Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Selamat pagi, teman-teman semuanya. Saya panggil teman saja, ya. Usia kita nggak jauh beda kok. Saya masih tujuh belas tahun. Perkenalkan nama saya Brigpol Ardhana dan saya bertugas di Satlantas kabupaten.”Ardhana membuka kegiatan sosialisasi pagi itu dengan memperkenalkan diri yang diselingi oleh candaan khas pria itu. Senyumnya merekah lebar, memamerkan deretan gigi rapinya yang seketika membuat beberapa siswi di barisan depan berbisik-bisik heboh.
Setelah menyapa seluruh audiens dengan santai, ia lalu memulai pemaparan materi dengan penjelasan interaktif mengenai bagaimana cara tertib berlalu lintas serta berkendara yang aman di jalan raya.
“Jadi ingat, walaupun teman-teman posisinya cuma duduk dibonceng di belakang, harus tetap memakai helm yang standar nasional, ya. Karena apa? Karena kepala kalian itu tidak ada yang menjual suku cadangnya di pasar. Kan nggak mungkin kalau kepala kalian terluka terus diganti dengan kepala ayam, kan?”
Ucapan Ardhana yang tak terduga itu spontan mengundang gelak tawa yang riuh dari ratusan siswa-siswi SMP Karya Bakti dan juga para majelis guru yang mendampingi. Semuanya duduk bersama-sama di tengah lapangan beralaskan tikar plastik panjang. Beruntung pagi itu langit sedikit berawan dan matahari tidak terlalu terik, sehingga embusan angin sepoi-sepoi membuat suasana penyuluhan terasa sangat nyaman dan tidak membosankan.
Sarah yang berdiri di belakang dekat pohon bersama papan klipnya hanya bisa melipat kedua tangan di dada. Matanya menatap lurus ke arah podium. Di dalam hati, ia tidak bisa memungkiri bahwa kemampuan Ardhana dalam berbicara di depan publik dan mencairkan suasana memang sama sekali tidak memudar sejak dulu. Pria itu selalu tahu bagaimana cara menarik perhatian orang banyak.
“Bagaimana? Dari penjelasan Ibu dan Bapak polisi tadi, apa ada yang mau bertanya?” Ardhana menurunkan mikrofonnya sedikit, membuka sesi pertanyaan bagi para murid yang ingin tahu lebih dalam.
Beberapa murid langsung berebut mengangkat tangan mereka ke atas. Sambil tersenyum, Ardhana melangkah maju beberapa tapak ke tepi panggung kecil dan memilih seorang murid perempuan yang duduk di barisan tengah untuk mengajukan pertanyaan yang pertama. Seorang panitia OSIS segera berlari mengantarkan mikrofon cadangan kepada siswi tersebut.
“Terima kasih atas kesempatannya. Perkenalkan nama saya Ratu dari kelas sembilan B. Saya mau bertanya, Pak Ardhana udah punya pacar belum?”
Pertanyaan yang melenceng jauh dari tema lalu lintas itu seketika mengundang sorak-sorai yang sangat ramai dari siswa lainnya. Lapangan mendadak riuh oleh siulan menggoda. Ardhana tertawa lepas mendengar kepolosan murid tersebut, namun ia tetap menjawabnya dengan sikap yang sangat tenang.
“Saya belum punya pacar, Dek Ratu.”
Mendengar jawaban jujur sang polisi, Ratu yang memang dikenal sebagai salah satu murid yang paling berani dan centil di sekolah itu justru semakin menjadi-jadi. Ia kembali mendekatkan mikrofon ke mulutnya tanpa rasa malu sama sekali.
“Kalau gitu, Pak Ardhana mau nggak jadi pacar saya? Eh, nggak usah pacaran deng, langsung jadi calon suami saya aja. Tinggal tunggu tiga tahun lagi sampai umur saya delapan belas tahun dan tamat SMA, kita langsung nikah, Pak!”
Siswi itu dengan berani melamar seorang polisi di depan keramaian seluruh warga sekolah. Teman-teman sekelasnya langsung bersorak heboh sembari bertepuk tangan riuh. Sementara itu, di barisan belakang, para guru ada yang tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan jenaka muridnya, dan ada juga yang geleng-geleng kepala karena heran dengan tingkat kepercayaan diri Ratu yang sangat tinggi, tak terkecuali dengan Sarah.
“Waduh, saya langsung dilamar sama adik manis ini di depan kepala sekolah,” kata Ardhana setengah menggoda dari atas podium, menanggapi dengan nada bercanda agar suasana tidak canggung.
Sarah yang mendengarnya dari kejauhan langsung mendengus pelan dengan wajah yang spontan ditekuk.
“Dasar mulut manis. Dari dulu nggak berubah, selalu jago bikin anak orang baper,” gumam Sarah sangat lirih, hampir menyerupai bisikan sinis ke arah angin.
Ardhana yang memiliki pandangan tajam rupanya bisa melihat dengan sangat jelas wajah cemberut Sarah yang berdiri tegak di belakang sana. Sambil menahan senyum kegembiraan di dalam hatinya, ia kembali mengangkat mikrofon tinggi-tinggi untuk memperjelas suaranya.
“Terima kasih banyak atas lamarannya yang luar biasa ya, Dek Ratu. Tapi mohon maaf sekali, saat ini saya harus menolaknya karena saya lagi fokus berjuang demi mendapatkan restu dari calon istri saya yang asli. Jujur, susah banget ini didapatnya. Orangnya galak dan sekarang lagi suka cemberut di belakang sana,” ucap Ardhana dengan nada penuh teka-teki.
Mendengar kalimat romantis sekaligus misterius itu, lapangan kembali dipenuhi oleh suara gemuruh penasaran dari para siswa dan guru-guru. Mereka saling berpandangan, menebak-nebak siapa sosok beruntung yang sedang diperjuangkan oleh polisi muda yang tampan itu. Semuanya sontak menoleh ke belakang, mencari sosok yang dimaksud oleh polisi muda dan tampan itu, namun tentu saja tidak tahu siapa yang dimaksud.
Jika bagi yang lain ucapan Ardhana tadi membuat meleleh, namun berbeda bagi Sarah. Kalimat itu bagaikan sebuah hantaman telak yang langsung mengarah ke dirinya. Wajahnya kembali merengut kesal karena tahu persis siapa yang dimaksud oleh pria di depan sana. Kekesalannya semakin memuncak ketika tiba-tiba Ardhana dengan sengaja mengerlingkan sebelah matanya dengan sangat jelas ke arah posisi berdiri Sarah.
Sarah seketika membelalakkan matanya, meremas kuat papan klip di pelukannya untuk menahan rasa malu yang kini membuat seluruh wajahnya terasa panas sampai ke daun telinga.
“Heh, apa-apaan dia itu! Benar-benar cari masalah di sekolah orang,” batin Sarah merutuk habis-habisan dalam hati, berulang kali membuang muka agar tidak ada guru lain yang menyadari kode-kode rahasia yang sedang dilemparkan oleh Brigpol Ardhana kepadanya.
Namun tentu saja, diantara ratusan manusia yang berada di sana, beberapa orang menyadari siapa yang dimaksud oleh Brigpol Ardhana.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor