~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
***
Fida membalikkan badan, menatap Naya dengan senyum meremehkan. "Saya senior di sini, dan saya ada tugas piket subuh ini. Jadi saya harus didahulukan. Santri baru harus tahu sopan santun dan mengalah."
"Sopan santun mata lu peyang!" teriak Naya, melangkah maju dan menahan pintu kamar mandi dengan kakinya yang beralaskan sandal jepit. "Gue udah antre di sini sampai kaki gue kesemutan, dan lu main masuk aja bawa-bawa jabatan? Enggak ada! Keluar lu dari dalam, atau gue seret?!"
"Nayanika! Jaga ucapan kamu! Ini pesantren, bukan jalanan!" Fida balas membentak, tidak mau kalah di depan santri-santri lain.
"Gue enggak peduli! Mau di pesantren, mau di kuburan, yang namanya nyerobot antrean itu namanya enggak tahu diri! Keluar enggak?!" Naya mulai menarik lengan baju Fida dengan kasar, membuat gayung di tangan Fida terjatuh dan menimbulkan suara kelontangan yang nyaring di atas lantai ubin.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di koridor asrama putri?!"
Sebuah suara wanita yang tegas dan menusuk tiba-tiba memotong pergelutan mereka. Dari ujung lorong, berjalan tergesa-gesa seorang wanita paruh baya berwajah galak dengan seragam gamis gelap dan jilbab besar yang tersampir kaku. Beliau adalah Ustadzah Maryam, kepala pengawas keamanan dan ketertiban asrama putri yang terkenal sangat disiplin dan tak kenal ampun.
"Ustadzah Maryam..." cicit Sarah yang berdiri tak jauh dari Naya, langsung menundukkan kepala ketakutan, diikuti santriwati lainnya yang mendadak senyap.
Ustadzah Maryam berdiri di hadapan Naya dan Fida dengan mata melotot tajam. Penggaris kayu panjang yang selalu dibawanya diketukkan ke lantai dengan keras. TOK! TOK!
"Fida! Nayanika! Apa yang kalian lakukan? Subuh-subuh begini sudah membuat kegaduhan seperti di pasar hewan!" bentak Ustadzah Maryam berang.
Fida langsung memasang wajah teraniaya dan menunduk khidmat. "Maaf, Ustadzah... ini, santri baru titipan Tuan Baskoro tidak tahu aturan pondok. Saya mau masuk untuk piket membersihkan kamar mandi, tapi dia malah membentak saya dan menyerang saya sampai gayung saya jatuh," adu Fida dengan suara yang mendadak bergetar lirih.
Naya melotot mendengar fitnah murni itu. "Heh! Mulut lu dijaga ya! Siapa yang nyerang lu?! Lu yang nyerobot antrean gue! Lu pakai otak dong kalau bertindak!" seru Naya berapi-api, menunjuk wajah Fida dengan berani.
"Nayanika Sadira!" Suara Ustadzah Maryam meninggi, penggaris kayunya menunjuk tepat ke depan hidung Naya. "Berani-beraninya kamu menunjuk senior dan menggunakan bahasa jalanan di sini! Di mana sopan santun kamu?!"
Naya beralih menatap Ustadzah Maryam dengan tatapan menantang. "Sopan santun? Saya punya sopan santun kalau orang lain juga tahu aturan! Dia ini pengurus tapi nyerobot antrean santri biasa. Emang di sini hukumnya yang berkuasa bebas nginjek yang bawah?!"
Mendengar bantahan Naya yang begitu keras kepala dan bar-bar, urat di dahi Ustadzah Maryam menegang. Beliau tidak pernah mendapati ada santriwati baru seberani dan selancang ini.
"Fida, benar kamu menyerobot antrean?" tanya Ustadzah Maryam beralih menatap Fida dengan tajam.
"S-saya hanya terburu-buru karena jadwal piket, Ustadzah..." aku Fida gugup, tidak bisa berbohong sepenuhnya di depan sang kepala pengawas.
Ustadzah Maryam mengembuskan napas geram. "Fida, sebagai pengurus kamu harus memberikan contoh yang baik! Kembali ke antrean paling belakang! Tidak ada hak istimewa untuk siapa pun!"
Fida tersentak, wajahnya memerah menahan malu. "Baik, Ustadzah..." cicitnya, memungut gayung lalu berjalan ke belakang dengan langkah lunglai.
Naya langsung tersenyum kemenangan dan bersiap melangkah masuk ke kamar mandi. "Nah, kelar kan. Minggir, gue mau mandi."
"Tunggu, Nayanika!" Langkah Naya tertahan oleh bentakan Ustadzah Maryam. Wanita paruh baya itu menatap pakaian Naya yang acak-acakan dengan gelengan kepala penuh kekecewaan. "Fida memang salah, tapi tindakan kamu yang berteriak, memaki dengan kata kasar, dan berbuat gaduh sebelum subuh adalah pelanggaran berat!"
Naya berbalik, berkacak pinggang. "Lho, kok gue kena juga?! Kan gue korbannya, Ustadzah galak!"
"Jaga bicara kamu! Karena kamu melanggar ketertiban asrama, setelah salat subuh berjamaah, kamu tidak boleh kembali ke kamar!" perintah Ustadzah Maryam mutlak dengan suara bariton wanitanya. "Kamu harus mengambil sapu lidi di gudang, lalu bersihkan seluruh daun kering di halaman depan kompleks ndalem sampai bersih sebelum jam sarapan! Jika belum bersih, kamu tidak akan mendapatkan jatah makan pagi!"
Naya membelalak tidak percaya. "Hah?! Bersihin halaman segede gaban itu sendirian?! Enggak bisa gitu dong—"
"Tidak ada bantahan! Laksanakan atau hukuman kamu saya tambah dengan membersihkan seluruh WC asrama!" potong Ustadzah Maryam tanpa kompromi, lalu membalikkan badan untuk melanjutkan patroli subuhnya.
Naya mengepalkan tinjunya kuat-kuat di udara, menatap kepergian Ustadzah Maryam dengan kejengkelan yang sudah meriap sampai ke ubun-ubun.
"Sialan! Tempat macam apa ini?! Baru hari pertama udah dapet hukuman kerja rodi!" teriak Naya frustrasi, menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai.
Di belakangnya, Sarah dan Aliyah hanya bisa saling berpandangan cemas. Hari pertama Naya baru saja dimulai, dan si santri bar-bar ini sudah resmi menabrak kerasnya tembok disiplin pondok pesantren.
****
BERSAMBUNG
Halo, teman-teman semuanya! 🥰✨
Aku datang lagi dengan cerita baru nihh~ 🤭❤️
Kali ini temanya sedikit berbeda dari cerita-cerita yang pernah aku tulis sebelumnya. Di cerita ini kalian akan menemukan suasana pesantren, sosok Gus tampan yang kharismatik, CEO muda yang dingin dan sulit ditebak, serta seorang gadis yang terkenal bar-bar, cerewet, dan penuh kejutan, tapi sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. 🕌🤍✨
Ada banyak kisah manis, lucu, menggemaskan, menguras emosi, dan tentunya perjalanan para tokoh yang akan membuat kalian ikut tertawa, kesal, bahkan mungkin ikut baper. 🥹🌷
Aku harap kalian bisa menikmati setiap bab yang aku tulis dan jatuh cinta pada karakter-karakternya seperti aku yang sudah lebih dulu jatuh hati pada mereka. 🤏🏻💕
Jangan lupa untuk selalu support cerita ini yaa. Dukungan kecil dari kalian, seperti vote, komentar, dan share, sangat berarti untuk author. Percayalah, setiap komentar yang kalian tinggalkan selalu berhasil membuat author semangat untuk terus menulis dan menghadirkan bab-bab berikutnya. 🥰✨
Oh iya, kalau kalian punya waktu luang, jangan lupa mampir juga ke karya-karya author yang lain yaa. Ada banyak cerita dengan tema yang berbeda-beda dan tentunya nggak kalah seru untuk dibaca. Siapa tahu ada cerita yang cocok dan bisa masuk ke daftar favorit kalian. 🤭📚❤️
Dan yang paling penting, jangan sungkan untuk memberikan masukan, saran, kritik, atau sekadar berbagi pendapat setelah membaca cerita ini yaa. Author senang banget kalau kalian aktif berkomentar. Karena dari komentar-komentar kalian, author bisa belajar, berkembang, dan semakin termotivasi untuk memberikan cerita yang lebih baik lagi. 🌷✨
Terima kasih untuk semua yang sudah meluangkan waktu membaca cerita ini. Semoga kalian betah menemani perjalanan para tokohnya sampai akhir. 🥹🤍
Selamat membaca dan sampai bertemu di bab pertama! ✨📖❤️
Love,
Author 🤍
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak