Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ara Amnesia
Arabella memutar kepalanya, membalikan tubuhnya ke belakang dan menatap seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Ara terdiam, menyipitkan mata, bertanya-tanya siapa pria itu.
Pria remaja itu berjalan pelan menghampiri Ara sambil tersenyum.
"Ara, akhirnya lo kembali," gumam pria itu, lalu memeluk tubuh Ara secara spontan, tanpa aba-aba.
Ara terkejut. Dia tidak mengenal pria itu. Mungkin dia teman Arabella yang asli—Alea, jiwa yang menempati tubuh Ara sekarang, tidak tahu siapa pun di sekolah itu kecuali keluarganya yang problematik.
"Woy, lepas! Engap tahu, pelukan lo kenceng banget," ucap Ara tegas, menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya.
Setelah pelukan itu terlepas, Ara menatap pria itu dengan kesal, mengerucutkan bibirnya,sembari bersidekap dada, lalu membuang muka ke arah lain.
"Ara, gue senang akhirnya lo kembali," kata pria itu lagi.
"Sebenarnya lo siapa sih, tiba-tiba meluk gue," ucap Ara sarkastik.
Pria itu terdiam, menatap Ara dalam-dalam. Dari ekspresinya, Ara bisa melihat dia sedikit terkejut. Wajahnya memerah, pucat pasi saat Ara berkata seperti itu.
"Ra, lo udah lupa sama gue, Ra?" tanya pria itu, suaranya penuh ketakutan, takut Ara melupakannya.
"Ck, emang gue udah lupa," jawab Ara santai.
"Tentu aja gue lupa, karena gue kagak kenal sama lo, Bambang," umpat Ara dalam hati.
"Nama gue Rafaell, Ra. Gue sahabat sekaligus teman masa kecil lo. Lo beneran gak melupain gue kan, Ra?" kata Rafaell panik, memegang bahu Ara seolah kata-kata Ara hanyalah candaan.
Ara tidak menjawab. Entah kenapa, saat mendengar pria itu menyebutkan namanya membuat kepala Ara tiba-tiba saja merasakan sakit yang luar biasa.
"Akh, Aww!" teriak Ara sambil memegangi kepala, menggelengkan ke kiri dan kanan untuk menahan sakit yang mendera.
Secara perlahan, bayangan wajah Ara dan Rafaell muncul di ingatannya. Mungkin itu ingatan pemilik asli tubuh ini.Ingatan saat Ara dulu yang ceria sampai Ara yang berubah menjadi cupu, semua itu tidak terlewatkan dari ingatannya.
"Astaga, Ara, sakit bangke," umpat Alea dalam hati.
"Ra, lo gak papa?" tanya Rafaell panik, mengguncang bahu Ara.
"Rafaell, sori… gue nggak ingat sama lo," ucap Ara.
"Tapi tenang aja, gue bakal berusaha supaya lo ingat," lanjut Rafaell, masih menatap Ara dengan cemas.
" Jadi benar kata bi wati kalau Lo itu Amnesia," kata Rafaell tidak percaya.
Raut wajahnya terlihat begitu sangat menyedihkan saat tahu kalau Ara melupakannya. Sungguh Alea jadi tidak tega kepada sahabat masa kecil Ara.
" Dasar Ara sialan, kenapa dia bisa bego banget sih," umpat Alea dalam hati.
Dia tak henti-hentinya mengumpat Ara yang menurutnya sangat bodoh, bagaimana tidak dia meninggalkan sahabat yang begitu peduli kepadanya, hanya demi mendaptakan kembali kasih sayang keluarganya.
" Sorry," kata Ara kepada Raffaell.
" Tidak apa Ra, yang terpenting sekarang lo sudah menjadi Ara yang dulu yang gue kenal," jawab Rafaell yang hanya di angguki oleh Ara.
Karena tidak ada lagi yang mereka berdua bicarakan, Ara akhirnya masuk kedalam kelas bersama dengan Rafaell.Sedangkan dari kejauhan seorang pria menatap Ara sambil tersenyum miring.
" Menarik," gumamnya sembari beranjak pergi.
Saat Ara akan masuk kedalam kelas dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Lalu tiba-tiba saja dia menoleh ke belekang, mengedarkan matanya untuk mencari sesuatu.
" Siapa yang lagi lihatin gue, kenapa gue merasa di awasi," gumam Ara dalam hati.
Rafaell yang memang bersama dengan Ara dari tadi ikut menghentikan langkahnya menatap ke arah Ara dengan heran.
" Ra ada apa?" tanya Rafaell.
" Enggak, gue hanya merasa sedang di awasi aja, tapi sapa siapa?"
Rafaell terdiam menoleh ke belakang. Mengedarkan pandangannya untuk mematikan bahwa Ara benar-benar di awasi. Namun, sayangnya dia tidak melihat apapun.
" Perasaan lo aja kali Ra," kata Rafaell.
" Mungkin saja," jawab Ara.
Ara tidak ingin banyak depat dengan Rafaell apalagi ini adalah hari pertama dia masuk sekolah. Alea ingin menghabiskan waktu sekolahnya dengan tenang. Dulu demi misi Alea tidak pernah benar-benar serius sekolah. Dan sekarang dia ingin menikmati masa-masa itu.
Tak lama dari itu terdengar suara motor bersahutan masuk kedalam gerbang sekolah, siapa lagi jika bukan si kembar dan antek-anteknya.
Vania langsung saja turun dari motor bersama dengan yang lainnya lalu dia menatap ke arah Kenzo dan Kenzi dengan tatapan polosnya.
" Kak, kak Ara hari ini beda banget, apa dia ingin menarik lagi perhatian kak Farrell?" tanya Vania kepada mereka berdua.
Kenzi yang memang begitu sangat membenci Ara langsung saja menjawab ucapan adiknya itu dengan sangai dan juga meremehkan.
" apaan sih kamu Vania, di bandingkan dengan si cupu, kamu itu sangat cantik, mana mungkin Farrell mau sama dia," jawab Kenzi dengan sarkastik.
" Apaan sih Lo, kan gue udah bilang gue itu jijik sama adek lo itu," timpal Farrel menatap kesal kepada sahabatnya.
" Dia kan tunangan lo Rell," kata Devan.
" Kalau Lo mau, ambil aja sana," gumam Farrell dengan kesal kepada teman-temannya.
Farrell tampak jengah dengan sikap sahabatnya yang terus saja menyudutkannya dengan Ara padahal dia tidak menyukainya apalagi Ara iyu cewek udik dan cupu.
" Daripada sama Ara mending gue sama Vania," gumam Farell dalam hati.
Farrell melangkah lebih dulu masuk ke area sekolah, meninggalkan Kenzo, Kenzi, dan yang lain yang masih bercanda di belakangnya. Namun langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Ara yang berdiri tak jauh dari kelas, bersama Rafaell.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.
“Si cupu kenapa kelihatannya beda sekali hari ini?” gumam Farrell pelan, tanpa sadar pandangannya terlalu lama tertambat.
Ara yang sedang berjalan tiba-tiba menoleh. Pandangan mereka bertemu—hanya sepersekian detik—namun cukup membuat Farrell refleks memalingkan wajah.
“Ck,” decaknya, kesal pada dirinya sendiri.
Ara mengernyit. Perasaan diawasi itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Tatapannya menyapu lorong sekolah, hingga tanpa sengaja berhenti pada punggung seorang pria yang sedang berjalan menjauh.
“Aneh,” gumam Ara.
Rafaell menatap Ara sekilas. “Ra, lo kenal Farrell?”
Ara menggeleng pelan. “Enggak. Tapi dia itu tunangan gue,” jawab Ara dengan santai.
Di sisi lain, Farrell mengepalkan tangan. Kata-kata barusan terngiang di kepalanya—jijik, cupu, udik. Tapi bayangan Ara yang barusan menatapnya dengan mata dingin dan berani itu terus mengusik pikirannya.
“Gila,” umpatnya pelan. “Sejak kapan gue peduli sama dia?”
Bel masuk sekolah berbunyi, memecah kekacauan di kepala masing-masing.
Tanpa mereka sadari, sejak hari itu, arah hidup Ara, Alea, Rafaell—dan Farrell—perlahan mulai saling bertabrakan.