NovelToon NovelToon
Ibu Tiri CEO: Nikah Kontrak, Cinta Sungguhan

Ibu Tiri CEO: Nikah Kontrak, Cinta Sungguhan

Status: tamat
Genre:Asmara / Penikahan Kontrak / Romansa / Ibu Tiri / Slice of Life / Tamat
Popularitas:50k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Melia Seng cuma mau satu hal: hidup tenang.

Tapi nasib berkata lain. Satu kecelakaan aneh membuatnya terbangun di ranjang king-size milik Raymon Kei — CEO KeiTech Group, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Kabar buruknya? Dia sekarang resmi jadi *istri kontrak* pria ini. Kabar lebih buruknya? Dia juga otomatis jadi *ibu tiri* dari Shawn Kei, remaja 17 tahun yang membencinya sejak detik pertama.

Aturan kontraknya sederhana:
Berpura-pura jadi istri sempurna. Tidak boleh jatuh cinta. Cerai setelah nenek besar meninggal. Bayaran: Rp 50 juta per bulan.

Masalahnya? Saldo rekening Melia cuma **Rp 0,5** — karena kakaknya sendiri sudah menguras semuanya. Mansion 8 kamar tidur, tapi dompet kosong. Istri konglomerat di atas kertas, tapi lebih miskin dari asisten rumah tangga.

Jadi Melia memutuskan: kalau mau bertahan, harus bangun kerajaannya sendiri.

Dari toko bunga kecil bernama **Bloomé** yang hampir bangkrut, sampai brand premium **Once & Forever** yang bikin heboh seluruh Jakarta — Melia membuktikan bahwa dia bukan sekadar "istri pajangan."

Tapi yang tidak dia duga...

Raymon yang katanya dingin dan tidak peduli, diam-diam memesan 200 tangkai mawar untuk studio barunya. Raymon yang katanya cuma "menjalankan kontrak," tiba-tiba bilang: *"Yang penting bukan makannya. Yang penting kamu yang mengajak."*

Dan Shawn — anak tiri yang tadinya memasang musik metal keras-keras supaya Melia pergi — pelan-pelan mulai menaruh satu porsi sarapan ekstra di meja makan.

Kontraknya bilang: *jangan cinta*.
Hatinya bilang: *sudah terlambat*.

Dan ketika rahasia besar tentang masa lalu Melia, keluarga Tjiang, dan seorang nenek yang pernah dia selamatkan 22 tahun lalu mulai terungkap — semua orang baru sadar: pernikahan ini bukan kebetulan. Ini takdir yang menunggu dua dekade untuk terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Maltose dan Jalan-Jalan Bertiga

Keesokan sorenya, Shawn pulang lebih awal dari kelas intensif.

Aku kebetulan menjemput karena ada urusan melihat lokasi calon toko tidak jauh dari JIS. Wawan menunggu di mobil, tapi Shawn tiba-tiba berhenti di depan kios kecil di tepi jalan.

Kios itu menjual gulali maltose. Permen lengket keemasan ditarik panjang, dililitkan pada stik kayu, lalu dibungkus plastik bening.

Shawn berdiri di depannya terlalu lama untuk seseorang yang katanya tidak suka makanan manis.

"Mau?" tanyaku.

"Nggak."

"Matamu bilang iya."

"Mataku tidak bilang apa-apa."

Aku menunjuk dagangannya. "Bang, satu kantong."

Shawn langsung menoleh. "Aku nggak makan."

"Aku yang makan."

"Kamu bahkan belum tahu rasanya."

"Sekarang jadi tahu."

Penjual menyerahkan satu kantong gulali maltose. Aromanya manis, hangat, sedikit seperti karamel. Aku mengambil satu, menggigit kecil, lalu hampir menempelkan gigi sendiri.

Shawn memalingkan wajah.

Aku yakin dia tertawa dalam hati.

"Lengket," kataku susah payah.

"Makanya jangan sok."

"Tapi enak."

Dia diam sebentar, lalu berkata dengan suara terlalu biasa, "Papa dulu suka beli itu."

Aku berhenti mengunyah.

Shawn menatap jalan, bukan aku. "Waktu aku kecil. Kadang kalau pulang malam, dia bawa satu. Katanya jangan makan banyak-banyak, tapi besoknya beli lagi."

Kalimat itu sederhana.

Tapi ada sesuatu di dalamnya. Kenangan yang tidak ingin ia akui masih hangat.

Aku menggoyangkan kantong gulali. "Kalau begitu kita bawa pulang."

"Aku nggak mau bawa."

"Siapa bilang kamu yang bawa? Aku beliin, aku yang kasih."

Shawn menatapku.

Aku tersenyum polos.

"Agar kamu tetap bisa mempertahankan citra cool."

"Kamu banyak omong."

"Terima kasih."

Dia akhirnya mengambil satu gulali dari kantong, tapi tidak langsung memakannya.

"Jangan bilang ke Papa."

"Bahwa kamu makan?"

"Bahwa aku beli."

"Teknisnya aku yang beli."

Shawn menatapku dengan mata menyipit.

"Oke, oke. Rahasia keluarga kecil." Aku mengunci bibir dengan dua jari. "Tapi rahasia yang terlalu manis biasanya bocor."

"Kamu memang nggak bisa dipercaya."

Walau begitu, ia tetap menggigit gulali itu.

Kami tidak langsung masuk mobil. Entah kenapa, sore itu angin cukup enak, dan jalanan perumahan Grand Island PIK setelah kembali dari sekolah terasa lebih tenang daripada biasanya. Aku menyuruh Wawan mengikuti pelan dari belakang, sementara aku dan Shawn berjalan di trotoar.

Dia tidak banyak bicara.

Aku juga tidak memaksa.

Kadang, berjalan berdampingan lebih berguna daripada seratus nasihat keluarga.

Beberapa menit kemudian, sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tidak jauh di belakang kami.

Jendela turun.

Raymon duduk di dalam, masih dengan kemeja kerja. Wajahnya menatap kami berdua, lalu kantong maltose di tanganku.

"Kenapa jalan kaki?"

"Olahraga ringan," jawabku.

Shawn memasukkan tangan ke saku. "Macet."

Di jalan perumahan yang kosong?

Aku pura-pura tidak mendengar.

Raymon turun dari mobil. Wawan segera memperlambat SUV di belakang, tampak bingung apakah harus menyaksikan keluarga majikannya berjalan seperti warga biasa.

Raymon berjalan di sisi kiriku. Shawn di kanan.

Tiga orang.

Di bawah senja.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Raymon, tapi Shawn berjalan sedikit lebih cepat selama beberapa detik, lalu melambat lagi. Wajahnya tetap datar, tapi telinganya tampak merah.

Mungkin dia merasa seperti lampu 100 watt di antara pasangan kontrak.

Kasihan.

Tapi lucu.

Aku menyerahkan kantong maltose pada Raymon. "Ini memang aku beliin buatmu."

Raymon menerima. "Untukku?"

"Katanya kamu suka."

Shawn langsung melihat ke arah lain.

Raymon menatap punggungnya sekilas.

Tidak ada kalimat dramatis. Tidak ada pelukan ayah-anak. Hanya kantong gulali maltose berpindah tangan di trotoar perumahan mahal.

Namun jari Raymon memegang kantong itu sedikit lebih erat.

Malamnya, setelah mandi, aku memakai masker wajah dan duduk di meja rias sambil memeriksa pesan pemasok bunga.

Raymon keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambut dengan handuk. Kantong maltose sudah diletakkan di nakasnya, belum dibuka.

"Sebenarnya," kataku santai, "itu dari Shawn."

Gerakan Raymon terhenti.

Aku menatapnya lewat cermin. "Dia yang berhenti di kios. Dia yang bilang kamu suka. Tapi dia terlalu gengsi untuk bawa sendiri."

Raymon tidak langsung bicara.

Handuk masih di tangannya. Rambut hitamnya sedikit basah, membuat wajah dinginnya tampak lebih muda.

"Dia bilang begitu?"

"Hm."

Aku melepas satu sisi masker yang hampir turun. "Anak itu mulutnya memang seperti tembok, tapi tembok juga bisa ada pintunya kalau diketuk pelan."

Raymon menatap kantong maltose.

Untuk sesaat, matanya tidak terlihat seperti CEO yang bisa menekan lawan bisnis sampai diam. Ia hanya tampak seperti seorang ayah yang menemukan sesuatu kecil dari anaknya dan tidak tahu harus menyimpannya di mana selain di dada.

"Terima kasih," katanya.

"Hubungan kita nggak perlu bilang terima kasih."

Kalimat itu keluar ringan, tanpa kupikir panjang.

Baru setelah mengucapkannya, aku sadar maknanya bisa bercabang.

Hubungan kontrak?

Hubungan kerja sama keluarga?

Atau hubungan suami istri?

Raymon mengangkat mata, menatapku lewat cermin.

Aku langsung pura-pura sibuk menepuk-nepuk masker.

"Maksudku, kita kan satu tim. Untuk Shawn."

"Satu tim," ulangnya.

"Iya."

Ada jeda.

Lalu Raymon berkata pelan, "Baik."

Aku menunduk ke ponsel, berusaha terlihat normal.

Di belakangku, Raymon membuka satu bungkus maltose.

Suara plastik kecil itu terdengar sangat jelas di kamar yang tenang.

Entah kenapa, dadaku ikut terasa hangat.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, rumah sebesar Kei Mansion tidak terasa seperti tempat orang-orang asing tinggal bersama.

Mungkin karena ada sesuatu yang mulai bergerak pelan di antara kami.

Sesuatu yang lengket, manis, dan sulit dilepaskan, seperti maltose di ujung jari.

1
Nindyaputri Pangestika
sebagus ini ceritanya... aku baru baca episod 45 karena penasaran sama endingnya aku langsung loncat ke episod terakhir. mau standing applaus
Darun Satu
😍😍😍
Darun Satu
lanjutt dong torr prat 2 nyaa
Tismar Khadijah
bagusss
Dewi Andayani
Maha karya yg sgt hebat, tks Thor sdh menghadirkan novel yg sgt bagus/Drool//Drool//Drool/
dejavu
thank you kak author. ceritanya baguuuuuus banget😍😍😍
Kikin
bagus
Yuen
Standing applause untuk author👍 Sayangnya cerita sebagus ini masak tidak ada yg komen? 😭
Warnilah Ummu faliha
l
Hesti Pati
bintang 5 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!