NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 10 : PERJANJIAN GILA DI MEJA NOMOR EMPAT

Pagi hari yang cerah tidak mampu menghalau mendung kekesalan di wajah Kalea Azzahra Putri Wijaya. Sesuai dengan janji dan ancaman mutlak yang disepakati tadi malam melalui telepon, Kalea benar-benar datang ke Cafe Luminia yang terletak tepat di seberang gedung megah Rumah Sakit Pusat Harapan Medika.

Kalea melangkah masuk menembus pintu kaca kafe mewah bernuansa modern minimalis itu tepat pukul 10.05 WIB. Penampilannya pagi ini benar-benar memikat mata. Ia mengenakan jilbab segiempat voal hitam premium yang dililit rapi model ala anak muda sekarang, menyisakan juntaian anggun di dada. Blazer kerja berwarna merah marun yang tegas membungkus kemeja putihnya, dipadukan dengan celana kain hitam dan high heels hitam setinggi 5 sentimeter. Kalea terlihat sangat cantik, anggun, sekaligus berwibawa, menyembunyikan perban kasa di dahi dan luka lebam di sudut bibirnya yang sobek dengan pulasan kosmetik yang tebal.

Mata biru jernih Kalea menyisir seluruh penjuru kafe. Detik berikutnya, ia menangkap sosok pria bertubuh menjulang yang dicarinya. Raditya Evan Baskara sedang duduk di meja nomor empat dekat jendela kaca besar. Pria itu tampak sangat tampan dengan kemeja kasual biru dongker yang lengannya digulung hingga sikut, sedang menunduk fokus bermain ponsel pintarnya.

Kalea melangkah tegap, menghentakkan hak sepatunya ke lantai marmer kafe, lalu langsung duduk di kursi kosong tepat di hadapan Radit tanpa permisi.

Radit tidak langsung mendongak atau melihat ke arah Kalea. Jari-jarinya yang putih bersih masih sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya. Dengan nada suara bariton yang sangat dingin, kaku, dan datar, ia berucap, "Kamu telat lima menit, Nona Manajer."

Radit kemudian mematikan layar ponselnya, menyimpannya ke dalam saku kemeja, lalu mendongakkan wajahnya yang tegas untuk menatap wanita di depannya. Namun, begitu mata elang Radit bersitatap langsung dengan mata biru indah Kalea, pandangannya sempat terkunci selama sedetik. Ia menyadari bibir ranum Kalea yang tertutup lipstik tipis itu kembali menyisakan luka sobek baru yang sedikit membengkak.

Kalea mendengus kasar, bersedekap dada menatap Radit penuh permusuhan. "Hanya lima menit, Dokter Sombong! Jalanan Jakarta macet dan saya harus mengurus beberapa dokumen hotel dulu tadi pagi! Jangan berlagak seolah lima menit saya merugikan aset rumah sakit Anda!"

Radit memajukan tubuhnya, menopang dagu di atas kedua tangan yang bertautan di atas meja. Sebuah senyuman sarkastik muncul, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. "Bagi seorang Direktur Utama dan dokter bedah, lima menit bisa menentukan hidup dan mati seseorang, Nona Mata Biru. Jadi waktu saya sangat berharga. Tapi mari kita lupakan itu. Mari kita bahas poin utama kenapa saya memanggilmu ke sini."

"Cepat katakan, apa penawaran kesepakatan gila yang Anda maksud untuk menghapus utang seratus delapan puluh juta saya?!" ketus Kalea tanpa basa-basi.

Radit memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata biru Kalea dengan pandangan yang mendadak sangat serius. "Saya ingin kamu menjadi pacar saya. Tapi hanya berpura-pura saja di depan keluarga saya."

DEG!

"WHAT?!"

Kalea berteriak sangat kencang dengan mata biru yang membelalak sempurna karena saking terkejutnya mendengar kalimat tidak masuk akal tersebut. Suara melengkingnya seketika memecah ketenangan kafe, membuat belasan pengunjung dan pelayan kafe menoleh serentak ke arah meja nomor empat dengan pandangan heran.

Melihat situasi yang mendadak menjadi pusat perhatian, Radit dengan gerakan refleks yang sangat cepat langsung memajukan tubuhnya melewati pembatas meja. Tangan kanannya yang besar dan hangat bergerak cepat menutup mulut mungil Kalea, membekapnya rapat-rapat agar wanita bar-bar itu tidak kembali berteriak.

"Hmmph! Mmph!" Kalea meronta, matanya mendelik tajam ke arah wajah Radit yang kini berada sangat dekat dengannya, hingga ia bisa mencium aroma parfum maskulin mahal yang menguar dari tubuh sang dokter.

"Diam atau saya cium kamu di sini sekarang juga," ancam Radit dengan bisikan rendah yang sangat dingin di depan wajah Kalea.

Mendengar ancaman gila itu, Kalea langsung terdiam membeku. Radit perlahan menurunkan tangannya dari mulut Kalea setelah memastikan situasi aman. Beberapa pengunjung mulai memalingkan wajah kembali.

Kalea menelan salivanya dengan gugup, lalu mengangkat kedua tangannya ke arah meja sebelah sambil melemparkan senyuman canggung yang dipaksakan. "Maaf... Maaf semuanya, saya tadi cuma salah lihat menu," ucap Kalea dengan tawa canggung yang dibuat-buat demi meredakan suasana malu.

Setelah pengunjung tidak lagi memperhatikan mereka, Kalea langsung memajukan tubuhnya, menatap Radit dengan amarah yang berbisik. "Anda gila ya, Dokter Radit?! Pacar pura-pura?! Memangnya saya ini wanita pajangan yang bisa Anda sewa sesuka hati?! Tolong ya, saya ini General Manager hotel bintang lima, bukan aktris bayaran!"

Radit bersandar kembali pada sandaran kursinya, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi yang sangat santai seolah memegang kendali mutlak. "Kamu punya pilihan lain, Kalea? Dengar baik-baik. Jika kamu menolak, tepat setelah saya melangkah keluar dari kafe ini, kuasa hukum saya akan langsung memproses laporan perusakan kaca mobil Mercedes-Benz saya ke kantor polisi. Kamu mau karir gemilangmu di Hotel Grand Luminance hancur dalam semalam karena manajernya masuk sel tahanan?"

Kalea menelan ludahnya dengan susah payah mendengar ancaman hukum yang sangat terencana dari mulut Radit. Sifat tegasnya mendadak terasa terpojok oleh kelicikan sang dokter. Ia mengepalkan tangan di atas pangkuannya, meratapi takdirnya yang benar-benar terjepit di antara kekejaman keluarga Wijaya dan keangkuhan pria di depannya ini.

"Kenapa harus saya, hah?!" tanya Kalea dengan nada suara yang tertahan penuh kekesalan. "Di luar sana banyak model, dokter perempuan, atau sosialita seksi yang mengemis cinta Anda! Kenapa Anda malah memilih wanita yang baru Anda kenal kemarin dan Anda sebut bar-bar ini?!"

"Karena kamu memenuhi semua kriteria bohong yang tidak sengaja saya katakan di depan Mommy saya kemarin pagi," jawab Radit jujur dengan nada datar, lesung pipinya muncul sekilas mengejek. "Tegas, mandiri, cantik, dan yang paling penting... memiliki mata biru alami yang langka. Saya membutuhkanmu untuk menghindari perjodohan gila dari Mommy saya dengan seorang model bernama Natasha."

Kalea mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna situasi pelik ini. "Lalu... sampai kapan saya harus terjebak menjadi pacar pura-pura Anda ini, Dokter Sombong?"

"Tidak ada batas waktu," jawab Radit pendek, santai, dan tanpa beban. "Sampai Mommy saya benar-benar percaya dan membatalkan semua rencana perjodohan itu untuk selamanya."

Mendengar jawaban itu, Kalea langsung menggebrak meja dengan pelan. "Mana bisa begitu! Itu namanya pemerasan dan perbudakan tak terbatas! Kalau Mommy Anda baru percaya sepuluh tahun lagi, berarti saya harus menjadi tawanan kebohongan Anda selama sepuluh tahun?! Saya juga ingin memiliki kehidupan nyata, Dokter Radit!"

Radit tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang dipenuhi oleh keangkuhan mutlak seorang Direktur Utama. "Maka dari itu, patuhi saja aturannya jika ingin utang seratus delapan puluh jutamu lunas, Nona Manajer."

Kalea memejamkan mata birunya sejenak, memikirkan jalan keluar lain. Sisi tangguh dan keras kepalanya menolak untuk menyerah begitu saja pada intimidasi Radit. Ia membuka matanya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan pandangan yang kembali tegas.

"Dengar, Dokter Radit. Saya minta waktu satu minggu," ucap Kalea dengan nada penuh penekanan.

"Satu minggu untuk apa?" Radit menyipitkan matanya menyelidik.

"Satu minggu untuk memikirkan semua penawaran gila Anda ini! Dan siapa tahu... dalam waktu satu minggu ini saya bisa mendapatkan uang seratus delapan puluh juta rupiah untuk membayar lunas ganti rugi kaca mobil Anda itu secara tunai! Jadi saya tidak perlu menjual harga diri saya untuk menjadi pacar sewaan Anda!" tegas Kalea menantang.

Mendengar ucapan berani dari Kalea, Radit tidak marah. Ia justru menyandarkan tubuhnya, lalu melayangkan sebuah senyuman mengejek yang sangat meremehkan dari bibir tampannya. "Membayar seratus delapan puluh juta tunai dalam satu minggu? Jangan bermimpi di siang bolong, Kalea. Saya tahu persis berapa gaji seorang manajer hotel, dan saya juga tahu kamu saat ini sedang tidak memiliki simpanan sebanyak itu."

Radit mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja marmer. "Tapi baiklah, saya terima tantanganmu. Saya berikan waktu tepat satu minggu dari sekarang. Jika dalam waktu satu minggu kamu bisa menyerahkan uang seratus delapan puluh juta tunai ke meja kerja saya, maka urusan kita selesai dan kamu bebas."

Radit memajukan kembali wajahnya, menatap mata biru Kalea dengan kilatan seringai kemenangan yang mutlak. "Tapi... jika dalam satu minggu uang itu tidak ada, maka kamu harus menuruti seluruh kata-kata saya tanpa ada bantahan sepeser pun! Kamu harus menjadi pacar pura-pura saya sampai batas waktu yang saya tentukan sendiri! Bagaimana, Nona Manajer Bar-bar? Setuju?"

Kalea menelan salivanya dengan berat, merasakan dadanya bergemuruh hebat menahan taruhan besar atas masa depannya. Namun, tidak ada pilihan lain yang lebih baik saat ini. "Baik! Setuju! Satu minggu dari sekarang, kita lihat siapa yang akan menang, Dokter Sombong!"

Tepat setelah kesepakatan taruhan satu minggu itu disetujui, seorang pelayan kafe datang mendekat ke meja nomor empat. Pelayan itu membawa nampan besar berisi dua porsi menu utama yang mengepulkan aroma sangat lezat—Premium Ribeye Steak dengan saus jamur hitam dan dua gelas besar es Lychee Tea segar.

Kalea mengernyitkan dahinya, menatap deretan makanan mewah itu dengan bingung. "Lho, Tuan Dokter, saya kan tidak ada memesan makanan sejak datang tadi? Kenapa pelayan ini malah menghidangkan makanan sebanyak ini di meja kita?"

Radit memotong daging steak di piringnya dengan gerakan tangan yang sangat rapi dan presisi khas seorang dokter bedah genius. "Saya yang memesannya sesaat sebelum kamu datang, Nona Mata Biru. Saya tahu tipe wanita bar-bar sepertimu pasti membutuhkan banyak energi untuk berteriak dan marah-marah sejak pagi. Jadi, habiskan saja makanan itu. Jangan berlagak sombong menolak makanan gratis."

Kalea mendengus kasar, namun perutnya mendadak berbunyi keroncongan dengan cukup nyaring, membuat wajah cantiknya seketika merona kemerahan karena malu. Mau tidak mau, Kalea akhirnya meraih pisau dan garpu di hadapannya. Lagipula, mengingat kejadian jahanam di meja makan keluarga Wijaya semalam, ia memang sama sekali belum menyentuh makanan sejak tadi pagi. Ia terlalu muak dan malas untuk berurusan lagi dengan wajah-wajah munafik anggota keluarganya, terutama si Fandi bajingan yang sudah memfitnahnya.

"Kenapa memotong dagingnya kasar begitu? Kamu sedang membayangkan memotong kepala copet kemarin, atau kepala saya?" goda Radit dengan nada suara yang sangat tenang namun sarkastik, melirik cara Kalea memotong steaknya dengan penuh emosi.

Kalea mendelik tajam, mengunyah dagingnya dengan bertenaga. "Saya sedang membayangkan sedang menguliti hidup-hidup dokter sombong yang ada di depan saya saat ini! Puas Anda?!"

Radit justru terkekeh sangat tipis, memperlihatkan sepasang lesung pipinya yang dalam dan menawan di kedua pipi putihnya. "Sayangnya, kulit saya terlalu mahal untuk disentuh oleh tangan amatirmu, Kalea."

"Cih, narsis sekali!" ketus Kalea sambil meneguk es Lychee Tea miliknya hingga tersisa setengah, mencoba meredakan rasa panas di hatinya.

Mereka berdua melanjutkan makan siang diiringi dengan aksi saling sindir dan adu mulut yang tiada hentinya. Sifat kaku Radit mendadak terasa sedikit mencair saat menghadapi ketegasan Kalea yang meledak-ledak. Namun, di tengah-tengah kunyahan Kalea yang lahap, gerakan tangan Radit mendadak terhenti di udara. Mata elang sang direktur utama menyipit tajam, terpaku pada sudut bibir ranum Kalea.

Di sana, di dekat bekas luka sobek baru akibat tamparan Hermawan semalam, terdapat sedikit sisa noda saus jamur yang menempel.

Tanpa memberikan aba-aba atau ucapan sepatah kata pun, Radit mendadak memajukan tubuh jangkungnya melewati batas meja marmer. Tangan kanannya yang besar, bersih, dan hangat terulur maju. Ibu jari Radit yang lembut mendarat tepat di atas sudut bibir Kalea, mengusap sisa noda saus tersebut dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kehati-hatian.

DEG!

Tubuh mungil Kalea seketika menegang kaku bagaikan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Mata birunya membelalak sempurna, menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit yang kini berada sangat dekat dengannya. Sentuhan ibu jari Radit di bibirnya terasa begitu hangat, mengirimkan desiran aneh yang mendebarkan ke seluruh rongga dadanya.

Selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat, kedua anak manusia yang saling membenci itu terkunci dalam sebuah tatapan mata yang sangat dalam, intens, dan dipenuhi kabut misteri. Aroma parfum maskulin mahal dari tubuh Radit kembali mengurung indra penciuman Kalea, membuat napas wanita itu mendadak tercekat di tenggorokan.

Ehem!

Radit tiba-tiba menarik kembali tangannya dengan cepat setelah menyadari tindakannya yang sudah meluar batas profesional seorang dokter. Ia menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, lalu berdeham dengan volume yang cukup keras demi menghilangkan rasa canggung luar biasa yang mendadak menyerang atmosfer meja nomor empat. Semburat warna merah muda yang samar menjalar di kedua telinga putih Radit yang sengaja ia palingkan ke arah jendela luar kafe.

Kalea yang juga merasa salah tingkah setengah mati langsung meraih tisu di atas meja, mengusap bibirnya sendiri dengan gerakan yang sangat kikuk dan terburu-buru. "A-Apa-apaan sih Anda ini?! Suka sekali menyentuh wajah orang tanpa izin! Saya bisa lap sendiri pakai tisu, tidak butuh bantuan tangan dokter bedah Anda!" ketus Kalea dengan wajah yang sudah memerah merona laksana buah tomat matang.

Radit berdeham sekali lagi, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya meskipun lesung pipinya sempat muncul karena geli melihat kepanikan Kalea. "Saya cuma tidak tahan melihat ketidaksempurnaan di depan mata saya, Nona. Saus di bibirmu itu merusak pemandangan kafe ini. Lagipula... luka di sudut bibirmu itu kenapa bisa robek lagi? Bukankah kemarin siang hanya dahimu saja yang terluka?" tanya Radit dengan nada menyelidik, matanya menatap tajam mencari jawaban.

Kalea tertegun sejenak. Pertanyaan Radit mendadak melempar ingatannya kembali pada kekejaman Hermawan semalam. Senyuman pahit muncul sekilas di wajah cantiknya sebelum ia kembali memasang topeng ketegasannya. "Bukan urusan Anda, Dokter Sombong. Anggap saja ini luka akibat kecelakaan kerja di rumah neraka saya."

Melihat Kalea yang enggan berbagi cerita, Radit memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Sisi humoris sarkastiknya kembali bangkit untuk mencairkan suasana muram wanita di depannya. "Kecelakaan kerja? Atau kamu habis kalah berantem memperebutkan wilayah dengan kucing garong di pinggir jalan, Nona Bar-bar?" goda Radit dengan nada meledek yang sangat menyebalkan.

"Heh! Enak saja! Saya ini General Manager terhormat ya! Mana ada sejarahnya saya berantem sama kucing!" bentak Kalea sambil melotot tajam, mengacungkan garpunya ke arah wajah Radit dengan gemas.

"Hahaha, siapa tahu? Karaktermu yang galak dan suka mencakar itu sangat mirip dengan kucing liar yang kelaparan," balas Radit sambil tertawa kecil, tawa renyah pertamanya yang terdengar begitu merdu di telinga Kalea, memperlihatkan keindahan penuh dari kedua lesung pipinya.

Kalea tertegun sesaat melihat tawa lepas pria di depannya. Harus ia akui di dalam hati, saat tertawa seperti itu, kadar ketampanan sang Direktur Utama naik berkali-kali lipat hingga membuat jantungnya kembali berdegup aneh. Namun, Kalea segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran gila tersebut.

"Sudahlah! Makan siang ini sudah selesai dan kesepakatan taruhan kita sudah sah!" ucap Kalea sambil berdiri dari kursinya, merapikan blazer marunnya dengan tegas. "Saya harus kembali ke hotel sekarang sebelum staf saya mengira manajernya diculik oleh dokter penjahat kelamin seperti Anda!"

Radit ikut berdiri, postur tubuhnya yang setinggi 185 sentimeter kembali membuat Kalea harus mendongak pasrah. "Pergilah bekerja, Nona Mata Biru. Nikmati waktu satu minggumu yang berharga. Karena saya pastikan... tujuh hari dari sekarang, kamu akan berlutut di meja kerja saya dan resmi menjadi tawanan pacar pura-pura seorang Raditya Evan Baskara."

"Jangan bermimpi, Dokter Sombong! Kita lihat saja siapa yang akan tertawa paling akhir nanti!" ketus Kalea untuk terakhir kalinya, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kafe dengan entakan high heels 5 sentimeter miliknya yang terdengar penuh tantangan mutlak, meninggalkan Radit yang masih berdiri memandangi kepergiannya dengan senyuman misterius penuh kemenangan yang terus menghiasi bibir tampannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!