Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Bu Amira! Ya ampun, silakan masuk, Bu,” ajak Bu Yuni sambil mempersilakan tamunya masuk.
“Di mana Seno, Nak? Ibu ingin bertemu dengannya,” tanya Bu Amira segera.
“Mas Seno sedang ke kantor, Bu. Kita tunggu saja sebentar, biasanya ia hanya mengecek keadaan sebentar lalu langsung pulang,” jawab Bu Yuni.
“Kalau anakmu, Bara, ada di mana?” tanya Bu Amira lagi.
“Bara ada di kamar, Bu. Ia sedang beristirahat karena katanya beberapa hari ini kurang tidur,” jelas Bu Yuni.
“Kalau begitu… Ibu buatkan minum dulu ya?” tawarnya ramah.
“Nanti saja, Nak, Ibu belum haus. Ibu datang ke sini ingin bertemu Seno dan juga kamu. Tapi karena Seno belum ada, Ibu ingin menanyakan soal berkas-berkas penting yang dititipkan Seno sebelum Yuda meninggal,” ungkap Bu Amira terus terang.
“Oh soal berkas itu… Alhamdulillah semuanya masih tersimpan di tempat yang aman. Ibu jangan khawatir ya. Kata Mas Seno, tiga bulan lagi akan ada pelantikan bupati, dan di saat itu juga akan diadakan rapat besar untuk membahas status kepemilikan perusahaan. Tapi sebaiknya kita tanyakan lebih jelas lagi langsung kepada Mas Seno nanti,” jelas Bu Yuni.
“Benar juga katamu, lebih baik kita tunggu Seno pulang saja.”
.
.
.
Sementara itu, di kediaman keluarga Anton, Kiara baru saja terbangun dari tidurnya. Ia memutuskan untuk keluar kamar mencari keberadaan Nenek Amira. Ia melangkah menuju kamar neneknya, lalu mengetuk pintu itu. Namun karena tidak ada jawaban, ia mencoba membukanya—ternyata pintu itu tidak terkunci.
“Tumben pintu kamar Nenek tidak dikunci… dan Nenek juga tidak ada di sini,” gumam Kiara heran. Ia pun mengambil kunci yang masih menempel di lubang pintu, lalu menutup dan mengunci kembali kamar itu.
“Mungkin Nenek ada di dapur? Baiklah, aku coba cari dan tanya Mbok Asih.”
Kiara pun berjalan menuju dapur, namun di sana ia tidak menemukan Nenek Amira, hanya ada Mbok Asih yang sedang memetik sayuran.
“Eh, Non. Ada apa? Sepertinya sedang bingung?” tanya Mbok Asih melihat wajah Kiara.
“Gini, Mbok. Kiara sedang mencari Nenek, tapi tidak ada di kamarnya. Apakah Mbok tahu ke mana Nenek pergi?” tanya Kiara cemas.
“Tadi katanya mau ke kamar, tapi itu sudah cukup lama, sekitar setengah jam yang lalu,” jawab Mbok Asih.
Kiara lalu mendekat dan duduk di dekat wanita tua itu. “Tapi Nenek sama sekali tidak ada di kamarnya, Mbok.”
“Lho, tidak ada? Coba Non hubungi saja lewat telepon, siapa tahu Nenek membawa ponsel dan pergi ke suatu tempat,” saran Mbok Asih.
Kiara mengangguk setuju, lalu mengambil ponsel dari saku celananya. Ia mencari kontak Nenek Amira dan segera menelponnya.
Tut… tut… Tidak lama kemudian, panggilan itu diangkat.
“Halo, Kiara. Ada apa, Nak?”
“Nenek ke mana saja? Tidak ada di kamar. Kiara khawatir takut terjadi apa-apa,” tanya Kiara dengan nada cemas.
“Maaf ya, Nak. Nenek tadi pergi tapi lupa memberi tahu Mbok Asih.”
“Memangnya Nenek sekarang ada di mana?”
“Kita matikan sambungannya dulu ya, Nak. Nenek akan sampaikan lewat pesan saja.”
Kiara menurut dan segera mematikan telepon. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
“Nenek ada di rumah Seno, ayahnya Bara. Kalau kamu ingin menyusul, hubungi Vera ya, Nak. Supaya tidak ada orang yang mengikuti atau mencurigai mu.”
Kiara mengerti maksud pesan itu. Ia segera bangkit berdiri dan berjalan kembali menuju kamarnya.
“Lho, Non mau ke mana lagi?” tanya Mbok Asih penasaran.
“Kiara ke kamar dulu ya, Mbok,” jawab Kiara singkat sambil bergegas.
Sesampainya di kamar, ia segera mengirim pesan kepada Vera untuk meminta dijemput.
“Vera, jemput aku di rumah sekarang. Aku mau ke rumah Bara, Nenek ada di sana.”
Tak lama kemudian pesan itu dibalas.
“Harus sekarang, Ra? Aku baru saja sampai rumah lho.”
“Iya sekarang juga. Nanti aku traktir ayam katsu pedas kesukaanmu, deh.”
“Baiklah, aku berangkat sekarang! Tidak mungkin aku menolak kalau sudah ada ayam katsu, hihi.”
Kiara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pesan balasan sahabatnya itu. Ia pun segera mandi, lalu berganti pakaian santai. Setelah itu, ia menyiapkan tas kecil berisi ponsel dan kartu ATM miliknya—barang-barang yang selama ini tidak diketahui keberadaannya oleh seluruh anggota keluarga di rumah itu.
Kiara keluar kamar dan mengunci pintunya. Ia berniat menunggu kedatangan Vera di ruang tamu. Namun sesampainya di sana, ia bertemu dengan Bu Risma yang baru saja tiba dan masuk ke dalam rumah.
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
“Mau pergi ke mana kamu?” tanya Bu Risma dengan nada curiga.
“Lebih baik Mama segera masuk ke kamar. Jangan sampai Papa tahu kalau Mama baru saja pulang,” jawab Kiara santai namun tegas.
Mendengar ucapan itu, wajah Bu Risma langsung berubah cemas. Ia membuang muka dan bergegas pergi meninggalkan Kiara sendirian.
Tak lama kemudian, Rico juga baru saja tiba di rumah. Ia melihat Kiara sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
“Wah, adikku sudah rapi dan cantik. Mau ke mana nih?” tanya Rico ramah.
“Hanya mau jalan-jalan saja, Kak. Biar tidak bosan dan tidak harus mendengar omongan orang yang menyebalkan,” jawab Kiara ringan.
“Oalah, begitu rupanya.”
Rico lalu merogoh ponselnya dan melakukan sesuatu. Tak lama kemudian, Kiara terkejut melihat notifikasi masuk—Rico baru saja mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.
“Untuk apa Kak Rico mengirim uang sebanyak ini kepada Kiara?” tanya Kiara bingung.
“Untuk uang jajanmu dek, Kalau nanti kamu ingin mentraktir teman-temanmu, gunakan saja itu,” jawab Rico santai.
“Kenapa Kakak bersikap sangat baik padaku, padahal sikap Kakak berbeda jauh sekali dengan Kak Angga?” tanya Kiara jujur.
Pertanyaan itu membuat Rico terdiam sejenak. “Seandainya kamu tahu alasan di balik kebaikan ini, Ra… apakah kamu masih akan menganggap ku sebagai kakak yang baik? Padahal di lubuk hati yang paling dalam, aku pun bisa saja berbuat jahat padamu…” gumam Rico dalam hati sambil menatap wajah Kiara dengan tatapan yang sulit dimengerti.
“Tidak apa-apa, kan? Kakak punya adik perempuan yang cantik seperti kamu, yang harus dijaga dan diberi apa saja yang selama ini tidak pernah kamu dapatkan,” jawab Rico akhirnya.
“Kiara tidak pernah mempersoalkan tidak mendapatkan fasilitas mewah di rumah ini. Bahkan kalau suatu saat nanti Kiara mendapatkan itu semua dari calon suami Kiara…” Kiara berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Rico. “…Kiara akan merasa sangat bahagia. Karena dia akan memberikan kasih sayang dan cinta yang selama ini sama sekali tidak pernah Kiara rasakan di tempat ini,” lanjutnya dengan nada tegas namun tenang.
Keduanya saling bertatapan tanpa berkedip, seolah-olah Kiara bisa membaca niat tersembunyi di balik sikap Rico, sementara Rico hanya bisa terdiam sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia.
Bersambung