulu." Ucap Cakra setelah menekan permukaan ban.

​Cakra lantas menoleh ke arah samping. Detik itu juga, mata pria itu bersitobrok langsung dengan mata Tara. Jarak wajah mereka kini sangat dekat, hanya berkisar beberapa senti saja. Cakra bahkan sampai mampu merasakan hembusan nafas hangat Tara yang menyapu lembut permukaan wajahnya.

​Tara berkedip dua kali, tersadar dari hipnotis tatapan itu.

​"Oh! Maaf mas..." ujarnya salah tingkah. Jantungnya yang biasanya aman dan tenang, seketika berdetak ndak jelas. Sebelumnya dia tidak pernah merasakan jantung berdisko seheboh ini hanya karena tatapan pria.

​Begitupun Cakra, merasakan hal yang sama. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bergemuruh hebat di dalam dada bidangnya.

​"Ndak- ndak papa." Jawabnya salah tingkah, seraya buru-buru mengalihkan pandangannya dari bibir merona milik Tara.

1
rurry Irianty
sengaja d kempesin pak Anton tuh tar😄
rurry Irianty
mungkin Candra bukan anak kandung Cakra,anak selingkuhan istrinya mungkin
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cerita nya bagus dan menarik
sukses slalu y 🫶🫶🫶
Siti Musyarofah
lanjut
Ummi Sulastri Berliana Tobing
ya aku mau 🤭🤭🤭
partini
aku salfok ada kata nunggang di sinopsis nya
partini: bahasa ngapak sejati ora ngapak ora kepenak 🤭
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirrr
Ummi Sulastri Berliana Tobing
lanjut 😊😊
Dewiendahsetiowati
Hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!