NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran

Udara di dalam rumah masih terasa berat, bau mesiu dan besi berkarat menyelimuti setiap sudut meski pertempuran sudah usai. Kekacauan di halaman depan perlahan dibersihkan oleh anak buah Arya dalam keheningan yang tegang—tak ada suara tertawa, tak ada percakapan santai, hanya langkah kaki teratur dan tatapan waspada yang tak pernah lepas dari sekeliling. Di ruang tengah yang kini kembali tenang, Arya duduk bersandar pada sandaran sofa kulit yang empuk, sementara Nayara berlutut di hadapannya dengan tangan gemetar memegang perban dan obat luka.

Darah masih menetes perlahan dari luka sayatan dalam di lengan kiri Arya, menembus kain kasa sementara yang dipasang terburu-buru. Namun pria itu tak sekalipun meringis atau menunjukkan rasa sakit. Matanya tak lepas menatap wajah Nayara yang basah oleh air mata, yang sesekali terhenti karena isak tangis yang ditahan.

"Jangan menangis," ucap Arya pelan, suaranya serak namun lembut. "Luka ini tidak seberapa. Sudah biasa."

"Bagi Anda mungkin biasa," jawab Nayara dengan suara bergetar, sambil membersihkan sisa darah di kulit lengan pria itu dengan hati-hati seolah ia sedang memegang benda yang paling rapuh di dunia. "Tapi bagi saya... setiap tetes darah yang jatuh itu terasa seperti menyiksa saya. Anda terluka demi saya. Dan saya tahu, ini belum berakhir. Mereka akan kembali lagi, bukan?"

Arya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau sampai mereka dihancurkan sepenuhnya. Tapi jangan khawatir... selama aku masih bernapas, kau tidak akan pernah jatuh ke tangan mereka."

Saat Nayara sedang merapikan perban terakhir, matanya tak sengaja menangkap bekas luka lama yang tersembunyi di balik lengan berotot itu—bekas sayatan tajam, bekas tembakan, hingga bekas luka bakar yang sudah mengering namun masih terlihat jelas. Rasa penasaran yang selama ini ia tahan akhirnya muncul kembali, namun kali ini bukan karena rasa ingin tahu yang sembarangan, melainkan karena rasa iba yang mendalam.

"Dari mana semua luka ini berasal?" tanyanya lirih, jari telunjuknya menyentuh bekas luka paling panjang yang melintang di lengan Arya dengan sentuhan yang begitu halus. "Apakah semua ini karena kekuasaan? Atau ada alasan lain yang jauh lebih besar?"

Arya menarik napas panjang, membiarkan udara segar masuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia menatap jendela besar yang menghadap ke arah kota Semarang yang kini mulai kembali hidup, lalu perlahan mulai bercerita—sesuatu yang belum pernah ia sampaikan pada siapa pun, bahkan pada Bima sekalipun.

"Dulu keluargaku bukan seperti ini," mulainya perlahan, matanya menerawang jauh ke masa lalu yang kelam namun tak terlupakan. "Ayahku adalah pengusaha biasa yang jujur, yang membangun bisnisnya dari nol dengan kerja keras dan kejujuran. Tapi di dunia ini, kejujuran seringkali dianggap sebagai kelemahan. Tujuh tahun lalu, kelompok yang sama yang baru saja menyerang rumah ini datang memaksa ayahku bekerja sama dengan mereka—menjalankan bisnis gelap yang merugikan banyak orang. Saat ayahku menolak, mereka tidak segan melakukan apa saja."

Suara Arya bergetar sejenak, namun ia segera menguasai diri kembali. "Mereka membakar rumah kami malam-malam. Ibu dan adik laki-lakiku tewas di dalamnya. Ayahku ditemukan tewas dengan tanda-tanda penyiksaan yang mengerikan tak lama setelah itu. Kirana yang masih remaja saat itu hampir saja ikut menjadi korban... jika aku tidak datang tepat waktu. Sejak hari itu, aku sadar bahwa hukum tidak selalu bisa melindungi orang-orang baik. Bahwa kekuatan dan kekuasaan adalah satu-satunya cara untuk melawan kejahatan yang tak tahu malu."

Nayara menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir deras tak terbendung. Ia tak pernah membayangkan bahwa di balik kekejaman yang dituduhkan pada Arya, tersimpan kisah kehilangan yang begitu menyakitkan dan ketidakadilan yang begitu pahit.

"Jadi Anda... Anda melakukan semua ini bukan karena haus kekuasaan?" tanyanya di antara isak tangis. "Anda mengambil alih organisasi ini hanya untuk melindungi orang-orang yang tidak mampu melawan?"

Arya mengangguk, matanya berkaca-kaca namun tak ada air mata yang jatuh—seolah ia sudah melatih dirinya untuk tidak lagi menangis sejak hari itu. "Aku menjadi apa yang orang-orang takuti, agar orang-orang jahat tak berani sembarangan mengganggu orang-orang tak bersalah. Aku menjadi monster di mata dunia, agar aku bisa melindungi mereka yang lemah dari cengkeraman monster yang sebenarnya. Darah yang menetes di tubuhku selama ini adalah harga yang harus kubayar untuk keadilan yang tak pernah didapatkan keluargaku."

Ia menatap lekat mata Nayara, lalu melanjutkan dengan suara yang penuh perasaan yang selama ini ia pendam rapat-rapat. "Dan saat kau datang... kau mengingatkanku pada siapa aku sebenarnya. Kau mengingatkanku bahwa di tengah kegelapan yang kuselami, masih ada cahaya yang layak diperjuangkan. Kau adalah alasan mengapa semua jejak darah ini tidak lagi terasa sia-sia."

Nayara tak sanggup lagi menahan diri. Ia merangkak mendekat, lalu memeluk Arya erat-erat, menyandarkan kepalanya di dada pria itu sambil membiarkan tangisnya meluap. "Maafkan saya... maafkan saya karena pernah mengira Anda jahat. Anda bukan penjahat, Arya. Anda adalah pahlawan yang terpaksa mengenakan topeng iblis demi menyelamatkan dunia."

Arya membalas pelukan itu seerat mungkin, membiarkan kehangatan tubuh gadis itu menghapus dinginnya masa lalu yang selalu menghantuinya. Jejak darah yang tersebar di tubuhnya bukan lagi tanda kekejaman, melainkan bukti pengorbanan yang tulus. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat akhirnya terungkap—bukan untuk meminta belas kasihan dunia, melainkan untuk menyatukan hati mereka berdua yang kini terikat oleh takdir yang tak terduga.

Namun di kejauhan, di balik bayangan gelap yang belum sepenuhnya hilang, sepasang mata mengawasi dengan penuh dendam. Kebenaran yang terungkap hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari pertarungan yang jauh lebih besar. Karena musuh-musuh Arya kini tahu bahwa kelemahan terbesarnya bukanlah harta atau kekuasaan, melainkan gadis yang kini ada di dalam pelukannya. Dan mereka tak akan segan menggunakan itu untuk menghancurkan Arya Satria sampai ke akar-akarnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!