NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Diana di Surabaya

Penerbangan pagi Jakarta-Surabaya selalu punya aroma yang sama bagi Surya. Kopi bandara, suara koper, dan orang-orang berjas yang memegang ponsel seperti hidup mereka bisa runtuh jika satu pesan tidak dibalas dalam sepuluh detik.

Diana Santoso duduk di sebelahnya, membuka berkas elektronik di tablet. Rambutnya diikat rapi, blazer abu-abu tua menutupi tubuhnya dengan tegas, dan matanya sudah bekerja bahkan sebelum pesawat lepas landas.

"Kencana Abadi bukan lawan kecil," kata Diana tanpa melihat Surya. "Mereka punya pabrik kimia, distributor nasional, dan tim hukum yang biasa membuat pencuri terlihat seperti inovator."

Surya membuka map perkara.

Klien Sentana kali ini adalah PT Aruna Biopak, perusahaan teknologi material ramah lingkungan yang dulu pernah mereka selamatkan dari jebakan Handoko. Kali ini masalahnya lebih besar. Kencana Abadi diduga meniru formula lapisan biodegradable untuk kemasan makanan panas, lalu mendaftarkan varian kecil sebagai inovasi sendiri.

"Dokumen riset Aruna lengkap," kata Surya.

"Lengkap bukan berarti menang." Diana menoleh kepadanya. "Kasus paten bukan soal siapa yang punya dokumen lebih banyak. Ini soal siapa yang bisa bercerita lebih meyakinkan."

Surya diam, menyimpan kalimat itu.

Diana mengetuk layar tablet. "Hakim tidak bekerja di laboratorium. Mereka butuh rangkaian yang masuk akal. Kapan ide muncul, siapa menguji, bagaimana sampel keluar, siapa yang mendapat akses, lalu mengapa produk Kencana terlalu mirip untuk disebut kebetulan."

"Jadi kita bukan hanya membuktikan kemiripan."

"Kita membuktikan jalan masuk pencurian."

Pesawat bergerak di landasan. Surya menatap jendela. Dua tahun lebih lalu, ia masih pria yang diam di rumah mertua, memasak, membersihkan lantai, dan percaya sabar akan membuat orang menghargainya. Sekarang ia terbang bersama Diana sebagai Partner Muda Sentana untuk menangani sengketa paten bernilai ratusan miliar.

Hidup tidak memberi tanda saat martabat seseorang mulai tumbuh lagi. Kadang ia hanya datang sebagai boarding pass dan map perkara.

Setelah mendarat, Diana tidak langsung membawa Surya ke hotel. Mobil sewaan mereka berbelok menuju kampus Universitas Airlangga.

"Kenapa ke sini?" tanya Surya.

"Kamu alumni UNAIR. Perkara ini juga akan disidangkan di Surabaya. Aku ingin kamu ingat dari mana kamu mulai sebelum masuk ruang sidang."

Surya turun di dekat gerbang kampus. Udara Surabaya panas. Namun, ada sesuatu yang membuat dadanya longgar. Ia berjalan pelan melewati jalur yang dulu ia lewati sebagai mahasiswa hukum biasa, membawa tas punggung murah dan mimpi yang sering terasa terlalu besar untuk kantongnya.

Dulu ia sering berhenti di kantin murah, menghitung uang makan, lalu membuka buku hukum dengan keyakinan yang kadang lebih keras daripada kenyataan.

"Dulu aku di sini cuma mahasiswa biasa yang bermimpi jadi pengacara," katanya pelan. "Sekarang... aku kembali sebagai partner firma hukum."

Diana berjalan di sampingnya. "Partner muda."

Surya menoleh.

"Jangan terlalu cepat puas," lanjut Diana. "Tapi jangan pura-pura tidak naik kelas. Keduanya sama-sama tidak sehat."

Surya tertawa pendek. "Bu Diana selalu tahu cara memberi pujian dengan satu tangan dan mencambuk dengan tangan lain."

"Itu metode pendidikan terbaik."

Mereka berhenti di depan gedung fakultas hukum. Beberapa mahasiswa berjalan sambil tertawa, tidak tahu bahwa seorang pria yang dulu pernah merasa gagal sedang berdiri di sana, menyaksikan masa lalunya tanpa dendam.

Siang itu, di Pengadilan Niaga Surabaya, suasana berubah tajam.

Tim hukum Kencana Abadi datang berlima. Di depan mereka berdiri Adrian Mahesa, advokat senior yang namanya sering muncul dalam perkara kekayaan intelektual. Rambutnya putih sebagian, senyumnya halus, dan suaranya seperti orang yang yakin dokumen orang lain selalu punya lubang.

"Yang Mulia," kata Adrian dalam sidang pemeriksaan awal, "klien kami tidak mencuri teknologi siapa pun. Formula yang dipermasalahkan adalah hasil pengembangan independen dengan parameter suhu berbeda, bahan pengikat berbeda, dan proses curing berbeda."

Diana berdiri. "Kami tidak menuduh karena warna kemasan mirip. Kami menuduh karena jejak riset dan pola akses menunjukkan perpindahan pengetahuan yang tidak sah."

Surya menyiapkan layar presentasi. Ia tidak banyak bicara di awal. Diana membuka kerangka hukum: paten, rahasia dagang yang mendampingi proses produksi, kontrak kerahasiaan mantan konsultan, dan hubungan vendor yang menjadi jalur kebocoran.

Baru setelah itu Surya berdiri.

"Yang Mulia, Kencana menyebut ini pengembangan independen. Tetapi grafik uji panas mereka memiliki pola kegagalan yang identik dengan prototipe Aruna versi ketiga, bukan produk final. Kesalahan itu hanya diketahui tim riset Aruna dan satu konsultan eksternal yang kemudian bekerja untuk pemasok Kencana."

Ia menampilkan tabel.

"Jika mereka meniru produk final, hasilnya akan berbeda. Yang mereka tiru justru tahap gagal yang belum pernah dipublikasikan."

Ruang sidang menjadi lebih hening.

Adrian Mahesa menatap Surya lebih lama. Di matanya ada pengakuan kecil yang tidak menyenangkan. Anak muda di depan itu bukan pembantu Diana. Ia membawa pisau sendiri.

Saat jeda sidang, Surya melihat satu pria di belakang tim Kencana. Pria itu tidak memakai toga, terlalu sering memberi catatan kepada asisten Adrian. Wajahnya familiar dari laporan Wulan beberapa bulan lalu.

Rama Putra, konsultan hukum bayangan yang pernah muncul di sekitar proyek kecil Kevin.

Surya memotret diam-diam dari area umum, bukan untuk menyergap, hanya untuk catatan. Ia mengirim foto itu kepada Wulan.

Tolong cek hubungan Rama Putra dengan Kevin Tanuwijaya dan Kencana Abadi.

Jawaban Wulan datang kurang dari tiga menit.

Kami pernah lihat dia di lobi Perkasa. Saya tarik data publiknya dulu.

Surya memasukkan ponsel ke saku. Jadi benar. Kevin sedang menggerakkan papan lain setelah aliansinya dengan Weichen dipatahkan.

Malamnya, mereka makan di restoran hotel. Diana memesan red wine, sesuatu yang jarang ia lakukan saat ada pekerjaan belum selesai.

"Kita punya peluang besar," kata Surya.

"Peluang bukan kemenangan."

"Tapi hari ini mereka terguncang."

"Besok mereka akan menyerang validitas data uji." Diana minum sedikit. "Adrian tidak akan kalah dengan wajah manis."

Surya menahan senyum. "Saya juga tidak menang karena wajah."

"Untung kamu sadar."

Untuk beberapa saat, suasana hampir ringan. Lalu ponsel Diana bergetar. Ia melihat layar, wajahnya berubah seketika. Bukan marah. Bukan takut. Seperti seseorang baru saja menusuk luka lama yang ia kira sudah kering.

"Bu Diana?"

Diana mengangkat telepon, hanya mendengar. Tidak sampai satu menit, ia menutup panggilan.

Gelas di tangannya turun perlahan ke meja.

"Dia bertunangan," katanya hampir tanpa suara.

"Siapa?"

Diana tidak menjawab. Matanya menatap kaca restoran. Namun, jelas tidak melihat Surabaya di luar sana.

Diamnya lama.

Lalu ia menoleh kepada Surya, dan untuk pertama kalinya sejak Surya mengenalnya, suara Diana terdengar pecah.

"Surya... bisa kamu temani aku malam ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!