BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ban 4. membantai gorila bercakar besi
Sesampainya di rumah, Yefan menceritakan segalanya kepada sang ibu—termasuk rencana keberangkatannya menuju Hutan Belantara Timur.
Ibu Yefan yang sedang menggilas adonan roti seketika menghentikan gerakan tangannya.
Wajahnya membeku.
Bayangan kelam berkelebat di benaknya. Ingatan tentang sang suami yang tewas di Hutan Belantara Timur kembali menyeruak begitu jelas,.
Dan kini...
Putra tunggalnya justru hendak melangkah ke tempat yang beberapa hari lalu telah merenggut nyawa suaminya.
Tentu saja ia menolak keras.
Yefan bahkan belum bisa dikatakan remaja. Meski tujuan mereka hanya menuju wilayah luar hutan, tempat itu tetaplah kawasan yang dikenal sebagai ladang pembantaian—tempat di mana manusia maupun binatang buas bisa kehilangan nyawa kapan saja.
Namun, sebelum sang ibu sempat menyuarakan penolakannya, Yefan telah mendahuluinya.
Ia meraih tangan ibunya dan menggenggam jemarinya yang masih berlumur adonan roti.
“Kami berempat membawa peta dari Kepala Desa untuk menentukan rute perjalanan. Ibu jangan terlalu cemas. Kami akan baik-baik saja.”
Tatapan Yefan begitu tegas.
Melihat binar keyakinan di mata putranya, sang ibu mendadak kelu.
Ia ingin membantah.
Ingin melarang.
Namun, entah mengapa, tidak satu pun kata mampu keluar dari bibirnya.
Pada akhirnya, dengan hati berat dan rasa enggan yang membendung di dada, ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Setelah berhasil menenangkan ibunya, Yefan mulai mengemas barang-barang yang akan dibawanya.
Ia menyiapkan busur tulang serta kuas bertinta hitam peninggalan almarhum ayahnya.
Normalnya, kedua benda pusaka tersebut hanya dapat digunakan secara maksimal oleh seorang kultivator. Namun, sebelum wafat, ayah Yefan telah menanamkan sebuah teknik khusus pada pusaka-pusaka itu sehingga garis keturunannya tetap dapat mengakses kekuatannya sebagai pelindung keluarga.
Akan tetapi, menggunakan pusaka tanpa jalur kultivasi memiliki harga yang sangat mahal.
Setiap kali Yefan memaksa pusaka tersebut untuk mengeluarkan kekuatannya, darah di dalam tubuhnya akan tersedot sebagai pengganti qi.
Semakin besar kekuatan yang digunakan, semakin banyak darah yang harus dikorbankan.
Yefan sadar betul akan konsekuensi mematikan tersebut. Sang ayah telah memperingatkannya sejak dahulu.
Namun, ia sama sekali tidak gentar.
Justru karena itulah Yefan sengaja membawa pusaka tersebut.
Ia tahu perjalanan ini tidak akan semulus yang dibayangkan.
Memiliki peta bukan berarti mereka akan terhindar dari bahaya.
Tanpa disadari, rasa takut yang selama ini mewarnai hidup Yefan perlahan mulai menguap.
Dan seiring terkikisnya rasa takut itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Detak jantung Yefan yang semula normal perlahan melambat.
Duk...
Duk...
Duk...
Semakin lambat.
Semakin tenang.
Seolah-olah jantung itu bahkan siap berhenti kapan saja.
Matahari memancar terik di atas desa, diiringi hembusan angin yang menyusup melalui sela-sela atap rumah nya yang berlubang.
Angin menerpa wajah Yefan dan mengibaskan rambutnya.
Yefan mendongak.
Pandangannya tertuju pada selembar bendera merah bergaris emas dengan pola asing yang ia pasang di atas atap sebagai penghalang terik matahari sekaligus penahan air hujan.
Namun, usaha itu nyaris sia-sia.
Lubang di atap terlalu banyak.
Cahaya matahari dan air hujan masih dapat menerobos masuk dengan leluasa.
Itu adalah hasil ulah konyol Yefan di masa lalu.
Dahulu, bendera tersebut merupakan selimut yang biasa digunakan untuk menghangatkan ibunya ketika sedang sakit pada malam musim dingin.
Namun, suatu malam Yefan mengambil bendera itu untuk menambal atap rumah mereka yang bocor.
Alih-alih marah, sang ibu justru membiarkannya.
Ia tidak tega melihat putranya sendiri kedinginan akibat angin malam yang menerobos dari atap bocor, bahkan jika itu berarti tubuhnya sendiri harus menahan dingin yang semakin menggerogoti fisiknya.
Yefan menggelengkan kepala.
Senyum getir menghiasi wajahnya saat mengenang kekonyolan masa lalu itu.
Waktu terus bergulir.
Hingga akhirnya, hari keberangkatan pun tiba.
Yunlan, Fanyun, dan Xifeng telah menunggu di halaman rumah dengan perlengkapan tempur yang telah dipersiapkan.
Yunlan membawa sebuah cambuk yang melingkar elegan di pinggang rampingnya.
Xifeng membawa sebilah pedang yang bilahnya berkilau diterpa cahaya matahari.
Sementara itu, Fanyun menggenggam sebuah kapak besar yang tampak sangat serasi dengan tubuhnya yang kekar.
Melihat ketiga kawannya telah bersiap, Yefan segera berpamitan kepada sang ibu.
Namun, sebelum melangkahkan kaki, ia melepaskan bendera merah yang terpasang di atap rumah yang bocor lalu menyampirkannya ke pundak ibunya.
Dengan begitu, setidaknya sang ibu tidak akan terlalu kedinginan ketika malam tiba.
“Yan'er, berhati-hatilah di jalan.”
Suara sang ibu terdengar lembut, tetapi sarat kekhawatiran.
“Ibu hanya memiliki Yan'er di dunia ini... Ibu akan menunggu kepulanganmu.”
Ia kemudian menyangkutkan sebuah buntalan yang lumayan besar ke pundak Yefan.
“Ini roti kesukaanmu yang Ibu buat dua hari lalu. Makanlah agar kamu tidak kelaparan di jalan.”
Sang ibu tersenyum.
Namun, senyum itu terasa begitu dipaksakan.
Ia hanya berusaha menyembunyikan kegelisahan yang terus menggerogoti hatinya.
“Baik, Bu. Aku akan menjaga diri dan pulang membawa sesuatu untuk Ibu,” jawab Yefan sambil tersenyum.
“Iya, Nak. Ibu akan menunggumu pulang... untuk melihat hadiah apa yang akan Yan'er bawakan.”
Yefan tidak menyadari bahwa keinginan terbesar seorang ibu bukanlah harta maupun kemewahan.
Bukan pula hadiah mahal yang dibawa pulang dari perjalanan jauh.
Yang ia inginkan hanyalah satu.
Kepulangan putranya dalam keadaan selamat.
Seusai berpamitan, keempat pemuda itu saling melempar tatapan mantap.
“Mari berangkat,” ucap Yefan.
“Ayo!” sahut Fanyun dengan wajah sumringah.
Benak ketiga rekannya membara oleh satu harapan.
Jika tugas ini berhasil mereka selesaikan, jalan menuju dunia kultivasi akan terbuka lebar bagi mereka.
Harapan itulah yang menjadi bahan bakar langkah mereka.
Pada pagi yang diselimuti hawa dingin menusuk tulang, keempat pemuda itu melangkah meninggalkan Desa Fulmun yang mulai dipenuhi aktivitas warga.
Mereka menyusuri jalan setapak sesuai rute yang tertera di peta, tak memedulikan keletihan yang perlahan menggerogoti tubuh.
Hari berganti malam.
Minggu berganti bulan.
Mereka telah menyeberangi Pegunungan Parid dan melompati tebing-tebing curam sebelum akhirnya menginjakkan kaki di kawasan luar Hutan Belantara Timur.
Wilayah itu dikenal sebagai arena pembantaian antarbinatang buas yang saling bertarung demi memperebutkan wilayah dan takhta penguasa.
Di sepanjang perjalanan, mereka tidak jarang berpapasan dengan kelompok-kelompok penjelajah dari luar Desa Fulmun yang memiliki tujuan serupa—mencari keberuntungan dan kesempatan untuk melangkah ke dunia kultivasi.
Namun, rombongan-rombongan tersebut sama sekali tidak sudi membuang waktu untuk menyapa Yefan dan kawan-kawannya.
Lirikan sinis serta senyum meremehkan kerap mereka lemparkan.
Di mata para penjelajah itu, Yefan dan ketiga rekannya tidak lebih dari sekumpulan pemuda miskin bertampang lusuh yang tidak layak untuk diperhatikan.
Yefan tidak ambil pusing.
Selama mereka tidak memprovokasi, ia tidak akan membuang energi untuk hal-hal yang tidak penting.
“Belok kanan.”
Yefan memimpin rombongan sembari mencocokkan arah perjalanan dengan peta.
Mereka bergegas memasuki wilayah hutan yang semakin rindang.
Pepohonan raksasa menjulang tinggi, batangnya begitu besar hingga beberapa orang dewasa harus bergandengan tangan untuk mengelilinginya. Ranting-rantingnya saling bertaut membentuk kanopi lebat yang menutupi sebagian besar langit.
Cahaya matahari hanya mampu menembus dalam bentuk garis-garis tipis di antara dedaunan.
Udara pun terasa semakin lembap.
Di kejauhan, raungan binatang buas terdengar bersahut-sahutan.
ROARRR!
Suara itu menggema di antara pepohonan, menjadi peringatan bagi siapa saja yang berani melangkahkan kaki melewati wilayah kekuasaan mereka.
Keempat pemuda itu otomatis memperlambat langkah.
Mereka menjadi lebih waspada.
Tiba-tiba...
Insting Yefan menangkap sesuatu.
Bahaya!
Tanpa mengetahui dari mana ancaman itu datang, tubuhnya telah bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Jemarinya seketika mencengkeram erat tanduk hitam legam yang terselip di pinggangnya.
Namun, sebelum Yefan sempat memperingatkan rekan-rekannya yang sedang asyik berbincang—
WUSSSHH!
Sebuah cakar raksasa melesat dari balik semak-semak di belakang mereka.
Sasarannya adalah Fanyun.
Tekanan angin yang ditimbulkan oleh sapuan cakar tersebut membuat dedaunan beterbangan dan udara berdesis tajam.
“AWAS!”
Yefan berputar secepat kilat.
Ia melangkah maju dan mengayunkan tanduk hitam di tangannya untuk menahan serangan tersebut.
BOOM!
Benturan dahsyat mengguncang hutan.
Suara benturannya menggema seperti dentangan logam raksasa yang menghantam satu sama lain.
Gelombang tekanan meledak dari titik benturan dan mengempaskan Fanyun, Yunlan, serta Xifeng yang sama sekali tidak sempat bersiap.
Ketiganya terlempar hingga sejauh sepuluh meter.
Sementara Yefan sendiri terdorong mundur tiga meter.
Kakinya menyeret tanah, meninggalkan jejak panjang.
Lengan yang digunakannya untuk menahan serangan bergetar hebat.
Kekuatan lawannya jauh di atas dirinya.
Namun, tindakan nekat tersebut berhasil menyelamatkan nyawa ketiga rekannya dari cakar maut.
Sangat kuat!
Yefan meringis dalam hati.
Fanyun, Yunlan, dan Xifeng yang semula terkejut akhirnya menyadari kenyataan mengerikan.
Mereka baru saja diseret kembali dari pintu gerbang kematian oleh Yefan.
Keringat dingin seketika membasahi tubuh mereka.
Tanpa membuang waktu, ketiganya segera bangkit dan bergerak menuju Yefan.
Mereka berdiri dalam posisi tempur.
“Apa itu...?”
Tatapan Yunlan menegang.
“Itu... Gorila Bercakar Besi!”
Di hadapan mereka berdiri seekor gorila raksasa setinggi tiga meter.
Matanya memerah karena amarah.
Monster itu menggeram sembari menahan rasa sakit pada bagian cakarnya yang tadi berbenturan dengan tanduk Yefan.
Kulitnya yang tebal dan ditutupi bulu hitam tampak begitu tangguh.
Bahkan tusukan tanduk tajam Yefan hanya mampu meninggalkan goresan tipis tanpa membuat setetes darah pun mengalir.
ROARRRR!
Gorila Bercakar Besi mengeluarkan raungan menggelegar.
Sepasang mata merahnya terkunci penuh dendam pada rombongan Yefan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Xifeng panik sembari menatap Yefan.
“Tunggu aba-aba dariku!”
Tidak ada waktu untuk berpikir panjang.
Namun, anehnya, bukannya melarikan diri ketakutan menghadapi monster sekuat itu, darah bertarung ketiga pemuda tersebut justru mulai bergolak.
Mereka memahami satu hal.
Ini adalah panggung latihan terbaik untuk mengasah kemampuan bertarung mereka.
Meski nyawa menjadi taruhannya.
Inilah keunggulan kelompok Yefan.
Mereka tidak dibesarkan di dalam “rumah kaca”.
yang terbiasa berlindung di balik kekuatan orang lain untuk menyelesaikan masalah.
Sejak kecil, mereka telah belajar menghadapi kesulitan dengan tangan mereka sendiri.
BUG!
BUG!
BUG!
Langkah kaki Gorila Bercakar Besi menghantam tanah.
Setiap pijakannya membuat tanah bergetar.
Semakin dekat.
Semakin cepat.
ROAR!
Tiba-tiba, gorila itu melompat tinggi ke udara.
Tubuh raksasanya menutupi cahaya matahari yang menembus celah dedaunan.
Kedua cakarnya terangkat tinggi sebelum dihantamkan bersamaan dari udara, berniat meremukkan keempat pemuda itu menjadi serpihan daging.
“Formasi menyilang!”
Yefan berteriak memberikan komando.
Alih-alih menghindar, Yefan justru melompat maju menyongsong dua cakar raksasa tersebut.
Tanduk hitam di tangannya diayunkan secara horizontal dengan seluruh kekuatan yang mampu ia kerahkan.
Mata merah sang gorila semakin membara saat melihat manusia yang sebelumnya melukainya justru kembali menyerang.
Namun, tepat sebelum tanduk dan cakar itu bertabrakan—
Yefan tiba-tiba mengubah arah serangannya.
SRET!
Tusukan yang semula diarahkan ke depan berbelok drastis.
Ujung tanduk hitam melesat lurus menuju mata gorila.
Pada saat yang sama, dada Yefan sengaja dibiarkan terbuka lebar.
Ia mempertaruhkan tubuhnya untuk memperoleh kesempatan menyerang titik vital lawan.
Ini adalah gaya bertarung khas Yefan.
Nyawa tukar nyawa.
Namun, Yefan tidak pernah bertindak nekat tanpa perhitungan.
Manuver menyilang Fanyun, Xifeng, dan Yunlan yang bergerak secara tiba-tiba, ditambah perubahan arah serangan Yefan yang ekstrem, berhasil membuat fokus sang gorila terpecah.
Hanya sesaat.
Tetapi satu detik sudah lebih dari cukup.
“Sekarang!”
SRET!
Cambuk Yunlan melesat dan membelit cakar kanan gorila di udara, menahannya sesaat.
Pada saat yang sama, Fanyun dan Xifeng mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk menahan cakar sebelah kiri menggunakan senjata masing-masing.
Namun, perbedaan kekuatan fisik terlalu jauh.
Urat-urat lengan Fanyun menegang.
Xifeng menggertakkan gigi.
Tetapi kekuatan mereka tetap tidak mampu menandingi monster tersebut.
Lengan gorila menghentak keras.
Fanyun dan Yunlan terseret hingga tubuh keduanya terlempar mendekati sang monster.
Di detik-detik antara hidup dan mati itu, Xifeng segera melepaskan kunciannya dan melompat menjauh, membiarkan Fanyun dan Yunlan terhempas.
Namun, kuncian beberapa detik yang mereka lakukan sudah lebih dari cukup.
Cakar gorila tertahan.
Dan kesempatan itu telah tiba.
JEP!
Gorila Bercakar Besi hanya mampu menyaksikan dengan mata yang satunya saat ujung tanduk hitam milik Yefan menusuk tepat ke mata kirinya.
CRASH!
Bola mata itu pecah.
Darah segar menyembur ke segala arah.
ROARRRR!
Gorila tersebut meraung kesakitan hingga mengguncang sekitar hutan.
Fanyun dan Yunlan segera memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat mundur.
Namun sebelum menjauh, Yunlan melemparkan ujung cambuk yang masih melilit lengan gorila ke arah Yefan.
Yefan menangkapnya.
Dalam sekejap, ia melompat turun dan menggunakan cambuk tersebut untuk membelit tubuh monster itu, mengikat kedua lengannya yang tengah mengamuk kesakitan.
“Sekarang!”
Teriakan Yefan memecah udara.
SRET!
Dari atas dahan pohon, sosok pemuda berjubah putih awan yang lusuh meluncur deras ke bawah.
Xifeng.
Ia menggenggam pedangnya erat-erat dan mengayunkannya sekuat tenaga menuju leher sang gorila.
TRANG!
Bilah pedang beradu dengan leher Gorila Bercakar Besi.
Bunga api memercik dan berhamburan di udara.
Kulit monster itu memang keras seperti baja.
Namun, Xifeng telah mengumpulkan seluruh momentum jatuh dari ketinggian sekaligus mengerahkan seluruh daya tempurnya pada bilah pedang.
“AAAARGH!”
Dengan teriakan membahana, Xifeng menekan pedangnya semakin dalam.
CRES!
Suara koyakan daging yang teriris dalam bergema di tengah hutan, membuat bulu kuduk meremang.
Tebasan itu memang belum mampu memutus leher Gorila Bercakar Besi sepenuhnya.
Namun, luka terbuka yang sangat dalam tersebut telah merusak pembuluh darah utamanya.
BRUK!
Tubuh raksasa setinggi tiga meter itu akhirnya ambruk ke tanah.
Debu beterbangan.
Tanah bergetar.
Gorila tersebut masih kejang-kejang selama beberapa saat sebelum akhirnya tubuhnya berhenti bergerak.
Mati.
Hutan mendadak hening.
Tidak ada lagi raungan.
Tidak ada lagi suara benturan senjata.
Hanya suara napas empat pemuda yang tersengal-sengal memecah kesunyian.
“Hah... hah... hah...”
Xifeng berdiri dengan tubuh berlumuran darah Gorila Bercakar Besi.
“Pertarungan yang benar-benar menguras nyawa...” gumamnya.
Fanyun hanya mampu menyeringai lebar sembari mengatur napasnya yang memburu.
Yunlan menyapu keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
“Kalau bukan karena rencana nekat Yefan, kita bertiga pasti bukan tandingan gorila brengsek ini,” gumamnya.
bersambung.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏