Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 | I Got U Nanae (+)
Setelah pasien Luna yang bernama Kael Raiden dinyatakan bersalah, dada psikiater wanita itu langsung terasa sesak. Dirinya tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa pasien rawat jalannya itu tidak bersalah. Luna sudah mengenal Kael sejak lama, tentu saja dirinya memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa pasiennya bukan pelaku pembunuhan.
Kael Raiden divonis penjara selamanya. Begitu hakim memberikan keputusan final, Luna dan pasiennya saling beradu pandang. Ingin rasanya Luna melindungi. Tapi apa daya dirinya tidak memiliki cukup bukti yang kuat. Semua bukti mengarah pada Kael yang dinyatakan sebagai pelaku.
"Capek?" tanya Xabiru begitu mereka menuruni anak tangga terakhir. Wanita disebelahnya hanya diam memandangi jalan yang dipenuhi oleh macam-macam kendaraan. Wajar jika Luna merasa sedih, Kael Raiden merupakan pasien yang ia tangani selama hampir lima tahun dan itu termasuk pasien terlama yang pernah ditanganinya.
"Re? Kamu oke?" tanya Xabiru lagi, kali ini dibumbui dengan nada perhatian. Jemari Luna menghapus air mata yang tidak ia sadari.
"Aku oke, kak. Cuma... hatiku kayak sesak aja gitu," jawabnya seadanya.
Mobil SUV hitam membelah jalanan yang dipenuhi dengan berbagai macam lautan kendaraan dengan kecepatan 60 km/jam. Xabiru lebih memilih diam daripada bertanya untuk memberikan Luna waktu. Ia tau betul bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Begitu sampai di depan bangunan yang terlihat familier, Xabiru menghentikan SUV nya. Pria itu melepas seat belt-nya lalu turun dari mobil. Begitu Luna hendak membuka pintu mobil, Xabiru sudah lebih dulu membukakan untuknya. "Silahkan, dokter Rellunae Keller Sp.KJ. Psikiater terbaik yang pernah ada di dunia," pujinya terlalu dilebih-lebihkan.
Luna tercengang sesaat lalu tersenyum kecil, sekecil bayi semut. "Berlebihan kamu kak," ucapnya seraya turun dari SUV milik Xabiru. Setelah kaki Luna menapak di depan rumahnya, ia tidak langsung masuk. Pikirannya masih terbayang-bayang tentang kejadian di pengadilan. Xabiru yang langsung paham isi pikiran Luna langsung memegang pundaknya.
"Jangan salahin dirimu sendiri, Re. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk membela pasienmu itu, walaupun pada akhirnya dia dinyatakan sebagai tersangka," terang pria yang kini menatap wajah Luna.
"Aku yakin dia dijebak, kak. Kael bukan orang yang dengan mudahnya mengarahkan benda tajam untuk melukai orang lain," bantah Luna sembari melepas tangan Xabiru di pundaknya.
Belum sempat Xabiru membuka mulut, Luna sudah lebih dulu angkat bicara. "Terimakasih untuk hari ini," ucapnya cepat tanpa menatap lawan bicaranya. Tanpa menunggu jawaban, Luna segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dan masuk ke dalamnya.
Pria itu tetap berdiri di samping mobilnya selama beberapa detik. Tatapannya masih tertuju pada rumah dua lantai dengan lampu teras yang menyala hangat itu. Dari balik jendela ruang tamu, samar-samar terlihat bayangan Luna yang berjalan menuju bagian dalam rumah.
Ingin sekali rasanya Xabiru menghibur Luna. Tapi dirinya tau betul bahwa yang dibutuhkan wanita itu saat ini bukanlah hiburan, melainkan waktu untuk dirinya sendiri. Xabiru menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. Pandangan matanya kembali mengarah pada rumah keluarga Keller. "Mungkin memang aku harus ngasih dia waktu," gumamnya masih menatap pintu.
Begitu pintu kamar miliknya terbuka, aroma peppermint langsung menusuk hidungnya. Luna menaruh tasnya di gantungan lalu mengambil handuk baby blue yang sudah pudar. Uap tipis mulai memenuhi ruangan saat Luna berdiri di bawah guyuran air hangat. Luna menyandarkan kepalanya ke dinding keramik, membiarkan hangatnya air meredakan ketegangan yang sejak pagi memenuhi tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya. Kakinya melangkah menuju tempat digantungnya tas kerja yang selalu ia bawa. Tangannya kemudian merogoh benda berbahan kain mahal itu untuk mengambil ponsel. Begitu ia mengaktifkan ponselnya, beberapa notifikasi langsung memenuhi jendela layarnya.
Matanya langsung membelalak begitu membaca pesan dari Maya. Tanpa pikir panjang, Luna langsung menelepon kembali sahabatnya itu.
"LUNAA!! AKHIRNYA KAMU AKTIF JUGAAA!!" seru Maya dari seberang sana.
"Sorry... dari tadi aku sengaja ngga aktif. Anyway, kamu ngga bercanda, kan, May?" tanya Luna penuh penekanan.
"YA NGGA LAHH! ORION BENERAN KABUR LUNN!"
Sial.
Luna langsung memijit pelipisnya. "Dia kabur dari jam berapa?"
"Kalo dilihat dari CCTV sih sekitar 30 menit yang lalu."
Tanpa pikir panjang, Luna langsung mengenakan jaketnya lalu buru-buru menuruni tangga menuju lantai satu. "Aku ke sana sekarang!" pungkasnya sebelum memutus sambungan telepon. Begitu panggilan berakhir, rumah yang semula terasa tenang mendadak dipenuhi suara langkah kakinya yang tergesa-gesa.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Luna berdetak semakin cepat. Berbagai kemungkinan terlintas di kepalanya. Bagaimana kalo Orion terluka? Bagaimana kalo ia membahayakan dirinya sendiri? Atau yang lebih buruk lagi... Bagaimana kalo ia membahayakan orang lain?
"Ngga... jangan sampai," gumam Luna pelan, hampir seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. Tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Jemarinya bahkan sempat gemetar hingga gantungan kunci itu nyaris terjatuh ke lantai.
Tenang Luna..., batinnya masih dengan jantung yang bertalu-talu. Luna mengembuskan napas panjang, lalu melangkah cepat menuju pintu utama. Begitu gagang pintu sudah di genggaman tangannya, Luna langsung memutar kenopnya dengan kasar.
"ASTAGA!!"
Luna membeku. Seluruh tubuhnya seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak. Tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa langkah dari ambang pintu, berdiri seorang pria dengan tubuh tinggi, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, dan tatapan yang sejak tadi tertuju lurus ke arahnya.
Jantung Luna seakan berhenti berdetak. Matanya membelalak lebar. Pikiran yang sejak tadi dipenuhi berbagai kemungkinan mendadak kosong. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Bagaimana... bagaimana bisa Orion tau alamat rumahnya?
"Hai Nanae."
Sapaan itu membuat Luna refleks mundur selangkah. Tangannya yang masih menggenggam gagang pintu semakin mengencang. "O-orion..." napasnya tercekat. "K-kamu..."
Ia bahkan kesulitan menyusun kalimat. Ribuan pertanyaan berputar di kepalanya.
Kenapa Orion ada di sini? Bagaimana dia menemukan rumahnya? Siapa yang memberitahu alamatnya?
"Akhirnya aku nemu rumahnya Nanae," ucap Orion yang entah mengapa mengerikan di telinga Luna.
"K-kenapa kamu disini, Orion...?"
"Mau ketemu kamu. Aku kangen," jawab Orion seolah itu adalah hal yang paling normal untuk dilakukan.
Mendengar jawaban itu, napas Luna semakin tidak beraturan. Ini tidak benar, pikirnya. Orion seharusnya berada di Silver Oak, bukan kabur keluyuran mencari rumah Luna. Tanpa berpikir panjang, wanita itu refleks masuk ke dalam rumah dan mendorong daun pintu secepatnya.
Matanya terbuka begitu ia menyadari tidak ada suara dari pintu yang ia dorong. Lalu ia melihat kebawah dan jantungnya semakin berdetak kencang. Sebuah kaki yang dibungkus sepatu nyelip di ambang pintu. Luna langsung membelalak dan tangannya kembali mendorong pintu dengan tenaga yang lebih besar. "Pergi, Orion! Kembali ke rumah sakit!" seru Luna masih berusaha mendorong pintu agar pasien dihadapannya tidak masuk.
Orion tidak bergeming. Bahkan ia tidak merintih kesakitan saat kakinya terjepit di ambang pintu. Sebaliknya, ia malah memberi tekanan pada daun pintu menggunakan bahunya. Sedikit demi sedikit, pertahanan Luna mulai goyah. "Orion! J-jangan dorong!"
Pria itu tidak menggubris permintaan psikiaternya. Tenaganya justru semakin besar, memaksa daun pintu terbuka sedikit demi sedikit. Di sisi lain, Luna mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk menahannya. Kedua telapak tangannya menekan kuat permukaan pintu, bahkan tumitnya ikut menghunjam lantai agar tubuhnya tidak terdorong mundur.
"Izinkan aku masuk, Nanae," ucap Orion pelan, namun nadanya terdengar begitu menusuk.
"Ngga! Kembali ke rumah sakit, Orion!"
Luna kembali mendorong pintu sekuat tenaga. Otot-otot lengannya mulai bergetar menahan tekanan dari arah berlawanan. Napasnya memburu, sementara telapak tangannya perlahan kehilangan tenaga. Sedikit lagi. Sedikit lagi...
Brak!
Satu dorongan terakhir membuat pertahanan Luna benar-benar runtuh. Tubuhnya terdorong ke belakang. Kedua kakinya kehilangan pijakan hingga tubuhnya oleng, nyaris terjatuh ke lantai.
"Ah–!"
Belum sempat Luna menyeimbangkan diri, sebuah tangan lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Dalam satu tarikan cepat, tubuhnya yang semula hampir jatuh justru berbalik menghantam dada Orion. Bukannya melepaskan, pria itu malah langsung melingkarkan kedua lengannya erat di tubuh Luna, seolah takut psikiaternya akan menghilang lagi.
"Akhirnya..." gumam Orion lirih di dekat telinga Luna. Embusan napasnya terasa begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Luna meremang. "Akhirnya aku bisa di sisi Nanae lagi."
Mata Luna membelalak. Kedua telapak tangannya refleks menahan dada Orion, berusaha memberi jarak di antara mereka. "L-lepas, Orion!" serunya panik sembari mencoba mendorong tubuh pria itu. Namun pelukan Orion justru semakin erat, seakan tak berniat melepaskannya sedikit pun.
"Pilihannya cuma dua," ujar Orion pelan tanpa mengalihkan tatapan. "Tetap di sini... atau aku kehilangan kendali."