bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
#flashback#
Resty masih ingat waktu ia umur 7 tahun dan di rumah bibinya ada pesta pernikahan anaknya.Pada saat itu semua orang berkumpul, Resty melihat bibi-bibinya dan semua sepupunya lagi berkumpul untuk berhias diri dan saling tertawa bahagia tapi hanya ibunya yang tidak ada di sana dan saat ditanya ibunya lagi di dapur.
Saat Resty berlari ke arah dapur, ia melihat ibunya sedang mencuci piring yang memenuhi ruang kamar yang memenuhi ruangan kamar mandi.
"makkk... Apa yang emak lakukan disini?.
Aminah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Resty."emak lagi mencuci piring".
"Resty bantuin ya makkk...!" ucap Resty sambil jongkok
"jangan....! nanti Resty capek".
Tampa peduli dengan ucapan Aminah, Resty mulai mencuci piring dan saat mau ngambil mangkok. dibawah mangkok ada gumpalan ulat yang sangat banyak. Bergerak-gerak, saling menempel, basah dan menjijikkan. Tangannya yang sudah terbiasa dengan air dingin langsung gemetar saat melihat banyaknya ulat. Resty mundur setengah langkah. Napasnya tertahan. Perutnya mual, tapi dia tidak berani teriak. Di rumah ini, suara tinggi cuma bakal dimarahi sama bibinya, apalagi sekarang ada pesta. Resty tidak mau membuat keributan dan menjadi tontonan.
Dia buang mangkok itu ke ember sampah dengan hati-hati biar ulatnya tidak berjatuhan. Tangannya gemetar dan saat itu ia melihat ibunya Aminah lagi pokus mencuci piring dan tidak memperhatikan Resty.
Aminah masih asik menggosok piring, airnya menetes pelan. Resty menahan napas, menunggu sampai ulat-ulat di mangkok itu benar-benar ketutup sampah.
Jantungnya masih kencang. Dia menunduk, pura-pura sibuk beresin meja, padahal pikirannya muter ke situ-situ aja. Kalau bibinya lihat, pasti dibilang lebay. Kalau pesta jadi berantakan gara-gara dia, dia akan di marahin Resty dan ibunya yang pasti akan disalahin
Resty akhirnya bisik pelan, suaranya hampir hilang: "ibuuu..."
"Ibuu..." suaranya pecah di tengah.
Aminah tidak langsung menoleh. Tangannya masih di busa sabun, tapi gerakannya berhenti sedetik. Dari ruang depan terdengar suara tawa tamu sama suara bibi yang lagi nyuruh-nyuruh orang-orang yang ada di depan dan suara musik yang memenuhi seluruh tempat acara pesta. Kalau ibunya muncul sekarang, ibunya pasti akan di suruh lagi membereskan hal yang lain dan ibunya tidak akan bisa rehat jika bibinya mengadakan pesta.
Aminah pelan-pelan buang busa dari tangannya. Air keran masih jalan, menutupin suara bisik Resty yang hampir tidak kedengeran.
Dia tidak menengok ke arah Resty. Tapi bahunya turun seperti menahan napas juga. Dari depan, bibi teriak memanggil "Minah! Bawain es teh ke meja sana!" Suaranya menusuk, bikin Resty makin menunduk.
Aminah ambil lap, ngelap tangannya sekali. Terus dia deketin ember sampah. tidak ngomong apa-apa. Cuma dorong ember itu pake kaki, pelan, sampai mangkok berisi ulat tadi bener-bener ketutup plastik hitam.
Baru setelah itu dia bisik dan suaranya rendah. cukup buat Resty dengar."Sudah....? Jangan nangis di sini."
Resty mengangguk kecil. Matanya perih, tapi dia senyum tipis ke Aminah. Lega, tapi takutnya masih ada.
Resty peluk ember itu pakai dua tangan, sepert takut isinya tumpah lagi. Napasnya masih belum normal, tapi setidaknya mualnya sudah turun.
Aminah balik ke wastafel. Dia buka keran lagi, suara airnya kenceng sengaja. Nutupin kalau tiba-tiba Resty ngeluarin suara.
"Cuci tangan," kata Aminah, matanya tetap ke piring."Setelah itu keluar. Bantuin bagiin kue aja. Bibi tidak suka anak diam di dapur pas ada tamu."
Resty mengangguk. Dia siram tangannya, air dinginnya bikin dia sadar. Di cermin kecil dekat rak, dia liat mukanya sendiri. Pucat. Bibirnya digigit biar tidak gemetar.
Dari depan suara bibi makin keras. "Minah! Lama banget!"
Aminah ngelirik Resty sekilas. Terus bisik lagi, cepet: "Kalau ditanya, bilang mangkoknya kotor. tidak usah sebut ada ulat."
Resty menelan ludah."Iya...Bu."
.......