Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Akibat sok kuasa.
"Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Ini di larang, itu di larang." Protes Jilly. Emosinya serasa naik, ia kemudian mengingat bahwa dirinya adalah seorang 'bos' yang bisa kapan saja menekan Bang Reigar.
"Segala apapun yang bahaya, pasti saya larang. Bagian mana yang salah??" Tanya Bang Reigar.
"Om itu bawahanku, kan. Perjanjiannya, Jill yang membayar Om, jadi bodyguard dan pegawai tetap nya Jill. Jadi.. Sudah pantas kalau Jill yang mengatur." Jawab Jill berusaha menampakkan taringnya yang tumpul.
Bang Reigar mengangguk dan langsung mengubah gesture tubuhnya. "Siap Bu. Tapi.. Ibu sudah berkali-kali melanggar beberapa poin perjanjian. Untuk bodyguard ini, tidak tertulis secara resmi. Apakah aturan tersebut masih berlaku??"
"Karena Om buat Jill kesal, aturan itu berlaku. Keuangan kita juga terpisah. Jadi masih berlaku." Jawab Jilly lantang.
Bang Reigar menggeleng sembari menyimpan senyum tipis. "Mengikuti arahan ibu. Tapi sebagai bodyguard mu, saya juga punya aturan yang harus kau taati..!!"
Jilly memilih diam dan berkeliling di seluruh area rumah tanpa mengindahkan ucapan Bang Reigar. "Punya uang, punya kuasa."
Bang Reigar mengusap dadanya, kesal tapi tidak sanggup berdebat dengan sang istri.
Beberapa menit berlalu, ada panggilan telepon dari Danyon. Bang Reigar segera meninggalkan rumah dinas.
~
Karena tidak ada perintah tambahan dari Letnan Reigar, para anggota meminta petunjuk dari ibu Danton mereka yang baru.
Begitu menyadari dirinya seorang istri perwira juga 'punya kuasa' lewat perjanjian itu, Jilly dengan kepolosannya mengatur ini dan itu di rumah, menggeser perabotan di sana sini.
Meskipun para anggota lelah tapi segala usaha mereka mendapatkan hasil yang seimbang karena Ibu Danton bukan tipe istri pimpinan yang pelit. Mulai dari makanan, bingkisan, kaos juga uang mengalir deras tanpa perhitungan.
Kesibukan itu akhirnya melebihi target yang seharusnya hingga sore hari, tapi ternyata semua itu belum juga smembua dan sudah mendapatkan ide untuk mengerjakan pekerjaan lain.
"Om.. Bisa minta tolong antar saya ke kota?? Saya mau beli barang." Pinta Jilly pada Prada Danu.
"Siap ibuu, laksanakan. Tidak ada yang tidak buat ibu." Jawab Prada Danu.
Mau tidak mau Prada Garo terbawa suasana dan menuruti keinginan ibu Danton. Bukan melulu karena uang, tapi mereka merasa memang ibu Danton sangat berbeda, tingkah ibu Danton sangat imut dan lucu. Apalagi cantiknya membuat para ajudan 'selalu terpana'.
...
ckkllkk..
Baru saja tiba di rumah, kedua bola mata Bang Reigar membulat besar. "Apa-apaan ini????? Danuuuu... Garooooooo..!!!!!! Deeeekk..!!!!!!!!!"
Bang Reigar melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, ternyata rumahnya masih seperti kapal pecah padahal hari sudah menjelang adzan maghrib. Ia pun menghubungi ajudannya, tapi hingga beberapa saat lamanya tak ada jawaban dari para ajudannya.
Kakinya tidak bisa diam dan terus mondar mandir kesana kemari menghubungi kedua ajudannya secara bergantian tapi tidak ada jawaban.
"B*****t, dimana kalian??" Gumamnya.
//
"Ibu, ijin.. Danton sudah berkali-kali menghubungi, apa sebaiknya kita kembali sekarang saja. Ini Danton telepon lagi..!!" Kata Prada Danu.
"Iya Bu, ijin.. Danton juga hubungi saya sekarang..!!" Prada Garo sampai ikut keringat dingin.
"Biarkan saja, matikan..!! Kalian kerja dengan saya juga, kan?? Jangan pilih kasih, donk..!!" Jilly melirik kedua ajudan suaminya lalu melenggang masuk ke dalam sebuah toko gorden.
Kedua ajudan saling lirik. Kemudian membaca pesan singkat dari Danton mereka.
Berani sekali kalian mengabaikan saya. Awas saja kalau sampai saya temukan kalian, jadi lele kalian berdua..!!
"Gar.. Piye iki, Danton ngamuk."
"Kau pilih Danton yang ngamuk atau ibu yang ngamuk??" Balas Prada Garo.
"Duuhh.. Kenapa posisi kita jadi serba salah sih?? Kalau ketahuan Danton, kita jadi lele. Kalau nggak dengar ibu, kita jadi pecel." Gerutu Prada Danu resah.
"Sudahlah, jadi apapun yang penting kita nafas." Jawab Prada Garo.
Di saat kedua ajudan sibuk berdebat, mereka tidak menyadari ada seorang pria lokal membawa anak panah dan belati sedang mengikuti Jilly. Agaknya pria tersebut mabuk hingga langsung mencekal dan menarik tangan Jilly ke sudut pusat pertokoan yang sepi.
Jilly mencoba melawan sekuat tenaga, ia berteriak kencang tapi ramainya kota seakan menutup suaranya.
Pria tersebut kesal, ia menghantam Jilly lalu menendangnya berulang kali hingga terkapar, pria itu kemudian menarik pakaian Jilly hingga koyak.
Tak lama ada yang menarik punggung pria tersebut lalu menghajarnya habis-habisan.
"Beraninya kau sentuh istriku..!!!!"
Ternyata pria tersebut adalah Bang Reigar yang sedang mengamuk dengan amarah yang memuncak. Seakan belum cukup dengan itu, kepalan keras tangannya terus menghantam membabi buta hingga darah mengotori tangannya.
"Dantooonn.. Ya Allah..!!" Prada Garo sudah bisa menemukan istri Dantonnya dan melihat pertikaian Letnan Reigar dengan warga lokal, ia dan Prada Garo segera memisahkan.
Tapai saat Danu hendak membantu istri Dantonnya itu, Bang Reigar berdiri masih dengan nafas berat penuh kemarahan.
"Jangan sentuh istri saya..!!!! Tahan laki-laki ini di pos sampai saya datang..!!!!!!" Perintah tegas Letnan Reigar. "Urusan kalian masih belum selesai dengan saya..!!!"
Jilly setengah sadar melihat suaminya berjalan ke arahnya sambil melepas jaketnya dan menutupi tubuh Jilly. Perlahan pandangannya mulai kabur, ia hanya merasa ada pelukan hangat yang begitu menenangkan.
"Sepertinya kita selesai, Gar." Bisik Prada Danu.
~
Bang Reigar bersandar kasar sejenak memejamkan matanya sambil meremas bagian dada Jilly yang sudah koyak. Tangannya bergetar menahan jutaan rasa kesal, marah dan rasa bersalah tak terkira. Tapi di samping semua itu, ia merasa sungguh tidak rela ada pria lain yang berani menyentuh istri kecilnya.
Air matanya menetes, nafasnya memburu membuat kepalanya terasa pening seakan tak sanggup mengingat apa yang terjadi dua tahun lalu.
Flashback Bang Reigar on..
Selama penugasan tak sekalipun Reina menghubunginya seperti istri anggota yang lain. Terkadang ia iri saat melihat anggotanya berjuang keras menghubungi keluarga via telepon. Canda tawa ceria juga nampak di sana.
Hari ini dirinya pulang ke rumah, sudah enam bulam dalam penugasan, dirinya berharap bisa memperbaiki keadaan rumah tangganya, mulai dari komunikasi hingga hubungan ran*ang yang nyaris hampir terlupakan. Ia menyadari, sudah seharusnya ia memiliki momongan dari istrinya, Reina.
Uang tunai sejumlah dua puluh juta rupiah, cincin emas dan bucket bunga ia bawa pulang melalui pintu belakang rumah, berharap kejutan akan membuat sifat keras istrinya menjadi melunak. Tapi saat sampai di rumah, ia melihat sebuah sandal pria disana. Bang Reigar masuk perlahan dan mendengar suara asing yang 'menyakitkan' telinga.
Semakin lama suara tersebut semakin jelas, Bang Reigar membuka pintu kamar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, Reina sedang memadu cinta dengan ajudannya.
Flashback Bang Reigar off..
"Astaghfirullah.." Bang Reigar beristighfar berusaha mengendalikan diri. Beberapa saat mengatur nafas, Bang Reigar membuka matanya dan melirik Jilly.
'Hadirmu tak pernah di sangka, tapi sungguh.. Di balik semua sakit yang saya rasakan, kamu adalah wanita dari setiap bait do'a yang saya minta, saya memohon dan merayuNya setiap sepertiga malam hanya untuk mendapatkan kamu saja.'
"Hanya kamu yang bisa mempermainkan perasaan Letnan sampai seperti ini. Taukah kamu, saya ketakutan, kelabakan tak karuan hanya karena memikirkan perempuan yang hanya setinggi cangkir seperti kamu, dek."
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭