Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10
“Kamu pasti lelah, setelah seharian ini menerima tamu undangan. Sekarang, lebih baik kita istirahat dulu, ya. Untuk kedepannya kita bisa bahas nanti.” lanjut Harlan.
Alisa mengangguk pelan, perlahan ia bergerak, membaringkan tubuhnya, membelakangi Harlan. Detik kemudian, ia bisa merasakan gerakan Harlan yang ada di sampingnya. Pria itu juga tengah merebahkan tubuh lelahnya.
Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Alisa, meskipun mereka berada di atas ranjang yang paling luas di hotel itu.
"Mas..." panggil Alisa, masih belum merubah posisinya, masih membelakangi Harlan.
"Ya?" jawab Harlan dengan suara yang mulai berat, tepat di belakangnya.
"Maaf…."
“Maaf? Untuk apa?”
“Atas nama keluarga dan juga Kak Marisa… aku minta maaf sedalam-dalamnya. Maaf karena keluargaku, pernikahan impian Mas dan Keluarga Mas… jadi berantakan.”
Keheningan sempat merayap beberapa detik sebelum Harlan menjawab.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Semua ini, bukan salahmu. Setidaknya, karena kehadiranmu semuanya jadi terselamatkan. Tidurlah, kita bicara lagi besok." jawabnya.
Alisa memejamkan mata, merasakan kehangatan yang perlahan menjalar di hatinya. Meski pernikahan ini dimulai dengan banyak tanda tanya dan kejutan yang tak terduga, malam ini, di balik punggung kokoh pria yang baru saja menjadi suaminya, Alisa akhirnya merasa aman untuk melepaskan seluruh lelahnya.
***
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah gorden tebal kamar hotel yang tidak tertutup sempurna, terasa begitu menyilaukan saat Alisa mengerjapkan matanya.
Hal pertama yang ia sadari setelah bangun pagi ini adalah beban berat di bagian pinggangnya serta hembusan nafas hangat dan teratur yang menyapu tengkuknya.
Alisa tersentak kecil saat menyadari posisinya saat ini. Ia tidak lagi membelakangi Harlan. Entah sejak kapan, ia justru berbalik dan kini berada dalam dekapan pria itu.
Tangan Harlan melingkar posesif di perutnya, sementara wajah pria itu terkubur di antara bantal dan bahu Alisa.
Alisa ingin segera bangun dan mencoba melepaskan belitan tangan Harlan ditubuhnya. Namun, meski dalam keadaan tidur, tenaga pria itu tetap kuat membuat Alisa kesulitan melepaskan diri dari dekapan Harlan.
Hingga akhirnya, mau tidak mau, Alisa pun harus membangunkanya. Perlahan, Alisa mulai mengguncang pelan tubuh Harlan untuk membangunkan pria itu.
"Mas..." bisik Alisa dengan jantung yang berdegup kencang.
Ia mencoba bergerak sedikit, namun pelukan itu justru mengencang secara refleks. Harlan menggeliat kecil, kelopak matanya perlahan terbuka.
Butuh beberapa detik untuk mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Begitu menyadari wajah Alisa hanya berjarak beberapa senti darinya, belum lagi tangannya yang membelit di tubuh wanita itu.
Membuat Harlan tersentak, ia bergegas menarik tangannya, bangun, lalu duduk tegak dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Maaf… Aku… tidak sengaja..." ucap Harlan singkat sambil mengusap wajahnya kasar.
"Mm… Nggak apa-apa, Mas." potong Alisa cepat, wajahnya memanas. Ia segera ikut bangkit dan merapikan rambutnya yang berantakan.
Mengambil satu ikatan rambut di dalam pouch kecil yang ia simpan di atas nakas samping ranjang.
"Selamat pagi." sapa Alisa setelah menguncir rambutnya secara asal.
Harlan mendehem, berusaha bersikap normal. Meski degup jantungnya saat ini, berdetak sangat cepat.
"Selamat pagi. Kamu mandi duluan saja? Aku… masih ada yang harus aku lakukan."
Harlan mencoba menutupi kegugupan nya dengan belaga sibuk dengan ponsel di tangannya. Padahal, seandainya Alisa bisa melihat, ia pasti akan tertawa terbahak-bahak.
Pasalnya… tidak ada yang Harlan lakukan selain, hanya melihat-lihat aplikasi yang terpasang di ponsel itu.
Alisa mengangguk, lalu beranjak menuju kamar mandi terlebih dahulu. Keheningan kembali menyelimuti, Harlan hanya bisa menghela nafas sambil merutuki kecerobohannya saat tidur malam tadi.
Bisa-bisanya ia bangun dalam keadaan memeluk Alisa. Erat. Bahkan sangat erat untuk dua orang yang baru saling mengenal. Rasa nyaman saat berbaring di samping Alisa membuatnya hilang kendali.
Wangi aroma tubuh Alisa seperti obat penenang untuknya. Bahkan, mengalahkan obat tidur yang kerap Harlan konsumsi agar bisa istirahat.
Sudah bertahun-tahun lamanya, Harlan mengalami gangguan tidur. Dokter mendiagnosa kalau Harlan terkena insomnia akut. Harlan bahkan tidak ingat, kapan terakhir ia tidur nyenyak tanpa obat.
Sudah berbagai cara ia coba, ia lakukan. Namun, tetap tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, Harlan pun harus menerima jika ia harus hidup dengan ketergantungan obat tidur.
Dan malam ini… untuk pertama kalinya, Harlan baru bisa merasakan tidur yang sangat lelap meski ia tidak mengkonsumsi obatnya. Hingga membuatnya hilang kendali dengan memeluk tubuh Alisa, tanpa ia sadari.
***
Tiga puluh menit berlalu. Alisa pun terlihat keluar dari kamar mandi. Wajah gadis itu terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.
“Cantik…” gumamnya dalam hati.
Lagi dan lagi, tanpa ia sadari, Harlan memuji kecantikan Alisa, meski dalam hati. Gadis itu terlihat jauh lebih manis setelah lepas dari make up tebal yang menempel di wajahnya sepanjang hari kemarin.
Dan di saat itu juga… baru Harlan sadari jika sang istri bukan hanya memiliki wajah yang cantik, namun juga imut. Terlalu imut untuk seumuran wanita dewasa.
“Sekarang giliranmu, Mas.”
Suara Alisa akhirnya membangunkan Harlan dari lamunannya. Pria itu segera bangun, lalu beranjak menuju ke kamar mandi.
Saat Harlan masuk ke kamar mandi, bertepatan dengan bel kamar itu berbunyi. Ternyata, saat menunggu giliran, Harlan meminta layanan kamar untuk membawakan mereka sarapan.
Ting.
Tong.
Suara bel itu memecah keheningan kamar. Alisa yang berada paling dekat dengan pintu, segera beranjak untuk membukanya.
Begitu pintu terbuka, seorang petugas hotel berdiri dengan troli kecil berisi beberapa hidangan di atasnya.
“Selamat pagi, Kak. Room service,” ucapnya ramah.
Alisa membalas dengan senyum kecil, lalu mempersilakan petugas itu masuk. Beberapa piring berisi makanan hangat, roti, buah, dan dua cangkir kopi tersaji rapi di meja kecil dekat jendela.
Setelah petugas itu pergi, Alisa menutup pintu kembali. Ia menatap meja makan itu sejenak, lalu tanpa sadar menghela nafas pelan.
“Sarapan pertamaku setelah menjadi seorang istri.” gumamnya lirih.
Tak lama, suara pintu kamar mandi terbuka. Harlan keluar dengan menggunakan kaos rumahan yang terlihat jauh lebih santai dan rambut yang masih sedikit basah.
Tatapannya langsung tertuju pada meja makan yang sudah tertata beberapa macam makanan untuk mengisi perut mereka, pagi ini.
“Makanannya sudah datang ternyata?” tanyanya.
“Iya, Mas.”
Harlan mengangguk, lalu berjalan mendekat. Ia menarik kursi, memberi isyarat pada Alisa untuk duduk.
“Makan dulu,” ucapnya singkat, tapi nadanya lebih lembut dibanding biasanya.
Alisa menurut. Ia duduk perlahan, masih sedikit kikuk. Tangannya meraih gelas air putih lebih dulu, sekadar mengusir gugup yang entah kenapa masih terasa.
Beberapa menit pertama, mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu pelan. Hingga akhirnya, Harlan yang membuka percakapan terlebih dahulu.
“Setelah tiga hari di sini… kita akan kembali ke rumah.” katanya, tanpa menatap Alisa, dan tetap fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
Alisa menghentikan gerakannya sejenak, lalu mengangguk kecil.
“Tiga hari? Maksud, Mas, kita akan menginap disini selama tiga hari?” tanya Alisa, syok saat tahu jika ia akan tinggal di kamar itu selama tiga hari kedepan.