Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
"Gimana jadinya?" Yudi memecah keheningan.
"Menurut aku sih mending kasih uang aja A, dari pada disini bikin rugi. Anggap aja amal." jawab Ara.
"Heh! Nggak bisa gitu atuh, Neng. Keenakan si Nono, berhasil nipu modal memelas. Ntar dia pergi dari sini pindah nipu di tempat baru." tolak Abah.
Ara melirik Yudi sebentar, pemuda yang berbeda satu tahun dengannya itu hanya menggelengkan kepala.
"Dari pada disini bikin Abah makin Rugi. Abah mau rugi terus? Mana makannya ribet. Tadi aja bilangnya bisa mati makan makanan kita."
"Dia ngomong gitu?"
Ara mengangguk.
Abah mengempalkan tangannya, menahan emosi. "Nggak tau diri banget, udah dikasih gratis malah ngehina. Tadinya Abah mau ngasih uang kalo dia mau bantu-bantu sebisanya hari ini biar bisa pulang. Tapi malah bikin onar. Kita kasih pelajaran aja orang yang ngaku-ngaku kaya itu. Kurang ajar."
"Iya, Bah. Ke aku aja bilang pinjem uang mau diganti dua puluh kali lipat." sambung Yudi.
"Mulai sekarang itung semua pengeluaran yang udah kita keluarin buat dia. Pokoknya nggak boleh pergi sampe lunas. Biar tau diri." tegas Aki Dikun.
"Tapi Abah nggak mau dia kerja di warung. Ngawur kerjanya bikin rugi." lanjutnya sambil melirik putrinya.
"Iya, Aki. Aku juga nyerah ngajarinnya, malah jadi repot sendiri ujung-ujungnya." timpal Yudi. Ia juga melirik ke arah Ara.
Ara balas menatap Abah dan temannya, "kenapa pada ngeliatin aku sih?"
"Tinggal Neng Ara harapan Abah. Dia ikut bantu-bantu bisnis Neng aja. Lumayan Neng Ara dapat karyawan gratis."
"Abah...." Ara menggelengkan kepala.
"Coba dulu. Abah percaya Neng bisa ngasih pelajaran ke bocah kucluk itu."
"Peras aja tenaganya jangan nanggung-nanggung."
Ara cemberut, "kenapa harus Ara sih, Abah?"
"Abah sama A Yudi aja nyerah ngajarin dia, apalagi Ara? Ara kan selama ini nggak pernah ngajarin orang. Kalo malah bikin Ara repot gimana?" lanjutnya mengeluh.
"Coba aja dulu." jawab Abah enteng.
"Semangat Neng Ara. Abah yakin anak Abah pasti bisa ngasih pelajaran ke bocah kucluk itu." Abah Dikun menepuk pundak putrinya penuh keyakinan.
"Aa juga yakin, kamu bisa." Yudi ikut menyemangati.
"Aku yang nggak yakin, Aa." protes Ara.
"Yakin aja dulu.Yang penting yakin, pasti bisa. Semangat!" pungkas Yudi lalu kabur, diikuti Abah yang tak mau mendengar keluhannya.
Ara menunduk lesu, kini ia berjongkok sambil menelengkupkan kepala pada dengkulnya, "Arrghhh nambah-nambah kerjaan aja." batinnya.
Tapi masalah utamanya bukan disana, lebih ke canggung karena tak biasa bekerja dengan orang asing. Andai Marcelino yang disuruh Abah untuk memenimanya menjalankan usaha, tentu akan ia terima dengan senang hati. Kenapa sih teman dari TK malah suruh dijauhin sementara orang asing malah disodorin?
Tinggalkan sejenak Ara yang sedang merutuni nasibnya, kita tengok keluarga keluarga Ziano yang tak kalah kalang kabut pasca kepergian putranya.
Lengkara mondar-mandir di ruang tamu, sedari pagi sudah menghubungi teman-teman Ziano tapi tak satu pun memberikan pencerahan. Jawaban mereka begitu kompak, "nggak tau tan, terakhir ketemu kemaren nggak bilang apa-apa."
"Mama duduk dulu bisa nggak sih? Jeli pusing liatnya." protes putri bungsunya sambil memakan cemilan terakhir yang dibelikan kakaknya. Gadis itu tak pergi sekolah gara-gara kakaknya kabur.Tantrumnya pun lumayan lama, padahal sudah kelas dua belas SMA tapi manjanya nggak ketulungan, efek terlalu dituruti apa pun yang dimau.
"Mama lagi pusing banget ini, Jeli. Kamu nggak mikirin kakak kamu gimana nasibnya sekarang? gimana kalo kakak diculik?"
"Ma, kak Razia jelas-jelas kabur. Orang ada suratnya kok." jawab Raizel santai. Otaknya mulai waras setelah menerima ceramah panjang lebar dari papa Dirga. Sementara mamanya masih panik terus-menerus, padahal suaminya sudah memberi berbagai pengertian supaya tak khawatir, selain karena sudah dewasa, Ziano juga bukan anak bodoh, dia pasti bisa bertahan dimana pun berada.
"Kata papa juga kita santai aja. Sini mama, Jeli bagi ciki nih..." dengan santai Raizel justru mengasongkan ciki yang bungkusnya mirip makanan kucing lengkap dengan gambar kucing.
Kara menghela nafas panjang, "kamu itu pikirannya cuma makanan!"
"Mama mau ke rumah kakek dulu." lanjutnya.
Raizel langsung beranjak dari duduknya, "ikut..."
Sabuk pengaman sudah terpasang dengan baik, Kara memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah sang papi. Kali ini harapannya cuma papi Rama. Beliau super gercep dalam segala urusan dibanding dengan suaminya yang selalu santai-santai saja dalam menghadapi berbagai hal. Andai papi Rama tau kalo cucunya kabur, dia pasti akan lanngsung menyuruh orang untuk mencari. Atau mungkin bisa jadi papi sudah menyuruh orang sejak lama untuk menjaga cucunya dari jauh, seperti yang pernah di lakukan kakeknya pada sang mami dulu. Bedanya mami Jesi dulu memang sengaja disita semua fasilitasnya oleh kakek, makanya terpaksa tinggal diluar bahkan kost dan kerja. Sedang putranya? apa yang salah dengan dirinya? uang tak pernah dibatasi, tak pernah juga dituntut apa pun karena dari segi mana pun Ziano selalu membanggakan. Bisa-bisanya nggak ada angin nggak ada ujan itu anak minggat.
Di pertengahan jalan, Kara putar balik menuju kantor sang papi, karena ia yakin jam segini papinya masih kerja. Jika ia datang ke rumah mungkin hanya akan membuat maminya makin khawatir.
"Opa..." teriak Raizel begitu masuk ke ruangan kakeknya.
"Pi..." disusul Kara yang tak kalah nyaring suaranya.
Papi Rama melepas kaca matanya dan menyimpannya di meja, ia lantas beranjak duduk ke sofa tamu. Cucunya tentu langsung mepet padanya. Disisi lain Kara juga ikut menempel sambil terisak.
"Kenapa? tumbenan ini kompak banget pada nempel gini?" tanya papi Rama.
"Jeli nggak sekolah? jam segini udah ke kantor Opa?" lanjutnya pada Raizel.
"Nggak, Opa. Nggak ada yang nganter. Kak Razia kan minggat, Opa." adu Jeli.
"Iya, Pih. Tadi pagi aku cek kek kamarnya nggak ada, malah ninggalin surat segala. Aku nggak pernah nuntut apa-apa loh, Pih. Aku nurut apa kata papih, nggak boleh nuntut apa-apake anak, biar mereka ngelakuin apa yang mereka mau, selama itu baik." jelas Kara.
"Tapi tiba-tiba banget Razia kabur. Papi tolongin lah cari Razia. Takutnya dia kenapa-napa, Dirga udah dikasih tau malah santai-santai, katanya biarin aja. Razia pasti bisa jaga diri toh udah gede." lanjutnya panjang lebar.
"Benar itu kata Dirga, biarin aja."
"Pih!"
"Razia udah gede, Kara. Dia bukan anak-anak lagi. Kalo Jeli yang minggat baru papih cariin." jawab Papi Rama seraya mengelus gemas rambut Raizel.
"Papi nggak khawatir cucu papi kenapa-kenapa?"
Papi Rama tersenyum santai, "nggak. Orang Razia udah bilang sama Papi."
Kara melotot, "jadi papi udah tau niat Razia mau kabur?"
Papi Rama mengangguk.
Kara menabok lengan papinya, "kenapa papi nggak bilang sama aku!"
"Cepetan cari Razia, Pi. Aku takut dia kenapa-napa. Dia nggak bawa dompet, Pi. Hp nya juga ditinggal."
"Biarin aja. Razia hafal nomor HP kita meskipun dia nggak bawa HP. Kalo urgent pasti ngehubungi. Kamu yang tenang. Dia udah gede. Mungkin dia butuh hal baru." jelas papi Rama.
"Hal baru apa, Pih? apa kurangnya aku sebagai mama nya coba? uang nggak aku batesin, fasilitas lengkap, apa pun yang dia mau bisa dia dapetin. Aku juga nggak pernah jodohin Razia meskipun udah banyak yang daftar. Kurang apa lagi coba, Pi?"
Papi Rama mengelus kepala Kara. Meskipun sudah menjadi seorang ibu, dimatanya tetap putri kecil.
"Itu PR buat kamu, coba pikir kurangnya dimana? Papi ada rapat sekarang. Udah nggak usah khawatir. Razia pasti menikmati pengalaman barunya di luar sana."
"Mending sekarang kamu jalan-jalan sama Jeli biar nggak pusing. Percaya sama papi, Razia pasti lagi happy-happy disana." lanjutnya kemudian beranjak pergi.
"Yuk, Ma! kita shopping aja biar mama happy. Jeli juga pengen happy-happy nih. Masa iya kita disini sedih-sedih padahal kak Razia seneng-seneng di luar sana." ajak Raizel.
"Awas pokoknya kalo kak Razia pulang nanti bakal Jeli marahin. Bisa-bisanya happy-happy nggak ngajak Jeli!"
.
.
.
Jel, andai kamu tau... kakak mu jadi kang rongsok diluar sana wkwkwkwk
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih