NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FIVE

​Fradella merebahkan tubuhnya di atas kasur king size milik Dayaksa dengan napas yang masih tersenggal. Kemewahan kamar ini tidak lantas membuatnya merasa tenang. Baginya, setiap sudut kediaman Herlos adalah medan perang baru. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menetralisir rasa lelah yang menghantam mental dan fisiknya.

​Namun, ketenangannya hanya bertahan beberapa detik. Ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Saat membuka mata, Della mendapati Aksa berdiri mematung di sisi ranjang. Pria itu tidak lagi tampak seperti monster yang menghajar Fabio tadi. Sebaliknya, ia memainkan jari-jarinya dengan gelisah, matanya menatap lantai, dan bibirnya sedikit mengerucut seperti anak kecil yang sedang merajuk karena permintaannya belum dipenuhi.

​Della mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah?" tanya Della heran.

​Aksa mendongak, wajahnya yang tampan terlihat sangat gusar. "Mana hadiahku? Kamu berbohong! Kamu jahat!" ucapnya dengan nada tinggi yang kekanak-kanakan.

​Della melongo. Ia bahkan mengucek matanya, memastikan bahwa pria yang berdiri di depannya adalah pria yang sama yang baru saja membanting Fabio Herlos. "Hadiah apa? Memangnya kamu ulang tahun?"

​Wajah Aksa langsung berubah gelap. Perubahan emosinya terjadi begitu cepat, secepat kilatan petir. "Kamu jahat! Kamu pembohong! Aku benci kamu!"

​Sebelum Della sempat mencerna apa yang terjadi, Aksa menerjangnya. Dengan kekuatan yang tidak sebanding, Aksa mencengkeram leher Della dan mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya menghantam tembok dengan keras. Brak!

​"Uhuk... Uhuk..." Della tersedak. Cengkeraman tangan Aksa di lehernya begitu kuat, seolah ingin meremukkan tulang tenggorokannya.

​Aksa saat ini bukan lagi anak kecil yang merajuk. Matanya merah, urat-urat di lehernya menonjol, dan auranya memancarkan hawa membunuh yang pekat. "Pembohong harus mati! Kamu bilang akan memberiku hadiah kalau aku patuh! Kamu sama saja dengan mereka! Mati! MATI!"

​"Ak-aksa... I-ni aku... istri-mu. Le-lepas, Aksa..." rintih Della dengan suara yang nyaris hilang. Pasokan oksigen ke otaknya mulai berkurang. Penglihatannya mulai mengabur.

​Della tidak menyangka kegilaan Aksa bisa separah ini. Ia tidak ingin mati di sini. Ia tidak ingin membiarkan keluarga Gauta menertawakan jenazahnya besok pagi. Dengan sisa tenaga yang ada, Della mencengkeram lengan Aksa dan menancapkan kuku-kukunya yang tajam ke kulit pria itu.

​"Aakkhh!" Aksa memekik kesakitan saat kulit lengannya terkoyak.

​Cengkeraman di leher Della terlepas. Della merosot ke lantai, terbatuk-batuk keras sambil memegangi lehernya yang terasa terbakar. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, paru-parunya terasa perih. Saat ia meraba lehernya, ia tahu ada bekas kemerahan yang mengerikan di sana.

​"Kau gila, Aksa! Aku sudah menjadi istrimu! Kau ingin membunuhku, hah?!" teriak Della dengan kemarahan yang meluap.

​"Pembohong harus mati! Mati! Mati!" Aksa mengerang, ia mulai menjambak rambutnya sendiri, berjalan mondar-mandir di kamar seperti singa yang terkurung. Tatapannya kosong namun liar, ia benar-benar kehilangan kontrol atas kesadarannya.

​Della berpikir keras di tengah rasa sakitnya. Hadiah? Oh, tuhan. Della teringat bisikannya di aula tadi, janji tentang "hadiah" jika Aksa patuh. Ternyata pria ini menganggap serius setiap kata yang keluar dari mulutnya, bahkan dalam kondisi mental yang kacau.

​Aksa berhenti mondar-mandir. Ia kembali menatap Della. Hawa dingin kian menusuk tulang. Kematian seolah sedang berdiri tepat di depan mata Della saat Aksa mulai melangkah perlahan mendekatinya kembali, jemarinya menekuk siap mencekik lagi.

​Della nekat. Ia tahu alat setrumnya ada di meja rias, terlalu jauh untuk dijangkau. Maka, ia menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki, dirinya sendiri.

​Saat Aksa sudah berada di depannya, Della menarik kerah kemeja Aksa dengan kasar, menarik pria itu menunduk, dan mencium bibirnya dengan brutal. Bukan ciuman lembut, melainkan sebuah tabrakan emosi yang penuh keputusasaan.

​Aksa tersentak. Tubuhnya yang tegang perlahan mulai bereaksi. Tanpa diduga, ia justru membalas ciuman itu dengan lebih liar. Ia mengangkat tubuh Della ke atas meja di dekat mereka, menyingkirkan vas bunga dan pajangan hingga jatuh berdentang ke lantai. Mereka saling memagut, berebut oksigen di tengah kegilaan, hingga paru-paru mereka benar-benar kosong.

​Napas Aksa memburu saat ia melepaskan pagutan itu. Namun, matanya tidak lagi merah membara, melainkan dipenuhi gairah yang tak terkendali. Tanpa kata, ia menggendong tubuh Della dan melemparkannya ke atas ranjang.

​Della mulai ketakutan. "Aksa, tunggu—"

​Aksa langsung menindih tubuhnya, mengunci kedua tangan Della di atas kepala. Ia menciumi leher Della yang jenjang, mengabaikan bekas cekikannya sendiri yang mulai membiru. Sentuhan Aksa kasar namun penuh kerinduan yang aneh.

​"Pelan-pelan, Aksa! Sakit!" rintih Della, namun suaranya tenggelam dalam keheningan malam kediaman Herlos yang menyimpan seribu rahasia.

​Sinar matahari menembus celah gorden, menyilaukan mata Della. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun terasa remuk redam. Aksa tidur dengan sangat lelap di sampingnya, menjadikan lengan Della sebagai bantal dan kaki panjangnya melilit tubuh Della seolah gadis itu adalah guling kesayangannya.

​Wajah Aksa saat tidur terlihat begitu tenang dan tampan. Siapa pun yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa pria ini adalah "monster" yang ditakuti seluruh kota. Della perlahan melepaskan diri, berjalan menuju cermin.

​"Gila... ini benar-benar gila," bisik Della saat melihat leher dan pundaknya. Selain bekas cekikan, ada bercak-bercak kemerahan lain di sana. Jika orang lain melihat ini, mereka pasti tahu apa yang terjadi semalam.

​Karena tidak memiliki pakaian di kamar ini, Della terpaksa mengambil kemeja putih milik Aksa yang tersampir di kursi. Kemeja itu kebesaran, menutupi hingga paha atasnya. Ia merapikan rambutnya dan memutuskan untuk turun mencari makanan. Perutnya benar-benar perih.

​Di ruang makan bawah, aroma nasi goreng dan ayam goreng rempah sudah menggoda selera. Tuan Jerry Herlos sedang duduk sambil membaca koran.

​"Selamat pagi, Kakek Jerry," sapa Della dengan keceriaan yang sedikit dipaksakan.

​"Ah, selamat pagi, Della. Duduklah, makan yang banyak," Jerry tersenyum ramah.

​Tanpa basa-basi atau tata krama bangsawan, Della langsung menyambar paha ayam dan memakannya dengan lahap. Jerry tertawa melihat tingkah cucu menantunya itu.

​"Makanlah yang banyak, ya. Pasti semalam kamu sangat lelah. Maafkan Aksa yang sulit diatur, ya? Kakek tahu dia bisa sangat merepotkan saat malam hari," ujar Jerry dengan nada penuh arti.

​Della tersedak sedikit. "Iya, Kakek. Aksa benar-benar... sangat merepotkan."

​Tiba-tiba, seorang pelayan senior datang membawa sebuah nampan berisi segelas air dan beberapa botol obat. "Nyonya Muda, ini obat-obatan untuk Tuan Muda. Tolong pastikan Tuan Muda meminumnya setelah bangun nanti."

​Della menerima nampan itu. Ada lima botol obat di sana. Sebagai mantan penghuni RSJ selama lima tahun, Della sangat akrab dengan jenis-jenis obat kejiwaan. Ia membaca labelnya satu per satu.

​Dua botol pertama adalah vitamin dan obat penenang dosis ringan. Namun, saat melihat tiga botol sisanya, mata Della membelalak. Itu adalah antipsikotik dosis tinggi yang biasanya hanya diberikan kepada pasien skizofrenia akut yang sudah kehilangan fungsi motorik. Jika Aksa yang sebenarnya hanya mengalami trauma dan gangguan kendali emosi terus mengonsumsi ini, obat-obat ini justru akan menghancurkan saraf sehatnya, menyebabkan ketergantungan, dan perlahan-lahan melumpuhkan otaknya.

​Bajingan, maki Della dalam hati. Ada seseorang yang ingin Aksa tetap gila atau mati perlahan.

​Della menganggukkan kepalanya pada pelayan tersebut. "Baik, taruh saja di sini. Aku yang akan memberikannya pada suamiku."

​Della bersumpah tidak akan membiarkan satu pil pun dari tiga botol itu masuk ke tenggorokan Aksa. Ia harus berhati-hati; musuh di rumah ini jauh lebih berbahaya daripada perawat kejam di RSJ.

​Setelah selesai makan, Della memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Zacky telah membawakan beberapa pasang baju yang diperintahkan oleh Jerry. Saat kembali ke kamar, ia melihat Aksa sudah bangun. Pria itu kembali duduk di sisi jendela, menatap ke luar dengan pandangan kosong. Ia seolah tidak ingat kejadian panas semalam.

​Della tidak mau mengusiknya selama ia tenang. Namun, ketenangan itu pecah saat Zacky mengetuk pintu kamar dengan terburu-buru.

​"Nyonya Muda... Anda ada di dalam?" suara Zacky terdengar cemas.

​Della membuka pintu. "Ada apa, Zacky?"

​Zacky tampak ragu, ia melirik ke arah Aksa yang masih diam di jendela. "Ada tamu untuk Anda, Nyonya. Saudara Anda... Ratu Mayesa dan tunangannya, Adryan Juardi. Mereka memaksa masuk."

​Della menyeringai dingin. "Oh, mereka ingin melihat apakah aku sudah jadi mayat?"

​Zacky menelan ludah, wajahnya pucat. "Sepertinya begitu, Nyonya. Karena... mereka membawa serta sebuah peti mati di mobil mereka dan sekarang menaruhnya di depan teras utama."

​Mendengar kata "peti mati", Aksa yang tadinya diam di jendela tiba-tiba menoleh. Matanya yang tenang kembali menajam.

​"Peti mati?" gumam Aksa dengan nada rendah yang bergetar.

​Della mengepalkan tangannya. "Bagus. Biarkan mereka masuk, Zacky. Dan tolong, siapkan kopi yang paling pahit untuk mereka. Aku akan turun menyambut 'saudara' tercintaku."

​Della menoleh pada Aksa. "Suamiku, mau ikut melihat pertunjukan? Kakakku membawakan hadiah untuk kita."

​Aksa bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati Della, menatap leher istrinya yang masih berbekas kemerahan. Tanpa diduga, ia mengusap bekas kemerahan itu dengan ibu jarinya. "Siapa pun yang membawa peti mati ke rumahku... harus masuk ke dalamnya lebih dulu."

1
umi
tahan aksa jgn terpancing esmosi mu yaa mereka tau titik kelemahan mu tu .. ingt della pasti kamu tenang tu
umi
kalah jauh kamu adryan jgn main2 lah sma keluarga besar aksa ya . bgi della kamu sdh yg terbaik aksa
umi
gila ya kamu adryan ,blom kena ya dia ni buku lima nya aksa lgi ni maka berkata bgitu pla ..
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
pasti ada sesuatu dengan obat Aska 👀
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
SENJA
aduh jangan kambuh sekarang 😳🥺
SENJA
ciiih ngeselin lu sampah 🤢🤮
SENJA
mantabs
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!