Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Hujan turun rintik-rintik ketika mobil taksi yang ditumpangi Samira melambat di ujung sebuah perkampungan kecil. Jalanan kampung itu sempit, berlubang, dengan genangan air bercampur lumpur di sana-sini.
Rumah-rumahnya berdiri rapat, dengan dinding yang sudah memudar sebagian, beberapa rumah bahkan hanya berupa papan kayu tua yang disangga seadanya.
Samira menurunkan kaca jendela sedikit. Udara di sana terasa pengap baginya, bau tanah basah bercampur sampah yang berserak di jalan umum. Tempat itu jauh berbeda dari bayangan Samira.
“Jadi di sinilah Larissa berasal,” gumamnya seraya menatap perkampungan kumuh itu dan orang-orang di sana yang langsung menatapnya.
Ponsel di tangannya bergetar pelan. Nama yang tertera di layar membuat jantung Samira berdegup lebih cepat. “Dokter Rayhan, mau apa dia menghubungiku di saat seperti ini?”
Samira langsung mengangkat telepon itu dan menempelkan ponselnya ke telinga. “Halo? Ada informasi apa, Dok?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Aku sudah mendapat konfirmasi dari detektif,” kata pria itu, suara Rayhan terdengar serius di seberang sana. “Anak itu berusia 7 tahun, namanya Calya. Menurut informasi, anak itu bersekolah di kota dekat tempat tinggalmu, Samira.”
Samira menelan ludah, pandangannya tertuju ke luar, pada genangan di jalanan.
“Tujuh tahun? Apa kau yakin, Dok?” tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Satu hal lagi, Samira.” Rayhan melanjutkan, suaranya sedikit tertahan, “Secara hukum, anak itu sah. Arga tercatat sebagai ayah biologisnya.”
Telepon itu berakhir tak lama kemudian, meninggalkan keheningan yang berat di dalam mobil. Samira memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napasnya.
“Tujuh tahun. Tujuh tahun … itu artinya mereka sudah memiliki hubungan sebelum Arga menikah denganku,” gumamnya.
Dadanya terasa diremas kuat, tangannya semakin terkepal. Fakta itu membuatnya mual dan marah sekaligus.
Samira memilih turun dari mobil dengan langkah pelan. Ia mengenakan pakaian sederhana, bukan busana mahal yang biasa ia kenakan. Rambutnya diikat rapi satu ke atas, dengan riasan tipis. Satu hal yang tetap dibawanya hanyalah tongkat dan kacamata hitamnya.
Langkahnya terhenti di sebuah warung kecil di sudut gang. Seorang perempuan paruh baya terlihat sedang membuat kopi di sana. Samira menghampirinya.
“Permisi,” sapa Samira lembut. “Boleh saya duduk di sini?”
Perempuan itu menatap Samira dari ujung kepala sampai kaki. Tetapi kemudian tersenyum ramah dan menyediakan kursi plastik untuk Samira duduki.
“Silakan, Nyonya. Saya baru melihat Anda di sini, apakah Nyonya tersesat saat sedang jalan-jalan?” tanyanya ramah dengan suara yang khas.
Samira balas tersenyum tipis. “Sebenarnya saya sedang mencari seorang kenalan lama, dulu dia tinggal di sini, tapi saya lupa di mana letak rumahnya,” kata Samira beralasan.
“Oh, ya? Siapa yang Anda cari, Nyonya? Barangkali saya bisa membantu. Saya sudah lama tinggal di sini, jadi saya pasti tahu siapa saja yang tinggal di kampung ini,” kata ibu itu bangga.
“Panggil saya Mira saja, Bu.” Samira tersenyum, ia lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah foto. “Apa Ibu mengenal perempuan dan laki-laki di dalam foto ini?” tanyanya penuh harap.
Si ibu penjual kopi itu meraih foto yang diberikan Samira dan menatapnya beberapa lama. “Ya, ya, tentu saja kenal. Mereka memang tinggal di sini sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Setelah itu, yang saya tahu mereka pindah karena suaminya mendapatkan pekerjaan di kota,” jelasnya.
Samira mengangguk mengerti, mulai menemukan titik temu dari pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. “Ah, seperti itu, ya? Kalau begitu saya datang ke tempat yang tepat. Terima kasih, Bu.”
Ibu penjual kopi itu tersenyum lalu kembali membuat kopi. Samira memilih kembali ke mobil setelah berpamitan dan memberi ibu itu beberapa lembar uang.
“Jalan, Pak. Kita kembali,” kata Samira pada sang sopir.
•••
Di perusahaan, Arga menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Memantau CCTV di rumah yang baru ia pasang beberapa waktu lalu.
“Dia pergi lagi, entah apa yang sedang ia lakukan, akhir-akhir ini dia jadi lebih sering pergi keluar,” gumamnya sambil menopang dagu.
“Aku harus memastikan dia pergi ke mana,” katanya lagi lalu bangkit dan merapikan jasnya sendiri.
Namun, sebelum sempat pria itu keluar, Indira muncul di depan pintu ruangannya.
“Nyonya menunggu Anda di ruang pribadi, Pak,” kata Indira dengan sopan.
“Apa? Maksudmu Samira? Dia datang?” tanyanya seolah tak percaya.
Indira mengangguk dan detik berikutnya Arga langsung berjalan ke ruang pribadi, ruang yang biasanya ia gunakan untuk beristirahat.
Begitu ia membuka pintu ruangannya, Arga terkejut dengan kehadiran Samira yang sudah duduk manis di sofa.
“Kau tidak memberitahuku akan datang,” katanya duduk di hadapan Samira.
Samira tersenyum tipis. “Aku ingin memberimu kejutan, apakah tidak boleh?”
“Tidak, maksudku bukan begitu. Jika kau mengabariku lebih dulu, aku bisa bersiap-siap atau mungkin menyiapkan bunga dan yang lainnya,” alibi Arga, suaranya terdengar lembut.
Dulu, Samira akan langsung mempercayai apapun yang dikatakan pria itu. Tetapi kali ini tidak, tidak akan pernah lagi.
“Bagaimana jika kita pergi makan? Kita sudah lama sekali tidak makan di luar,” ajak Samira. “Aku rasanya ingin merasakan lagi makan siang yang mewah bersamamu.”
Arga terdiam sesaat, tak langsung mengiyakan ajakan perempuan itu. Tatapannya yang tajam menelisik raut wajah Samira, mencoba mencari tahu niat tersembunyi pria itu.
“Ada apa? Apakah kau tidak mau?”
Arga langsung berdiri dan membantu perempuan itu untuk berdiri. “Tidak, tadi aku hanya berpikir tempat yang cocok untuk makan siang bersamamu.”
Samira tersenyum, “Kupikir kau tidak mau bersamaku lagi. Tapi sepertinya aku hanya terlalu banyak berpikir. Kau ‘kan sangat mencintaiku, entah apa yang kupikirkan ini. Aku jadi suka berpikiran buruk,” kata Samira, berjalan pelan.
“Berpikiran buruk? Jangan sering berpikiran buruk, tidak baik untuk kesehatan,” kata Arga diikuti tawa pelan.
“Kau benar juga, aku tidak boleh berpikiran buruk.”
“Memangnya apa yang kau pikirkan?” tanya Arga penasaran, sekaligus berusaha mencari tahu isi kepala dan isi hati perempuan di sisinya itu.
“Bukan apa-apa, tapi saat memikirkan kau memiliki istri lain, meskipun itu tidak benar, tetap saja membuatku kesal. Sepertinya aku harus selalu berpikiran positif mulai dari sekarang, seperti katamu, berpikiran buruk itu tidak baik untuk kesehatan,” katanya panjang sambil terkekeh pelan.
Sementara Arga justru tertegun. Tangannya bahkan bergetar saat menekan tombol di lift. “Apa maksudnya itu? Apakah dia mulai tahu sesuatu tentangku dan Larissa?” pikirnya.
Setelah keluar dari lift, mereka berjalan beriringan menuju lobi. Keduanya tampak seperti pasangan serasi jika dilihat dari pandangan orang.
Samira tiba-tiba terhenti di tengah jalan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Arga, sebelah alisnya terangkat ke atas. “Kau baik-baik saja?”
Samira mengangguk tipis, “Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya teringat sesuatu saja,” katanya pelan.
Arga mengernyit. “Apakah itu hal yang penting?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku akan memberitahumu sesuatu nanti. Ayo kita lanjutkan jalan,” katanya lalu menarik lengan Arga pelan.
"Sikapnya benar-benar aneh dan mencurigakan akhir-akhir ini," bisik Arga pada dirinya sendiri. "Sepertinya aku harus mulai berhati-hati jika berada di dekatnya, aku juga harus mulai menarik hatinya kembali."