NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah meninggalkan area kafe, Samuel dan Gio segera masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir rapi di tempat khusus. Sopir sudah menunggu sejak tadi, dan begitu keduanya duduk di jok belakang, mobil pun melaju perlahan menuju jalan raya untuk kembali ke kantor pusat perusahaan.

Di dalam mobil yang terasa sejuk dan hening, Gio menoleh ke arah Samuel yang sedang bersandar di kursi dengan pandangan kosong menatap ke luar jendela. Ia memperhatikan bahwa meski Samuel terlihat tenang, ada kerutan halus di dahinya yang menunjukkan pikirannya sedang melayang entah ke mana.

Gio memutuskan untuk membuka percakapan. Ia mengingat kejadian tabrakan tadi, dan sesuatu terus mengganggu pikirannya sejak itu.

“Sam,” panggil Gio perlahan.

Samuel hanya menoleh sebentar, lalu menjawab singkat, “Ya?”

“Aku baru saja teringat kembali kejadian di dalam kafe tadi, saat kamu bertabrakan dengan wanita itu,” ujar Gio dengan nada yang mulai terdengar serius. “Jujur saja, ada satu hal yang membuatku terus berpikir sejak saat itu.”

Samuel mengangkat alisnya sedikit, menatap sahabatnya itu dengan tatapan bertanya. “Hal apa yang membuatmu memikirkannya? Hanya sebuah insiden biasa, tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.”

Gio menggeleng pelan, lalu melanjutkan, “Mungkin bagimu itu hanya kejadian biasa, tapi bagiku… ada sesuatu yang terasa sangat tidak asing. Terutama suaranya. Saat dia meminta maaf, suaranya itu sangat lembut, tenang, dan memiliki nada bicara yang khas. Rasanya aku pernah mendengar suara itu di masa lalu, tapi aku belum bisa mengingatnya dengan jelas kapan dan di mana.”

Mendengar ucapan itu, detak jantung Samuel seolah terhenti sejenak. Di dalam hatinya, ia pun sebenarnya merasakan hal yang sama persis. Saat wanita itu berbicara tadi, getaran suaranya langsung menyentuh relung hatinya yang paling dalam membangkitkan kenangan yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam selama bertahun-tahun.

Namun, dengan sifat keras kepala dan rasa takut kecewa yang masih tersisa, ia segera mengenyahkan perasaan itu sekuat tenaga.

Samuel memalingkan wajah kembali ke arah jendela, suaranya terdengar lebih dingin dan tegas dari biasanya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri juga. “Itu hanya perasaanmu saja, Gio. Hanya suaranya yang lembut bukan berarti dia orang yang kita kenal. Banyak wanita yang memiliki suara lembut seperti itu. Jangan sampai kau menghubung-hubungkan hal sepele ini dengan hal lain yang tidak perlu.”

“Tapi aku sungguh merasa begitu, Sam,” desak Gio yang tidak mudah menyerah. “Aku sudah mengenalmu dan juga orang-orang di sekitarmu sejak lama. Suara wanita itu… entah mengapa terasa sangat akrab di telingaku. Bukankah kau sendiri juga merasakan hal yang sama? Jangan berbohong padaku, aku bisa melihatnya dari sorot matamu saat itu.”

Samuel mengepalkan tangannya di atas pangkuan, berusaha menekan rasa ragu yang mulai menyelimuti hatinya. Ia menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang terdengar tegas namun sedikit tertekan, “Tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Bagiku dia hanyalah orang asing yang tidak sengaja melangkah tidak hati-hati. Tidak ada yang tidak biasa, tidak ada yang perlu dikaitkan dengan masa lalu. Lupakan saja kejadian itu, jangan dibawa ke mana-mana.”

Gio menatap wajah sahabatnya dengan pandangan yang mengerti. Ia tahu betul sifat Samuel jika sudah memutuskan untuk menyangkal sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya, meskipun kenyataan ada di depan mata.

“Baiklah, jika kau bersikeras begitu,” ujar Gio dengan nada yang lebih lunak. “Tapi ingat saja perkataanku ini. Suara itu terlalu khas untuk hanya sekadar kebetulan semata. Entah mengapa hatiku merasa, kita akan bertemu lagi dengan wanita itu dalam waktu dekat.”

Samuel tidak menjawab lagi. Ia hanya diam, tapi di dalam benaknya, kata-kata Gio terus berputar mengusik ketenangannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah ilusi belaka, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa perasaan yang muncul saat mendengar suara wanita itu tadi bukanlah sekadar khayalan semata.

Mobil terus melaju menembus lalu lintas kota, membawa kedua sahabat itu dalam pikiran masing-masing yang kini dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban.

Begitu mobil berhenti di depan gedung perkantoran pusat perusahaan, Samuel dan Gio langsung melangkah masuk dengan postur tegap dan wajah datar.

Sejak melangkahkan kaki melewati pintu utama, keduanya seolah berubah total meninggalkan suasana persahabatan tadi dan kembali menjalankan peran sebagai pimpinan. Sikap mereka berubah menjadi sangat dingin, tegas, dan tanpa ekspresi apa pun.

Para karyawan yang berpapasan di lorong langsung menunduk hormat dan melangkah menyisihkan jalan dengan hati-hati. Seluruh orang di kantor itu tahu betul sifat kedua pria ini; tidak ada tempat untuk kesalahan sedikit pun, dan perintah mereka adalah mutlak yang tidak boleh dibantah.

Rasa hormat sekaligus rasa takut terlihat jelas di mata setiap orang yang bekerja di bawah kepemimpinan mereka.

Setelah sampai di lantai paling atas, mereka berhenti tepat di depan dua ruangan besar yang berdampingan.

“ Saya kembali keruangan saya , Pak. Jika ada hal penting akan saya laporkan segera,” ujar Gio dengan nada resmi dan sopan, tidak ada lagi nada akrab seperti saat di dalam mobil.

Samuel hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara, lalu memutar gagang pintu ruang kerjanya. Gio pun melangkah masuk ke ruangannya sendiri yang terletak tepat di sebelah ruangan Samuel.

Begitu pintu ruangan Samuel terbuka dan ia melangkah masuk, langkah kakinya terhenti mendadak. Alisnya langsung terangkat tinggi, matanya menyipit menatap ke arah meja kerja utamanya dan seketika itu juga raut wajahnya berubah menjadi sangat marah.

Di sana, di atas kursi besar yang khusus untuknya, sedang duduk santai seorang wanita dengan pakaian yang terbuka dan sangat seksi, rambutnya tergerai dan bibirnya diolesi gincu berwarna mencolok. Wanita itu adalah Lita, adik kandung dari Ruri, almarhum istri Samuel.

Sejak Ruri meninggal dunia dua tahun silam, Lita memang tidak pernah berhenti mendekati dan mengejar Samuel dengan berbagai cara. Ia terus saja datang ke kantor maupun rumah, berusaha menarik perhatian meski Samuel sudah berkali-kali menolak dengan tegas. Sikapnya itu justru semakin membuat Samuel merasa muak dan sangat tidak nyaman.

Dengan langkah panjang dan cepat, Samuel mendekati meja kerjanya. Suaranya terdengar berat, dingin, dan dipenuhi amarah yang sudah tertahan sejak melihat keberadaan wanita itu.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini? Dan apa maksudmu duduk di kursiku?” bentak Samuel, suaranya bergema di seluruh ruangan.

Alih-alih merasa takut atau bersalah, Lita justru tersenyum genit, lalu berdiri perlahan sambil berjalan menghampiri Samuel. “Kenapa harus marah begitu, Kak Sam? Aku hanya rindu ingin menemui mu saja. Lagian, kita kan keluarga , jadi aku boleh datang ke ruangan mu ,” jawabnya dengan nada lembut yang dipaksakan.

“Keluar dari ruanganku, sekarang juga!” perintah Samuel dengan nada meninggi, matanya menatap tajam tanpa sedikit pun rasa simpati. “Kamu tahu betul aku tidak suka kedatanganmu, apalagi sampai berani duduk di tempat kerjaku. Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”

Namun Lita sama sekali tidak bergeming. Ia malah melangkah semakin dekat hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Samuel, lalu mencoba menyentuh lengan pria itu. “Jangan begitu keras bicara padaku, Kak. Aku hanya ingin menjagamu dan menjadi pendamping hidupmu. Bukankah sudah saatnya kamu membuka hatimu lagi? Aku bisa menggantikan posisi Kak Ruri untukmu dan juga untuk anakmu—”

Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, rasa jijik dan muak meluap di hati Samuel. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorong bahu wanita itu dengan tenaga yang cukup keras hingga Lita terhuyung mundur dan hampir terjatuh.

“Cukup! Jangan pernah bandingkan dirimu dengan Ruri, dan jangan pernah bermimpi bisa mengisi tempat apa pun dalam hidupku!” bentak Samuel dengan wajah memerah karena amarah. “Kehadiranmu hanya mengotori ruangan kerja ini dan membuatku merasa muak setiap kali melihatmu!”

Tanpa membuang waktu lagi, Samuel segera berjalan ke sisi meja kerjanya, mengambil gagang telepon, lalu menekan nomor sambungan dengan jari yang masih terasa kaku karena marah.

“Ya, ini Pak Samuel. Kirimkan dua orang petugas kebersihan atau petugas keamanan segera ke ruang kerjaku. Ada tamu tak diundang yang bersikeras tidak mau pergi dan perlu dikeluarkan dari gedung ini secara paksa jika perlu,” ujarnya tegas ke dalam telepon, tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan Lita yang kini terlihat terkejut dan marah mendengar perintah itu.

Setelah menaruh gagang telepon kembali, Samuel menoleh lagi ke arah Lita dengan pandangan yang penuh peringatan. “Sebelum mereka datang, lebih baik kamu melangkahkan kakimu sendiri keluar dari sini . Jika tidak, maka nanti mereka yang akan membawamu pergi dan aku pastikan itu tidak akan membuatmu terlihat baik di hadapan orang banyak.”

bersambung ,,,

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!