NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Keesokan harinya, Lani sudah siap dengan mengenakan pakaian kerja barunya.

Blazer moka yang dipilihkan Afrain kemarin melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan anggun, profesional, dan berkelas.

Rambutnya disanggul rapi, dan riasan tipis di wajahnya membuat aura kecantikannya yang sempat redup kini terpancar kembali.

Dengan langkah kaki yang mantap, ia berjalan menuju ke ruang makan.

Afrain yang sedang menikmati kopinya sontak meletakkan sendoknya saat melihat Lani berjalan mendekat.

Pria itu sempat terpaku selama beberapa detik, terpesona melihat transformasi wanita di hadapannya yang kini sudah bisa tersenyum lepas tanpa beban.

"Sarapan dulu, setelah itu kita berangkat," ujar Afrain, berusaha menetralkan kembali suaranya yang sempat tercekat sembari menggeser piring berisi roti panggang ke arah Lani.

Lani menganggukkan kepalanya dengan patuh, lalu mendudukkan diri di kursi tepat di sebelah Afrain. Namun, menyadari sepasang mata tajam milik pria itu sama sekali tidak beralih dari wajahnya sejak tadi, semburat merah muda perlahan muncul di kedua pipi Lani.

"Mas, jangan memandangku terus," ucap Lani setengah berbisik, salah tingkah sambil menundukkan kepala demi menyembunyikan rasa malunya.

Afrain terkekeh pelan melihat reaksi Lani. Rasa gemas seketika menggelitik hatinya.

"Kenapa? Memangnya salah kalau aku melihat calon sekretaris pribadiku yang cantik ini?" goda Afrain dengan nada santai, membuat Lani semakin salah tingkah dan buru-buru menyuap rotinya untuk menyembunyikan senyuman yang merekah di bibir.

Setelah selesai sarapan, mereka berdua segera berpamitan dengan Mbok Mar yang sedang sibuk membersihkan area dapur.

"Mbok, kami berangkat dulu ya," pamit Lani dengan senyuman ramah.

"Iya, Mbak Lani, Pak Afrain. Hati-hati di jalan ya, semoga hari pertamanya lancar!" sahut Mbok Mar tulus, ikut senang melihat perubahan aura Lani yang kini jauh lebih ceria.

"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Afrain sembari meraih kunci mobilnya di atas meja.

Lani menganggukkan kepalanya dengan mantap. Ia melangkah beriringan bersama Afrain menuju garasi, siap membuka lembaran hidup yang baru di kantor pria itu.

Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasana di rumah kontrakan lama justru terasa bak neraka pagi.

Alex kembali dikejutkan dengan kondisi istrinya yang masih tidur pulas di balik gulungan selimut tebal, padahal jarum jam sudah merambat naik.

Mengingat kejadian terlambat kemarin dan teguran keras dari Pak Firman, emosi Alex langsung tersulut.

Dengan kasar, ia menarik ujung selimut yang menutupi tubuh Mira.

"Mir, mana sarapanku?! Bajuku juga belum kamu setrika?!" bentak Alex dengan suara meninggi, menahan lapar sekaligus frustrasi melihat kemeja kerjanya yang masih menumpuk kusut di sudut ruangan.

Mira yang tidurnya terusik mendengus kuat-kuat. Ia membuka matanya dengan pandangan super ketus, lalu merampas kembali selimutnya dari tangan Alex.

"Mas kenapa sih kalau pagi-pagi berisik banget?!" semprot Mira tanpa rasa bersalah, suaranya meninggi tak mau kalah.

"Ganggu orang tidur saja! Aku kan sudah dipecat, jadi bebas dong mau bangun jam berapa. Kalau mau makan dan baju rapi, urus saja sendiri! Jangan manja!"

Mira kemudian berbalik badan memunggungi Alex, melanjutkan tidurnya yang tertunda.

Alex mematung di tempatnya dengan dada kembang kempis menahan amarah yang membuncah.

Kata-kata kasar Mira barusan benar-benar mengoyak harga dirinya sebagai seorang suami.

Di dalam keheningan kamar yang berantakan itu, bayangan Lani yang selalu menyediakan kopi hangat dan pakaian rapi setiap pagi kembali melintas di benaknya, menggoreskan luka penyesalan yang semakin dalam di hati Alex.

Segera ia mandi dengan tergesa-gesa dan memakai pakaiannya yang seadanya, mengabaikan kerutan-kerutan kusut pada kemejanya yang membuat penampilannya tampak berantakan.

Dengan perut yang keroncongan dan hati yang diselimuti amarah, ia melajukan motornya membelah jalanan pagi menuju ke rumah Ibu Narti, berharap bisa mendapatkan ketenangan dan setidaknya sepiring sarapan hangat.

Begitu sampai, Alex langsung melangkah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Ibu Narti yang sedang menyapu lantai terkejut melihat kedatangan putranya yang tiba-tiba dengan wajah ditekuk masam.

"Lho, Alex. Kenapa kamu di sini?" tanya Ibu Narti heran, meletakkan sapunya.

"Lapar, Bu. Lihat itu istri yang Ibu banggakan, sekarang jam segini masih di tempat tidur!" adu Alex, menumpahkan segala kekesalannya yang sudah diubun-ubun.

"Beda sama Lani yang selalu menyiapkan semuanya sebelum subuh. Sekarang jangankan disetrikakan baju, sarapan pun tidak ada!"

Mendengar keluhan anaknya, Ibu Narti hanya bisa terdiam dengan wajah kikuk, tidak menyangka jika menantu pilihannya ternyata semalas itu di rumah.

Di saat yang sama, Sisil duduk di kursi makan sembari menikmati teh hangatnya.

Mendengar kepulangan adiknya yang penuh keluhan, ia langsung menyela percakapan.

"Lex, aku kemarin bertemu dengan Lani di mall bersama Afrain," ujar Sisil membuka obrolan, membuat atensi Alex seketika teralih sepenuhnya.

Alex mengernyitkan dahi dengan tatapan meremehkan.

"Apa? Afrain si miskin itu? Ngapain Lani sama dia? Palingan cuma jalan-jalan tidak jelas."

"Ngawur kamu, Lex! Sekarang dia CEO!" potong Sisil dengan nada tinggi dan berapi-api.

"Penampilannya berubah total, sangat berkelas, dan uangnya banyak sekali sampai bisa membelikan Lani barang-barang bermerek di butik mewah!"

Alex mematung, jantungnya bagai berhenti berdetak mendengar penuturan sang kakak.

Pria yang dulu selalu ia dan keluarganya injak-injak serta hina miskin, kini justru berada di puncak kesuksesan bersama mantan istrinya.

Sisil mencondongkan tubuhnya ke arah Alex dengan mata yang berbinar penuh rencana.

"Mbak mau rujuk sama dia, Lex. Mbak tidak mau hidup miskin lagi. Kamu harus bantu Mbak gimana caranya biar Afrain mau kembali sama Mbak."

"Jangan mimpi, Mbak. Ingat bagaimana dulu Mbak memperlakukan mantan suami Mbak," cibir Alex dengan nada sinis, menatap kakaknya dengan pandangan meremehkan.

Meskipun hatinya sendiri sedang kacau, akal sehat Alex masih berfungsi untuk mengingat betapa kejamnya perlakuan Sisil dulu kepada Afrain.

Ego lelaki Alex pun terusik melihat kakaknya yang begitu tidak tahu malu, ingin kembali hanya karena mantan suaminya sudah kaya raya.

Sisil yang mendengar ucapan adiknya langsung mencibirkan bibir dan membuang muka dengan kesal.

Setelah selesai makan sarapan seadanya yang disiapkan sang ibu, Alex berpamitan menuju ke tempat kerja.

Ia menyalami tangan ibunya dengan lesu, lalu melangkah keluar untuk menyalakan mesin sepeda motornya.

Di sepanjang perjalanan membelah kepadatan lalu lintas pagi, fokus Alex benar-benar terpecah.

Hati kecilnya merasa cemburu saat mengingat perkataan kakaknya yang mengatakan Lani bersama Afrain.

Rasa panas membakar dadanya setiap kali bayangan Lani sedang tersenyum bahagia di samping pria lain melintas di benak.

Apalagi pria itu adalah Afrain—pria yang dulu selalu dianggapnya berada jauh di bawah levelnya.

"Nggak mungkin Lani secepat itu berpaling, apalagi sama Afrain," gumam Alex membohongi hatinya sendiri, sembari mencengkeram erat stang motornya.

Penyesalan, gengsi, dan rasa cemburu kini bercampur menjadi satu, membuat perjalanan menuju kantornya terasa begitu panjang dan menyiksa.

Afrain menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama gedung perusahaannya yang menjulang tinggi dan megah.

Beberapa petugas keamanan dengan sigap langsung memberikan hormat saat mengenali mobil sang CEO.

"Ayo kita turun," ajak Afrain lembut, menoleh ke arah Lani yang tampak sedikit meremas jemarinya karena gugup.

Lani menganggukkan kepalanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran di dadanya, lalu melangkah keluar dari mobil.

Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam gedung.

Langkah kaki Afrain yang tegas dan berwibawa bersanding sempurna dengan keanggunan Lani yang hari itu tampak sangat memesona dengan blazer pilihan mereka kemarin.

Begitu melewati pintu kaca besar, banyak mata memandang melihat Lani bersama Afrain.

Para karyawan yang berada di area lobi dan kubikel depan seketika menghentikan aktivitas mereka.

Bisik-bisik kagum dan penasaran mulai terdengar samar di antara mereka, menerka-nerka siapakah wanita cantik yang berjalan di sebelah sang pimpinan tertinggi tanpa jarak.

Afrain yang menyadari riak penasaran dari bawahannya tidak membiarkan situasi itu menggantung terlalu lama.

Ia membawa Lani menuju ke tengah-tengah ruangan divisi utama.

"Ayo kita berkumpul sebentar," ucap Afrain dengan suara baritonnya yang lantang dan penuh otoritas, seketika membuat seluruh karyawan di ruangan itu langsung berdiri dari kursi mereka dan merapat dengan rapi.

Mereka semua berkumpul dengan rapi, membentuk barisan yang teratur di hadapan sang pimpinan tertinggi.

Suasana ruangan yang semula riuh seketika berubah hening, menunggu pengumuman apa yang akan disampaikan oleh sang CEO.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Afrain tegas, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan senyum tipis.

"Selamat pagi, Pak!" sahut para karyawan serempak dengan nada penuh hormat.

Afrain menggeser sedikit tubuhnya, lalu mengulurkan tangan ke arah wanita di sampingnya.

"Perkenalkan, ini Lani, sekretaris pribadi saya yang baru. Mulai sekarang dan kedepannya, kalau ada keperluan atau jadwal yang ingin dikoordinasikan dengan saya, harap lewat Lani terlebih dahulu."

Mendengar pengumuman itu, reaksi para karyawan langsung beragam.

Ada yang terkejut melihat sosok Lani yang langsung menempati posisi krusial di samping CEO, ada yang iri melihat kedekatan mereka yang tampak begitu serasi, dan ada pula yang menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan siap bekerja sama.

"Baiklah, sekarang kalian bisa kembali dan mulai bekerja," pungkas Afrain, membubarkan perkumpulan singkat itu.

Afrain kemudian mengajak Lani ke ruangan kerjanya yang berada di lantai yang sama, terpisah oleh sekat kaca besar yang elegan. Ruangan sekretaris pribadi itu terletak tepat di area depan sebelum memasuki ruangan utama sang CEO.

"Lani, ini ruangan kerja kamu," ucap Afrain menunjukkan meja kerja Lani yang bersih dan dilengkapi fasilitas canggih. "Dan... apa kamu bisa buatkan aku kopi?"

Lani tersenyum tipis, menatap Afrain dengan binar mata yang hangat.

"Kopi dengan gula dua sendok, kan, Mas?" ucap Lani tanpa ragu.

Afrain seketika menghentikan langkahnya. Ia menoleh cepat ke arah Lani dengan tatapan mata yang berbinar terkejut sekaligus tersentuh.

"Kamu, masih ingat dengan kopi kesukaanku?"

Lani menganggukkan kepalanya dengan lembut. "Aku tidak pernah lupa, Mas. Dulu saat Mas masih sering berkunjung, Mas selalu minta dibuatkan kopi dengan takaran itu."

Mendengar jawaban tulus dari Lani, sudut bibir Afrain terangkat membentuk senyuman lebar.

Rasa bahagia yang membuncah menyelimuti hatinya pagi itu, menyadari bahwa di balik masa-masa sulit yang mereka lalui masing-masing, Lani masih menyimpan rapi potongan memori tentang dirinya.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!