NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Bukan Pahlawanmu

Kemarahan ternyata bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa. Elleta tidak pernah menyangka rasa malu yang ia tanggung di mall tadi bisa berubah menjadi energi nekat. Ia memacu BMW emasnya, membelah padatnya jalanan Jakarta hanya demi mengejar sedan hitam milik Steve. Elleta tidak peduli seberapa impulsif tindakannya saat ini. Baginya, harga diri yang seolah dilecehkan oleh pria itu harus dikembalikan sekarang juga.

​Begitu mobil Steve berhenti di pelataran Danendra Group, Elleta langsung menginjak rem mendadak tepat di belakangnya. Ia keluar dari mobil, membanting pintu, dan melangkah masuk ke lobi dengan tatapan lurus.

Petugas keamanan yang semula berniat menyapa langsung mengurungkan niat; aura dingin dan langkah tegas Elleta sudah cukup memberi sinyal bahwa wanita ini bukan seseorang yang bisa dihentikan.

​Ia sempat kehilangan jejak Steve di lobi yang luas, tetapi Elleta tahu pria seperti Steve pasti memiliki ruang privat di lantai tertinggi. Dengan jemari yang masih bergetar menahan emosi, ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas.

​Ting!

​Pintu lift terbuka, langsung menghadap koridor utama. Theo, yang baru saja keluar dari ruang kerja Steve, hampir saja menjatuhkan berkas di tangannya saat melihat Elleta berjalan ke arahnya dengan napas memburu dan rambut yang sedikit berantakan.

​"Nona Crassia? Maaf, Anda harus membuat janji temu terlebih dahulu jika..."

​Elleta melewati Theo begitu saja tanpa membalas ucapannya. Ia mendorong pintu ganda besar di depannya hingga terbuka lebar. Di dalam ruangan, Steve sedang berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan lanskap kota. Mendengar dentuman pintu, pria itu berbalik dengan tenang.

​Steve tidak tampak terkejut ataupun terganggu. Sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk senyuman samar yang nyaris tak kentara. "Kamu sampai lebih cepat dari perkiraanku, Elleta," ujarnya santai.

​"Ambil kembali uangmu. Aku enggak sudi menerima barang-barang ini," kata Elleta dingin, melemparkan rentengan tas belanjaan mewah tadi ke atas meja kerja Steve yang rapi.

​"Kamu pikir kamu siapa, Steve? Bisa seenaknya menghina hidupku, menghina Daniel, lalu berlagak seolah kamu penyelamatku?" Rentetan kekesalan yang Elleta pendam sejak pagi akhirnya tumpah begitu saja. Ia meluapkan kemarahannya tentang keangkuhan Steve, sikap mutlak Papanya, hingga penolakannya terhadap perjodohan konyol ini.

​Sepanjang Elleta meluapkan emosinya, Steve hanya bersandar di tepi meja dengan kedua tangan bersedekap di dada. Ia tidak menyela ataupun membela diri. Bagi Steve, konfrontasi ini jauh lebih menarik daripada agenda bisnis apa pun hari ini.

​Melihat Elleta yang berapi-api dengan binar kemarahan di matanya dan pipi yang merona karena emosi pria itu menyadari satu hal. Elleta jauh lebih hidup saat memberontak seperti ini dibandingkan saat ia diam dan berpura-pura menjadi putri penurut di depan keluarganya.

​Napas Elleta mulai putus-putus. Tenggorokannya terasa kering setelah meluapkan semua kekesalannya, sementara Steve masih tetap bergeming dengan ekspresi tenangnya yang menyebalkan.

​"Aku butuh minum," potong Elleta tiba-tiba, berusaha menstabilkan napasnya yang memburu. "Di mana tempat minum?"

​Steve terkekeh pelan, sedikit terhibur dengan perubahan topik yang begitu mendadak. "Keluar dari ruangan ini, lurus saja ke ujung koridor sebelah kanan. Ada pantry di sana."

​Elleta berbalik dengan gusar. Di luar ruangan, Theo tampak sedang sibuk menerima telepon penting. Menolak untuk menurunkan gengsinya dengan bertanya pada asisten Steve, Elleta memilih mencari jalan sendiri menyusuri lorong koridor.

​Suasana di dalam pantry modern yang luas itu semula riuh oleh obrolan beberapa karyawan yang sedang beristirahat. Namun, begitu Elleta melangkah masuk, keheningan mendadak tercipta.

Beberapa orang yang mengenali wajahnya dari berita bisnis keluarga Crassia mulai saling berbisik, sementara yang lain perlahan memisahkan diri dan keluar ruangan demi menghindari kecanggungan.

​Elleta mengabaikan kasak-kusuk itu. Fokusnya hanya tertuju pada mesin kopi di sudut ruangan. Namun, tepat saat ia hendak melangkah maju, seorang wanita sengaja berjalan memotong jalurnya hingga bahu mereka berbenturan cukup keras.

​Cess!

​Sedikit sisa air panas dari cangkir yang dibawa wanita itu terciprat dan mengenai lengan Elleta. Elleta meringis kecil, refleks menarik tangannya yang mulai memerah.

​"Oh, maaf. Aku benar-benar tidak melihat ada orang luar yang diizinkan masuk ke area karyawan," ucap sebuah suara dengan nada sinis yang dibuat-buat.

​Wanita itu adalah Liana, sekretaris pribadi Steve yang selalu tampil dengan pakaian kerja super rapi namun memiliki tatapan yang selalu dingin. Liana menilai penampilan Elleta dari ujung rambut hingga kaki dengan pandangan meremehkan.

​"Kamu punya mata untuk melihat jalan, kan?" cetus Elleta, menahan perih di lengannya.

​Liana melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum tipis. "Tentu saja. Dan yang kulihat saat ini hanyalah seorang gadis manja yang nekat datang ke kantor bosku setelah membuat keributan di mall. Kenapa? Apa fasilitas dari keluargamu sudah mulai dikurangi, sampai kamu harus mencari perhatian Steve?"

​Sindiran itu terasa murahan, namun cukup untuk memantik kembali emosi Elleta yang belum sepenuhnya padam.

Elleta maju satu langkah, menatap Liana tepat di manik matanya. "Mencari perhatian? Kupikir kata-kata itu lebih cocok untuk dirimu sendiri. Kamu bertahan di posisi ini karena berharap bosmu akan melirikmu suatu hari nanti, kan? Sayangnya, bekerja keras di kantor ini tidak akan pernah membuatmu berada di posisi yang sama denganku. Sadari tempatmu."

​Ketegangan di antara keduanya sempat memancing perhatian beberapa karyawan yang tersisa di ambang pintu, meski tidak ada satu pun yang berani menengahi sampai akhirnya Elleta memutuskan untuk menyudahi perdebatan tidak penting itu dan melangkah pergi.

​Beberapa menit kemudian, Elleta kembali mendorong pintu ruang kerja Steve dengan kasar. Kali ini, raut wajahnya tidak hanya menyiratkan amarah, tetapi rambutnya sedikit lebih acak-adapan dan ada bekas goresan kemerahan yang kontras di kulit lengannya.

​Steve yang awalnya kembali memeriksa dokumen langsung menegakkan tubuh. Sepasang matanya tertuju pada lengan Elleta. "Apa yang terjadi di luar?" tanya Steve, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan serius.

​Tanpa menunggu jawaban, Steve bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan untuk mengambil kotak pertolongan pertama.

Ia kembali mendekati Elleta, meraih pergelangan tangan gadis itu dengan tegas, lalu menuntunnya untuk duduk. Namun, alih-alih mengarahkannya ke sofa tamu, Steve justru menarik pinggang Elleta dan mendudukkannya di atas pangkuannya begitu ia sendiri duduk di kursi kerja besarnya.

​Elleta tersentak. Kedekatan yang tiba-tiba ini membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Apa-apaan ini? Lepas!" Elleta berusaha memberontak.

​"Diam sebentar," potong Steve. Suaranya terdengar bariton, tenang, namun memiliki penekanan yang membuat Elleta secara tidak sadar menghentikan gerakannya.

​Dengan gerakan jemari yang tak disangka cukup telaten, Steve mulai mengoleskan krim pereda lepuh ke lengan Elleta yang memerah.

​"Sekretarismu itu benar-benar enggak punya sopan santun," gerutu Elleta, mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan kecanggungan akibat posisi mereka yang terlalu intim.

"Dia sengaja menumpahkan air dan bicara enggak pantas. Kenapa pria sepertimu memelihara karyawan kasar seperti itu di kantor?"

​Steve hanya melirik Elleta sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali fokus meratakan krim di lengan gadis itu. "Lalu, menurutmu aku harus memecatnya hanya karena dia berargumen denganmu?"

​Elleta menoleh cepat, menatap Steve dengan dahi berkerut. "Dia keterlaluan, Steve. Dia menghinaku di depan umum."

​Steve menutup kembali tube krim di tangannya, namun lengannya masih tetap melingkar di pinggang Elleta, menahan posisi gadis itu agar tidak beranjak dari tempatnya. Ia sedikit memajukan tubuh, membuat jarak di antara wajah mereka terkikis hingga Elleta bisa merasakan embusan napas pria itu.

​"Dengar, Elleta," ucap Steve, menatap lurus ke dalam sepasang mata gadis di hadapannya.

"Kamu berulang kali menegaskan bahwa kamu adalah wanita mandiri yang tidak bisa disetir oleh siapa pun. Kamu menolak perjodohan ini karena ingin bebas, bukan?"

​Steve menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. "Jika kamu benar-benar sekuat yang kamu katakan, maka menghadapi orang-orang seperti Liana seharusnya bukan masalah besar bagimu. Aku tidak akan selalu ada untuk menjadi penengah setiap kali kamu terlibat dalam masalah luar. Jika kamu ingin orang lain menghormatimu karena dirimu sendiri bukan karena nama Crassia yang melekat di belakangmu, maka buktikan dengan caramu."

​Elleta terdiam. Kalimat Steve kali ini tidak terdengar seperti ejekan dingin yang biasa ia terima di meja makan. Itu adalah sebuah tantangan terbuka yang langsung menyentuh ego dan harga dirinya.

Berada di jarak sedekat ini dengan pria yang seharusnya ia benci, Elleta justru merasakan sebuah dorongan kuat untuk membuktikan bahwa ia tidak senaif yang pria itu pikirkan.

​"Aku enggak butuh bantuanmu untuk menghadapi hal kecil seperti itu," balas Elleta dengan nada menantang, mengabaikan fakta bahwa suaranya sedikit tertahan karena debaran aneh di dadanya.

​Steve tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman yang tampak lebih lepas dan dipenuhi ketertarikan yang nyata. "Bagus. Kita lihat gimana caramu membuktikannya nanti. Masih ada dua hari tersisa sebelum makan malam keluarga itu tiba, Elleta."

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!